Seoul
"Mas Denis, jadi pulang hari ini?" tanya wanita cantik ini sembari membenarkan kerudung yang membingkai wajah mungilnya. Sudah dua jam lebih dia di depan cermin merias diri agar tampak beda. Memiliki identitas baru, maka harus dengan wajah yang baru pula. Tidak bisa hanya dengan memberikan tahi lalat tapi dengan bahan plastik membuat kontur wajah dan bentuk matanya bisa diubah.
Lawan bicaranya tak berkedip memperhatikannya sedari tadi. Shiera memang selalu menjadi pusat perhatian oleh siapa pun. Tak heran, jika banyak para pria terpesona dan melongo melihat kecantikan alami yang dia miliki. Tanpa terkecuali pria yang sedarah dengannya ini. Semakin memakai hijab dia semakin cantik dan bersinar.
"Ya, Deborah kelihatannya sudah mulai curiga. Aku tidak mau memperkeruh suasana," jawabnya. Tatapan mata si tampan ini beralih ke atas piring yang telah berisi sandwich buatan Shiera.
Setiap akhir pekan dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Shiera. Meskipun berbeda benua dan negara, dia tidak masalah. Pesawat jet pribadi miliknya menjadi andalan utama dan selalu dirawat agar lancar bepergian setiap seminggu sekali.
"Aku juga nggak nyaman dia selalu memantau. Identitas palsuku bisa ketahuan nanti repot. Mas pulang jam berapa? Aku ada rapat dengan staf pengajar pukul tujuh pagi ini. Jika kau mau ikut, ayo. Aku perkenalkan kau sebagai donatur terbesar di sekolah," jelasnya sembari merapikan kerudungnya dan ditarik ke belakang.
Denis melihat arloji dan menghitung berapa jam dia akan sampai di London. Jarak tempuh dengan pesawat komersil rata-rata 11 jam lebih. Pesawat jet pribadi miliknya lebih cepat sedikit dari perkiraan. "Aku hanya punya waktu dua jam."
"Baik, dua jam. Ayo selesaikan sarapanmu Setelah itu kita pergi ke sekolah," ucapnya riang.
Shiera duduk di samping Denis. Aroma parfumnya menguar, menusuk hidung Denis, hingga dia terbatuk-batuk.
"Parfummu kenapa begitu manis seperti ini. Kau mau semua pria melirikmu?" tanya Denis seraya melemparkan tatapan sinis. Sebagai seorang kakak dia sangat posesif. Karena baginya, Shiera adalah miliknya seumur hidup.
"Ya, aku juga butuh kekasih, Mas. Kau juga tidak akan mungkin menjadi kekasihku bukan?"
"Konyol!" tukas Denis cepat.
Dia kembali menatap piring untuk menghabiskan setengah potong sandwich yang tadinya lezat mendadak jadi tak berselera. Entah kenapa dia merasa terganggu.
Bukan tanpa alasan perubahan mood-nya seperti itu. Sudah seringkali terjadi jika Shiera terus membahas tentang pria yang akan mendampingi hidupnya. Denis tidak bisa berbuat apa-apa, selain menjadi penyeleksi. Apakah pria itu bagus atau tidak?
***
London
Di sisi lain, Deborah, istri Denis sedang berhadapan dengan seorang pria yang sedang menjelaskan sesuatu padanya. Pria itu memberikan satu amplop berisi foto-foto yang diambilnya dari jarak jauh.
Foto tersebut melihatkan Denis masuk ke dalam penthouse mewah milik seorang wanita. Di depan pintu tangan wanita itu memeluk leher sang suami dan tangan Denis terlihat merengkuh erat pinggang si wanita.
"Kau tidak bisa melihat mereka pergi berdua?"
"Tuan Muda White tidak pernah keluar bersamanya. Mereka hanya menghabiskan waktu berduaan di dalam. Si wanita juga tidak pernah keluar. Jika keluar, dia menggunakan masker dan kacamata. Seperti yang Anda lihat, Ma'am."
Deborah membanting kasar amplop itu ke atas meja. Dia kesal karena tidak bisa melihat secantik apa wanita saingannya yang telah memikat sang suami.
"Jadi, dia adalah seorang kepala sekolah di sekolah seni Internasional? Apakah dia sudah menikah?"
"Maaf, tidak ada yang berani memberikan informasi tentang dia. Saya sudah berusaha keras untuk bertanya-tanya ke semua staf yang berada di sekolah itu. Pengawalnya juga banyak, mereka mengusir saya ketika saya berada di wilayah sekitar bangunan sekolah," ucap si pria, dengan teliti.
Bukan hanya satu orang saja mata-mata yang dia kirim untuk mencari tahu wanita simpanan suaminya itu. Sudah lebih dari lima orang, laporannya selalu sama. Tidak ada yang bisa menangkap wajah cantik di balik masker tersebut.
"Baiklah, terima kasih, tugasmu selesai."
Deborah memberikan satu bundel uang cash sebagai bayaran atas informasi yang dia dapatkan. Dia berdiri meninggalkan coffee shop dengan suasana hati yang geram tak menentu.
Bukannya masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh sang supir, Deborah berjalan terus tegak lurus. Rambut pirangnya berkibar ke belakang. Kedua tangannya masuk ke dalam coat tebal. Meluruhkan air matanya demi melegakan sesak di dalam dadanya.
"Dulu Luna, sekarang, siapa lagi wanita yang mengusik hubungan kita! Perempuan sialan!" gumamnya pelan, sembari menendang baru kerikil yang berada di trotoar jalan.
Luna yang sekarang berganti identitas menjadi Shiera pernah digosipkan dengan Denis, tetapi setelah terkuak bahwa gadis itu adalah adik Denis maka gosip itu berhenti, apalagi setelah Denis menikahinya, semua gosip tersebut dianggap tidak pernah ada.
Deborah berhenti berjalan, ketika dadanya merasa sesak dan napasnya ngos-ngosan. Tangannya mengepal erat besi jembatan. Tatapan matanya menjurus ke depan melihat nanar bangunan tinggi yang di seberang sungai.
"Hai, ada apa, kenapa kau di sini sendirian?"
Deborah menoleh terkejut melihat sepupu suaminya telah berada di sebelahnya.
Deborah tersenyum dan tak membuka kacamata yang menutupi matanya yang bengkak karena menangis.
"Aku hanya ingin mencari udara segar," elaknya. Dia tak nyaman untuk bicara terus terang tentang rumah tangganya bersama Denis.
"Bohong, katakan saja, tidak apa. Mungkin aku bisa membantumu. Jika Denis berlaku tidak baik, aku akan melaporkan hal ini pada ayahnya. Dia akan menjadi gelandangan jika berani menelantarkanmu."
Deborah sedikit terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Etan. Denis tidak akan bisa menelantarkannya jika semua harta yang dia punya dibekukan oleh ayahnya. Denis adalah anak angkat keluarga White. Dia dibuang oleh ibunya di depan rumah keluarga White, karena lahir di luar nikah.
Setelah remaja, Denis bertemu dengan Ayah kandungnya tetapi memilih tetap tinggal bersama orang tua angkatnya yang sangat menyanyanginya seperti anak kandung mereka. Keluarga White tidak memiliki keturunan dan mereka bersyukur mendapatkan Denis. Hubungan keluarga White dengan Ayah kandung Denis terjalin dengan baik.
Ayah kandung Denis menikah dengan ibunya Shiera dan akhirnya memiliki tiga orang anak. Denis memiliki tiga saudara seayah. Dari ketiga orang saudaranya, hanya Shiera, si bungsu yang sangat dia sayangi dan sangat manja padanya.
"Dia tidak menelantarkan aku tetapi, dia mempunyai wanita lain. Dia membiayai wanita itu dengan jumlah yang sangat besar. Sayangnya, aku tidak bisa ke sana untuk melabraknya karena wanita itu dilindungi bodyguard yang banyak. Dia tak tersentuh."
Deborah mencurahkan semua isi hatinya pada Etan. Awalnya dia hanya ingin mengeluarkan semua rasa kesal dihatinya saat melihat laporan dari orang suruhannya. Namun lama kelamaan, Deborah bercerita bahwa selama 2 tahun Denis bersikap acuh padanya. Denis lebih sibuk di kantor daripada menghabiskan waktu bersamanya dan anak-anak.
"Jika pria sudah seperti itu, maka artinya dia tidak pernah mencintaimu sejak awal. Dia hanya memanfaatkanmu dan status sosialmu. Lebih baik kau lepaskan saja dia."
"Tidak! Aku tidak mau kalah dari wanita itu. Denis akan tetap menjadi suamiku dan anak-anakku mewarisi semua hartanya. Aku tidak sudi jika wanita lain yang akan mendapatkannya!"
Deborah berambisi tetap mempertahankan rumah tangganya meskipun tidak ada cinta yang dia dapatkan dari Denis. Yang dia pikirkan adalah harta dan kedudukan.
"Aku punya ide, jika kau setuju, aku akan membantumu."
***
Seoul
Sesuai dengan perkataannya, Denis pamit keluar rapat lebih dulu. Matanya melirik Shiera, menggedikkan kepalanya, menyuruh Shiera ikut keluar. Shiera menjeda rapat, untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Denis.
"Jaga dirimu baik-baik. Jika ada seorang pria atau wanita yang asing ingin bertemu denganmu, jangan berikan informasi apa pun tentang siapa dirimu, okay," ucap Denis sembari mengelus puncak kepala Shiera yang ditutupi kerudung berwarna maroon.
"Okay, hati-hati di jalan Mas. Jangan lupa minggu depan balik lagi. Pesawat selalu di servis biar aman. Save flights."
"Okay, aku pulang dulu,"
Denis mengecup dahi, pipi dan hidung Shiera. Namun bukan hidung yang kena tetapi bibir. Shiera sengaja menggerakkan kepalanya ke atas agar bibirnya yang terkena kecupan Denis.
Adrenalin Denis mendadak naik, dia menarik tengkuk Shiera dan membalas kecupan itu menjadi ciuman panas hingga Shiera terdorong ke belakang dan terhempas keras ke dinding. Tubuhnya berada dalam kukungan Denis tak bisa bergerak.
Tubuh mereka terlindung oleh pembatas ruangan hingga tak terlihat orang lain. Hanya pengawal Denis yang melihat dan langsung berdiri membelakangi mereka. Menjaga keadaan sekitar agar tidak ada yang melihat kejadian ini.
"Mas—" Shiera mendorong d**a Denis ketika bibir mereka terlepas dan menormalkan detak jantungnya. Keduanya saling mengulum bibir ke dalam, mereka kelepasan di muka umum. Shiera menggelengkan kepala dan Denis menghempas kasar napasnya, menyatukan kening mereka. Dia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencium Shiera seperti tadi jika dipancing lebih dulu.
"Makanya, kamu jangan keterlaluan begini!" ucapnya sedikit membentak sembari melihat sekitarnya yang sepi.
"Biarin, kita adik-kakak kok, ya 'kan," jawab Shiera santai sembari membenarkan dasi Denis.
Degup jantung Denis berdetak tak karuan. Dia ingin lebih dari ciuman, tapi itu tidak mungkin! Jika bisa dia menjauh dari Shiera dan tidak akan bertemu lagi. Tetapi, jika bukan dia yang melindungi Shiera, siapa lagi?
Bayu, abang Shiera yang kedua juga tidak bisa diandalkan. Shiera juga tidak cocok dengan Bayu. Sedangkan Cahaya, kakak tertua Shiera tinggal dengan anaknya dan menjadi single parents. Semua punya kesibukan masing-masing.
"Ya sudah, Mas pergi. Ingat!" bentak Denis. Wajahnya yang putih masih merah karena menahan hasratnya.
Shiera menganggukkan kepala dengan titah sang abang tersayang. Denis melangkahkan kakinya yang panjang, berjalan cepat keluar dari sekolah sembari menarik ulur napas dan menyugar rambut ikalnya ke belakang, terasa panas meskipun suhu udara pagi ini tujuh derajat celcius.
Pintu mobil sudah dibukakan oleh sang supir. Mereka segera pergi ke bandara. Semua persiapan keberangkatan telah di acc, pesawat jet pribadinya siap untuk terbang.
Beberapa jam di dalam pesawat, Denis sibuk mengecek pekerjaannya. Jika bersama Shiera, dia tidak akan mengaktifkan ponsel. Dia tidak mau diganggu saat quality time, apalagi Shiera sangat posesif. Dia meminta waktu yang spesial untuk berdua dengan Denis.
***
London
Pukul delapan malam waktu London, pesawatnya mendarat dengan mulus di landasan pacu. Denis terlihat lelah dan lusuh bergulat dengan laptop berjam-jam. Dia ingin tidur setelah tiba di rumah.
Saat ponsel dinyalakan, deretan notifikasi masuk. Salah satu pesan dari ayah angkatnya memberitahu bahwa mereka akan menunggu kedatangannya untuk makan malam bersama.
"Astaga, aku lelah," gumamnya. Tak ada gunanya menolak karena sebentar lagi dia sampai di rumah.
Pintu gerbang terbuka secara otomatis. Sekuriti yang berada di dalam pos penjagaan menunduk hormat saat mobil masuk melewati pagar besi yang tinggi dan kokoh.
Denis pikir akan ada tamu istimewa, karena sang ayah mengajaknya makan bersama. Pekarangan luas mansion ini sepi tanpa rentetan mobil tamu. Itu artinya, sang ayah ingin membahas sesuatu yang penting dengannya.
"Selamat datang Tuan Muda, Anda sudah ditunggu Madam dan Tuan besar di meja makan."
"Baik, terima kasih"
Tas yang berisi laptop dan beberapa berkas diambil oleh kepala pelayan yang menyambutnya di muka pintu. Denis tidak pernah membawa pakaian karena di penthouse Luna sudah tersedia pakaiannya. Tas tersebut hanya diletakkan di dalam pesawat.
"Akhirnya, kau datang, putraku, ayo duduk, pasti kau lapar," sambut ayah angkatnya. Denis menghampiri ibu angkatnya lebih dulu setelah itu ayahnya dan memeluknya. Lalu beralih pada sang istri, yang acuh tak mau disentuh olehnya.
Mata ayahnya melirik tingkah laku keduanya. Makan malam dimulai. Makanan pembuka disajikan di depan mereka.
Sembari makan sang ayah bertanya. "Sudah berapa pekan, aku perhatikan, kau selalu pergi keluar negeri. Apakah ada proyek dan cabang perusahaan di sana, Denis?"
"Iya, Daddy. Aku sebagai donatur sekolah seni yang menunjang beberapa bakat anak muda. Di sana adalah trendsetter anak muda, maka mudah untuk mereka membentuk jiwa seni yang ada pada penerus bangsa. Sekolah itu terbuka untuk anak-anak di seluruh dunia," jelas Denis.
Dia tidak tahu, jika sang ayah mempunyai maksud tertentu bertanya seperti itu. Ketika menu utama disajikan, ayahnya kembali bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Kenapa harus di negara itu. Kita bisa ambil coach dari sana untuk membuka sekolah di sini. Siapa yang kau temui di sana?"
Denis menarik napas panjang, sebelum menjawab. Dia sudah mempersiapkan kemungkinan dirinya ketahuan telah membantu seorang wanita yang merupakan saingan sang istri sejak dulu.