Siapa Yang Akan Terluka

1065 Words
"Halo Mas," "Sibuk? Tidak bisa ya menerima teleponku atau memang tidak mau bicara denganku lagi?" cerca Denis saat pertama kali suara Shiera terdengar di telinganya. Sedikit dirinya merasa lega hanya mendengar dua kata itu dan rasa rindu dipendam jauh demi keamanan sang adik. Keselamatan lebih utama dari pada keinginan egois yang hanya sekedar rasa. "Iya sibuk, siswa baru sudah mulai masuk. Ada orang tua dari luar kota yang bimbang meninggalkan anaknya di asrama. Jadi, aku harus meyakinkan dia bahwa keamanan super ekslusif," jelas Shiera. Padahal dia masih menyimpan kesal karena Denis tidak akan mengunjunginya entah sampai kapan. Dia sekarang harus bersandar pada seseorang yang lain. Jun Pyo adalah orang yang dia pilih untuk membantunya menolak Raja. Seorang pengawal yang begitu sigap melindunginya dan sangat bertanggung jawab. Luna yakin, Jun bisa diandalkan. "Oh, aku pikir siapa. Kau jangan lupa istirahat, seharian ini kau pasti lelah." "Iya, Mas. Sudah dulu ya, aku harus monitoring kelas suara," ucap Luna beralasan. "Oke, peluk dari jauh, aku merindukan—" Shiera mengakhiri panggilannya, sebelum Denis selesai bicara. Kepalan tangan Denis keras meninju meja. Dia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu Shiera pasti marah, tapi berusaha untuk memaklumi ketidakmampuannya. Deborah terkejut, dia sedang mengintip di balik pintu ruang kerja Denis. Pukulan keras di meja itu memberikan bekas merah dan memar di tangan Denis. Dia ingin mendapatkan bukti bahwa suaminya memang memiliki wanita lain. Dan benar saja, Kata-kata Denis tadi sudah mewakili dugaannya selama ini. 'Aku tidak akan melepaskanmu untuk wanita itu sebelum kau jatuh Denis! Wanita itu pasti hanya ingin hartamu dan dia akan menelantarkanmu. Setelah itu aku akan tertawa di depan wajahmu yang lusuh tanpa uang sepeser pun!' Deborah masuk ke ruang kerja memasang tampang pongah. Dia sengaja ingin mencari perkara dengan Denis. Dia tidak takut dipukul karena itu akan menjadi sebab tuntutan yang akan dia ajukan ke pengadilan. "Kau merindukannya karena tidak bisa kemana-mana? Sungguh sangat romantis kasih sayangmu padanya, suamiku," ucapnya, berdiri di depan meja kerja Denis. Kedua tangannya berlipat di depan d**a, menatap remeh Denis. "Kalau kau tidak tahu apa-apa, jangan komentar!" kesal Denis. Rahang Denis menggertak dan mengencang. Deborah malah menyeringai sinis. "Aku tidak tuli! Kau mengatakan itu secara jelas. Tanpa harus kau berteriak—" "Kau memata-mataiku? Sudah aku bilang jika tidak ada yang bisa menggeser kedudukanmu menjadi istriku. Kau tidak perlu cemas akan hal itu! Dan aku pernah berkata, bahwa ... mungkin aku tidak bisa mencintaimu sepenuh hati. Jika kau lupa. Maka ingatlah satu hal ini, berlaku untuk selamanya!" Wajah Deborah memerah menahan geram. Dia yang selalu berusaha tegar untuk mendapatkan cinta Denis. Pemikiran lelaki dan perempuan tentu saja berbeda. Denis bisa melakukan sesuatu tanpa cinta namun Deborah menginginkan cinta seratus persen. "Selama ini aku selalu memberikan apa yang kau mau. Jika kau merasa kurang diperhatikan, coba kau ingat apa yang selama ini aku lakukan. Aku tidak pernah lupa ulang tahunmu, ulang tahun anak-anak. Aku hanya bilang, aku tidak bisa mencintaimu tetapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Jangan pernah mengusik suatu hal yang mana kau tidak akan pernah tahu kenapa aku melakukannya, kau paham!" sekali lagi Deborah dibentak. Kemarahan Denis semakin meningkat, ditambah dengan pencekalan dirinya untuk tidak bisa kemana-mana. "Tidak!" Bibir Deborah bergetar. Dia sudah merasa lelah dianggap menjadi yang kedua. Selalu ada prioritas yang membuat Denis membagi