21

1469 Words

"Aku menunggu mu, sayang." "Hah?" Zia menganga tak percaya mendengarnya. Sayang? Pria itu bilang sayang padaku? Batin Zia tak percaya. Tetapi Alfa malah tersenyum dengan manisnya kearah Zia. Lalu menunduk, dan berbisik tepat di telinga kanan Zia, yang membuat wanita cantik itu kembali melebarkan matanya tak percaya. "Jangan lama-lama tidurnya, karena aku tak sabar mengakad namamu pada Ayahmu." Kilasan dan suara seseorang sebelum dirinya memasuki ruang operasi, membuat ruang gelap yang sejak tadi menentramkan matanya membuat Zia tersadar dari tidurnya. Matanya amat berat, dengan rasa sakit yang langsung merajam perut bagian bawahnya. Belum sempat Zia membuka mata dan mengeluhkan rasa sakitnya. Suara wanita yang sangat familiar di telinganya, membuat Zia tak jadi membuka matanya. "Ini

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD