"Beri aku waktu selama 40 hari, Mas. Setidaknya sampai anak kita terlahir ke dunia. Aku ingin dia terlahir memiliki seorang ayah. Dan juga, jangan hubungi perempuan itu selama 40 hari itu. Anggap saja sebagai bentuk kesetiaan terakhirmu kepadaku. Setelah itu, kita akan bercerai, dan kau boleh menikahinya." Kata-kata itu selalu terngiang di kepalaku. Semangat yang kemarin menggebu ingin berpisah dengannya, entah kenapa sekarang mendadak lesu lalu menguap begitu saja.
[Assalamu'alaikum, A. Kita jadikan bertemu hari ini?] Gawaiku berderit. Pesan dari Humaira, perempuan cantik yang membuatku bergetar seperti tersengat listrik.
[Tentu saja. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu]
[A, nanti langsung ke rumah aja ya. May mau ngajar les anak-anak dulu] Humaira adalah seorang guru TK yang menurutku begitu mempesona.
[Siap Tuan Putri] Kuselipkan emot bermata lope. Ah apakah aku bisa tak ada kontak dengannya selama 40 hari.
Aku kembali fokus dengan pekerjaanku. Banyak laporan keuangan yang harus ku tuntaskan. Akhir tahun adalah laporan penentu laba rugi sebuah perusahaan. Maka jangan sampai aku hilang fokus dan melakukan kesalahan dalam pembukuan.
***
Rumah yang sederhana namun terasa nyaman. Dimana lagi kalau bukan di rumah Humaira calon kekasihku.
"Diminum teh nya, Nak Ridwan." Bu Arumi menyuguhiku teh dan beberapa cemilan.
"Iya, Bu." Kuseruput teh hangat buatan Bu Arumi.
"Gimana enak nggak?"
"Enak banget, Bu."
"Alhamdulillah.... Tunggu sebentar ya, Nak. Humaira masih ngajar les. Paling sebentar lagi juga selesai."
"Iya Bu, aku selalu menunggu anak ibu. Hehe" Jawabku malu.
"Ah Nak Ridwan ini bisa aja. Eh ngomong-ngomong, gimana kelanjutan hubungan kalian? Kalau May si dia gak mau pacaran, Nak" Nampaknya Bu Arumi mulai membahas inti permasalahan.
"Ah iya Bu, maka dari itu saya kesini mau ada yang dibicarakan sama May"
"Assalamu'alaikum...." Seorang perempuan cantik berdiri di depan pintu.
"Waalaikumssalam warahmatullah, nah itu Humaira. Sini masuk, Nak! Ini Ridwan dari tadi menunggumu." Humaira duduk dengan malu-malu. "Ibu tinggal dulu ya." Bu arumi berlalu ke dapur.
Ah Humaira ku memang selalu tampil anggun dalam berbagai situasi. Pakaiannya yang selalu berwarna cerah serasi dengan warna kulitnya yang putih.
"Aa gimana kabarnya?" Ia mulai membuka percakapan.
"Alhamdulillah baik, kamu gimana, May?"
"Kemarin aku sakit, sekarang mendadak sembuh." Lagi dia menunduk malu-malu.
"Emang kamu sakit apa, May? Kenapa kamu gak bilang sama Aa? Terus sekarang kamu sudah minum obat?" Aku memberondong pertanyaan tanda khawatir kepadanya.
"Aku sakit rindu, dan obatnya Aa. Hehe" Ah kena, sepertinya dia tipe perempuan bucin yang merindukan seorang imam dalam waktu singkat.
"Ah bisa aja kamu, May." Kami tergelak bersama.
"Oh iya, katanya ada yang mau A Ridwan sampaikan sama, May? Apa tuh?"
"Gini, May. Aa tidak bisa menghubungi bahkan bertemu denganmu selama 40 hari kedepan," Jelasku hati-hati.
"Loh kenapa, A?" Dia merenggut menggemaskan sekali. Andai dia halal untukku, sudah kucubit pipinya sedari tadi.
"Eum, Aa sibuk May. Ada proyek yang harus Aa selesaikan. Dan Aa hanya ingin fokus agar hasilnya maksimal lalu segera melamarmu." Jawabku bohong. Aku tak mungkin bicara pada May tentang syarat yang diajukan istriku. Bisa-bisa May pergi dariku selamanya. Dia tak pernah tahu aku seorang suami sekaligus seorang ayah.
"Heum.... Ko lama banget A?" Ada kesedihan dari netranya.
"Iya, May. Setelah itu Aa janji akan langsung nikahin, May"
"Aa serius?"
"Serius."
"Baiklah, kalau begitu. Tapi Aa janji ya, jangan ganjen-ganjen selama gak komunikasi sama May" Dia mencubit pinggangku gemas.
"Aww... Galak banget si. Siap laksanakan Tuan Putri"
"Kita ketemu nanti 1 Januari ya. Aa pamit dulu"
"Siap. Eh ko Aa sebentar banget di sininya?" May merajuk.
"Supaya tugas Negara segera selesai, dan segera ngelamar Neng May"
"Hehe yaudah hati-hati di jalan ya, A"
"Iya. Jaga dirimu baik-baik ya, May. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumssalam warahmatullah" May mengantar kepergian ku. Berat sebenarnya berpisah dari seseorang yang kita cintai. 'Ayo semangat Ridwan! Kamu pasti bisa.'
***
"Tok tok tok .... Assalamu'alaikum" Kuketuk pintu rumah.
"Waalaikumssalam warahmatullah, Hay, kenalkan namaku Halimah" Aku dibuat terheran oleh istriku sendiri.
"Oh iya, nama Mas siapa?" Sambungnya lagi.
"Dik, kamu sedang sakit? atau mungkin kepalamu terbentur?" Aku memegang keningnya, namun tak panas, dan tak ada tanda-tanda dia sakit.
"Mas ini ditanya nama ko malah pegang-pegang. Ish Mas mau saya laporin ke Pak RT setempat karena sudah berusaha menggodaku?"
"Astaghfirullah Dik, kamu kenapa? Apa tadi pagi ada obat yang salah kamu makan?" Aku kembali heran menghadapi wanita di depanku ini.
"Aku gak kenapa-napa, Mas. Oh iya, mulai sekarang kita temenan ya. Kalau pertemanan kita bagus, kita naik ke tahap persahabatan, kalau bagus lagi ya mungkin naik lagi. Oke!" Lagi, aku dibuat mematung dengan pernyataannya yang tak ku mengerti sama sekali.
"Nak, salim dulu sama, Om!" Limah menuntun tangan Jingga untuk bersalaman denganku.
"Om? Aku ini ayahnya jingga. Apa lagi ini maksudnya?"
"Mas, jika tidak keberatan, antarkan aku ke rumah baruku ya. Kan sekarang kita temenan. Kalau keberatan si gak apa, aku naik taksi online aja." Dia menyeret dua koper besar dari balik pintu.
"Eh kamu mau kemana, Limah?"
"Ayo, Mas. Kurasa kau tidak keberatan bukan mengantarkan kami ke rumah baru." Dia sudah berdiri di pintu mobilku. Jingga yang polos hanya anteng dengan boneka Barbie miliknya.
"Baiklah, aku ikuti permainanmu, Limah" Dengan kesal aku menuju mobil, setelah semua naik, kulajukan mobil dengan pelan, meninggalkan pelataran rumah kami.
"Oh iya, tadi nama Mas siapa?" Lagi, Limah membuatku kesal.
"Tahu ah." Dia hanya tersenyum puas.