#Part_3
"Oh iya, tadi nama Mas siapa?" Lagi, Limah membuatku kesal.
"Tahu ah." Dia hanya tersenyum puas.
"Stop... Stop.... Mas! Itu di depan rumahnya. Yang cat abu-abu"
"Ya ampun, ini cuma beda 10 rumah aja dari rumah kita. Ngapain si kamu pake pindah segala?" Aku semakin kesal dibuatnya.
"Kita kan temenan, jadi jangan dekat-dekat. Nanti kamu khilaf lagi, Mas." Jawabnya santai.
"Astaghfirullah kamu mengidap penyakit apa si Dik? Jadi eror gini."
"Penyakit? Enak aja. Aku gak penyakitan!"
"Lah ini? Ngapain ribet banget segala?"
"Shuut! Jangan berisik, Mas! Tuh lihat Jingga udah mulai tidur di jok belakang. Ayo bantu aku pindahan!" Setelah parkir di rumah barunya, Limah langsung turun dengan semangat 45.
"Mas, ayo!" Teriaknya dari belakang mobil.
"Eh iya, iya." Aku segera keluar dan mengeluarkan barang-barang Limah.
"Tolong bantu bawa Jingga ke kamar ya, Mas!" Dengan santainya Limah menarik dua koper besar. Tangguh sekali dia.
"Makasih ya, Mas. Udah bantuin pindahan, udah mindahin Jingga ke kamar juga. Sekarang Mas pulang ya! Gak enak sama tetangga" baru saja aku mau melepas penat di kursi, dengan seenaknya dia mengusirku.
"Ntar lah, Dik. Aku cape"
"Eits... No no no. Sekarang juga keluar! Mas mau kita digerebeg terus dinikahin?" Dia menarik tanganku lalu menyeretnya ke luar rumah.
"Biarlah kita dinikahkan dua kali, Dik. Lama-lama aku gemas denganmu." Tanganku berusaha menyentuh pipinya.
"Hiyaat.. plak" tanpa aku sadari dia menghindar dan langsung menampar pipiku, perih sekali.
"Aw, sakit, Dik! Galak banget si kamu." Aku memegang pipi ngilu.
Ah aku terlalu meremehkan dia yang tadi menyeret dua koper besar, ternyata tenaganya memang besar seperti Samson Wati.
Tanpa basa-basi dia beranjak masuk, dan menutup pintu.
"Eh tunggu ... Limah ... Hey, nasibku gimana?" Hening, tak ada tanda-tanda dia kembali keluar. "Argh ..." Aku menyerah dan memilih pulang.
***
Aku masuk ke rumah, lalu menyalakan semua lampu. Rumah ini selalu tertata rapih dan bersih. Mungkin dia memiliki bakat terpendam menata ruangan. Tak ada satupun ruangan yang terlihat kacau dan berantakan.
Kubuka tudung saji. Tempe, tahu, lalapan dan sambal sudah tersaji, tak lupa Sop iga sapi yang menggiurkan tersaji di sampingnya. Ah lezat sekali.
"Makan yang banyak ya, Mas. Anggap sebagai tanda perkenalan." Ada stic note tertempel di meja. Limah, kau membuatku seperti orang linglung dalam waktu sepersekian detik.
Aku segera mengambil piring dan menyantap makanan yang sudah tersaji, tak usah ditanya rasanya. Limahku tak pernah gagal meracik apapun.
Enak juga ternyata ya hidup sendiri. Gak ada suara berisik tangisan anak kecil, gak ada lagi yang cerewet nanyain ini itu, akhirnya aku bisa menikmati hidup.
Setelah makan, aku beranjak ke kamar mandi. Tiba-tiba lampu kamar mandi kelap-kelip seperti bintang di langit.
"Hey siapa di sana? Jangan bercanda!" Aku yang sedang mencuci muka mulai ketar ketir.
Hening tak ada jawaban, namun lampu terus saja berdisko. Gawat, kalau aku lari, mataku perih karena busa sabun masih utuh di wajah. Dengan secepat kilat aku langsung mengguyur diri, dan drap... Lampu mati.
"Aaaaa tidak!" Secepat kilat aku menyambar handuk dan keluar dari kamar mandi.
***
"Limah, di rumah ada hantu. Cepat kamu kesini! Aku takut." setelah telpon tersambung aku langsung menyuruh Limah pulang.
[Hantu apaan si, Mas? Selama 5 tahun aku di rumah itu, tak pernah tuh ketemu hantu. Kamu belum shalat kali. Makanya mahluk halus pada seneng nampakin diri. Dah ya, aku mau ngaji dulu. Tut..Tut..] Sambungan terputus.
Sial, kenapa dia buru-buru mematikan sambungan telpon kami, tapi ada benarnya juga, hampir saja aku lupa shalat Maghrib.
Setelah shalat, ku buka Al-Qur'an di meja, lalu mulai membacanya. Biasanya kami selalu melingkar kecil usai shalat maghrib untuk mendengarkan aku mengaji. Kali ini, hanya debu-debu dan mahluk ghoib mungkin yang mendengar suaraku. Sepi, dan ini baru satu hari.