Tidak Akan Dilepaskan

1380 Words
Denis berusaha menghubungi Shiera berkali-kali, namun sambungan telepon tidak juga dijawab. Pekerjaan di kantor cukup melelahkan baginya. Denis meminta laporan dari pengawal Shiera, apa kegiatannya hingga dia tidak sempat untuk bicara dengannya. "Lapor Tuan Muda, nona Shiera sedang berada di sekolah. Kemungkinan jadwalnya padat karena siswa baru telah masuk hari ini." "Oh, begitu, katakan padanya jika punya waktu senggang hubungi aku." "Baik, Tuan." Denis, tidak bisa tidak menelepon walaupun sehari sekali. Hanya mendengar suara Shiera saja pikirannya tenang. Setelah ayah kandungnya meninggal, Denis diminta untuk menjaga Shiera. Karena hanya Denis yang bisa melindungi gadis manja itu. Denis memiliki kekuasaan tanpa batas, baik itu dari segi materi maupun kekuatan. Denis bersiap untuk pulang ke rumah saat matahari sudah tenggelam. Dia harus kembali sabar menghadapi sang istri dengan segala rasa curiga yang berlebihan. "Langsung ke rumah, Tuan?" "Ya, aku tidak kemana-mana lagi," ucap Denis. Dia memang jarang pulang telat setelah sudah menikah. Denis menghargai Deborah meski tidak mencintainya sepenuh hati. Deborah adalah ibu dari kedua anaknya yang lucu dan akan menjadi penerus baginya. Denis menyimpan hatinya yang untuk satu orang yaitu Shiera. Salju pertama mulai turun, musim dingin telah tiba. Yang dia pikirkan adalah Shiera lagi. Tidak bisa memeluk Shiera yang pasti akan selalu merasa kedinginan saat musim dingin dan dia ada di sana. Mereka tidur sembari berpelukan di depan perapian. Kasih sayang Denis yang murni tanpa hasrat, jika Shiera tidak bertingkah lebih. Sampai di rumah, Denis disambut oleh kedua orang anaknya yang satu berusia 7 tahun dan satunya lagi berusia 4 tahun. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat normal di mata semua orang. Keluarga bahagia tapi jarang menghabiskan akhir pekan bersama. Hanya hari-hari libur keagamaan saja mereka kumpul bersama. "Dad, di luar sudah ada salju, bukan, sebentar lagi Natal, dan kita tukaran kado," ucap si abang dengan bijak. Denis yang penyayang langsung berjongkok dan tersenyum, mengelus puncak kepala putranya. "Iya sayang, sebenar lagi Natal, kita akan beli kado nanti." "Yeay, aku mau yang besar, Daddy," kata si cewek dengan wajah lucunya yang belepotan cokelat. "Hey, anak gadis tidak boleh kotor seperti ini kemana mommy?" tanya Denis memperhatikan kedua anaknya. "Mommy sibuk menelepon," ucap si abang memberitahu kelakuan sang ibu yang tidak lagi peduli pada mereka. "Ya sudah kalian nonton film saja atau bermain, sebentar lagi makan malam. Kakek dan nenek pasti akan turun sebentar lagi" "Okay, Daddy." Pengasuh mereka langsung mengambil alih keduanya agar tak mengikuti Denis menaiki tangga menuju kamarnya. Denis masuk ke dalam kamar, mendengar Deborah sedang tertawa sembari menelepon. "Sudah dulu ya, nanti aku akan meneleponmu lagi," ucapnya dan meletakkan ponsel ke atas nakas. Dia sengaja bertingkah seolah-olah sedang menelepon seseorang yang spesial, agar Denis cemburu. Mata Denis memperhatikan Deborah yang hanya menggunakan lingerie lalu menutupnya dengan kimono sutera dan berjalan melewatinya dengan acuh. Denis pikir dia akan dirayu dan Deborah minta dimanjakan di atas ranjang. Namun wanita itu malah sibuk memilih gaun. "Kata Aaron kau menelepon sepanjang waktu bahkan masuk ke dalam kamar mandi. Apakah itu menjadi hobi barumu?" ucap Denis, meliriknya. "Apa kau terganggu. Aku punya hak untuk menelepon siapa pun bukan?" Denis tersenyum, "Jika kau mulai untuk mencari kekasih baru, baiklah, silakan," ucap Denis acuh sembari menarik lepas dasi yang terasa mencekik lehernya. Perkataan Denis tersebut memancing amarah Deborah. "Itu yang kau mau bukan? Melihatku selingkuh lalu kau akan menceraikan aku dan pergi dengan wanita itu!" tudingnya berapi-api. Deborah ingin dicegah atau diancam bukan dipersilakan. "Wanita mana? Kau jangan asal tuduh!" bentak Denis. Deborah berjalan cepat menuju nakas dan mengambil foto-foto Denis dan Shiera yang tampak dari belakang. Melemparkan foto tersebut ke atas ranjang. Sudah dia duga, bahwa Deborah mulai menguntit kemana dia pergi lewat orang sewaaan. "Ini, wanita ini! Seorang muslim tidak tahu malu! Kalian berpelukan seperti ini dan kau sangat menikmatinya. Apa kau pun sudah berpindah keyakinan ikut sepertinya?! Kalau begitu, sekalian saja kau pergi dari sini karena kau seorang pengkhianat! Punya harta bukan dari orang tua kandung dan wanita itu pun menikmatinya." "Tutup mulutmu Deborah! Kau aku nikahi karena bentuk tanggung jawab. Kau yang menyerahkan diri padaku dan aku setuju menikahimu meski kau tahu, aku tidak begitu mencintaimu. Dan masalah harta, orang tuaku tidak pernah mempermasalahkan, meskipun mereka orang tua angkat ku, kenapa kau yang ribut?" "Dulu Luna sebagai pengacau hubungan kita! Tapi setelah dia mati, kau malah mencari pengganti yang lain! Apakah dia juga harus mati agar kau bisa melihatku!" ucap Deborah dengan bibir bergetar. Dia emosi dan tidak rela jika selalu terabaikan oleh Denis. Dia ingin cinta tulus Denis pada Luna berpindah padanya. Bertahun-tahun dia bertahan namun Denis masih seperti yang dulu. Menyetubuhinya hanya karena kebutuhan biologis bukan cinta. Dia pikir setelah menikah dan memiliki dua orang anak bersama Denis, maka pernikahan mereka akan menjadi sempurna dan bahagia. Khayalan yang terlalu tinggi dan percaya diri bagi Deborah. Bersyukur atas kematian Luna karena kasih sayang Denis begitu besar padanya, tetapi sekarang malah ada pengganti Luna yang lain. Denis mengontrol emosinya, tanpa harus menampar wajah Deborah. Diambilnya foto-foto tersebut lalu merobeknya. Meremasnya kasar dalam genggaman tangannya. "Jika kau ingin lepas denganku, silakan kau tuntut aku dan jangan bawa perkara wanita lain atas sebab perceraian kita." "Kau melindungi dia!" Deborah menggeram, matanya menyipit tegas melawan tatapan tajam Denis yang mengancamnya. "Tentu, dia penting untukku dan anak-anak tetap bersamaku! Kau bukan seorang ibu yang baik, karena kau hanya butuh cinta seorang pria bukan. Maaf, jika itu tidak bisa kau dapatkan dari aku." Denis menghempas kasar remukkan foto tersebut ke atas lantai. Masuk berjalan ke walk in closet. Membuka semua pakaiannya tanpa peduli Deborah memperhatikannya dengan kesal. Dia pikir Denis akan membujuknya dan tidak ingin kehilangan dirinya. Ternyata, cara yang diajarkan Etan tidak ampuh untuk membuat Denis menyesali perbuatannya. Denis malah setuju untuk bercerai dan malah akan mengambil hak asuh atas anaknya. 'Kau tidak akan bisa hidup tenang dengan wanita itu karena aku tidak akan pernah melepaskanmu!' *** Seoul Semua rangkaian acara penyambutan kedatangan siswa baru telah selesai. Luna beserta staf guru memasuki ruang kelas, studio dance, dan studio vocal. Melihat beberapa murid yang sedang berlatih untuk pentas drama. Semua fasilitas di sekolah ini sangat mendukung. Peralatan musik yang modern dan tradisional tersedia. Semua murid akan memasuki kelas berdasarkan minatnya. Setelah makan siang, dia kembali memimpin rapat para dewan guru yang akan mempersiapkan untuk pelajaran tambahan untuk siswa kelas akhir. Jenjang pendidikan di sekolah seni dari SMP hingga SMA. Siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke sekolah seni internasional harus memiliki kecakapan dalam bidang yang digelutinya. Luna ingin semua muridnya menjadi lulusan terbaik dan siap untuk berkarya di luar sana. "Apakah tidak terlalu lama menekan siswa hingga pukul sepuluh malam dalam belajar? Mereka sudah lelah," ucap Shiera, yang memikirkan seseorang berdasarkan dirinya. Dia selama bersekolah tidak pernah masuk full sampai selesai. Bahkan dia sebagai murid spesial yang memiliki jam pengajaran yang sedikit, tanpa harus minta izin berkali-kali jika dia ada kegiatan manggung. "Mereka akan diberikan kesempatan untuk tidur selama satu jam. Aula siap menampung mereka." "Hanya di lantai, bagaimana dengan bantal?" "Lantai yang sudah diberikan sistem pemanas, mereka tidak akan kedinginan. Mereka akan membawa bantal dan selimut, itu akan di simpan di dalam loker selama jam pelajaran berlangsung." Saling sharing dengan staf pengajar yang sudah profesional membuat pikirannya lebih terbuka. Karena sistem pengajaran seperti ini sudah biasa diterapkan di Korea. Orang tua akan memakluminya karena anaknya dibentuk menjadi sumber manusia yang berkualitas dan mampu bersaing di dunia pekerjaan. "Baiklah, kalau tidak ada masalah dengan para orang tua. Kita akan mengambil vote setuju atau tidak mereka tentang kebijakan ini." "Baik Bu Kepala, rapat dengan orang tua siswa akan diadakan dua hari ke depan." Shiera menyetujui semua rencana mereka demi membangun kualitas anak didiknya. Sekolah memfasilitasi beberapa hal yang akan membuat para murid merasa nyaman dan tidak tertekan selama proses pembelajaran berlangsung. Selesai rapat, semua meninggalkan ruangannya. Shiera duduk di kursi besarnya. Memeriksa beberapa berkas di atas meja yang perlu meminta persetujuan darinya. "Permisi, Ibu Kepala—" Seorang pria mengetuk pintu dan menjengukkan kepalanya masuk ke dalam ruangan. " Ada apa Mr.Jung?" "Ada seorang wali murid baru yang ingin bertemu dengan Anda." Shiera tidak curiga sama sekali jika orang yang akan akan dia temui adalah orang yang ingin dia hindari. "Ya, silakan masuk." Shiera berdiri dan berjalan ingin menyambut ramah sang pria. Senyum dibibirnya telah terukir menawan. Ketika pintu dibuka lebar dan sosok pria itu masuk, begitu juga denyut jantung Luna berdetak kencang. 'Mati aku, kenapa dia?!'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD