"Oke. Sesuatu apakah itu?" tanya Maria.
"Ini berkaitan dengan Tuan Putra Mahkota!" jawab Amna.
"Tuh, kan? Apa Aku bilang? Pasti ini berkaitan dengan Tuan Muda Ibrar!" ucap Maria.
"Iya benar, Maria! Akan tetapi, semua tidaklah seperti yang Kamu pikirkan!" jawab Amna.
"Oh. Oke, oke. Baiklah! Lalu?" tanya Maria.
"Kejadian ini terjadi kemarin malam. Iya. Sebelum acara pengenalan dirinya dihadapan semua pegawai," jawab Amna, mengawali ceritanya.
"Hmm. Oke," ucap Maria.
"Iya. Pada saat itu, secara tidak sengaja Aku berjumpa dengannya," ucap Amna.
"Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Iya. Aku melihatnya sedang melihat-lihat situasi bengkel. Kemudian Aku pun menyapanya. Aku menawarkan bantuan kepadanya. Karena Aku pikir, mungkin Ia membutuhkan sesuatu," jawab Amna, menjelaskan.
"Hmm. Oke, baiklah. Lalu?" tanya Maria.
"Iya Maria! Setelah Aku menawarkan bantuan kepadanya, Aku benar-benar tidak menyangka ini semua akan terjadi!" jawab Amna.
"Oh. Memangnya apa yang telah terjadi?" tanya Maria penuh antusias.
"Kata-katanya telah menghapus senyum di wajahku. Kata-katanya telah memutarbalikkan duniaku!" jawab Amna, diakhiri dengan gelengan kepalanya.
"Memangnya apa yang telah dikatakan oleh Tuan Muda Ibrar, Amna? Aku jadi penasaran ini. Ayo ceritakanlah kepadaku!" pinta Maria.
"Iya, iya. Ini Aku juga sedang menceritakannya kepadamu!" jawab Amna.
"Oke," ucap Maria.
"Oke. Seperti yang telah Aku bilang sebelumnya. Pada saat itu, Aku menawarkan bantuan untuknya. Aku mengucapkan selamat petang. Kemudian Aku bertanya apakah ada yang bisa Aku lakukan untuknya?" jawab Amna.
"Hmm. Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Lalu. Bukannya jawaban manis yang Aku dengar. Justru..," jawab Amna.
"Justru apa?" tanya Maria penuh penasaran.
"Justru, Ia memandangku dengan tatapan tidak suka. Ia pun berkata yang tidak mengenakkan untuk didengar," jawab Amna.
"Oh. Begitu, rupanya. Akan tetapi, memangnya apa yang telah dikatakan oleh Tuan Muda Ibrar pada saat itu?" tanya Maria.
"Saat itu Dia bertanya. Maksud Aku apa? Lalu Aku ini siapa? Kemudian, Dia pun melihat seragam yang Aku kenakan. Lalu Dia bertanya apakah Aku pegawai dari perusahaan ini?" jawab Amna.
"Ooh. Begitu. Lalu?" tanya Maria.
"Iya. Dia mengatakan itu. Akan tetapi. Dari pandangan matanya, nada bicaranya, dan gesture tubuhnya, itu menyatakan kalau Ia salah paham akan maksudku. Iya. Tepatnya Ia tidak menyukaiku. Ia tidak mempunyai respek yang baik kepadaku," jelas Amna dengan nada sedih.
"Ooh. Amna yang malang," ucap Maria.
"Iya. Inilah Aku. Aku memang sedang tidak beruntung waktu itu," jawab Amna.
"Oke, oke. Lalu? Apa jawaban Kamu saat itu?" tanya Maria.
"Iya, saat itu Aku menjawab bahwa Aku adalah seorang customer service yang bekerja di perusahaan ini," jawab Amna.
"Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Lalu Ia bertanya lagi tentang maksudku menawarkan bantuan kepadanya," jawab Amna.
"Hmm. Oke. Lalu apa jawaban Kamu?" tanya Maria.
"Saat itu Aku berusaha menjelaskan kepadanya. Iya. Bahwa Aku melihatnya sedang mencari-cari dan memperhatikan sesuatu. Kemudian Aku berinisiatif untuk menawarkan bantuan. Dan Aku bilang, kalau Aku siap membantunya. Aku pun masih bersabar saat itu, dengan masih memberinya senyuman manisku," jelas Amna.
"Hmm. Begitu rupanya. Lalu?" tanya Maria.
"Dia bilang, saat itu Ia memang sedang berjalan-jalan sambil melihat-lihat suasana dan aktivitas para pegawai di perusahaan ini," jawab Amna.
"Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Lalu. Sekali lagi Aku menawarkan bantuan kepadanya. Aku bilang kalau Kami siap melayani apapun yang Ia butuhkan," jawab Amna.
"Hmm. Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Iya. Masalahnya mulai terlihat jelas setelah ini!" jawab Amna.
"Oh ya? Memangnya apa yang telah dikatakan oleh Tuan Muda Ibrar kepadamu?" tanya Maria.
"Dia bilang. Dia mempunyai satu permintaan untuk Aku!" jawab Amna.
"Oh. Wow! Tampaknya ceritanya mulai seru nih! Lalu, memangnya apa permintaannya itu?" tanya Maria.
"Iya. Pada saat itu, Aku pun memintanya untuk mengatakan tentang permintaannya itu. Dan Aku pun masih memasang wajah manisku kepadanya," jawab Amna.
"Hmm. Oke," ucap Maria.
"Akan tetapi, senyum di wajahku dan muka manisku seketika menghilang saat itu. Iya. Setelah Aku mendengar tentang satu permintaannya itu," ucap Amna sedih.
"Hmm. Memangnya apa yang Dia minta? Ayo katakanlah kepadaku!" pinta Maria.
"Dia meminta Aku untuk berpakaian lebih sopan!" jawab Amna.
"Oh!" ucap Maria.
"Iya. Dia juga menyuruh Aku untuk mengancingkan kemejaku sampai ke bagian leher. Begitupun juga dengan rokku," ucap Amna.
"Ooh. Begitu rupanya!" ucap Maria.
"Iya, Maria," jawab Amna.
"Akan tetapi. Dengan mendengar ceritamu, tampaknya masih ada lagi yang Ia katakan kepadamu. Apakah Aku benar?" tanya Maria.
"Iya, Maria. Dia menceramahi Aku panjang lebar," jawab Amna.
"Hmm. Oke. Ceritakanlah kepadaku!" pinta Maria.
"Iya. Pada saat itu, Dia juga menyuruhku untuk memakai rokku, paling tidak sebatas lutut," jawab Amna.
"Hmm. Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Dia bilang, Dia tahu ini Dubai. Semua gadis berpakaian sexy dengan mini dress. Akan tetapi ini adalah kantor. Tempat dimana Aku bekerja. Dan Aku harus menghargai kantor ini," jelas Amna.
"Ooh. Begitu rupanya! Lalu?" tanya Maria.
"Iya. Dia bilang. Dia mengatakan itu kepadaku, karena Aku adalah seorang customer service di perusahaan ini. Bagi perusahaan, customer service adalah wajah dari perusahaan. Pelanggan akan menilai baik buruknya perusahaan dari pelayanan seorang customer service. Seperti itu," jawab Amna, menjelaskan.
"Hmm. Oke. Lalu, apa jawaban yang Kamu berikan pada saat itu?" tanya Maria.
"Iya Maria. Dan bodohnya Aku saat itu! Aku memberikan jawaban yang bodoh atas pertanyaannya itu!" jawab Amna.
"Hmm. Akan tetapi Amna. Kamu itu memang terkadang sering berpikir dan bertindak bodoh. Dan betapa malangnya nasibmu. Kamu juga melakukannya pada saat itu," ucap Maria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya. Aku memang sedang tidak beruntung!" jawab Amna sedih.
"Oke, oke. Baiklah. Katakan kepadaku! Jawaban bodoh apa yang telah Kamu katakan kepada Tuan Muda Ibrar?" tanya Maria.
"Oke. Saat itu Aku meminta maaf kepadanya. Lalu Aku bilang, kalau Aku tidak menyangka bahwa Dia akan meminta itu dariku. Aku pun bilang kepadanya. Kalau sebelumnya Aku berpikir karena semua pelanggan dari perusahaan ini adalah laki-laki. Dan sebagian besar dari Mereka menyukai gadis berpakaian sexy. Maka dari itulah Aku memakai pakaian seperti ini," jelas Amna.
"Ohoo! Benar-benar gadis bodoh! Jawabanmu itu sama saja dengan Kamu melawannya!" ucap Maria.
"Iya, Maria. Akan tetapi Aku tidak menyadarinya pada saat itu," jawab Amna.
"Hmm. Iya, iya. Aku tahu! Lalu? Apa yang dikatakan oleh Tuan Muda Ibrar?" tanya Maria.
"Dia hanya bilang kalau Dia menerima alasanku. Akan tetapi, Dia memintaku untuk mempertimbangkan sarannya untukku," jawab Amna.
"Oh. Baguslah kalau begitu. Apa ceritanya sudah selesai?" tanya Maria.
"Belum, Maria! Setelah itu, Ia masih menceramahi Aku lagi!" jawab Amna.
"Oh. Oke. Ceritakanlah kepadaku!" pinta Maria.
Saat itu Ia mendengarkan semua cerita Amna sambil menyelesaikan pekerjaannya.
"Setelah Ia mengupas tentang kesalahan diriku di matanya. Kemudian Ia mengaitkan pekerjaanku dengan perusahaan," jawab Amna.
"Hmm. Memangnya apa yang dikatakan olehnya?" tanya Maria.
"Dia menanyakan kepadaku apakah Aku tahu bahwa perusahaan ini adalah perusahaan bertaraf internasional?" jawab Amna.
"Kemudian Dia bilang. Seharusnya Aku tahu bahwa perusahaan ini selalu mempertahankan kredibilitasnya dengan ulasan pelanggan di google!" lanjut Amna bercerita.
"Hmm. Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Iya. Aku jawab kalau Aku tahu benar tentang itu semua. Karena itu adalah bagian dari tugas customer service," jawab Amna.
"Bagus! Lalu? Apa lagi yang dikatakan olehnya?" tanya Maria.
"Dia bertanya kepadaku. Bertahan di bintang berapakah ulasan pelanggan di google dari perusahaan ini? Lalu Dia juga bertanya apakah Aku memperhatikan apa saja isi dari ulasan pelanggan dari perusahaan ini di google?" jelas Amna.
"Hmm. Oke. Lalu apa jawabanmu?" tanya Maria.
"Aku bilang. Aku selalu mengeceknya dan membacanya. Lalu, Ia bertanya lagi kepadaku," jawab Amna.
"Hmm. Apa yang Dia tanyakan?" tanya Maria.
"Dia bertanya tentang topik apa yang selalu pelanggan ulas. Kemudian Aku pun menjawab. Para pelanggan selalu mengulas tentang pelayanan dan betapa bagusnya kinerja dari pegawai dan manajemen dari perusahaan ini," jawab Amna.
"Jawaban yang bagus! Lalu?" tanya Maria.
"Kemudian, Dia bilang kalau Aku benar sekali. Akan tetapi, Dia juga bilang. Aku tidak memahami makna dari kalimat yang Aku ucapkan sendiri!" jawab Amna.
"Oh. Kalimat yang tajam!" ucap Maria.
"Memang!" jawab Amna.
"Hmm. Oke. Lalu?" tanya Maria.
"Lalu Aku pun bertanya. Apa maksud dari pembicaraannya?" jawab Amna.
"Oke. Lalu apa penjelasannya?" tanya Maria.
"Dia bilang. Maksudnya adalah. Bahwa perusahaan ini sudah cukup memberikan semua pelayanan terbaik terkait dengan kinerja para pegawai dan manajemen perusahaan. Jadi, Aku tidak perlu menjual diri untuk memberi pelayanan lebih kepada pelanggan," jelas Amna.
"Oh Tuhanku! Kata-katanya sungguh sangat tajam sekali! Dia benar-benar blak-blakan!" ucap Maria. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya Maria. Kata-katanya itu membuat Aku merasa sedih," ucap Amna.
"Hmm. Iya. Tentu saja. Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Maria.
"Setelah itu, Dia meminta maaf atas kata-kata tidak sopannya padaku. Dia bilang, Dia hanya mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya saja. Dia bilang, Dia tidak bermaksud untuk merendahkan Aku. Lalu Dia memohon pengertian dariku," jelas Amna.
"Oh. Syukurlah kalau begitu. Setidaknya dia mempunyai sikap yang baik," ucap Maria.
"Lalu. Apa yang terjadi kemudian?" lanjut Maria, bertanya kepada Amna.
"Kemudian Aku bilang kalau Aku memahaminya. Dan Aku meminta maaf atas ketidaksopananku," jawab Amna.
"Bagus! Lalu?" tanya Maria.
"Dia bilang oke. Lalu Dia menyuruhku dengan halus untuk Aku kembali ke meja kerjaku. Akan tetapi, Dia mengatakan sesuatu sebelum Aku beranjak dari tempat itu," jawab Amna.
"Oh. Apa yang Dia katakan?" tanya Maria.
"Dia memintaku untuk mengingat dan mempertimbangkan tentang saran yang telah Dia berikan untukku! Lalu menyuruhku untuk segera kembali ke meja kerjaku. Cerita selesai!" jawab Amna.
"Ohh. Oke, oke. Aku mengerti sekarang!" ucap Maria.
"Mengerti bagaimana yang Kamu maksudkan, Maria Akram Jutt?" tanya Amna dengan memanggil nama lengkap Maria.
"Dari kisah yang telah Kamu ceritakan, Aku bisa menarik sebuah kesimpulan!" jawab Maria.
"Hmm. Kesimpulan yang seperti apakah itu?" tanya Amna.
"Sejauh pemahamanku dari kisah yang telah Kamu ceritakan. Aku bisa melihat bahwa Tuan Muda Ibrar sebenarnya adalah tipe pemimpin yang baik dan bijaksana. Nyatanya, Ia tidak nyaman dengan melihat perempuan berpakaian sexy. Kemudian. Tentang kalimat-kalimat tajam yang telah Ia ucapkan kepadamu. Itu termasuk dalam gaya kepemimpinannya! Setidaknya Ia meminta maaf setelah Ia mengucapkannya. Iya kan?" jelas Maria.
"Iya. Setidaknya, waktu itu Aku sangat jengkel dibuatnya. Karena waktu itu, Aku pikir Ia hanyalah salah satu pelanggan dari bengkel ini. Aku pikir, memangnya siapa Dia? Menceramahi Aku panjang lebar seperti itu? Atasanku di kantor juga tidak? Eh. Tidak tahunya! Akhirnya Aku mengetahui tentang Dia sebenarnya di saat acara pengenalan dirinya dihadapan semua pegawai tadi malam," jelas Amna.
"Hmm. Oke, oke. Baiklah. Semuanya jelas sekarang! Lalu. Apa yang Kamu risaukan sebenarnya?" tanya Maria.
"Aku sangat resah, setelah Aku mengetahui tentang jati dirinya yang sebenarnya. Aku merasa kalau posisiku sedang tidak aman. Dia tampak sangat tidak menyukaiku. Aku takut kalau Dia akan segera memecat Aku," jawab Amna.
"Oh. Amna yang malang! Sudahlah! Jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu!" ucap Maria.
"Bagaimana Aku tidak khawatir? Aku tidak akan tenang, sebelum Aku bertemu dan berbicara dengannya lagi," jawab Amna.
"Hmm. Dengarkan Aku!" ucap Maria.
"Iya, Maria!" jawab Amna.
"Aku pikir Dia tidak akan dengan mudah memecat Kamu hanya dengan alasan itu. Mungkin saat ini Ia sedang memberimu waktu untuk melakukan apa yang telah Ia sarankan kepadamu sebelumnya. Yang harus Kamu lakukan saat ini adalah menjalankan sarannya! Percayalah padaku! Apa Kamu mengerti sekarang? Nona Amna Malik?" jelas Maria, memberikan pengertian kepada Amna.
"Iya Maria! Apa Kamu tidak melihatku sekarang? Meskipun Aku masih menggunakan baju lamaku. Akan tetapi Aku telah mengancingkan kemejaku sampai ke leher. Sesuai saran darinya. Karena untuk membuat baju baru juga semuanya butuh uang dan juga waktu. Iya kan?" jawab Amna.