PART 21. Tentang Posisi Dalam Perusahaan

1782 Words
"Oh. Iya, iya. Saya memahaminya," jawab Ibrar. "Dan Alhamdulillah. Sarapan Saya juga telah habis. Terima kasih Tuan Shahab," lanjut Ibrar kemudian. "Alhamdulillah. Iya, sama-sama Tuan," jawab Tuan Shahab. "Oh iya Tuan. Masih ada pokok bahasan lainnya yang perlu Kita bahas!" lanjut Tuan Shahab. "Oh. Iya. Tentu saja. Hari ini Kita bisa membahas tentang banyak hal. Akan tetapi, Kita bisa membahasnya di sela-sela rutinitas wajib yang biasa Anda kerjakan. Saya tidak mau membuat pekerjaan Anda terbengkalai karena Anda memberikan waktu Anda untuk berbincang dengan Saya," jawab Ibrar. "Oh. Tentang itu. Anda jangan khawatir, Tuan! Saya telah memanage semua pekerjaan Saya. Dan, pagi ini Saya mempunyai waktu untuk Anda sampai jam dua belas siang. Karena satu jam sebelum jam istirahat siang, Saya harus melakukan koordinasi dengan beberapa pegawai," jelas Tuan Shahab. "Oh. Oke, oke. Baiklah Tuan Shahab," jawab Ibrar. "Iya Tuan. Karena menurut Saya. Ini adalah langkah pertama yang perlu Saya ambil. Karena hari ini adalah hari pertama Anda bergabung dengan perusahaan ini. Saya harus memberitahu Anda tentang semua hal yang mendasar dari perusahaan ini," ucap Tuan Shahab. "Iya, iya. Tentu saja, Tuan Shahab," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Baiklah Tuan. Masih berkaitan dengan posisi Saya di perusahaan grup Kareem," ucap Tuan Shahab. "Iya. Oke," jawab Ibrar. "Seperti yang Tuan Ibrar ketahui. Terkadang Tuan Tariq pulang ke Pakistan. Iya kan?" tanya Tuan Shahab. "Iya," jawab Ibrar. "Dan. Kalau Tuan Tariq pulang ke Pakistan, pastinya untuk waktu yang agak lama bukan?" tanya Tuan Shahab. "Iya Tuan. Biasanya Ayah kalau pulang ke Pakistan, minimal satu bulan lamanya," jawab Ibrar. "Nah. Iya, benar!" ucap Tuan Shahab. "Lalu. Apa yang Anda pikirkan tentang perusahaan grup Kareem yang ada di Dubai, saat Tuan Tariq berada di Pakistan untuk waktu yang lama?" tanya Tuan Shahab. "Hmm. Harusnya, perusahaan mempunyai pimpinan yang selalu stand by setiap saat," jawab Ibrar. "Iya Tuan. Itu harus!" ucap Tuan Shahab. "Apabila Ayah Saya sedang tidak berada di Dubai dalam waktu yang lama, tentunya Ayah Saya telah mempunyai orang kepercayaan. Iya. Seseorang yang bisa dipercaya untuk menghandle semua pekerjaan Ayah Saya sehari-harinya. Seseorang yang menjadi wakil yang telah Ayah Saya tunjuk untuk bertanggung jawab terhadap berjalannya perusahaan," jelas Ibrar. "Iya Tuan. Harusnya seperti itu!" ucap Tuan Shahab. "Iya. Dan Saya tahu," jawab Ibrar. "Tahu tentang apa Tuan?" tanya Tuan Shahab. "Saya tahu. Bahwasanya orang kepercayaan Ayah Saya itu, tidak lain adalah Anda sendiri. Saya benar kan, Tuan Shahab?" tanya Ibrar. "MashaAllah. Anda benar-benar cerdas, Tuan!" jawab Tuan Shahab. "Alhamdulillah," ucap Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Saya suka bekerja bersama dengan Anda. Anda sangat cerdas dan mudah mengerti tentang segala hal. Itu sangat membantu dan mempermudah pekerjaan Saya," ucap Tuan Shahab. "Alhamdulillah, Tuan. InshaAllah Saya akan selalu belajar dari apa yang terjadi di sekitar Saya. Dan InshaAllah Saya akan selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan grup Kareem," jawab Ibrar. "Aamiin. InshaAllah. Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada Kita semua," doa Tuan Shahab. "Aamiin ya rabbal 'aalamiin," jawab Ibrar. Sementara itu, di sisi lain dari perusahaan auto workshop and maintenance dari grup perusahaan Kareem. "Ooh. Dimana sih Dia? Sejak pertemuan tadi pagi itu, Aku belum melihatnya lagi," gumam seorang gadis yang sedang mencari-cari keberadaan seseorang. 'Apakah Dia masih berada di dalam ruangan officer sejak tadi pagi dan tidak keluar-keluar lagi? Ataukah Dia sudah keluar dari ruangan officer, akan tetapi Aku yang tidak melihatnya?' ucap gadis itu di dalam hatinya. 'Akan tetapi. Kira-kira apa yang sedang Ia lakukan di dalam sana ya? Mengapa Ia tidak keluar-keluar lagi? Apakah Ia sedang merencanakan sesuatu? Oh. Kalaupun iya, Aku harap itu bukan suatu berita yang buruk,' lanjut gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Kira-kira apa ya? Yang Ia pikirkan tentang Aku? Apakah Ia akan memecat Aku? Ooh. Ini sungguh tidak baik! Aku sedang tidak baik-baik saja! Posisiku terancam saat ini!' ucap gadis itu, masih di dalam hatinya. "Sungguh lelaki yang aneh. Kedatangannya membawa masalah bagiku! Uff!" gumam gadis itu, yang ternyata adalah gadis customer service yang bertemu dengan Ibrar kemarin. 'Oh. Bos baruku! Lelaki muda yang misterius!' ucap gadis itu lagi, di dalam hatinya. 'Iya. Aku sama sekali tidak bisa membaca pikirannya. Dan Aku tidak bisa menebak apa yang akan Dia lakukan. Bahkan, kehadirannya lebih menakutkan dari sosok Tuan Tariq, Ayahnya. Hmm,' lanjut gadis itu, masih memikirkan tentang Ibrar. 'Sayang sekali. Seandainya insiden kemarin malam itu tidak pernah terjadi. Mungkin saat ini Aku bisa tersenyum-senyum mengagumi ketampanannya. Dia itu sangat cool. Iya. Setidaknya saat Aku melihatnya pada acara perkenalan dirinya sebagai Putra Mahkota dari grup perusahaan Kareem semalam,' ucap gadis itu, masih di dalam hatinya. Ia pun tersenyum-senyum sendiri, terbawa dalam lamunannya. Hingga beberapa saat kemudian. 'Oh. Tidak, tidak! Aku ini apa-apaan sih? Mengapa Aku begitu bodoh? Aku tidak boleh tertarik dengan lelaki itu. Aku ini tidak lebih hanyalah seorang pegawai baginya! Dan yang pasti, pegawai yang bermasalah, yang sedang tidak aman posisinya,' ucap gadis itu masih di dalam hatinya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Ya sudahlah! Aku pasrahkan saja semuanya kepada yang Maha Kuasa. Aku hanya Akan semakin resah dengan semua pikiranku sendiri saja! Kalaupun memang Ia tidak suka dengan kinerjaku, dan Ia memutuskan untuk memecat Aku? Apa boleh buat?' ucap gadis itu lagi, masih di dalam hatinya. Ia pun tampak lebih bersemangat sekarang. 'Oke. Hari ini Aku masih bekerja disini. Mungkin Ia memberikan waktu kepadaku, untuk Aku berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Iya! Oke, baiklah Tuan Putra Mahkota! Aku akan melakukan pekerjaanku dengan lebih baik dari sebelumnya. Dan tentu saja, sesuai saran yang Anda berikan. Aku akan berpakaian lebih sopan!' ucap gadis itu, masih di dalam hatinya. Kemudian Ia pun tersenyum dan tampak lebih bersemangat lagi. Sementara itu. Di dalam ruangan officer dari perusahaan auto workshop and maintenance itu. "Oh iya Tuan. Kalau Saya boleh tahu. Kira-kira apa rencana yang akan Anda lakukan di hari pertama Anda bergabung dengan perusahaan ini?" tanya Tuan Shahab. "Karena Saya baru disini, otomatis Saya belum tahu apapun tentang perusahaan Kami yang ada di Dubai. Dan itu membuat Saya belum bisa merencanakan apapun untuk perusahaan. Lagipula, Saya belum tahu sejauh mana Ayah Saya ingin melibatkan Saya dalam kepengurusan perusahaan. Tampaknya Saya harus membicarakannya dengan Ayah Saya terlebih dahulu," jelas Ibrar. "Oh. Iya, iya, Tuan. Baiklah, Saya memahaminya," jawab Tuan Shahab. "Akan tetapi Tuan. Sejauh pemikiran Saya. Pastinya, cepat ataupun lambat. Tuan Tariq ingin Anda menjadi pengganti Beliau suatu hari nanti. Menjadi pemimpin seutuhnya bagi semua perusahaan yang berada dibawah naungan grup perusahaan Kareem. Dan untuk waktu-waktu dekat ini, setidaknya disaat Tuan Tariq kembali ke Pakistan," ucap Tuan Shahab. "Iya, iya Tuan. Saya pun memahaminya. Akan tetapi Saya akan melakukan semuanya secara bertahap. Saya yakin bahwa Ayah Saya tidak serta merta akan memberikan kepercayaan penuh kepada Saya. Iya. Meskipun Ayah Saya telah mengakui kredibilitas Saya dalam kepengurusan kedua perusahaan Kami yang ada di Pakistan," jawab Ibrar. "Oh. Iya. Anda benar juga, Tuan. Tuan Tariq adalah seorang perencana bisnis yang handal. Pastinya Beliau telah memiliki rencana yang matang disaat memutuskan bergabungnya Anda ke dalam perusahaan ini," ucap Tuan Shahab. "Iya Tuan. Pastinya!" jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Hmm. Kalau begitu, Saya ada saran untuk Anda, Tuan," ucap Tuan Shahab. "Hmm. Saran apakah itu?" tanya Ibrar. "Bagaimana kalau hari ini, Anda mengikuti Saya bekerja?" jawab Tuan Shahab. "Hmm," jawab Ibrar. "Begini Tuan. Seperti yang Anda tahu. Saya adalah wakil dari Ayah Anda, saat Ayah Anda tidak berada di kantor. Iya kan?" tanya Tuan Shahab. "Iya. Benar," jawab Ibrar. "Nah. Dari posisi yang Saya miliki, otomatis Saya mengetahui seluruh seluk-beluk dari perusahaan ini. Saya benar kan?" tanya Tuan Shahab. "Iya Tuan. Itu sudah seharusnya," jawab Ibrar. "Nah. Sebagai Putra Mahkota dari grup perusahaan Kareem, harusnya Anda menguasai seluruh seluk-beluk dari perusahaan ini. Iya kan?" tanya Tuan Shahab. "Iya, Tuan. Anda benar sekali!" jawab Ibrar. "Nah. Oleh karena itulah, Saya menawarkan kepada Anda, untuk mengikuti aktivitas kantor Saya hari ini," ucap Tuan Shahab. "Hmm. Iya, iya. Saya mengerti sekarang!" jawab Ibrar. "Iya, Tuan. Saya ingin Anda terjun ke lapangan secara langsung bersama Saya. Dengan demikian, Anda bisa melihat, bagaimana Saya bekerja. Anda juga bisa memahami, pekerjaan apa saja yang perlu Anda lakukan. Sehingga, Anda bisa menjadi rekan Saya untuk mengurus perusahaan ini. Dan, kehadiran Anda akan mempermudah pekerjaan Saya dan juga meringankan pekerjaan Saya tentunya," jelas Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya. "Hmm. Iya, iya. Baiklah Tuan. Saya setuju dengan saran Anda," jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya. "Alhamdulillah. Oke! Nanti Saya akan membimbing Anda untuk melakukannya," ucap Tuan Shahab. "Oke, Tuan Shahab. Terima kasih," jawab Ibrar. "Sama-sama, Tuan Ibrar," ucap Tuan Shahab. "Oh iya. Sebentar! Saya akan mengambil minum dulu! Haus sekali rasanya, sedari tadi bicara terus," ucap Tuan Shahab. "Oh. Iya. Silahkan Tuan," jawab Ibrar. "Apakah Tuan Ibrar mau saya ambilkan minuman lagi? Ada beberapa macam minuman dingin di lemari pendingin," tawar Tuan Shahab. "Oh. Tidak, tidak! Saya sudah cukup dengan sarapan Saya barusan. Tuan Shahab ambil saja minuman untuk Tuan sendiri. Silahkan!" jawab Ibrar. "Oke. Baiklah Tuan," ucap Tuan Shahab. Kemudian Tuan Shahab berdiri dan beranjak dari tempat duduknya. Lalu, Ia berjalan menuju lemari pendingin yang berada di salah satu sudut ruangan officer itu. Setelah membuka pintu lemari pendingin dan mengambil satu botol minuman, Ia pun menutup kembali lemari pendingin itu. Lalu, Ia pun kembali berjalan menuju tempat duduknya kembali. Setelah Ia duduk, lalu Ia membuka tutup botol dari minuman itu. Kemudian, Ia pun meminumnya. "Alhamdulillah. Nikmatnya. MashaAllah," ucap Tuan Shahab, seusai meminum minumannya. Kemudian Ia pun tersenyum sambil memandang Ibrar. Dan Ibrar membalas senyuman itu. Setelah beberapa saat. "Oke. Mari Kita lanjutkan lagi perbincangan Kita, Tuan!" ajak Tuan Shahab. "Iya. Baiklah," jawab Ibrar. "Oh iya Tuan. Tadi Kita kan sudah membahas tentang posisi Saya di dalam perusahaan ini. Iya kan?" tanya Tuan Shahab. "Iya, dan InshaAllah Saya memahami sepenuhnya tentang posisi Anda di dalam perusahaan ini," jawab Ibrar. "Nah. Sebelumnya. Saya juga bilang tentang membagi tugas kehadiran di perusahaan, antara Saya dan Ayah Anda. Masih ingat?" tanya Tuan Shahab. "Iya Tuan. Saya masih ingat," jawab Ibrar. "Oke. Bagus! Nah. Untuk selanjutnya. Saya mempunyai saran untuk Anda," ucap Tuan Shahab. "Hmm. Baiklah. Katakan saja Tuan!" jawab Ibrar. "Akan tetapi sekali lagi maaf, Tuan," ucap Tuan Shahab. "Iya. Mengapa Anda harus meminta maaf kepada Saya? Memangnya apa salah Anda terhadap Saya?" tanya Ibrar. Ia tidak mengerti arah pembicaraan dari Tuan Shahab. "Saya minta maaf. Saya memberikan saran kepada Anda lagi dan lagi. Dengan begitu, Saya merasa kalau Saya sok pintar dan menggurui Anda. Karena bagaimanapun juga, Saya harus selalu ingat bahwa Anda adalah atasan Saya," jelas Tuan Shahab. "Oh. MashaAllah. Ternyata tentang itu!" ucap Ibrar. "Iya, Tuan. Sekali lagi Saya minta maaf. Kalau Anda tidak berkenan, atau mungkin Anda tidak menyukai cara bekerja Saya," jawab Tuan Shahab. "Oh. Tidak, tidak!" ucap Ibrar. "Apa yang Anda bicarakan, Tuan?" lanjut Ibrar bertanya kepada Tuan Shahab. "Iya Tuan," jawab Tuan Shahab. "Oke. Saya memahami posisi Anda. Begitu pula dengan posisi Saya sendiri," ucap Ibrar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD