"Jadi. Apa yang ingin Anda bicarakan dengan Saya, Tuan Shahab?" tanya Ibrar.
"Baiklah Tuan. Saya ingin menjelaskan kepada Anda, bagaimana perusahaan ini biasanya dijalankan," jawab Tuan Shahab.
"Oh. Oke. Itu adalah hal yang sangat penting yang perlu Saya ketahui, sebelum Saya ikut bergabung dalam manajemen perusahaan ini," jawab Ibrar.
"Oh. Akan tetapi sebentar!" ucap Tuan Shahab.
"Iya Tuan, ada apa?" tanya Ibrar.
"Hari ini adalah hari pertama Anda masuk kantor. Apakah Anda sudah menyempatkan untuk sarapan pagi ini, Tuan?" tanya Tuan Shahab.
"Oh. Tentang itu!" jawab Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Berbicara tentang sarapan, Anda membuat Saya menjadi lapar, Tuan," lanjut Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Oh. Begitu rupanya! Baiklah Tuan, sebentar lagi secangkir chai dan sepiring biskuit coklat akan sampai kesini untuk sarapan Anda," jawab Tuan Shahab.
"Oh MashaAllah. Benarkah itu, Tuan?" tanya Ibrar.
"Iya Tuan. Tadi Saya telah berpesan dan menyuruh pegawai untuk membuatnya ketika Anda sampai di kantor. Sebentar lagi pasti ada pegawai yang akan membawakannya ke ruangan officer untuk Anda," jelas Tuan Shahab.
"Oh. Alhamdulillah kalau begitu," ucap Ibrar.
"Ngomong-ngomong. Terima kasih Tuan Shahab," lanjut Ibrar, berterima kasih kepada Tuan Shahab.
"Sama-sama, Tuan Ibrar," jawab Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya.
"Tok tok tok tok! Permisi Tuan!" suara pintu diketuk dan sapa seseorang yang tiba-tiba datang dari depan pintu ruangan officer.
"Oh, iya. Sebentar!" jawab Tuan Shahab.
Kemudian Tuan Shahab berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan officer itu. Sesampainya di depan pintu, kemudian Beliau pun membuka pintu ruangan yang ber AC itu.
"Assalamu'alaikum, Tuan. Ini Saya bawakan secangkir chai dan sepiring biskuit coklat untuk Tuan Ibrar," ucap pegawai itu.
"Oh iya. Terima kasih! Biar Saya saja yang membawanya ke dalam. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu!" jawab Tuan Shahab.
"Oh iya, Tuan. Ini, silahkan!" ucap pegawai itu.
"Oh iya," jawab Tuan Shahab, sambil mengambil nampan yang berisi chai dan biskuit itu.
"Ya sudah sana, lanjutkan pekerjaanmu!" lanjut Tuan Shahab memerintah pegawai itu, setelah nampan itu berada di tangannya.
"Iya Tuan. Kalau begitu Saya permisi dulu. Assalamualaikum," jawab pegawai itu.
"Iya. Waalaikumsalam," jawab Tuan Shahab.
Kemudian Tuan Shahab meletakkan nampan itu di kursi yang berada di dekat pintu ruangan officer itu. Lalu, Ia menutup pintu dari ruangan officer itu.
Kemudian, setelah itu Ia mengambil kembali nampan yang berisi chai dan biskuit coklat itu. Lalu, Ia pun membawanya ke tempat di mana Ibrar sedang duduk. Beberapa saat kemudian, kini Ia telah sampai ditempat Ibrar berada.
"Nah, ini dia secangkir chai hangat untuk Anda, dan juga sepiring biskuit coklat," ucap Tuan Shahab sambil meletakkan nampan itu di depan Ibrar.
"Wah. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Tuan Shahab," jawab Ibrar.
"Sama-sama Tuan," ucap Tuan Shahab.
"Minumlah chai Anda sekarang, Tuan! Kalau dingin nanti tidak nikmat lagi. Saya pikir, mungkin Anda bisa menikmati sarapan Anda sambil Kita berbincang?" ucap Tuan Shahab.
"Iya Tuan Shahab. Oke, baiklah! Itu ide yang sangat bagus! Itu akan membuat semuanya menjadi efektif dan efisien," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Saya pikir juga begitu," jawab Tuan Shahab.
Kemudian Ibrar pun mengambil chai itu, dan mulai menyeruputnya.
"MashaAllah. Chai ini rasanya nikmat sekali, Tuan! Saya merasa sedang berada di Pakistan saat menikmatinya!" ucap Ibrar.
"Alhamdulillah, Tuan. Iya Tuan. Orang yang membuat chai setiap hari untuk Tuan Tariq adalah orang asli Pakistan, Tuan. Makanya dari itu, chai racikannya memanglah sangat khas," jawab Tuan Tariq.
"Oh, begitukah?" tanya Ibrar memastikan.
"Iya Tuan. Dan, tidak hanya itu saja, Tuan! Sebagian besar pegawai di perusahaan Ayah Anda yang ada di Dubai ini adalah orang-orang dari Pakistan," jawab Tuan Shahab.
"Oh. MashaAllah. Itu sangatlah bagus!" ucap Ibrar.
"Iya Tuan. Ini termasuk kedalam salah satu kebijakan yang telah Tuan Tariq tetapkan. Bahwa, perusahaan ini akan memberikan kesempatan kerja yang lebih untuk orang-orang Pakistan. Akan tetapi, tidak serta merta semua orang Pakistan bisa bekerja disini," jawab Tuan Tariq.
"Hmm. Oke, oke," ucap Ibrar.
"Iya Tuan. Tentu saja perusahaan Kita mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh semua calon pegawai. Kita harus mempertimbangkan kualitas dari calon pegawai Kita," jawab Tuan Shahab.
"Iya, iya. Itu harus! Saya pun setuju dengan syarat itu. Mengingat bahwa perusahaan ini adalah perusahaan bertaraf internasional. Sudah seharusnya para pegawainya harus memiliki kualitas yang bagus," ucap Ibrar.
"Iya Tuan," jawab Tuan Shahab.
"Baiklah Tuan. Sekarang mari Kita membahas hal yang lainnya," lanjut Tuan Shahab, memberi saran.
"Oke. Katakanlah, Tuan Shahab!" jawab Ibrar.
"Ini tentang jadwal kunjungan kantor Ayah Anda, Tuan," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Oke," jawab Ibrar.
"Seperti yang Anda ketahui, bahwa Kita memiliki dua perusahaan di Kota Sharjah ini. Iya kan?" tanya Tuan Shahab.
"Iya, benar," jawab Ibrar.
"Nah. Setiap harinya, Tuan Tariq membagi tugas kehadiran dengan Saya," ucap Tuan Shahab.
"Hmm. Oke," ucap Ibrar, sambil mengerutkan keningnya.
"Begini Tuan. Supaya Anda tidak bingung, Saya akan menjelaskan tentang posisi Saya di perusahaan ini," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Itu ide yang bagus!" jawab Ibrar.
"Baiklah Tuan. Di perusahaan auto workshop and maintenance ini, Saya menjabat sebagai Kepala Bengkel," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Saya tahu itu," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Akan tetapi, Saya tidak hanya bekerja di perusahaan auto workshop and maintenance ini. Pekerjaan lain Saya adalah sebagai Kepala Kantor dari perusahaan auto sparepart establishment. Tentu saja perusahaan yang sama, dibawah naungan perusahaan grup Kareem," jelas Tuan Shahab.
"Oh. Begitu rupanya! Baiklah, Saya mengerti sekarang!" jawab Ibrar.
"Alhamdulillah, kalau Tuan Ibrar mengerti," ucap Tuan Shahab, diakhiri dengan senyumannya. Ibrar pun membalas senyuman itu.
"Nah, Tuan. Maka dari itulah, Kami berbagi tugas kunjungan untuk kedua perusahaan Kita ini," ucap Tuan Shahab.
"Iya, iya. Saya mengerti," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Untuk jadwal kunjungan Kami ke masing-masing perusahaan ini, itu tidaklah monoton. Biasanya, Saya dan Tuan Tariq membuat kesepakatan jadwal kunjungan ini setiap sepekan sekali. Semua ini Kami rencanakan dengan maksud tertentu, Tuan," ucap Tuan Shahab.
"Oh, ya? Apakah itu?" tanya Ibrar.
"Begini Tuan. Para pegawai Kita, tentu mempunyai tingkat penilaian, rasa hormat serta rasa takut yang berbeda terhadap Saya dan Tuan Tariq. Mereka akan lebih giat bekerja, dengan hadirnya Tuan Tariq di perusahaan," jawab Tuan Shahab.
"Oh. Iya, iya. Saya mengerti, Tuan," ucap Ibrar.
"Iya Tuan. Makanya dari itu, dengan tidak monotonnya jadwal kunjungan Tuan Tariq ke perusahaan, itu akan membuat pegawai tetap giat bekerja setiap saat," jelas Tuan Shahab.
"Iya, iya. Anda benar sekali, Tuan," ucap Ibrar, diakhiri dengan senyumannya.
"Dengan begitu, para pegawai akan selalu merasa ada sidak atau inspeksi mendadak dengan kehadiran Ayah Saya di perusahaan. Saya benar kan Tuan?" lanjut Ibrar, bertanya kepada Tuan Shahab.
"Iya! Seratus persen Anda benar, Tuan!" jawab Tuan Shahab.
Kemudian Ibrar dan Tuan Shahab pun tersenyum bersama. Kemudian, setelah beberapa saat.
"Nah, Tuan. Berikut adalah jadwal Kami di jam kerja," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Baiklah. Katakanlah, Tuan!" jawab Ibrar.
"Oke. Di saat Saya sedang berada di sini, maka di saat yang sama, Tuan Tariq sedang berada di perusahaan auto sparepart establishment," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Oke," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Akan tetapi, di satu atau dua jam terakhir sebelum bengkel ini tutup, Saya biasanya datang kesini," ucap Tuan Shahab.
"Hmm. Oke," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Karena semua pekerjaan di perusahaan auto spare part and maintenance bisa Saya handle sebelumnya. Dan, pastinya dengan pertimbangan lain juga," ucap Tuan Shahab.
"Oh. Apakah itu?" tanya Ibrar.
"Alasannya adalah. Dengan melihat situasi dan kondisi dari perusahaan auto workshop and maintenance ini," jawab Tuan Shahab.
"Maksud Saya begini, Tuan. Bengkel ini, di jam kerja, setiap saat berhadapan dengan konsumen secara langsung. Dengan para pelanggan bengkel, tentunya. Nah. Mungkin, kemarin Anda sudah melihat. Bagaimanakah sibuknya situasi dan kondisi bengkel di jam-jam terakhir menjelang bengkel akan tutup?" tanya Tuan Shahab.
"Oh. Iya Tuan. Saya memperhatikannya kemarin malam. Begitu sibuk!" jawab Ibrar.
"Nah. Maka dari itulah, Tuan! Setiap hari, di saat satu atau dua jam sebelum jam tutup bengkel tiba, Saya harus stand by di bengkel," ucap Tuan Shahab.
"Hmm. Oke," jawab Ibrar.
"Iya, Tuan. Begitu tiba disini, Saya langsung melakukan koordinasi dengan para mekanik dan kepala mekanik," ucap Tuan Shahab.
"Iya. Oke," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Adapun koordinasi yang Saya lakukan kira-kira adalah seperti berikut ini. Yang pertama, tentang keluhan para pelanggan atas mobil Mereka. Yang kedua, permasalahan apa yang telah ditemukan oleh para mekanik Kita dari mobil pelanggan yang bersangkutan. Lalu, hal apa saja yang telah dilakukan oleh para mekanik Kita untuk mengatasi permasalahan dari mobil pelanggan yang bersangkutan. Kemudian, sejauh mana proses perbaikan yang telah diselesaikan oleh para mekanik Kita. Kira-kira kurang berapa persen proses perbaikannya akan selesai. Begitu, Tuan," jelas Tuan Shahab.
"Baiklah Tuan Shahab. Saya mengerti," ucap Ibrar.
"Alhamdulillah kalau begitu, Tuan. Dan iya, Tuan! Kegiatan itu Saya lakukan dua kali. Yang pertama adalah disaat satu atau dua jam sebelum jam tutup bengkel tiba. Dan, yang kedua adalah kira-kira seperempat jam sebelum jam tutup bengkel tiba. Tak lain maksudnya adalah untuk mengkonfirmasi ulang tentang sejauh mana proses perbaikan yang telah terselesaikan," jelas Tuan Shahab.
"Oh. Oke, oke. Saya mengerti," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Kemudian, disaat jam tutup bengkel tiba, Saya berbagi tugas dengan kepala mekanik untuk menemui para pelanggan secara langsung. Memberikan penjelasan tentang semua yang perlu Mereka ketahui tentang kondisi mobil Mereka," ucap Tuan Shahab.
"Hmm. Oke," jawab Ibrar.
"Iya Tuan. Semua ini ada alasannya. Mengapa setiap hari Saya harus terjun langsung ke lapangan? Mengapa Saya perlu memberikan pelayanan kepada para pelanggan secara langsung?" tanya Tuan Shahab.
"Sepertinya Saya bisa menebak alasannya!" jawab Ibrar.
"Wah. Baiklah! Coba berikan jawabannya kepada Saya, Tuan!" ucap Tuan Shahab.
"Karena itu adalah salah satu bentuk layanan untuk kepuasan pelanggan. Iya. Termasuk kedalam strategi pelayanan. Dengan apa yang Anda lakukan setiap hari di bengkel itu sangatlah bagus, Tuan Shahab! Di perusahaan ini, dengan jabatan yang Anda miliki, Anda dihargai oleh semua pegawai. Dan, tidak hanya pegawai saja. Bila Anda menjelaskan tentang posisi Anda di perusahaan ini kepada para pelanggan, maka Mereka juga akan menghargai Anda. Dan, dengan Anda terjun langsung ke bengkel itu adalah hal terbaik yang Anda telah lakukan. Para pelanggan akan merasa lebih dihargai bila Anda menemui Mereka dan memberikan penjelasan berkaitan dengan masalah Mereka secara langsung. Mereka akan merasa mendapatkan informasi yang akurat dari orang yang tepat. Itu adalah nilai plusnya,Tuan! Bagaimana dengan analisa Saya, Tuan Shahab?" jelas Ibrar panjang lebar, diakhiri dengan senyumannya.
"MashaAllah! Ternyata benar apa yang Tuan Tariq katakan kemarin! Meskipun usia Anda masih sangatlah muda, akan tetapi Anda telah mempunyai pengalaman dalam menjalankan bisnis," jawab Tuan Shahab.
"Wah. Terima kasih atas pujiannya, Tuan! Akan tetapi, jangan terlalu sering memuji Saya. Itu bisa membuat Saya lupa diri," ucap Ibrar.
"Iya, iya. Baiklah Tuan Ibrar," jawab Tuan Shahab.
"Dan iya. Menilai sejauh yang Saya dengar dari cerita Anda, Anda telah melakukan banyak hal untuk perusahaan ini. Saya menyukai cara kerja Anda, Tuan Shahab!" ucap Ibrar.
"Alhamdulillah Tuan. Akan tetapi, semua strategi dan gagasan yang diterapkan di perusahaan ini adalah murni dari Tuan Tariq. Dan Kami sebagai pegawai, hanya mengikuti semua peraturan dan cara kerja Tuan Tariq," jelas Tuan Shahab.