dirinya. "Kenapa kau begitu serakah. Kau dan anak-anak mendapatkan aku, tubuhku, uangku, hartaku, perhatianku. Hampir semua kau mendapatkannya." "Aku hanya ingin menjadi prioritas bukan menjadi yang kedua! Dulu Luna sekarang siapa lagi huh, siapa?!" Denis memperhatikan Deborah yang menangis dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia berdiri dan mendekati Deborah. Menyandarkan tubuhnya di pinggir meja. Dengan kedua tangan berlipat di depan d**a. "Kau mau kita berpisah dan kedua anak kita kekurangan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Hanya karena kau meminta sesuatu yang bahkan aku pikir itu tidak perlu untukmu," "Tidak perlu? Kau tidak mungkin tidak menyentuhnya!" teriak Deborah di depan wajah Denis. Denis menghempas kasar napasnya. Tak ada guna meyakinkan orang yang tidak bisa mengerti apa yang dia rasakan. Bagaimana rasanya menahan cinta pada seseorang yang tidak mungkin dia miliki. Jika Shiera memiliki hatinya maka Deborah memiliki tubuhnya. Denis tidak akan mungkin bertindak jauh, meskipun Shiera wanita yang tidak sempurna. Kebanyakan pria pasti akan memanfaatkan keadaan seperti itu demi memuaskan hasratnya. Denis pria yang mampu untuk menahan semuanya. "Aku tidak akan membatasi jalanmu, apa pun yang kau mau, silakan lakukan. Tapi jangan melarangku, karena itu diluar batas kemampuanku." Denis meninggalkan Deborah yang terdiam terpaku di tempat. Dia gagal membuat Denis menyerah dan mengalah. 'Saatnya aku berontak, kau lihat saja, siapa yang terluka setelah apa yang akan aku lakukan, Shiera!' *** Waktu cepat berlalu karena begitu sibuknya Shiera hari ini. Tidak seperti hari-hari biasanya. Dia juga memeriksa asrama putri yang akan ditempati oleh anak dari mantan kekasihnya itu. Bukan karena masih ada perasaan sehingga menuruti keinginan pria itu, melainkan karena bentuk tanggung jawab sebagai Kepala sekolah. Dia yang memfasilitasi asrama dan dia juga harus melihat kenyamanan berada di sana. "Tempat tidur masih layak, bisa untuk 2 orang dan kamar mandi, airnya lancar. Ada penghangat dan juga kompor listrik. Anak-anak sudah diberitahu bagaimana cara menggunakannya?" "Sudah Ibu, Kepala. Mereka sudah dipraktikkan untuk menggunakannya." Satu per satu, Shiera memasuki kamar di asrama tersebut dan bertemu dengan seorang remaja putri yang dikenalnya. "Fira?" "Iya, Ibu Kepala sekolah," jawab gadis kecil itu. Wajahnya sangat mirip dengan ibunya. Shiera masih ingat pertemuan mereka yang terakhir. "Kalau ada sesuatu yang tidak nyaman di sini, langsung saja bilang sama Ibu jangan sama orang tuamu, karena kita akan selesaikan semuanya secara baik-baik," ucap Shiera menjelaskan. Mereka berbincang sejenak. Dia menghindari Raja untuk dekat dengannya melalui sang anak.. Setelah menuntaskan masalahnya, dia berjalan keluar asrama, Shiera tidak menyadari bahwa ada Raja yang memang menunggunya di pinggir jalan. Shiera masuk ke dalam mobil sendirian sedangkan Jun Pyo masuk ke dalam mobil yang berada di belakangnya. "Kau tidak bisa membodohiku Shiera. Tidak mungkin pacar selalu mengawal dan mengawasi seperti pesuruh," gumamnya pelan lalu menyuruh supirnya untuk mengikuti dari belakang. Jun Pyo yang selalu waspada, memperhatikan mobil Raja yang meskipun jauh tetapi mencurigakan. Dia menelepon supir Shiera untuk melajukan gerak mobilnya agar bisa menghalang mobil Raja. "Kita ikuti atau tidak Tuan?" "Jangan, kita tetap saja dengan kecepatan seperti ini dan kembali ke hotel." Raja bukan orang biasa yang bisa dijebak. Dia ahli dalam menjebak seseorang. Ahli melakukan kejahatan secara bayangan maupun nyata. 'Ayolah kita bermain sayang, bukan kau yang terluka tetapi dia.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD