Ditakdirkan Bersama

2601 Words
Mobil semakin laju dan Shiera berhasil membuka pintu, jatuh berguling masuk ke dalam hutan. Shiera meringis, lutut dan lengannya mungkin luka tapi dia berhasil untuk menutup wajahnya, agar tidak lecet. Suara jangkrik terdengar nyaring, suasana disekitarnya, gelap dan pekat, sepi ... sangat menakutkan. Shiera hanya bisa mengandalkan sinar bulan yang berada di atasnya. "Oh my God, where is my phone ... mama ... papa ... tolong aku!" "Moon ... come on baby ... let's have fun." "Mas Denis! Go away ... go ... I don't know you! " "But we know you, Moon," "No ... no ... please ... don't touch me, please ... no!! " *** "Tidak, tidak, tolong!" Shiera terbangun, langsung duduk dan menyalakan lampu tidur. Peluh keringat membasahi wajah hingga ke leher. "Mimpi bodoh ini lagi!" gerutunya sembari menyibak selimut berjalan keluar kamar untuk mengambil minuman. Duduk terpekur di depan meja dengan sebotol minuman penghangat tubuh. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas malam, masih dini untuk melakukan aktivitas. Dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang yang baru saja pergi meninggalkannya untuk berapa hari ke depan. Seperti seorang wanita simpanan yang menunggu jatah hari untuk bisa bersama. "Halo, di sana masih malam, kenapa kau menelepon?" tanya sang pria di seberang sana, cukup khawatir. "Kangen aja," jawabnya asal. "Nggak mungkin, pasti mimpi itu lagi 'kan. Pergi ke dokter dan konsultasikan. Kau harus sembuh, Shiera. Untuk sementara Mas gak akan ke sana dalam waktu yang dekat, okay." "Nggak okay, kenapa?" Shiera nampak terkejut, karena jika tanpa Denis dia merasa sendiri. Setidaknya, Denis bisa mengunjunginya seminggu sekali, itu cukup. Dan jika tidak bisa lagi, dia pasti sulit untuk tidur selama berhari-hari. Berada di dalam penthouse mewah yang besar sendirian, sangat kesepian. Dia perlu menyesuaikan diri selama kurang lebih setahun untuk bisa merasa nyaman. Dan saat Denis datang, dia merasa tenang, tetapi jika Denis pulang, dia kembali kesepian dan mimpi buruk kenangan masa lalunya hadir kembali sesekali. "Daddy dapat laporan dan sepertinya berasal dari Deborah. Kemarin dia menuntut perceraian dan ingin mengambil hak asuh anak dengan alasan Mas punya wanita lain." "Ckk, kalau seandainya mulut dia gak ember. Dia pasti tahu yang sebenarnya. Jadi, Daddy marah?" Shiera juga memanggil orang tua angkat Denis sama seperti Denis memanggil mereka. Shiera dan kedua saudaranya sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Denis. Mereka jarang bertemu tetapi komunikasi tetap lancar. "Hmm, daddy mengancam jika aku punya wanita lain maka semua harta atas namaku disita dan diberikan untuk kedua anakku. Deborah ingin perceraian dan hak asuh anak jatuh padanya." Shiera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keadaan seperti ini sudah diperhitungkan oleh Cahaya, kakak tertuanya. Dia sebenarnya diminta untuk tinggal bersamanya. Tapi Shiera tidak ingin merepotkannya. "Jadi, mulai sekarang aku tidak boleh mengharapkan siapa pun?" "Shiera, pengawalmu selalu setia di luar. Tidak ada yang berani melakukan kejahatan padamu lagi, oke. Kau aman, sayang," ucap Denis. Tanpa berpamitan Shiera mengakhiri panggilan dan melemparkan ponselnya di atas meja. Ponsel kembali berdering, Denis masih ingin bicara dengannya. Bagi Shiera, apa yang sudah ditetapkan oleh Denis sulit untuk berubah dan tidak penting membahas di telepon selama berjam-jam. "Aku butuh seseorang untuk bermanja, apakah aku harus kencan buta?" gumamnya. Dia memang butuh seorang pria disisinya. Untuk melupakan masa lalu dan menutup harapan untuk memiliki Denis meskipun setengah porsi. Setengah porsi adalah cinta seorang abang pada adiknya. Shiera wanita muda yang labil, perasaan cintanya pada Denis tidak bertepuk sebelah tangan melainkan melanggar hukum agama. Sampai mati pun orang tuanya tidak pernah melegalkan perasaannya pada Denis. Selama ini, Denis dan dia selalu saja tidak bisa mengontrol perasaan, dan batasnya hanya saat mereka berciuman, itu titik terparah. Cinta yang mustahil dan tidak akan pernah bersatu hanya akan menghadirkan rasa lelah. Tetapi rasa cinta tidak bisa hilang begitu saja, jika orang yang dicinta selalu menyiapkan bahu sebagai tempat dia untuk bersandar. Pelukkan hangat memberikan rasa aman bagi raganya yang rapuh. Siapa lagi yang akan memberikannya rasa seperti itu, selain Denis. "Aplikasi kencan, mungkin ini akan membantu." Shiera menemukan satu aplikasi kencan yang akan membawanya bertemu dengan pria yang baru. Pria Korea yang usia matang dan single masih sangat banyak. Artis tampan Korea malah pernah ada yang berkenalan dengannya tetapi Shiera menolak karena dia tidak ingin disorot media. Dia sensitif dengan kamera karena bisa saja wajahnya terdeteksi menggunakan tambahan make-up. "Eh, apa-apaan, kok dia di sini juga, hahaha!" Shiera tertawa ngakak ketika pilihan para pria lajang di sana ada salah satu staf guru di sekolahnya. Tak lama kemudian pesan singkat masuk ke ponselnya. Park Jun Ki : Maaf, apakah benar Anda ikut ke dalam aplikasi kencan? Anda: Aku hanya mencari teman untuk mengobrol, aku insomnia, hanya iseng. Lanjutkan mencari wanitamu, bye. Shiera tanpa basa-basi mengakhiri kegiatannya yang random. Kembali ke dalam kamar dan mencoba untuk tidur lagi. *** Alarm berbunyi nyaring, cukup memekakkan telinga. Shiera bangun tergesa-gesa dengan wajah sembab dan tempat tidur yang sangat berantakan. Sprei dan bedcover berhamburan, layaknya kamar pengantin baru yang mencoba beberapa gaya selama berjam-jam. Shiera masuk ke dalam kamar mandi, membasuh tubuhnya. Merasakan tangannya membelai kulitnya sendiri, dia ingin seseorang melakukan untuknya. Bukan hanya kucing saja yang tiba-tiba memiliki hasrat seksual birahi. Manusia juga, apalagi dia pernah merasakan betapa nikmatnya itu. Shiera membelai bagian intimnya dengan lembut, jejak milik pria itu masih terasa di kulitnya. Tidak ada satu pun yang tahu, jika pria tersebut meninggalkan jejak di tubuhnya sebagai kepemilikan. Shiera membelai pelan merasakan teksturnya yang berbentuk mahkota di atas kulit lahan segitiga miliknya. Simbol mahkota RAJA, adalah tatto yang diberikan pria itu sebelum semuanya berakhir. "Huft! Mungkin kau harus aku singkirkan, supaya kelak calon suamiku tidak pernah melihat ini, tapi gimana caranya, tanpa aku buka celana dan melihatkan harta berhargaku pada ... oh astaga! Apakah ada wanita yang ahli tatto di kota ini?" Menghilangkan tatto tentu saja harus dilaser pada bagian tersebut, dan pastinya dia harus membuka celana dalamnya. Shiera malu untuk melihatkan miliknya pada orang lain. Apalagi dia adalah wanita berhijab. Orang tidak akan mau tahu alasannya, tetapi langsung men-judge apa yang ada padanya. "Sebelum mencari calon pacar dan suami, aku harus menghilangkan gambar tersebut, oh astaga, aku ingin sekali meneriaki tepat di wajahnya, sialan kau, buat susah saja!" Hari ini hari libur, jadwalnya hari ini adalah belanja bulanan. Meskipun dia hanya tinggal sendiri. Shiera lebih suka memasak makanan sendiri, lebih higienis dan sesuai dengan lidahnya. Pergi berbelanja ke mall yang dekat dengan huniannya. Shiera hanya berjalan kaki tanpa menggunakan mobil. Lagi pula, mobilnya tidak bisa digunakan hari ini, karena nomor plat ganjil. Shiera mengambil troli dan memasukkan berapa jenis buah ke dalamnya. Ikan, udang dan seafood lainnya. Setelah selesai dia menuju kasir dan membayarnya. Dua kantong plastik sedang berada ditangannya. Melihat toko musik dia berhenti dan masuk. Berjalan melihat-lihat DVD miliknya yang masih terpajang di sana lengkap dengan tanda tangannya dan hanya ada satu. Sang mantan superstar yang harus bersembunyi di balik identitas palsu demi bertahan hidup untuk lebih baik. Tetiba dari arah belakang seorang gadis remaja berkata, "Nah itu, punya Moon, alhamdulillah nemu di sini, Yah." Shiera tersenyum ternyata masih ada fans yang menginginkan karya miliknya. Saat dia ingin menoleh, suara bariton lelaki dewasa menyahut, "Ambil, cepat kita bayar." Tulang lutut Shiera bergetar, dia masih ingat suara pria itu. 'Kenapa dia ada di sini,' batinnya. Shiera menggeser tubuhnya ke kiri sedikit demi sedikit. Jangan sampai pria itu mengenalinya. Pria yang telah memberi tatto pada bagian intimnya. Susah payah dia menghindari sang pria, seorang wanita yang dia mengenalnya memanggilnya dan mengajaknya bicara, "Ibu kepala sekolah Seni Konglish, senang bisa bertemu Anda di sini." 'Aku yang tidak senang. Ya Tuhan semoga pria itu tidak mengenali perubahan penampilanku.' Kepala pria ini berputar mendengar nama sekolah yang akan menjadi pilihan sang putri semata wayangnya ini. Matanya terus melirik wanita yang dipanggil kepala sekolah tersebut, membelakanginya. Tubuh kurus tinggi itu seperti sosok wanita yang dia cintai tetapi sudah meninggal. "Yah, dengar gak apa yang Fira bilang tadi?" "Iya dengar, itu kepala sekolahnya, ternyata orang islam," celetuknya. Sedikit di luar nalar pemikirannya. Ini luar negeri, yang seharusnya dikuasai oleh orang Pribumi. Kenapa kepala sekolahnya menggunakan hijab. 'Mungkin dia mualaf,' batinnya. Kepalanya menggeleng pelan. Ketika rasa curiga itu ditepisnya kuat, tetiba sang wanita itu mengeluarkan suara yang sama persis dengan sang kekasih yang sudah meninggal. "Iya, sama-sama, terima kasih kembali," ucap si wanita dengan bahasa nasional negeri ini. 'Tubuh boleh sama tetapi suara, eh gak mungkin, aku ke makamnya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika batu nisan itu tertulis namanya. Gak mungkin keluarganya membohongi aku seperti itu ... gak mungkin dan nggak lucu!' "Yah, lihatin siapa. Eonni itu ya, cantik sih ya dari samping mirip—" "Kamu tunggu di sini, ayah mau ke sana dulu." "Tapi yah, ini belum dibayar" "Iya pegang dulu, nanti ayah bayar, sebentar." Pria ini berlarian keluar dari toko musik untuk mengejar wanita yang mirip seperti kekasihnya. Wanita yang menggunakan coat berwarna maroon. Berjalan diantara keramaian orang. Semakin dia mengejar semakin dia kehilangan. Tubuh ramping itu dikelilingi dan ditelan puluhan manusia yang ramai dan juga sama tinggi dengannya. Matanya sudah tak terjangkau mencari si wanita yang sekarang entah ke mana. "Akhh, bodoh! Nggak mungkin 'kan kalau dia hidup lagi. Oh, ya, aku harus menelepon Ryan, dia pasti tahu. Dia pasti tahu semuanya!" gumamnya pelan sembari menelepon, berjalan kembali menuju toko musik tempat si anak dia tinggalkan. "Halo Mas," "Ryan, Mas mau tanya, kamu jawab jujur. Kamu lagi di mana?" "Hmm, apa sih, aku di hotel." Dia tampak gelisah, meraup kasar wajahnya dan berkata, "Kamu sudah cerai sama Cahaya, jadi apakah ada rahasia tentang keluarganya. Seperti, kematian Luna?" "Ngomong apa sih Mas, aku gak ngerti," jawab adiknya ini. "Aku juga gak ngerti, Yan! Tapi perasaan aku mengatakan kalau dia masih hidup. Udahlah jangan tutupi lagi fakta itu. Elu, sudah bercerai dengan kakaknya,.jadi kalau emang Luna masih hidup, hak gue bisa dekatin dia lagi." Terdengar helaan napas kasar Ryan, sang adik di seberang telepon. Meskipun dia dan kakaknya Luna sudah resmi bercerai bukan berarti rahasia besar yang dia sudah berjanji untuk tutup mulut harus dia ungkap. "Mas, orang yang punya power seperti Mas, kok perlu basa-basi begini sama aku. Mas punya kenalan sindikat mafia yang berada di sana. Bongkar aja kuburannya dan cari sample DNA mayat samakan dengan si Bayu. Culik aja Bayu berapa jam, beres 'kan." Dia pikir hanya dengan bertanya dengan sang adik maka kebenarannya langsung dia dapatkan. Menyuruh orang untuk membongkar makam yang sudah berjalan 7 tahun butuh keahlian yang tinggi. Karena kontur tanahnya sudah padat dan sulit untuk digali. Apalagi dia tidak menggunakan peti mati. Tukang belulang pasti sudah berserakan di dalamnya. "Kalau gitu mah, gue gak perlu telepon lu segala. Buang-buang kuota!" "Lagian, kenapa sih masih—" Panggilan langsung dia reject. Tak ada gunanya bicara dengan sang adik yang ternyata tidak bisa dimanfaatkan. Dulu, dia yang berjuang mati-matian demi menyelamatkan cinta adiknya. Tapi sekejap mata dalam hitungan tahun mereka akhirnya bercerai. Beralih dari menelepon, dia mengirim pesan singkat pada seseorang yang mungkin bisa membantunya. Seperti saran dari Ryan, jika dia akan membongkar makam wanita itu demi mencari kepastian. "Ayah, kok lama, dari mana?" cerca anak gadisnya yang beranjak remaja. . "Ada perlu, ayo cepat, ayah bayar habis ini kita ke hotel. Besok kita harus menghadap kepala sekolah." Dia sudah tidak tahan untuk bertemu dan melihat sendiri wajah wanita tadi. Benarkah dia mirip dengan wanita yang dia cintai? *** "Halo sayang, keponakan auntie, sudah besar ya, makin ganteng saja," Mengobrol dengan bocah ini sejak umur 8 bulan lewat video call sembari memasak adalah rutinitasnya saat libur. Anak sang kakak yang terlihat chubby di kedua pipinya yang montok serta tangannya yang gempal karena ASI ekslusif kini telah beranjak besar dan tubuhnya menyusut lebih ramping. "Iya Auntie, kapan main ke sini. Ibra mau minta gendong," ucapnya bernada manja. Shiera tertawa dan layar beralih pada wajah sang kakak. "Aduh Mbak, tahu nggak aku ketemu siapa tadi, Raja!" "Subhanallah, kenapa bisa ketemu dia. Aku udah mikir dari tahun kemarin, kenapa dia mau tahu nama lengkap kamu. Eh malah ada di sana. Kamu jangan keluar kemana-mana dulu. Ingat ya, udah cukup Mbak yang tertipu dengan cinta keluarga mereka. Pokoknya darah mereka itu turunan brengsek." "Mbak, gak boleh gitu, anakmu itu darah mereka loh" ucap Shiera. Sang kakak menarik napas panjang dan menghempaskan kasar. Perempuan kalau dikhianati, kecewanya pasti abadi. Dia tidak lagi berpikir jika darah dagingnya memiliki darah yang sama dengan sang mantan suami. Wajahnya juga mirip bagai pinang di belah dua. "Yang jelas aku gak setuju kamu sama dia, setelah hubungan aku dengan adiknya selesai. Kita gak perlu estafet untuk menjadi bagian dari keluarga mereka." "Iya, tahu Mbak. Aku juga gak mau repot," jawab Shiera sekenanya. Dia tidak bisa memastikan apakah mungkin takdir kembali ingin menyatukan mereka lagi. Masih ada sedikit cinta yang dia simpan untuk Raja. Jika Denis tidak bisa dia miliki seutuhnya, maka Raja mungkin bisa meskipun dengan kontra. Shiera merasa sudah dewasa dan tahu apa yang harus dia pilih. Mencari dan menemukan cinta sejati itu susah, apalagi dia mempunyai kekurangan. "Mas Denis masih tiap minggu mengunjungi kamu?" tanya Aya. "Terakhir kemarin, katanya si Deborah curiga dia punya wanita lain. Aku dong sasarannya, ya nggak." "Udah aku bilang kemarin, kalian sih nekad amat. Gak harus seperti itu.. Mas Denis itu punya anak dan istri, sebulan sekali atau dua bulan sekali wajar datang ke sana. Ini tiap minggu, ngecas kalian?" cerocos Aya memarahinya. Aya memang menentang dan siap untuk ribut besar jika antara Luna dan Denis benar-benar kelewat batas. "Cih apaan, aku masih punya iman Mbak, paling kami ya ... ciuman," jawabnya enteng sembari terkekeh pelan. Shiera memang sengaja membuat marah Cahaya, agar pembicaraan mereka semakin panjang. "Astaghfirullah, gak usah Shiera! Papah sama Mamah yang akan berdosa gegara kamu!" "Udahlah Mbak, aku tahu porsi kok udah dulu ya, aku mau lanjut masak, dah Ibrahim, makin besar mirip papah ya Nak, yang ganteng." "Ckk kamu!" Shiera memang suka menggoda sang kakak yang sebenarnya masih cinta dengan sang mantan suami tapi menolak mentah-mentah untuk baikkan. Dan sang mantan suami juga lemah, karena saking cemburu dan sakit hati malah menikah lagi. Cinta yang rumit, Shiera tidak ingin seperti itu dan berharap tidak diperumit jika bertemu jodohnya. *** Hari Senin telah tiba, sekolah masuk pada pukul delapan pagi. Shiera telah bersiap sejak pukul tujuh pagi. Menyiapkan konteks pidato yang akan dia sampaikan untuk para murid baru yang akan masuk hari ini. Berjalan mondar menghapal teks ditemani asistennya yang selalu siap memenuhi keperluannya. "Dengan ini saya—" "Maaf Bu, harusnya Anda tidak menjeda dan mengucapkan 'Selamat datang di sekolah ini' " "Oh, baiklah, aku ulangi lagi." Berlatih selama setengah jam. Dia merasa sudah mantap untuk menjalani kewajibannya sebagai seorang Kepala Sekolah. Outfit rok panjang, setelah jas hitam dan kerudung berwarna salem menambah kesan elegan. Supir dan pengawal dari Denis sudah siap menggiringnya ke sekolah. "Setelah pidato aku akan meninjau kelas-kelas baru." "Ya, jangan lupa, rapat dengan dewan guru setelah jam makan siang." Jadwal yang padat kadang membuatnya mual sendiri. Padahal dia adalah kepala sekolah. Tiap tahun murid semakin bertambah dan ruang kelas juga bertambah. Dia juga sesekali menjadi staf pengajar untuk teknikal suara sembari koreografi. "Oke, aku mau makanan pedas untuk makan siang, tolong kau bilang orang kantin pagi ini." "Siap!" Sampai di sekolah, Shiera disambut oleh seorang pria yang merupakan wakil kepala sekolah. "Semua murid baru sudah berkumpul di halaman. Orang tuanya juga berada di bawah tenda. Mereka menunggu kedatangan Anda." Shiera berjalan lurus tanpa melihat semua orang yang menatapnya takjub. Kecantikan yang menguar memberikan energi positif pada semua orang termasuk, Raja. Ujung bibirnya menjungkit ke atas menatap Shiera yang berjalan tepat di depan matanya. 'Sekalipun kau mengubah bentuk wajahmu atau memakai cadar, aku pasti bisa mengenalimu, bulanku. Aku akan membuatmu mendesah, agar aku yakin bahwa kau adalah wanita yang di hadapanku. Kita memang ditakdirkan untuk bersama.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD