Pagi hari di kediaman elit anak bungsu Aga bamantara sang kepala keluarga, Arkam Argiantara Baranata sedang bergelayut dilengan mamahnya yang sedang memasak didapur. Pukul 05.30 Ayumi sang nyonya rumah sudah berkutat didapur bersama mbok sumi art rumah mereka untuk mamasak sarapan pagi ini. Namun sang anak bungsu yang sangan manja padanya sudah mengganggunya untuk minta perhatian.
“ Ke taman yuk Bun, olahraga mumpung masih pagi. Ayah gak usah diajak kerjanya ganggu aku mulu. “ kata Arkam dengan bibir monyong karna ingat Ayahnya yang selalu menguasai Bundanya jika mereka bersama.
Belum sempat dihawab, muka Arkam sudah ditimpuk dengan kain lap oleh sang Ayah dan dengan nada tinggi me.bentak Aksam sampai sang Bunda terkejut.
“ Dasar bocah, jangan dekat-dekat dengan Bunda! Sana cari istri biar bisa kamu tempelin kemana-mana jangan nempelin Bundanya Ayah ya! “ seraya memisahkan sang anak dari sisi sang istri tercinta.
Bik Sumi yang menyaksikan drama pagi ini hanya menggelengkan kepalanya saja. Mau kaget tapi udah biasa anak-anak dirumah ini sangat manja dengan bunda tercinta mereka dan sang suami yang tak suka dengan sifat manja dan suka menempeli istrinya. Maunya buat dia sendiri. Juga sang bunda yang jadi rebutan sampai pusing kalau sekeluarga kumpul. Ini saja si sulung dah berkeluarga dan tinggal terpisah dengan mereka, jika tidak pasti sudah heboh dirinya ditarik kesana kemari. Wkwk, pada bucin semua ya.
“ Udah ah kita bareng bertiga gak usah pake berantem segala. Bunda pusing pagi-pagi udah teriak-teriak aja kaya kebun binatang. Bar-bar kok ya gak ketulungan, semua lagi “ akhirnya Ayumi menengahi agar sang anak dan suami tercinta tidak berantem. Ayah dan anak terdiam saat sang Bunda mengeluh, tapi tetap saja berdebat kecil. Ayumi hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya saja dan menyuruh keduanya siap-siap agar tidak kesiangan karena ayah dan anak itu harus bekerja.
Saat di taman mereka lari” kecil juga olahraga ringan pun diselingi dengan kemanjaan Arkam yang selalu ingin menempel ibunya. Pun Aga juga mencoba merebut perhatian sang istri agar tidak terus memanjakan putranya. Dan setelah cukup mereka semua kembali ke rumah karena walau bukan hari kerja mereka memiliki urusan yang pastinya harus mereka handle karena mereka petinggi di perusahaan.
Selesai dengan sarapan, mereka langsung meluncur ke perusahaan. Dengan mode serius dan profesional mereka menyelesaikan smua pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka.
Di rumah orang tua Dira, ia bersama sang anak berpamitan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Ia sudah mandi dan sarapan nasi uduk yang ia beli di tempat langganannya karna ibunya malas memasak. Ayah dan ibunya kembali mengingatkanya agar mempertimbangkan untuk kembali tinggal disana.
“ Iya buk, nanti pasti aku pikirin lagi. Sekarang kita pulang dulu ya buk, yah?!. Pasti aku kabarin secepatnya.“ jelas dan pamit Dira pada kedua orang tuanya.
Di perjalanan pulang Dira ingat bahwa ia akan membawa Vero mampir ke mall, jadilah sekarang ia ada disalah satu toko sepatu dalam mall. Ia membiarkan Vero memilih sepatu yang ia inginkan namun ia juga melihat-lihat siapa tau kan ya dia nemu yang bagus gitu buat anak gantengnya. Tapi yang namanya perempuan apalagi mahmud abas mamah muda anak baru satu, pastinya malah bablas ke rak sepatu untuk orang dewasa yang memang bersebelahan. Matanya ijo kayak liat segepok uang bergambar presiden dan wakil presiden pertama RI wkwk. Saat melihat sepasang sepatu yang dirasanya cocok, tangannya terulur untuk mengambil namun suara Vero menghentikannya...
“ Mah, kok kesitu sih. Ini aku udah dapet cepetan sini aku mau yang ini. “ kata Vero.
Dira menoleh pada anaknya, tetapi tidak langsung menghampiri tapi malah meminta penjaga wanita yang tak jauh darinya agar mencarikan warna dan ukuran yang ia minta. Barulah ia menghampiri putranya.
“ Ih ganteng, kok item lagi sih. Ini yang putih cakep loh gimana kalo yang ini aja? “ saran Dira
“ Gak ah ma, aku maunya ini. “ jawab Vero
Dira menepuk jidatnya dan membatin ya ALLAH kok anakku kayak gini sih. Ia menyayangkan anaknya yang sangat cuek, dingin, irit bicara untung pinter plus ganteng kalo gak dia pasti mikir buat ninggalin anaknya dipinggir jalan biar dipungut orang. Wkwk. Dira menghela nafasnya, mau didebat juga kalo maunya itu ya itulah. Akhirnya ia hanya mengangguk lalu mengajak anaknya duduk di kursi yang telah disediakan untuk mencoba apakah ukurannya pas atau tidak.
Sekalian mencoba sepatu yang ia minta pada pelayan, Vero pun juga. Setelah pas dan cocok mereka menuju kasir untuk membayar dua pasang sepatu yang mereka pilih.
Dira langsung memasak untuk makan siang. Sebelum pulang, ia tadi juga berbelanja kebutuhan dapur jadilah ia memilih untuk memasak daripada mampir di restoran dalam mall. Itung-itung ngirit pengeluaran.
Dan jadilah menu sederhana makan siang ala mamah Dira, sambel terasi, sayur bening, ikan, ayam, dan tempe yang digoreng. Hmm wanginya sudah membuat cacing diperut meronta minta makan.
Namun sebelum makan, ia mengajak Vero untuk melaksanakan ibadah shalat zuhur. Barulah setelahnya mereka melahap makan siang yang sederhana tapi mantap sekali. Setelah kenyang, Dira membereskan piring dan peralatan masak untuk dibersihkan. Lalu ia dan Vero tidur siang.