PART 14. Ceritakanlah Kepadaku Tentang Cinta!

1780 Words
"Iya. Dan kini Aku pula memahaminya, sahabatku! Sekali lagi terima kasih ya?" ucap Ibrar kepada Iqbal. "Iya. Sama-sama! Terima kasih atas pengertian Kalian," jawab Iqbal. "Oh iya. Jadi bagaimana Shahzaib? Ayo ceritakan tentang kisah cinta kepada Tuan Muda Kita! Ajarkan kepadanya tentang apa itu cinta!" perintah Usman. "Hmm. Oke. Akan tetapi Aku tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana? Dan kisah percintaan macam apa yang ingin Ibrar dengar?" jawab Shahzaib. "Ceritakan saja tentang bagaimana Kamu jatuh cinta! Lalu, tentang gadis-gadis diluar sana. Apa yang Mereka lakukan sehingga membuat Kamu jatuh cinta? Dan, benarkah itu ada yang namanya cinta sejati?" jawab Ibrar, menjelaskan maksud dari pertanyaannya. "Mubaht ik doka hai or kuch nhi!" ucap Usman. (Dalam bahasa Indonesia: cinta adalah penipuan, dan tidak lebih!). "Oh!" ucap Ibrar. "Hai Usman! Mengapa Kamu berbicara seperti itu? Ucapanmu barusan bisa membuat Ibrar benar-benar tidak percaya dengan yang namanya cinta. Itu bisa membuat Ibrar berprinsip bahwa Dia benar-benar tidak akan menjalin hubungan dengan seorangpun gadis selama hidupnya. Apa Kamu menyadari tentang ucapanmu barusan?" tanya Shahzaib. "Hmm. Aku baru berbicara satu kalimat, Shahzaib. Tenanglah! Kita bisa menjelaskannya kepada Ibrar. Sehingga Ibrar akan mengerti, tentang apa itu cinta. Iya. Pastinya tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Apakah Kalian setuju denganku?" jawab Usman, balik bertanya kepada teman-temannya. "Hmm. Oke. Baiklah!" jawab Shahzaib, diikuti anggukan dari temannya yang lain. "Itu terdengar bagus, Usman! Aku sangat setuju dengan ide Kamu. Iya. Mendengar cerita tentang cinta dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Itu akan membuat Aku lebih mengerti tentang apa itu cinta," jawab Ibrar. "Oke. Kalau begitu, bagaimana kalau Kita dengarkan dulu penjelasan dari Usman?" usul Iqbal. "Iya. Tentu saja!" jawab Shahzaib dan Ibrar pada saat yang bersamaan. "Tidak, tidak! Aku akan menjelaskan nanti. Sekalian membuat kesimpulan tentang apa itu cinta. Sebagai awalnya, Aku pikir Kita bisa mendengarkan kisah cinta dari Shahzaib. Pastinya itu akan lebih menyenangkan. Bagaimana? Apa Kalian setuju denganku?" usul Usman. "Oke. Baiklah. Itu ide yang bagus juga," jawab Ibrar. "Oke. Aku akan ceritakan tentang apa itu cinta dari sudut pandangku," ucap Shahzaib diakhiri dengan senyumannya. Senyuman itu pun menular di wajah teman-temannya. "Hai Ibrar!" panggil Shahzaib. "Iya Shahzaib. Ayo, ceritakanlah padaku!" pinta Ibrar. "Perlu Kamu ketahui. Dunia ini sangat buas, Ibrar! Aku tahu. Sebelumnya Kamu tidak pernah mengenal cinta kasih dari seorang gadis. Jangankan itu. Bahkan Aku memahami bahwa Kamu hanya menikmati sebentar saja kasih sayang dari almarhum Ibumu. Maaf! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih dengan mengingatkan Kamu tentang almarhum Ibumu," ucap Shahzaib, mengawali kisahnya. "Iya Shahzaib. Tenang saja! Aku tidak sedih kok. Setiap hari Aku mengingat almarhum Ibuku dalam doa-doaku. Jadi, lanjutkan saja ceritamu!" pinta Ibrar. "Oke. Pesanku kepadamu adalah. Jangan melakukan apapun hal yang sama sekali bukan bidangmu! Hahaha," ucap Shahzaib, diakhiri dengan tawa konyolnya. "Hahaha. Iya, iya, iya!" jawab Ibrar disertai tawa konyolnya juga. "Hmm. Aku kira Kamu akan mengucapkan tentang sesuatu. Shahzaib, Shahzaib!" ucap Iqbal. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sebentar, sebentar! Aku masih bingung harus memulai ceritanya dari mana?" ucap Shahzaib sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh iya. Iqbal! Kamu juga harus ikut andil dalam bercerita. Kamu kan juga punya pacar," lanjut Shahzaib. "Iya. Harus itu! Sedikit banyak itu akan membantu Ibrar untuk lebih memahami tentang apa itu cinta. Ceritamu dan sudut pandangmu pastinya berbeda pula kan dengan Kami?" ucap Usman. "Iya. Kalian semua ceritakanlah kepadaku tentang apa itu cinta!" ucap Ibrar diakhiri dengan senyumannya. "Oke, oke!" jawab Shahzaib, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan. "Hei Ibrar!" panggil Shahzaib. "Iya Shahzaib," jawab Ibrar. "Sebenarnya. Saat ini adalah bukan pertama kalinya Aku mempunyai pacar. Jadi, pacarku yang saat ini bukanlah pacarku yang pertama," ucap Shahzaib. "Hmm. Oke," jawab Ibrar diakhiri dengan gelengan kepalanya. "Iya. Aku ingat. Pertama kalinya Aku jatuh cinta dengan seorang gadis adalah saat Aku di intermediate college," ucap Shahzaib mulai serius bercerita. "Oke. Lalu?" jawab Ibrar. "Iya. Aku mengenal gadis itu dari sosial media. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Lalu Aku mulai mengiriminya pesan pribadi melalui direct messenger. Tak membutuhkan waktu lama. Dia menanggapi pesanku. Setelah itu, setiap hari Kami berbincang," ucap Shahzaib. "Wah. Pucuk dicinta ulam pun tiba! Hahaha," ucap Iqbal. "Iya Iqbal. Benar sekali! Saat itu Aku merasa sangat bahagia. Aku benar-benar dibutakan oleh yang namanya jatuh cinta. Aku tidak berpikir logis saat itu," jawab Shahzaib. "Hmm. Bisa juga Kamu menyadari akan kebodohanmu, Shahzaib," ucap Usman. "Hahaha. Iya Usman. Akan tetapi di saat sudah terlambat," jawab Shahzaib. "Iya. Aku tahu itu. Pastinya Kita akan menyadari kebodohan Kita saat semuanya sudah terlanjur terjadi. Itu adalah hukum alam," ucap Usman. "Iya Usman. Kamu memang benar," jawab Shahzaib. "Hmm. Iya, iya. Aku sedikit banyak memahami tentang apa yang Kalian bicarakan. Akan tetapi, tolong jelaskan kepadaku secara runut tentang kisah Kalian, sehingga Aku benar-benar memahaminya!" ucap Ibrar. "Oke, oke, Tuan Muda Ibrar! Oke, Aku lanjutkan ceritanya," jawab Shahzaib. "Sejak saat itu, Kami berbincang setiap hari. Akhirnya gadis itu meminta Aku untuk mengikutinya di semua akun media sosialnya," lanjut Shahzaib bercerita. "Hmm. Oke," ucap Ibrar. "Iya. Aku pun lalu mengikutinya dengan senang hati. Dan, semakin lama Aku mengenalnya Aku semakin jatuh cinta. Akupun ingin menemuinya," ucap Shahzaib. "Wow! Benarkah? Apakah Kamu benar-benar menemuinya, Shahzaib? Apakah Dia tinggal dekat dengan rumahmu ataukah berbeda Kota denganmu? Ceritakanlah kepadaku! Aku sangat penasaran ini. Hahaha," jawab Ibrar diakhiri dengan tawa konyolnya. "Oke, oke Ibrar. Yang telah terjadi adalah benar. Kami membuat janji bertemu, dan Aku benar-benar menemuinya," ucap Shahzaib. "Wow!" ucap Ibrar. "Dan Dia tinggal berbeda Kota denganku. Akan tetapi tidak terlalu jauh. Hanya sekitar satu setengah jam saja dari rumahku. Dia tinggal di Khariyan," jawab Shahzaib. "Ooh. Oke. Oke. Lumayan butuh perjuangan juga. Hahaha," ucap Ibrar. "Iya Ibrar. Setelah pertemuan itu, hampir setiap akhir pekan Aku datang untuk menemuinya," ucap Shahzaib. "Hmm. Oke," jawab Ibrar. "Dengan intensitas bertemu dan berbincang, hubungan Kami pun semakin serius," ucap Shahzaib. "Iya. Oke," jawab Ibrar. "Iya. Kami mulai melakukan hubungan intens. Kami berciuman setiap kali bertemu," ucap Shahzaib. Kemudian Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. "Maaf teman-teman! Akhirnya Aku jujur kepada Kalian. Aku ini bukanlah pria baik-baik," lanjut Shahzaib berbicara masih dengan posisinya sebelumnya. "Sudahlah Shahzaib! Kamu tidak perlu malu. Dan itu bagus untukmu karena Kamu telah bercerita jujur kepada Kami," ucap Iqbal. "Iya. Apa yang dikatakan Iqbal adalah benar. Di usia Kita saat ini. Tidak hanya terjadi Pakistan, akan tetapi fenomena ini terjadi di seluruh negara di dunia. Setiap remaja hampir pernah melakukan hubungan intens bersama kekasihnya," jelas Usman. "Oke. Kemudian apa yang terjadi dalam kisahmu, Shahzaib?" tanya Ibrar penasaran. "Suatu hari di musim dingin. Kami pergi ke Murree dan menyewa hotel. Di sana, Kami melakukan hubungan yang lebih dari sekedar ciuman," jawab Shahzaib. "O, o, o, o!" ucap Ibrar. "Iya. Aku sungguh bodoh saat itu. Dan Aku dibutakan oleh yang namanya cinta," jawab Shahzaib. "Pastinya itu adalah nafsu dari jiwa mudamu, Shahzaib. Dan Kamu tidak bisa mengontrolnya dengan baik saat itu. Akan tetapi, semua sudah terjadi. Tidak ada lagi yang bisa kita perbuat bukan?" ucap Iqbal, kembali bertanya kepada semuanya. "Iya. Tidak ada lagi yang bisa Kita perbuat. Kecuali, rasa penyesalan, bertobat, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi," ucap Usman. "Iya Usman," jawab Shahzaib. "Iya. Setidaknya setelah sesuatu terjadi dengan hubungan Kami. Setelah Aku menyadari bahwa gadis itu bukanlah gadis baik-baik," lanjut Shahzaib. "Alhamdulillah. Akhirnya Allah menunjukkan kepadamu sebuah jalan kebenaran," jawab Usman. "Oh. Memangnya apa yang telah terjadi, Shahzaib? Aku sungguh penasaran ini," tanya Ibrar dengan antusias. "Iya teman-teman. Setelah terjadi hubungan yang intens di Murree waktu itu. Setiap kali bertemu, gadis itu selalu berusaha menghabiskan uangku. Ada saja yang Ia inginkan dariku," jawab Shahzaib. "Oh. Itu tidak bagus!" ucap Iqbal. "Iya. Itu tidak bagus!" jawab Ibrar menyetujui ucapan Iqbal. "Iya teman-teman. Akan tetapi saat itu Aku masih dibutakan oleh cintaku padanya. Aku pun memberikan semua yang Ia minta. Semuanya!" jawab Shahzaib. "Oh. Memangnya apa saja yang telah Ia minta darimu, Shahzaib?" tanya Ibrar penasaran. "Semua barang-barang kecil sampai barang-barang berharga seperti perhiasan emas dan Iphone," jawab Shahzaib. "Wow! Bagaimana Kamu bisa memberikan semua itu untuknya? Dari mana Kamu mendapatkan uang, Shahzaib?" tanya Iqbal. "Ayahku memberikan uang saku yang berlebih kepadaku. Dan Aku masih bisa meminta uang kepada Ibuku setiap kali Aku membutuhkan sesuatu. Dan beruntungnya, Aku mempunyai banyak tabungan sejak beberapa tahun sebelumnya. Uang tabungan itu tidak pernah Aku pakai. Dari situlah Aku bisa memberikan semua keinginan dari gadis itu," jelas Shahzaib. "Oh. Begitu rupanya. Oke, oke," ucap Ibrar. "Iya. Aku telah memberikan segalanya untuk gadis itu. Akan tetapi, suatu hari Aku menemui kenyataan pahit," ucap Shahzaib. "Oh. Betapa malangnya nasibmu, Shahzaib!" ucap Iqbal. Iqbal pun mengelus-elus punggung sahabatnya itu. "Kenyataan pahit macam apa yang telah terjadi, Shahzaib?" tanya Ibrar. "Suatu hari. Ibuku meminta Aku untuk menemani Beliau belanja di supermarket. Dan karena Kami tinggal di Kota kecil, maka Kami biasa pergi ke supermarket yang ada di Kota Khariyan," jelas Shahzaib. "Hmm. Oke. Lalu?" tanya Ibrar. "Iya. Saat itu bukanlah hari akhir pekan. Di supermarket itu, Aku melihat kekasihku. Aku melihat Dia sedang berjalan sambil bergandengan tangan mesra dengan lelaki lain. Dari semua yang Aku lihat, Aku bisa memastikan bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar pertemanan," jelas Shahzaib. "Oh. Aku mencium bau pengkhianatan!" ucap Iqbal. "Iya teman-teman. Melihat itu semua Aku merasa marah saat itu. Ingin sekali Aku menghampiri mereka dan mengungkapkan semua kemarahan ku di hadapan semua orang," jawab Shahzaib. "Hmm," ucap Ibrar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Akan tetapi, situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk Aku melakukannya. Karena saat itu Aku sedang bersama Ibuku. Dan setelah Aku pikir-pikir, semua ada baiknya. Yang bisa Aku lakukan saat itu hanyalah mengambil beberapa foto dan video mereka," jelas Shahzaib. "Oke, oke," ucap Ibrar. "Setelah kejadian itu. Aku berpikir untuk mencari tahu semua kebenaran tentang gadis itu. Aku mulai mengecek semua akun sosial medianya. Dan mulai saat itu, akhirnya Aku menyadari sesuatu. Allah telah membantuku dengan membuka mataku lebar-lebar tentang semua keburukan gadis itu," jelas Shahzaib. "Alhamdulillah. Akhirnya," ucap Usman, diakhiri dengan senyumannya. "Iya Usman, Alhamdulillah," jawab Shahzaib. "Pada awalnya mataku benar-benar tertutup. Dari semua akun sosial medianya, Aku membaca semua komentar dari setiap postingannya. Komentar-komentar itu semuanya dari lelaki. Mereka semua selalu berkomentar memuji kecantikan gadis itu," lanjut Shahzaib menjelaskan. "Oh," ucap Ibrar. "Iya. Dan Aku juga tidak tahu, seberapa dalam hubungan Mereka melalui pesan messenger. Dan parahnya lagi, gadis itu menggunakan ponsel yang Aku belikan untuknya untuk melakukan pengkhianatan ini!" ucap Shahzaib, diakhiri dengan gelengan kepalanya. "Aku memahami kekecewaanmu, Shahzaib," ucap Iqbal. "Sungguh menyakitkan!" ucap Ibrar. "Iya. Kemudian, Aku pun merencanakan sesuatu," ucap Shahzaib. "Oh. Pemuda yang pintar! Rencana apakah itu?" tanya Iqbal. "Aku berencana untuk memata-matai gadis itu. Aku pun mengurangi intensitas perbincangan Kami. Kemudian Aku bilang bahwa di akhir pekan setelahnya, Aku tidak bisa mengunjunginya. Aku memberikan alasan bahwa Aku sedang sangat sibuk karena Kakakku akan menikah," jelas Shahzaib. "Pintar sekali kau! Hahaha," ucap Ibrar, diakhiri dengan tawa konyolnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD