Seoul
Raja berjalan tegak, menatap langsung ke dalam mata Shiera yang kaget dan gelisah. Raja tersenyum dan mempercepat langkahnya untuk mengajak Shiera bersalaman. Raja mengulurkan tangannya dan Shiera dengan berat hati menyambut tangan tersebut.
'Kau pasti tidak menyangka bukan, manusia bisa saja menutupi semua kebohongan tetapi Tuhan pasti punya rencana yang lain,' batin Raja.
"Halo, selamat datang di sekolah ini, ada yang bisa dibantu Bapak—"
"Raja, senang bertemu dengan Anda, Ibu kepala sekolah."
Raja menggenggam erat tangan Shiera yang berkeringat. Raja tersenyum dan Shiera semakin salah tingkah. Dia mempersilakan Raja duduk di depannya yang terhalang dengan meja.
"Eum, apa yang ingin Anda pertanyakan?" tanya Shiera, kaku. Dia merasa canggung dan tak mampu mengendalikan dirinya agar nampak biasa saja.
Sial, tatapan matanya itu dalam dan menghunus, dia pasti kenal denganku.
"Saya orang Indonesia, Anda bilang Anda juga masih keturunan orang Indonesia. Kita bisa menggunakan bahasa Indonesia saja, bagaimana?" ucap Raja semakin mantap ingin membuka topeng kepalsuan Shiera. Dari awal mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa perantara. Shiera juga belum terlalu fasih bahasa Korea dan tidak mungkin menggunakan bahasa Korea pada orang Indonesia.
"Oh, ya silakan."
"Saya sedikit khawatir untuk meninggalkan anak saya di apartemen sendirian karena saya sesekali akan pulang ke Indonesia."
"Kita punya asrama putri untuk anak-anak yang berada di luar kota atau luar negeri," jawab Shiera cepat.
"Apakah aman dan bagaimana dengan makanan?"
"Demi untuk menjaga kenyamanan. Di dalam sekolah dan luar lingkup sekitar sekolah menawarkan aneka jajanan halal," jawab Shiera yakin. Raja menganggukkan kepala, sorot matanya tak lepas dari mata kecil Luna yang bergerak gelisah.
"Bagaimana dengan tingkat keamanan?"
"Asrama putri memiliki empat orang sekuriti yang berjaga di setiap sudut pekarangan asrama, Tuan. Setiap 12 jam sekali ganti orang, ada dua shift penjagaan. Dan jangan kaget kalau harganya sedikit mahal tetapi lebih murah dari sewa apartemen," jawab Shiera meyakinkan.
Raja terlihat puas dengan tanggapan Shiera yang punya kharismatik sebagai pemimpin. Shiera yang dia kenal dulu tidak seperti ini.
"Baiklah, masalah uang saya tidak permasalahkan. Saya akan mendaftarkan anak saya di asrama. Selama saya tinggal tolong, jika ada sesuatu hubungi saya langsung. Anak saya, masih sangat mengidolakan kamu ... Luna."
Tanpa basa-basi, Raja tembak langsung membuat pernyataan bahwa dia tidak bisa ditipu dan dikelabui oleh wanita yang di depannya ini.
"Maaf, saya Shiera, Tuan."
"Kau boleh mengelabui semua manusia, para fans yang berduka atas kematian palsumu. Tetapi tidak denganku Luna Piscesiera."
Shiera bergeming di tempat. Tatapan mata Raja menajam mengintimidasi dirinya. Shiera sulit berkelit ketika fakta ditunjukkan oleh Raja adalah sample DNA tulang belulang yang dia ambil dari makam yang bertuliskan namanya. Sample DNA itu memberikan hasil negatif pada sample DNA Bayu, abang Shiera.
'Kenapa bisa dia mendapatkan sample Bayu. Kenapa abangku ceroboh sekali, bodoh!'
"Lalu kau mau apa dariku? Setelah adikmu mencampakkan kakakku."
"Kakakmu selingkuh—"
"Terus dia apa? Dia lebih parah! Membawa wanita lain ke dalam rumah dan bercinta di depan mata kakakku. Apa itu yang namanya cinta, huh!" kesal Shiera, dia terbawa emosi.
Raja yang tersudutkan karena perbuatan adiknya hanya bisa diam. Memperhatikan kemarahan Shiera yang menatap bengis dirinya. Merasa rendah dihadapan Shiera.
"Aku tidak ikut campur masalah itu dan tolong, jangan sama 'kan aku dengannya. Kita bisa berjalan pelan-pelan."
"Tidak," Shiera memotong pembicaraan Raja.
"Lebih baik Anda pergi, atau anak Anda saya keluarkan dari sekolah ini. Saya punya hak mutlak untuk mengambil keputusan sepihak," ancam Shiera selanjutnya.
Raja mendengus dan tersenyum miring. "Dan saya juga punya bukti kuat atas status palsumu."
'Sial! Dia memang ahli dalam negosiasi. Susah berurusan dengan mafia seperti dia."
"Bagaimana Luna oh maaf, Shiera?"
Shiera menggeram, omongan Raja selalu serius dan jika ditantang maka dia tak segan untuk bertindak lebih jauh. Dan jika dia membongkar kasus kematian palsunya, bukan hanya dia yang akan berurusan dengan hukum tetapi Bayu juga. Bayu yang telah merencanakan semuanya.
"Kita hanya bisa sebatas hubungan kerjasama Tuan Raja karena saya akan menikah," ucap Shiera bertepatan dengan kedatangan Jun Pyo yang ingin memberitahu permintaan Denis padanya.
"Maaf mengganggu, "
"Tidak sayang, masuklah, kami sudah selesai," ucap Shiera berdiri dan setengah berlari mendekati pria Korea tampan, tinggi dan tegap yang selalu mengawal kemana pun dirinya pergi.
Raja menoleh geram melihat kedekatan dan keintiman Shiera dengan pria lain. Mr. Jun yang kaget disuruh santai oleh Shiera.
"Kau bantu aku, di depannya, kau adalah calon suamiku okey, no debate!" ucap Shiera tanpa menggerakkan mulutnya.
Raja tidak bisa berbuat apa-apa setelah Shiera melibatkan kemesraannya dengan mencium pipi pria itu dan memperkenalkan sebagai kekasihnya. Raja yang hanya memiliki tinggi 170 cm merasa rendah berharap dengan pria yang memiliki tinggi 190 cm.
"Kalau begitu saya permisi dan saya tidak akan menyerah, terima kasih atas waktunya."
Sebuah ancaman tersirat jelas di depan wajah Shiera. Raja tidak pernah kalah sebelum bertarung. Dia yakin pasti akan mendapatkan Shiera.
***
"Terima kasih atas bantuanmu untuk tidak menghindar saat aku cium. Kenapa kau kemari, apakah ada pesan dari abangku?" ucap Shiera setelah Raja pergi dan hanya ada mereka berdua di dalam ruangan.
"Tuan Denis sangat mengkhawatirkan Anda karena tidak menerima teleponnya. Jika Anda tidak sibuk bisakah Anda menelponnya?"
Shiera masih sedikit marah dengan Denis, malas untuk bicara. Kehadiran Raja kemari pasti akan membuat Denis cemas dan akan datang mengunjunginya kembali. Seribu alasan pasti bisa dia katakan pada istrinya, pikir Shiera.
"Iya, aku akan meneleponnya. Kau boleh pergi," jawab Shiera sekenanya sembari memikirkan rangkaian kata untuk menjelaskan kepada Denis dan pria itu tidak beranjak pergi, dia malah bertanya,
"Eum saya ingin bertanya Ibu Kepala. Apakah boleh?"
"Ya, silakan,"
"Saya diminta Tuan Denis untuk memantau siapa saja yang berinteraksi dengan Anda. Siapakah pria tadi, apa Anda mengenalnya?"
'Gawat! Kalau dia melaporkan ini pada Mas Denis pasti dia akan segera datang. Menguntungkan sih buat aku tapi, aku harus menyelesaikan masalahku sendiri. Raja orang yang nekad, dia bisa bertindak apa saja. Tadi saja dia sudah mengancamku apalagi jika Mas Denis turun tangan.'
Dia harus bekerjasama dengan Jung agar tidak melaporkan hal ini pada Denis.
"Eum, Tuan Jung, untuk pria tadi aku mohon agar kau tidak melaporkan tentang dia pada Tuan Denis. Bilang saja itu adalah wali murid yang ingin kejelasan," jelas Shiera.
Jun Pyo sebenarnya ingin melaporkan secara detail sesuai permintaan Denis. Tetapi karena Shiera telah memohon padanya dan akhirnya dia luluh.
"Baik, jika hanya sekali tidak masalah tetapi jika berkali-kali mungkin saya tidak dapat membantu," jawabnya. Dia merasa punya tanggung jawab yang besar dalam melindungi Shiera. Bayaran yang dia terima juga besar dan dia tidak akan mengecewakan orang yang telah membayarnya.
"Aku juga ingin minta tolong padamu. Apakah kau punya pacar?"
Ditanya seperti itu, pria ini sedikit kaget. Karena takut Shiera meminta hal aneh yang terlarang buatnya. Didalam kontrak kerja antara dia dan Denis tidak boleh berdekatan dengan Shiera. Apalagi seperti tadi, dia bisa dipecat oleh Denis.
"Saya sudah menikah dan punya anak satu."
"Kalau begitu, aku sangat butuh bantuanmu untuk menjadi kekasihku. Kau tidak akan jatuh cinta padaku karena sudah punya keluarga," ucap Shiera tanpa beban membuat wajah pria ini kebingungan.
"Tapi saya tidak boleh seperti tadi saat berada di luar. Sudah ada perjanjian tertulis oleh Tuan Denis untuk masalah itu, Nona." jawabnya jujur. Dia tidak mau terlibat masalah yang akan membuang penghasilannya. Apalagi masalah wanita yang diperebutkan.
Shiera tertawa, "Kau terlihat tegang Jun Pyo. Aku hanya ingin kau mengawalku bukan untuk berjalan di belakang tetapi di samping. Karena, aku benar-benar butuh perlindunganmu dari pria itu. Jangan pernah melaporkan hal ini pada Tuan Denis karena aku tidak mau pria itu terlibat masalah dengannya. Aku secara langsung meminta bantuanmu, itu bukan tugasmu?"
"Ya itu tugas saya dan saya minta Anda untuk jujur, siapa pria itu, jika Anda benar-benar butuh bantuan saya."