6

1468 Words
Apa yang kamu pikirkan tentang sabtu malam atau biasa disebut malam Minggu? Berkencan? Apel? Kongkow? Atau apapun yang menghabiskan waktu berdua dengan sang kekasih. Dan itu tidak terjadi pada wanita cantik bernama Zia, yang saat ini sedang membasmi musuh nomor satu para wanita. "Huh, huh omaigod!! Gue capek banget." Kata Zia dengan gerakan ke kanan ke kiri mengikuti irama lagu. Peluh keringat membanjiri tubuhnya, dengan nafasnya yang terengah-engah. "Aih, baru tiga lagu masa iya udah teler sih Zi. Ayo dong semangat, ingat phyton lo masih beranak pinak di perut Lo." Kata Fafa disampingnya yang juga melakukan gerakan yang sama. Phyton adalah sebutan untuk satu tumpukan daging di perut kita. Hua kejam kan, masa iya disebut tumpukan daging disebut phyton kalau besar lagi disebut anaconda. "Tapi gue udah teler, huh. Gue gak tau kenapa zumba malam ini membuat gue gagal fokus sama sekali, Fa." Gerutu Zia yang masih saja melakukan gerakan setengah jongkok, yang membuat otot pahanya tertarik. Oh Ya Tuhan, kenapa menjadi cantik harus sesakit ini. "Minum Aqua gih, biar Lo fokus lagi. Atau gue panggil CEO tadi aja biar nemenin Lo disini." Ejek Fafa semakin membuat Zia tambah puyeng mengingat kejadian sebelum dirinya bertemu dengan Fafa. "Fa, please." Kata Zia malas. Alfa tiba-tiba datang ketika Zia baru saja keluar dari rumah sakit. Hari Sabtu adalah acaranya dengan Fafa untuk bersenang-senang, nihil Raisa tentunya. Karena Raisa sudah menjadi istri orang dan juga seorang ibu. Maka Sabtu malam Zia jadikan menjadi hari pembasmi lemak membandel di tubuhnya. Dan itu ditemani Fafa, yang pacarnya adalah seorang pilot yang setiap harinya ditinggal mengudara. "So, kalian beneran gak punya hubungan apa-apa?" Tanya Fafa kembali. Pergantian lagu membuat Zia mengambil botol minumnya, meneguk tiga kali sebelum melirik Fafa yang juga melakukan hal yang sama. "No, jadi bisa kita lanjutkan sesi keempat ini tanpa pembicaraan orang aneh itu lagi, Fafa?" kata Zia sebelum kembali melakukan gerakan zumba. 2 jam yang lalu  "Alfa?" Zia tampak tercengang ketika  melihat pria tampan yang selalu muncul di depannya tiba-tiba. Alfa berdiri dengan tenang di depan Zia, dengan kaos polo bewarna abu-abu dan cenala jins bewarna hitam. Membuat pria ini  terlihat sangat berbeda di depan Zia yang baru saja melihat tampilan santai Alfa. Tampak lebih santai dan muda tentunya. "Mau pulang?" Tanya Alfa, karena ia tahu jika Zia pasti terkejut mendapati dirinya ada di depannya saat ini. Kepala Zia menggeleng sejenak, sebelum kembali menatap Alfa dengan judesnya. "Ngapain kamu disini? Sakit?" Ketus Zia, membuat alis Alfa menukik tajam. "Kamu mau pulang?" Tanya Alfa lagi, mencoba bersabar melihat tampang Zia yang sudah tak tersentuh olehnya. Zia bersedekap lalu berkata, "Iya, kenapa? Mau nebengin saya atau mau ngajakin saya kencan, karena kalau dilihat malam ini adalah malam Minggu." Ucap Zia frontal. Entah mengapa melihat Alfa, membuatnya kembali mengingatkan Zia jika dia pernah ditolak oleh pria kurang senyum ini. "Kamu mau malam mingguan?" jawab Alfa, membuat Zia gemas sendiri. "Iya, tapi bukan sama kamu. Jadi sebaiknya kamu pulang sana!" Usirnya kejam, lalu melenggang pergi ketika Alfa kembali mencegatnya. "Aku antar." Katanya, membuat Zia mendengus sebal. "Alfa, kamu bukan siapa-siapa aku, yang diwajibkan untuk mengantar jemput aku kemanapun. Kalau kamu pikir abang gojek tadi malam kurang aman untuk mengantarkan aku kemanapun, itu bukan urusan kamu." Celoteh Zia jutek, ia sudah mulai lelah dengan pria yang Kata Ayahnya pria yang tepat menjadi suaminya. Apanya yang tepat, makan ati pakai empala dicocolin sambel iya. Alfa menghela nafas panjang, "Aku antar kamu." Suaranya melembut, dengan tangan yang sudah menarik lengan Zia ke arah mobil hitamnya yang terparkir. "Loh, loh eh jangan pegang-pegang kita belum muhrim." Seru Zia heboh ketika tangannya tiba-tiba ditarik begitu saja oleh pria asing yang merangkap pria yang sudah menolaknya dulu. "Iya nanti," jawab Alfa. Membuat Zia berhenti bergerak, dan menatap Alfa penuh tanda tanya. "Itu tadi maksudnya apa ya, Al?" "Yang mana?" Tanya pria itu polos, padahal wajahnya sudah tak polos lagi. "Itu tadi, iya nanti maksudnya apaan?" Tuntut Zia, sungguh ia tidak ingin terPHP untuk ke dua kalinya dengan orang ini. "Iya nanti aja lagi ngomelnya, maksudnya." NGELES!!! Cih, emang dia gak tau apa kalau dia juga ngarep dijadiin suami dengannya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Zia memasuki mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan Zia diam saja, suara musik yang sejak tadi mengalun indah membuat suasana di dalam mobil ini tidak terlalu sepi. Sedangkan Alfa dia juga diam, dengan sesekali melirik pada Zia yang tampak biasa saja disampingnya. "Kamu janjian dengan siapa?" Tanya Alfa penasaran juga akhirnya, pria yang menurut Zia kaku itu bisa juga membuka suara. Zia melirik Alfa sekilas, sebelum menjawab. "Teman, nanti kamu bisa menurunkan di depan sana saja." "Teman, siapa? Pria atau waninta?" Tanya Alfa lagi, wajahnya datar tapi suaranya terdengar menuntut. "Teman aku lah, masa iya temanmu. Baik cowok atau cewek itu bukan urusan kamu Alfa." Jawab Zia ketus, tidak peduli jika Alfa meliriknya tak suka. Alfa menarik nafas panjang, "Zi, hubungan kita sepertinya harus diluruskan." "Apanya yang harus diluruskan? Bukannya kamu sudah menolakku dua kali juga, jadi ya sudah perjodohan dibatalkan." Jawab Zia lugas, tanpa memperdulikan reaksi orang disebelahnya. "Siapa yang membatalkan?" Tanya Alfa tak terima, "Kamu!" "Hah, kapan? Aku tidak pernah membatalkannya." "Alfa Soeteja, yang mengatakan jika aku tidak bisa bersamamu karena aku bukanlah seorang Soeteja. Kamu tidak lupa ingatan, kan?" Jelas Zia, membuat Alfa membelokkan mobilnya ke tempat yang Zia tuju. Mobil berhenti, dan Alfa berbalik menghadap Zia sepenuhnya. "Zi, kamu harus mendengarkan penjelasanku." Katanya, tak peduli jika Zia sudah mulai membenarkan penampilannya sebelum keluar dari mobil. "Aku turun, kamu bisa pulang dulu dan terimakasih tumpangannya." Setelah itu, Zia membuka pintu mobil dan turun meninggalkan Alfa tanpa menjawab pertanyaan pria itu. "Hey, dianterin siapa Lo?" Sambut Fafa ketika melihat Zia turun dari mobil hitam mewah, yang di dalamnya ada seorang lelaki. Zia memutar matanya malas, "CEO," "WHAT?!! Jangan bercanda Lo." Teriak Fafa tak percaya. Masa iya, temannya yang cantiknya biasa aja dapet CEO, kan khayalan tingkat tinggi. "Ih, dibilangin juga." Zia cemberut, kenapa sih temannya tak percaya jika dia digebet dengan seorang calon CEO tampan. "Eh dia kesini." Seru Fafa lebay, tangannya menepuk lengan Zia heboh. Ck, ni anak gak pernah melihat CEO apa ya. Zia berbalik, dan ternyata benar pria itu menuju ke tempatnya berdiri. "Kenapa masih disini?" Tanyanya tanpa dosa, membuat Zia sebal setengah mati. "Kamu ngapain ikutan kesini?" Ulangnya ketika pria itu sudah berdiri di depannya "Nggym, ya sudah aku masuk dulu. Kalau kamu ingin pulang telfon aku, ayo teman Zia saya duluan." Kata Alfa sok yes batin Zia, lalu pamit begitu saja pada Fafa. Dan Aku tidak dipamitin!!! seru Zia dalam hati. Now             "Udahan aja yuk, gue udah gak fokus. Butuh Aqua gue." Zia menyerah, setelah empat lagu diputar. Padahal biasanya dia sanggup hingga delapan lagu nonstop. Zia menyingkir, diikuti Fafa yang juga terlihat kelelahan seperti dirinya. "Lo belum cerita tu cowok keren siapa." Kata Fafa kepo, wajahnya sudah mengatakan jika Zia harus jujur sekarang juga.             "Dia CEO yang mau jadi laki gue, kenapa? Lo gak percaya kan."             Fafa menganga lebar mendengarnya, "Seriusan?"             Zia mengangguk, "Iya, sayang tak jadi karena gue udah ditolak mentah-mentah sama tu orang. k*****t kan dia." Jawab Zia, membuat Fafa tertawa keras. "Hahaha, tapi kan dia tadi nganterin Lo kesini."             Zia mengusap peluh di dahinya, dan meminum sebotol air mineral sebelum menjawabnya. "Takut gak dapet harta gono-gini dari bokapnya, mangkanya sekarang dia mepet gue. Eh taunya gue udah sakit hati gara-gara dia nolak gue." Fafa manggut-manggut mendengarnya, "Lalu sekarang hubungan kalian apaan?"             "Gak ada hubungan lah, enak banget dia habis nolak terus ngejer. Harga diri coy, mahal ini."             "Hahaha, harga diri pret!!! Dimaharin berlian dengan seperangkat alat sholat dijawab sah aja udah klepek-klepek." Zia tertawa mendengarnya, "Iyalah, siapa coba yang gak mau dimaharin. Tapi juga liat lakinya kali. Udah yuk cus, laper nih gue." Zia beranjak, dengan merapikan tas yang berisi baju gantinya.             "Tapi laki Lo gimana?"             "Ditinggalin aja, males gue lama-lama sama dia." Dan setelah itu, Zia pergi ke ruang ganti guna mengganti bajunya. Zia keluar dengan kondisi yang segar bugar, disampingnya Fafa sedang sibuk dengan ponselnya.             "Zi," sebuah panggilan yang membuat Zia terkejut setengah mati. Ya Tuhan, kenapa ni pria selalu datang di depannya tiba-tiba!!!             "Kamu ngagetin aku!!" Sebal Zia, jantungnya berdetak tak karuan akibat pria di depannya ini.             "Sorry, kamu udah selesai?" Tanya Alfa sabar, sedangkan Zia menatapnya gemas. "Udah, kamu juga kok udahan?" Tanya Zia ketika melihat tampilan Alfa yang seperti tadi ia menemuinya.             "Tidak jadi gym, jadi pulang sekarang?"             Fafa yang sejak tadi berdiri disamping Zia, menyenggol lengan sahabatnya itu pelan. "Kenalin dong beb, masa iya gue disetanin." Bisik Fafa, maksudnya disetanin yaitu karena dia pihak ketiga diantara Zia dan Alfa. Zia mendengus malas, dan akhirnya mengenalkan dua orang itu. "Fa, kenalin ini Alfa. Alfa kenalin ini Fafa sahabat aku." "Fafa, sahabatnya Zia." Kata Fafa ramah, dengan tangan mengulur pada Alfa. "Alfa," balas Alfa singkat. Senyumnya hanya terbit satu senti dan itu baru dilihat oleh Zia. "Pacarnya Zia ya?" Pertanyaan penuh jebakan dengan sringai andalan Fafa  yang membuat Zia melotot gemas pada sahabatnya itu. Alfa semakin tersenyum yang membuatnya terlihat semakin tampan saja. Alfa melirik sekilas Zia sebelum menjawab. "Bukan, tapi calon suami Zia." WHAT!!!! Zia menatap Alfa tak percaya, sungguh pria datar ini beraninya mengatakan kebohongan publik tentang dirinya. Fafa tertawa mendengarnya, dengan sebelah mata mengedip genit ke arah Zia.             "Uhuk, calon cuamik!!"             "Gak! Enak aja. Kamu bukan calon suami aku!!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD