Yang tak disangka, Arkam terbayang” akan wajah Dira. Sebenarnya Dira itu cantik badanya pun bagus, hanya saja gaya berpakaian longgar dan tingginya yang hanya semampai serta dandanya yang natural biasa membuat ia tak menonjol dan terlihat biasa saja.
Riri sudah pulang dijemput oleh ibunya setelah tak lama pulang dari kebun binatang tadi. Ayumi yang melihat anaknya duduk diam anteng di sofa ruang tamu dan terlihat seperti kasmaran walaupun terasa kaku, mendekat dan bertanya ada apa dengan Arkam sampai terkejut.
“ gak apa-apa kok, bun. “
“ kamu kaya orang lagi jatuh cinta tau, Ar!”
“ Keliatan banget ya bun?
“Nah kan, anak bunda jatuh cinta. Yah, Arkam mau lamar anak orang. “ Ayumi berteriak memanggila suaminya dan bercanda. Sedang yang dipanggil sedang tidur.
“ Hahaha.. udah deh bun, aku mau keluar dulu ya. Ayah udah ngusir aku.” Arkam tertawa renyah dan berlalu pergi dari rumah.
“ Lah, kok ngusir kamu sih. Kam ..Arkam?” Ayumi meminta penjelasan tetapi Arkam hanya melambaikan tangan dan berlalu tanpa berbalik. Yang kenyataannya Aga menyuruh Arkam agar tinggal sendiri di kontrakan atau kosan untuk membaur dengan orang biasa, ya siapa tau dapet jodoh kan ya. Sang bunda hanya geleng kepala terheran.
Sambil menyetir, Arkam memikirkan Dira yang ternyata sudah mempunyai anak. Namun kenyataan Dira yang telah mempunyai anak membuatnya memilih mundur dan melupakan rasa tertariknya. Kini ia berencana untuk pergi ke kosan yang diceritakan temanya, dulu teman dari adiknya pernah mengekos disana. Ia berencana melihat kondisiny dan jika dirasa cocok ia akan keluar dari rumah orang tuanya.
Dira yang berada di rumahnya sedang memasukan semua barang yang akan dibawanya ke rumah orang tuanya ke dalam koper. Di tengah kegiatannya, terdengar Iko memanggilnya
“ Mba, ada yang lagi liat kamar yang kosong tuh. Katanya mau diambil, kesana dulu ya mba!? “
“ Iya Ko, bentar”
Arkam sedang melihat kamar dan menunggu ibu kos yang sedang dipanggil oleh Iko, salah satu penghuni kamar kos disana. Ia juga diberitahu bahwa ibu kosnya masih muda, janda lagi. Yang tak disangkanya adalah Dira wanita bersuami yang sempat membuatnya tertarik. Dari luar kamar terdengar orang yang datang.
“ Di kamar mba orangnya, saya di kamar ya mbak kalau butuh bantuan!”
“Iya Ko, makasih ya!”
“ Ma sama mba ” Iko
Dara pun mengetuk pintu kamar kos yang akan di sewa Arkam
Tok.. tok.. tok.. “permisi” lalu pintu dibuka dan muncullah Arkam dan mereka sama” terkejut
“ loh masnya, bapak yang kemarin sama yang tadi kan ya?” tanya Dira dengan senyumnya yang manis.
“Oh kamu..”
Kemudian mereka pun diskusi dan kamar jadi disewa mulai esok hari.
“ Ya udah pak, ini kuncinya. Kalo ada masalah info ke Iko ya, nanti dia yang sampein ke saya apa yang harus diurus.” Dira
“ Bagaimana kalau kamu kasih saya nomor hpmu?”
“ Lewat Iko aja pak, kalo masih bisa ntar dia yang tanganin.” Wkwk, pait dah tu muka Arkam.
“ Oh, oke kalau gitu. Besok saya langsung ke sini.”
“Baik pak, kalau begitu permisi ya pak” jawab Dira dengan senyum yang manis menurut Arkam. Ah, ternyata janda, cantik kira “ umur berapa ya anaknya udah gede gitu. Padahal tadi minta nomor hp biar bisa pdkt, eh malah gak dapat. Nasib-nasib.
Sementara itu Dira kembali ke rumahnya dan melanjutkan kegiatannya mengepak barang serta membersihkan seluruh sudut ruangan, mengunci jendela dan pintu, melepas saluran gas dll. Lelah sudah badanya rasakan namun ia masih harus memasukkan koper serta kardus berisi barang”nya dan Vero ke dalam mobil. Sebelum berangkat, ia kembali masuk ke dalam rumah untuk mengecek sekali lagi dan untuk berpamitan. Di dalam kamarnya terdapat foto pernikahan di dinding atas kepala dan dinding hadapanya foto bersama ketika Vero masih bayi. Ia berpamitan seakan-akan sang suami ada di hadapanya.
" Masku, hubbyku, sayangku, cintaku, separuh jiwaku, maaf ya aku pulang kerumah ayah ibu. Aku lakuin ini juga buat Vero kita... " tangis Dira berderai terisak sesegukan pelan " aku ikhlasin kamu hiks hiks... aku hiks.. akuuuuhuu.. aku ikutin kata kamu. ikhlasin semuanya , lanjutin hidup ini, didik Vero kita dengan baik." Tangisnya pun pecah meraung-raung seperti ketika jenazah sang suami dikebumikan.
" Aku bakal rawat rumah kita, gak akan lupain semua kenangan kita bertiga. aku bakalan masih sering kesini. " Maaf " sambil menunduk.
Dira keluar rumah dengan mata sembab dan terisak kecil. Ia mulai mengendarai mobilnya keluar rumah. Tak sengaja Arkam yang juga mengemudikan mobilnya untuk pulang melihat wajah sedih Dira karena jendela mobil bagian kemudi dibuka. Ia pun memutuskan untuk mengikuti mobil Dira sampai akhinya tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang cukup luas dan lapang. Di depan gerbang sudah ada Vero yang menyambut lalu satpam yang membukakan pintu gerbang.
Arkam langsung pergi dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang sambil memikirkan Dira yang terlihat sedih mungkin karena ia dan anaknya yang pindak kerumah orang tuanya seperti kata Iko tetangga kosnya.