Beri aku waktu 40 hari, Mas!
#Part_4
Hari ke dua
Alarm berbunyi nyaring, dengan malas kumatikan. Mataku menyipit, kenapa terang? Bukannya gorden kamar masih tertutup? Jangan-jangan ...
Tidak! Sudah jam 8. Kenapa aku bisa kesiangan? padahal aku langsung tidur selepas isya.
Sudah tak ada waktu lagi untuk mandi. Segera ku sambar seragam kantor, dan memakainya buru-buru.
Secepat kilat ku ambil kunci mobil, lalu berlalu pergi dengan kecepatan tinggi.
"Tumben telat, Pak? Biasanya rajin banget datang pagi, hehe." Satpam membukakan gerbang, sepertinya semua karyawan sudah datang, kecuali aku.
"Iya, Pak. Sudah dulu ya!" Tak kuhiraukan sindirannya, langsung kuparkirkan mobil di halaman kantor.
Aku berlari menuju ruangan, dan, terlambat. Pak Ansor sudah berkacak pinggang di depan ruanganku.
"Ck..ck..ck... Darimana saja, Pak Ridwan? Lupa ya hari ini anda harus membawa laporan keuangan ke ruangan saya?"
"Hahaha... Wan kamu ke kantor ileran gitu. Belum mandi ya?" Anto cengar-cengir di belakang pak Ansor.
"Iya nih, tuh juga kotoran di mata masih nempel." Seseorang yang melewati kami saling menimpali dan menertawakanku.
"Maaf, Pak. Saya masuk ruangan dulu. Nanti saya antarkan laporannya ke ruangan Bapak." Aku buru-buru masuk ruangan. Kututup telinga dari cemoohan teman-teman yang lain.
Kuambil cermin kecil di laci, Astaghfirullah kelihatan sekali belum mandi. Pantas orang-orang menertawakanku.
Segera masuk kamar mandi untuk cuci muka. Setidaknya wajahku terlihat segar, pastinya orang lain tak akan menertawakanku lagi.
"Ini gara-gara Limah. Untuk apa dia pindah rumah segala. Berantakan semua urusanku di kantor jadinya." Gerutuku pelan.
***
"Ini Pak, laporannya. Maaf saya terlambat." Setelah menyodorkan map yang berisi laporan, aku pamit untuk beranjak pergi.
Tak ada satupun chat masuk. Apa orang-orang sudah tidak peduli lagi denganku?
'Aa rindu, May.' batinku, sambil menscroll profil instagramnya. Kecantikannya selalu mendapat pujian puluhan laki-laki, dengan bangga aku menepuk d**a. 'Mereka hanya bisa mengagumimu, namun sebentar lagi aku yang memilikimu.'
Tak mau dapat teguran kedua kalinya, kulanjutkan pekerjaan kantor hingga waktu istirahat tiba.
"Makan gak?" Kepala Anto muncul tiba-tiba dari balik pintu.
"Ish... Ish... bocah. Ketuk pintu dulu napa. Maen nongol aja."
"Wkwk lagian daritadi ngelamun terus. Dah kayak ayam kena penyakit tahu." tawanya renyah terdengar.
"Diam kau! Aku lagi kesel hari ini."
"Kenapa?"
"Si Limah, pindah dari rumah."
"Hah serius?" Dia mendekat ke arahku, aku hanya mengangguk lemah.
"Kenapa?" Sambungnya
"Karena mau ku ceraikan."
"Etdah kalau ngomong. Ngapain cerai segala? Punya bini cakep bukannya bersyukur malah dicerai."
"Aku gak cinta. Masa ia harus ku habiskan sisa umurku sama orang yang gak dicintai."
"Hah? Cinta? Emang apa si definisi cinta menurut kau?" Dia mendecih.
"Ada perasaan berdebar ketika kita didekatnya, hati berbunga-bunga setiap saat, ya pokonya gitu lah." Aku senyum-senyum sendiri membayangkan May.
"d**a berdebar d**a berdebar pala mu. Noh yang ada perutmu bergetar karena lapar." Ledeknya lagi.
"Aku serius, To!"
"Yaudahlah cerai aja. Cari perempuan yang membuat perutmu bergetar lapar! Biar Limah aku nikahi. Dasar laki-laki gak bersyukur."
"Kalau aku jadi kau ni yah, ada perempuan yang tulus sayang sama kita, ngurusin, ngerawat anak di rumah, ngedidik anak dengan baik, menjaga harta dan martabat suami, dah aku bersyukur banget. Gak usah muluk-muluk cinta cintaan." Sambungnya lagi
"Jelaslah kau bilang gitu. Kau kan jomblo abadi." Ucapku pedas.
"Gak bakal jomblo lagi, bentar lagi aku punya istri sekaligus dua anak yang lucu."
"Apa? Istri mana yang kau maksud?" Ungkapku marah.
"Istri kau lah yang mau dicerai itu." Dia beranjak pergi meninggalkanku.
Teman macam apa dia? Bukannya mendukung malah merebut istriku.
***
"Hay Limah, Assalamu'alaikum." Sapaku ketika melihat Limah sedang di depan rumahnya.
"Eh, Mas yang kemaren belum kenalan ya? Waalaikumssalam. Siapa Mas namanya?" Pandangannya tak lepas dari bunga-bunga yang sedang dia siram.
"Udah gak usah mulai deh. Aku kangen sama Jingga. Mana dia?"
"Jingga lagi ngaji di Mushala sama temen-temennya."
"Oh gitu." Kami sama-sama terdiam.
"Jalan-jalan yuk!" Sambungku.
"Kemana?"
"Keliling komplek aja. Gimana?" Dia melirikku malas. "Mau nggak? Sekalian kita kenalan deh. Ntar aku traktir es krim." Aku menaik turunkan alis merayu.
"Yaudah aku kunci pintu dulu ya." Dia beranjak mengunci pintu.
Limah memakai gamis berwarna hijau army dengan kerudung senada. Tanpa polesanpun sudah cantik.
"Mas!"
"Eh iya. Gimana?" Aku tak sadar sedang memandangi wajahnya sedari tadi.
"Ayo jalan! Ngapain ngelamun ileran gitu?"
"Ah enggak. Ayo jalan." Aku menutupi grogiku. Ish kenapa si aku ini. Berjalan berdampingan dengannya kayak lagi pacaran aja.
"Tuh dah nyampe taman. Duduk di situ yuk!" Baru saja aku mau memegang telapak tangannya, dia langsung berjalan cepat menuju kursi putih panjang di sekitar taman.
"Bagus ya, Mas taman di komplek ini. Banyak bunga-bunganya." Limah menghirup nafas dalam, kelihatannya sangat senang menghirup udara segar.
"Perkenalkan, Namaku Ridwan Alghifari, umur 28 tahun, tempat tanggal lahir, Cirebon, 7 Maret 1993, Hobi main futsal, apa lagi? Ada yang mau ditanyakan, Nona Limah?" Aku berdiri di depannya seperti sedang persentasi.
"Haha... Terima kasih perkenalannya Tuan Ridwan. Ternyata Tuan sudah tua ya." Dia terkekeh menutup mulut.
"Ck ck... Ayo perkenalkan diri kamu!"
"Perkenalkan namaku, Halimah. Aku adalah istri yang disia-siakan suaminya." Senyumnya getir. Perkataan singkatnya membuatku terdiam seketika.
"Mas abis kena hipnotis apa gimana si? Dari tadi ngelamun terus perasaan."
"Ah enggak. Salam kenal ya Nona Halimah." Aku mencium tangannya.
"Aw aw ampun Limah ampun!" Dia memukuli kepalaku dengan tangannya.
"Maen cium aja. Dasar laki-laki gak sopan!" Ketusnya.
"Kamu ini istriku, aku lakukan lebihpun tak dosa." Aku mengedipkan mata.
"Dih jauh-jauh sana!" Dia langsung menggeser duduknya menjauh dariku.
"Mang es krim!" Limah memanggil tukang es krim yang sedang kebingungan mencari pelanggan.
"Aku mau tiga ya, dibungkus dua!" Dalam hitungan detik es krim sudah berpindah ke tangannya.
"Pelan-pelan makan es krimnya! Nanti kesedek." Aku berniat menghapus bekasan es krim di bibirnya, namun tangannya selalu sigap menghadang tanganku menyentuhnya.
"Biarin! Mumpung ditraktir." Tatapnya nyalang, seperti takut akan ku ambil lagi es krim di tangannya.
"Mang satu lagi deh!" Baru saja aku mau buka bungkus es krim, dia sudah habis 2.
Aku hanya tertawa memandanginya, Limah, entah kenapa akhir-akhir ini kamu selalu membuatku gemas!