PART 22. Pelajaran Berharga

1786 Words
"Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Iya. Saya memanglah pewaris dari grup perusahaan Kareem. Saya adalah calon pemimpin dari perusahaan ini, disaat Ayah Saya pensiun nanti," ucap Ibrar. "Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Iya. Akan tetapi, terlepas dari itu semua. Usia Saya masihlah sangat muda dibandingkan dengan Anda. Begitupun juga dalam hal pengalaman. Bertahun-tahun Anda telah menjadi orang kepercayaan Ayah Saya di perusahaan ini. Kemampuan Saya dalam mengurus perusahaan, tidaklah ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemampuan Anda," jelas Ibrar. "Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Nah. Maka dari itulah. Dengan Anda menawarkan diri untuk membimbing Saya dalam mengurus perusahaan, itu adalah hal terbaik yang telah Anda lakukan. Saya merasa sangat beruntung karenanya," ucap Ibrar. "Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Iya. Karena Saya tidak akan menemukan guru dan pembimbing terbaik dari perusahaan ini selain dari Ayah Saya sendiri dan Anda," ucap Ibrar. "Oh. MashaAllah. Alhamdulillah. InshaAllah Saya akan selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, Tuan," jawab Tuan Shahab. "Alhamdulillah. Terima kasih Tuan Shahab. Terima kasih atas semua dedikasi yang telah Anda berikan untuk perusahaan ini, selama ini," ucap Ibrar. "Iya. Sama-sama Tuan Ibrar. Semoga Allah memberkahinya. Aamiin," jawab Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya. "Aamiin ya rabbal 'aalamin," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Baiklah. Kalau begitu. Sekarang Anda bisa memberitahu tentang saran Anda untuk Saya, Tuan!" lanjut Ibrar. "Iya Tuan. Baiklah!" jawab Tuan Shahab. "Tadi Anda telah menyetujui untuk mengikuti aktivitas Saya hari ini," ucap Tuan Shahab. "Iya, benar," jawab Ibrar. "Kalau boleh Saya menyarankan. Mungkin Anda bisa melakukan aktivitas bersama Saya ini setiap hari. Iya, setidaknya selama seminggu berturut-turut. Syukur-syukur dalam dua atau tiga minggu kedepan, mungkin?" saran Tuan Shahab. "Hmm," jawab Ibrar. "Maksud Saya adalah agar Anda tidak canggung dan mulai terbiasa mengerjakan aktivitas ini. Karena Anda harus membiasakan diri Anda untuk sering bertemu dan berkomunikasi dengan para pegawai dan juga para pelanggan," jelas Tuan Shahab. "Hmm. Iya, iya, Tuan. Saya mengerti sekarang," jawab Ibrar. "Iya Tuan. Saran Saya ini menyangkut salah satu prinsip yang Saya anut," ucap Tuan Shahab. "Oh. Prinsip yang manakah itu? Apakah Saya boleh tahu, Tuan Shahab?" tanya Ibrar. "Tentu saja Tuan. Maka dari itulah, Saya memberikan saran ini kepada Anda," jawab Tuan Shahab. "Wah. Alhamdulillah," ucap Ibrar. "Oke. Prinsip yang Saya maksud tadi adalah. Bahwa seorang pemimpin yang sukses, bukanlah pemimpin yang diktator dan manja. Seorang pemimpin yang sukses, tidak hanya bisa duduk dibalik meja kerjanya. Seorang pemimpin yang sukses, tidak boleh hanya mempercayakan semua tugas dan tanggung jawab kepada para bawahannya. Seorang pemimpin yang sukses, harus bisa merangkul, menghargai, dan membersamai aktivitas para bawahannya. Disini, komunikasi dua arah sangatlah penting!" jawab Tuan Shahab. "Oke, oke," ucap Ibrar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Meskipun demikian. Tidak serta merta pemimpin itu akan kehilangan wibawanya di depan para bawahannya. Justru, pemimpin itu akan lebih dihargai dan disayangi oleh para bawahannya. Dan, bila ikatan yang seperti ini telah terjalin dalam hubungan kerja, maka InshaAllah tidak akan ada yang namanya pengkhianatan!" jelas Tuan Shahab. "Oh. MashaAllah," ucap Ibrar. "Apakah Anda memahami semua yang telah Saya sampaikan, Tuan Ibrar?" tanya Tuan Shahab. "Iya, iya Tuan. Saya memahaminya. Dan InshaAllah Saya akan selalu mengingatnya dalam memori otak Saya. Semua yang Anda sampaikan bagaikan sebuah pesan untuk Saya. Seperti ilmu yang Anda ajarkan untuk Saya," jawab Ibrar. "Oh. Benarkah itu?" tanya Tuan Shahab. "Iya Tuan. Sungguh! Semua yang telah Anda sampaikan kepada Saya, sangatlah berharga. Saya akan menampungnya sebagai bahan pembelajaran untuk kehidupan Saya kedepannya," jawab Ibrar. "MashaAllah. Alhamdulillah kalau begitu. Saya pun ikut merasa senang kalau ilmu Saya bermanfaat," ucap Tuan Shahab. "Iya, Tuan. Alhamdulillah. Dan Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Anda. Karena Anda telah memberikan Saya kuliah gratis. Iya. Kuliah gratis dengan materi yang sangatlah berharga. Sekali lagi terima kasih, Tuan Shahab. Semoga Allah memberkahi ilmu Anda dan semua dedikasi yang telah Anda berikan kepada perusahaan Kami," jawab Ibrar, diakhiri dengan doa untuk Tuan Shahab. "Aamiin, ya rabbal 'aalamin. Sama-sama, Tuan Ibrar," jawab Tuan Shahab. "Iya. Sama-sama," ucap Ibrar. "Lalu? Bagaimana dengan saran yang telah Saya sampaikan tadi? Apakah Tuan setuju?" tanya Tuan Shahab. "Oh. Saran tentang mengikuti Anda beraktivitas selama paling tidak tiga minggu berturut-turut itu?" tanya balik Ibrar. "Iya. Tepat sekali!" jawab Tuan Shahab. "Tentu saja! Mengapa tidak?" jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Oke. Deal, kalau begitu!" ucap Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya. "Iya. Deal!" jawab Ibrar dengan senyumannya. "Lalu? Apakah ada saran yang lain lagi untuk Saya, Tuan?" lanjut Ibrar bertanya kepada Tuan Shahab. "Oh. Tentu saja ada!" jawab Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya. "Begini. Anda kan mengikuti aktivitas Saya hanya di jam-jam tertentu," lanjut Tuan Shahab. "Iya," jawab Ibrar. "Nah. Di sela-sela waktu itu, Anda bisa memanfaatkannya untuk aktivitas yang lainnya," ucap Tuan Shahab. "Oh, iya. Tentu saja! Bahkan Ayah Saya juga tidak menyukai kalau Saya hanya duduk manis di kantor. Terlebih kalau Saya menggunakan ponsel Saya hanya untuk bermain sosial media," jawab Ibrar. "Hmm. Begitu rupanya?" tanya Tuan Shahab. "Iya, Tuan!" jawab Ibrar. "Oh. Betapa malangnya nasib Anda. Apakah Anda merasa tertekan?" tanya Tuan Shahab. "Tertekan? Mungkin iya, Tuan. Terkadang Saya merasakannya. Akan tetapi semua telah menjadi hal yang biasa dalam hidup Saya. Saya selalu mengembalikan semua urusan kepada Sang Maha Kuasa. Saya harus senantiasa bersyukur dengan apa yang Saya miliki saat ini. Yang bisa Saya lakukan adalah mengerjakan semua hal yang terbaik semampu Saya," jawab Ibrar. "Hmm. Pemikiran yang bagus," ucap Tuan Shahab. "Duh! Saya malah jadi bercerita tentang kehidupan pribadi Saya!" ucap Ibrar. "Tidak apa-apa, Tuan. Santai saja dengan Saya. Saya bisa menjadi pendengar yang baik bagi Anda," jawab Tuan Shahab. "Hmm. Iya. Terima kasih, Tuan. Baiklah! Sekarang Anda bisa memberitahu tentang saran Anda untuk Saya!" ucap Ibrar. "Oh. Iya Tuan. Tentu saja," jawab Tuan Shahab. "Begini Tuan. Anda bisa memanfaatkan jam kantor Anda untuk mempelajari hal-hal lainnya. Misalnya. Anda bisa ke bagian keuangan; layanan pelanggan dan personalia; gudang dan pemeliharaan; dan semua bagian yang ada di kedua perusahaan Kita ini," ucap Tuan Shahab. "Hmm. Iya, tentu saja!" jawab Ibrar. "Iya Tuan. Anda mempunyai hak penuh atas semua bagian yang ada di kedua perusahaan Kita ini. Anda bisa meminta Mereka untuk memberitahu Anda tentang semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Karena, Anda harus mengetahui bagaimana situasi dan kondisi perusahaan secara keseluruhan setiap saat. Dengan begitu, barulah Anda bisa memutuskan kebijakan manajemen. Dari sini, Anda juga bisa mengetahui bagaimana likuiditas perusahaan kita. Ini sangatlah penting, Tuan!" jelas Tuan Shahab. "Hmm. Iya, iya. InshaAllah Saya akan melakukannya, Tuan," jawab Ibrar. "Iya Tuan. Akan tetapi, sekali lagi maaf," ucap Tuan Shahab. "Iya Tuan. Mengapa Anda harus meminta maaf lagi?" tanya Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Iya Tuan. Karena sebelumnya Anda telah mempunyai pengalaman. Iya. Selama bertahun-tahun Anda telah mengurus perusahaan grup Kareem yang ada di Pakistan," jawab Tuan Shahab. "Iya, benar. Lalu, apa masalahnya?" tanya Ibrar. "Masalahnya adalah. Saya tidak tahu, sejauh mana Tuan Tariq melibatkan Anda dalam kepengurusan perusahaan," jawab Tuan Shahab. "Iya. Benar," ucap Ibrar. "Iya Tuan. Meskipun demikian, tetap saja Anda telah mempunyai pengalaman dalam menjalankan perusahaan sebelumnya. Tentu Anda sudah mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Dan sekali lagi saya menggurui Anda. Untuk itulah Saya meminta maaf sekali lagi," jelas Tuan Shahab. "Oh. Baiklah. Saya mengerti sekarang," jawab Ibrar. "Alhamdulillah, Tuan," ucap Tuan Shahab. "Iya. Kembali lagi seperti yang Saya bilang sebelumnya. Anda pastinya jauh lebih berpengalaman daripada Saya. Saya menampung semua saran dari semua orang, asalkan itu untuk kebaikan Saya dan perusahaan Saya. Anda tidak perlu meminta maaf. Justru Saya yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Anda. Sekarang Anda mengerti, Tuan Shahab?" tanya Ibrar. "Iya Tuan. InshaAllah Saya mengerti sepenuhnya," jawab Tuan Shahab. "Alhamdulillah," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Alhamdulillah," ucap Tuan Shahab. Ia pun membalas senyuman Ibrar. Sementara itu, di sisi lain dari perusahaan auto workshop and maintenance itu. 'Orang ini benar-benar ya! Dimana sih Dia?' ucap gadis costumer service itu di dalam hatinya. Saat ini Ia sedang memandang jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu Ia mengalihkan pandangannya ke arah ruangan officer dari perusahaan itu. Ia pun melakukan aktivitas itu berkali-kali. Saat Ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Ibrar, Ia pun semakin gelisah. Kini Ia pun mengerutkan keningnya dengan wajah yang sedih. 'Duh. Apa-apaan sih ini?' ucap gadis itu di dalam hatinya. 'Hatiku tidak bisa tenang. Dan Aku tidak bisa melakukan apapun dengan baik sejak acara pengenalan Putra Mahkota tadi malam,' lanjut gadis itu, masih berbicara di dalam hatinya. 'Sungguh lelaki yang aneh! Kehadirannya benar-benar telah mengacaukan hidupku!' ucapnya lagi, masih berbicara di dalam hatinya. 'Oh. Bagaimana ini? Aku tidak bisa tenang sebelum Aku bertemu dan berbicara dengannya lagi!' ucapnya lagi, masih berbicara di dalam hatinya. Ia pun masih gelisah. Berulang kali Ia mengalihkan pandangannya dari meja kerjanya ke arah ruangan officer. 'Akan tetapi. Seandainya ada kesempatan untuk Aku bertemu dan berbicara dengannya lagi? Apa yang akan Aku katakan kepadanya? Apa Aku harus berterus terang untuk menanyakan perihal pemecatan diriku?' ucap gadis itu, masih didalam hatinya. 'Ah. Sudahlah! Semakin Aku pikirkan, Aku semakin gelisah saja dibuatnya!' lanjutnya lagi. "Uff!" ucap gadis itu. Ia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Hai Amna Malik!" panggil seseorang. "Iya. Ada apa?" jawab gadis customer service yang ternyata bernama Amna Malik itu. "Apa yang terjadi denganmu?" tanya seseorang itu. "Apa? Memangnya kenapa Maria?" tanya Amna kepada Maria, yang tidak lain adalah gadis customer service lainnya. "Ditanya malah balik bertanya! Pikiran Kamu sedang dimana? Kamu tidak fokus bekerja di jam kantor hari ini!" jawab Maria. "Oh. Iya. Maafkan Aku," ucap Amna. "Baiklah Nona Amna Malik! Bukan masalah yang berat bagi Saya, bila Kamu tidak fokus dalam bekerja. Akan tetapi, Kamu bisa terkena masalah berkaitan dengan pekerjaanmu. Kamu paham itu kan?" tanya Maria. "Iya. Sepenuhnya Aku memahaminya," jawab Amna. "Hmm. Lalu? Apa yang mengganggu pikiranmu? Aku perhatikan seharian ini Kamu nampak gelisah dan tidak fokus dalam bekerja," tanya Maria. "Emm. Sebenarnya..," jawab Amna, tidak menyelesaikan kalimatnya. "Dan iya. Aku juga memperhatikan sedari tadi. Apa yang Kamu cari dengan berkali-kali memandang jam tanganmu dan mengalihkan pandanganmu ke arah ruangan officer?" selidik Maria. "Oh. Itu..," jawab Amna lagi. Ia pun tidak menyelesaikan kalimatnya lagi. "Oh. Aku tahu!" ucap Maria. "Tahu apa?" tanya Amna. "Hmm. Kamu pasti tertarik dengan Tuan Muda Kita itu kan? Tuan Ibrar Kareem! Iya. Sedari tadi Kamu mencari-cari keberadaannya. Berulang kali Kamu memandang ke arah ruangan officer," selidik Maria. "Eh. Sembarangan! Tidak, tidak!" jawab Amna. "Benarkah? Lalu? Apa sebenarnya masalahmu?" tanya Maria. "Emm," jawab Amna. "Iya. Ada apa Amna? Aku mempunyai sedikit waktu luang untuk berbicara denganmu sekarang. Sambil Aku menyelesaikan pekerjaanku. Apa Kamu tidak ingin membagi masalahmu denganku?" tanya Maria. "Emm," jawab Amna. "Oke. Baiklah kalau Kamu tidak mau mengatakannya. Selamat menikmati kegundahanmu sendiri! Aku juga sibuk dengan pekerjaanku!" jawab Maria. "Oh. Tidak, tidak Maria! Jangan begitu kepadaku!" pinta Amna. "Oke. Lalu? Apa Kamu akan membagi masalahmu denganku?" tanya Maria. "Iya. Oke. Baiklah!" jawab Amna. "Oke. Katakanlah! Kita tidak mempunyai banyak waktu untuk berbincang!" ucap Maria. "Baiklah! Sebenarnya, telah terjadi sesuatu!" jawab Amna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD