PART 15. Perbincangan Tentang Cinta

1785 Words
"Iya, iya. Benar sekali!" ucap Usman. Lalu, Mereka semua pun ikutan tertawa bersama Ibrar. Setelah beberapa saat. "Iya, teman-teman. Dalam usahaku mengumpulkan semua bukti pengkhianatan dari gadis itu, Aku pun melakukan sesuatu," ucap Shahzaib. "Iya. Itu harus! Semuanya butuh perjuangan bukan?" tanya Ibrar. "Iya Ibrar. Mau tahu apa yang Aku lakukan kemudian?" tanya Shahzaib. "Tentu saja! Ceritanya semakin seru. Hahaha," jawab Ibrar. "Hmm. Iya, iya. Oke. Saat itu Aku merajuk kepada Kakakku agar Kakakku mau Aku ajak bertukar mobil selama satu bulan. Aku berikan alasan kalau Aku sangat bosan menggunakan mobilku. Dengan susah payah dan sedikit perjuangan, akhirnya Kakakku mengabulkan permintaanku," jelas Shahzaib. "Alhamdulillah," ucap Usman. "Iya Usman, Alhamdulillah," jawab Shahzaib. "Kemudian, setelah itu Aku pun memulai rencana pengintaianku. Dari pengintaianku selama dua minggu lamanya, Aku telah menemukan cukup bukti untuk memutuskan dan meninggalkan gadis itu," lanjut Shahzaib bercerita. "Hmm," ucap Ibrar. "Setelah semua keburukan gadis itu terungkap, barulah Aku menyadari sesuatu," ucap Shahzaib. "Oh, apakah itu?" tanya Iqbal. "Iya. Aku kembali teringat akan semua akun sosial media gadis itu. Teringat dengan semua postingannya dan semua komentar pria-pria followersnya," jawab Shahzaib sedih. "Oh. Menyedihkan!" ucap Iqbal. "Iya sangat menyedihkan. Dan Aku yang sangat bodoh saat itu," jawab Shahzaib. "Lalu, apa yang akhirnya Kamu sadari dari semua itu, Shahzaib?" tanya Usman. "Aku menyadari, seharusnya Aku tidak boleh tertarik dengan gadis-gadis seperti itu. Iya. Para gadis yang suka membuat postingan di sosial media yang menunjukkan foto dan video diri Mereka sendiri. Para gadis yang dengan bangganya memamerkan kecantikan wajah Mereka dan keindahan tubuh Mereka di sosial media. Para gadis yang dengan bangga bila setiap postingan foto dan video Mereka di like dan dikomentari oleh banyak pria," jelas Shahzaib. "Hmm," ucap Iqbal. "Iya. Dan Aku yang sungguh bodoh pula saat itu. Aku pun merasa bangga karena gadis pujaan banyak pria itu akhirnya memilihku untuk dijadikan pacarnya. Aku benar-benar buta, saat itu. Saat bersamanya, Aku tidak pernah ingat dengan yang namanya dosa," ucap Shahzaib sedih. "Baguslah kalau akhirnya Kamu menyadari semua itu, Shahzaib. Alhamdulillah," ucap Usman. "Iya Usman. Alhamdulillah," jawab Shahzaib. "Iya. Dan harusnya Kamu tahu. Bahwa semua gadis muslim itu seharusnya menjaga dirinya dari pandangan para pria. Mereka harus menjaga auratnya dengan memakai hijab sesuai perintah dalam Al Qur'an. Bukannya yang sebaliknya dilakukan oleh gadis itu. Sekarang Kamu mengerti?" tanya Usman kepada Shahzaib. "Iya Shahzaib. Mulai sekarang Aku akan selalu mengingat tentang hal ini," jawab Shahzaib, berjanji kepada Usman. "Dan. Nasehat ini tidak hanya untuk Shahzaib saja. Akan tetapi untuk Kalian juga, Ibrar dan Iqbal! Oke?" ucap Usman. "Iya Usman. Terima kasih," jawab Ibrar dan Iqbal. "Hmm. Bagus! Dan tentunya juga untuk diriku sendiri! Hahaha," ucap Usman diakhiri dengan tawa konyolnya. Kemudian Mereka bertiga pun ikut terbawa dalam tawa konyol Usman. Setelah beberapa saat. "Oh iya Shahzaib. Apakah Kalian benar-benar putus saat itu?" tanya Ibrar. "Iya Ibrar. Tidak ada lagi kebaikan yang ada hanya keburukan, pengkhianatan, sakit hati, kekecewaan, dan dosa," jawab Shahzaib. "Hmm. Meskipun menyakitkan, akan tetapi itu adalah jalan terbaik yang Allah telah pilihkan untukmu, Shahzaib. Kamu harus bersyukur," ucap Iqbal. "Iya Iqbal. Aku pun merasa demikian. Dan Aku juga berusaha untuk bertobat," jawab Shahzaib. "Bagus!" ucap Usman. "Alhamdulillah, Usman," jawab Shahzaib. "Hmm. Apakah Kamu telah sungguh-sungguh melaksanakan tobatmu itu? Atau masih dalam perjalanan menuju tobat yang sebenarnya? Hahaha," tanya Ibrar diakhiri dengan tawa konyolnya. "Hahaha. Aku masih dalam perjalanan menuju tobat seutuhnya, Ibrar. Karena pada kenyataannya, dalam setiap kali berpacaran, Aku masih melakukan hubungan intens dengan pacarku," jawab Shahzaib. "Hmm," ucap Ibrar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Akan tetapi jangan salah paham dulu! Hubungan itu hanya sebatas sampai berciuman saja, tidak lebih. Karena Aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama," jelas Shahzaib. "Itu bagus. Pertahankanlah! Dan berupayalah untuk menjadi yang lebih baik lagi! Oke, Shahzaib?" pesan Usman. "Iya Usman. InshaAllah," jawab Shahzaib. "Dan ingat satu hal Shahzaib!" ucap Iqbal. "Iya. Apakah itu?" jawab Shahzaib, balik bertanya kepada Iqbal. "Suatu hari nanti, ketika Kamu telah menjadi jurnalis sungguhan," jawab Iqbal. "Iya?" tanya Shahzaib. "Jangan sampai Kamu publikasikan tentang kisah bodohmu ini di media manapun! Cukup Kami saja yang tahu. Oke, Shahzaib?" pesan Iqbal. "Iya, iya. Aku tahu ini adalah pengalaman yang sungguh memalukan," jawab Shahzaib. "Nah. Benar juga itu yang dibilang oleh Iqbal. Jangan sampai ya Kamu publikasikan kisah konyolmu ini Shahzaib! Bahkan di saat Kamu kehabisan ide sekalipun!" pesan Usman. "Iya, iya, teman-teman. Oke! Aku janji! InshaAllah," jawab Shahzaib. "Oh. Lihat! Hidangannya sebentar lagi datang!" ucap Iqbal sambil melihat ke arah pegawai restoran yang membawakan hidangan pesanan Mereka. Sontak ketiga temannya pun melihat ke arah yang sama. "Oh iya. Alhamdulillah. Rasa laparku jadi datang lagi," ucap Shahzaib. "Hahaha. Iya itu pasti! Karena energimu telah terkuras dengan bercerita dan meluapkan semua emosimu," jawab Iqbal. "Iya, iya, Dokter Muda Iqbal," ucap Shahzaib sambil mengedipkan satu sisi matanya untuk Iqbal. Iqbal pun membalas kedipan mata itu, diakhiri dengan senyumannya. Setelah beberapa saat. "Selamat malam Tuan-tuan," sapa kedua pegawai restoran itu ramah. "Selamat malam," jawab Shahzaib, Usman, Iqbal, dan Ibrar pada saat yang bersamaan. "Ini semua hidangannya telah siap, Tuan," ucap salah satu pegawai restoran itu, sambil menaruh satu demi satu makanan dan minuman ke meja Mereka. Setelah beberapa saat, kini pegawai restoran itu telah selesai memberikan semua hidangan yang Mereka pesan. "Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan-tuan! Kami permisi dulu," ucap salah satu pegawai restoran itu. "Iya. Terima kasih," jawab Usman, Iqbal, Shahzaib, dan Ibrar pada saat yang bersamaan. Setelah itu, pegawai restoran itu pun beranjak meninggalkan Mereka. "Ayo teman-teman Kita makan dulu! Kita lanjutkan lagi ceritanya nanti," ajak Ibrar. "Oke. Tentu saja!" jawab Shahzaib, Iqbal, dan Usman pada saat yang bersamaan. Kemudian Mereka pun menikmati sajian hidangan yang telah Mereka pilih sebelumnya. Setelah kira-kira dua puluh menit lamanya, kini Mereka telah menyelesaikan makan malam Mereka. "Alhamdulillah. Nikmatnya MashaAllah!" ucap Usman. "Iya. Alhamdulillah. Semua menu makanan di restoran ini memang sangat lezat," ucap Iqbal. "Iya, iya. Aku setuju sekali. Dan makan malam kali ini bertambah lezat karena Kita mendapatkannya secara gratis. Hahaha," ucap Shahzaib diakhiri dengan tawa konyolnya. "Hmm," ucap Usman, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Alhamdulillah teman-teman. Ibrar merasa sangat senang sekali bisa mentraktir Kalian semua. Hidangan makan malam dari restoran Mashawi Al Shaheen memanglah lezat. Akan tetapi rasanya bertambah nikmat karena Kita menikmatinya bersama," ucap Ibrar. "Iya Ibrar. Kamu benar sekali. Setelah sekian lama, akhirnya Kita bisa berkumpul dan makan malam bersama lagi," jawab Iqbal. "Alhamdulillah," ucap Usman. "Alhamdulillah," jawab Ibrar, Shahzaib, dan Iqbal pada saat yang bersamaan. "Oke. Kalian tunggu dulu disini! Aku akan membayar tagihannya di kasir," ucap Ibrar. "Oke," jawab Mereka bertiga. Kemudian Ibrar melangkahkan kakinya menuju kasir dari restoran itu. Setelah beberapa saat, Ibrar telah selesai membayar semua tagihannya. Lalu Ia memandang teman-temannya. "Ayo Kita pulang!" teriak Ibrar dari kejauhan kepada teman-temannya. Kemudian Mereka bertiga pun segera beranjak dari tempat duduk Mereka. "Ayo!" ajak Iqbal. "Oke," jawab Shahzaib dan Usman. Setelah beberapa saat, Mereka berempat pun bertemu lagi. "Ayo Ibrar!" ajak Shahzaib. "Oke," jawab Ibrar. Kemudian Mereka berempat melangkahkan kaki Mereka untuk meninggalkan restoran itu. "Ngomong-ngomong. Setelah ini, Kita kemana lagi?" tanya Shahzaib. "Aku pikir ada baiknya kalau Kita pulang. Kasihan Ibrar. Ia pasti sangat lelah dan butuh istirahat," jawab Usman memberikan saran. "Hmm. Iya, benar. Aku sangat lelah hari ini. Dan besok pagi Aku juga harus datang ke kantor," ucap Ibrar. "Oke, oke. Kalau begitu, ayo Kita antar Ibrar pulang sekarang!" ajak Iqbal. "Oke, baiklah!" jawab Shahzaib dan Usman pada saat yang bersamaan. "Oh iya. Sambil menikmati perjalanan pulang, ayo ceritakan tentang apa itu cinta kepadaku!" pinta Ibrar. "Nah. Aku telah menceritakan aib kisah percintaanku kepada Kalian semua. Sekarang giliran Iqbal dan Usman!" jawab Shahzaib. "Emm. Teman-teman," ucap Iqbal. "Iya Iqbal. Ada apa? Kenapa Kamu terlihat risau seperti itu?" tanya Usman. "Iya Iqbal. Apa jangan-jangan, tiba-tiba Kamu demam?" tanya Shahzaib. "Hmm," jawab Iqbal, memutar bola matanya. "Apa Kamu baik-baik saja Iqbal? Apa yang sedang Engkau khawatirkan? Katakanlah kepada Kami, Iqbal!" ucap Ibrar. "Oke. Teman-teman! Terutama untuk Kamu, Ibrar!" jawab Iqbal. "Iya. Oh. Terutama untuk Aku?" tanya Ibrar. "Iya Ibrar," jawab Iqbal. "Oh. Oke. Katakanlah Iqbal!" ucap Ibrar. "Teman-teman, sebenarnya Aku belum merasa nyaman untuk membagi dan menceritakan tentang kisah percintaanku dengan orang lain," jawab Iqbal. "Oh, begitu rupanya," ucap Ibrar. "Iya Ibrar. Maaf! Aku tidak bisa bercerita kepadamu dan juga kepada siapapun. Mungkin untuk saat ini. Akan tetapi Aku tidak tahu dengan suatu hari nanti. Mungkin suatu hari nanti, ketika Aku siap, Aku akan menceritakan kisah percintaanku kepada Kalian. InshaAllah," jelas Iqbal diakhiri dengan janjinya. "Oh. Oke, oke! Tidak apa-apa Iqbal! Santai saja!" jawab Ibrar. "Hmm. Iya. Baiklah! Aku memahami perasaanmu, Iqbal," ucap Usman. "Iya. Dan tentunya Aku pula!" ucap Shahzaib. "Terima kasih atas pengertian Kalian semua," ucap Iqbal. "Iya Iqbal. Sama-sama," jawab Ibrar, Usman, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan. "Oke. Kalau begitu sekarang giliran Usman!" ucap Shahzaib. "Iya Usman. Dan juga tolong jelaskan tentang kalimat yang telah Kamu ungkapkan sebelumnya!" pinta Ibrar. "Oke, oke. Baiklah," jawab Usman. "Oke. Sebelumnya Kita telah mendengarkan sebuah kisah yang menarik dari sahabat Kita Shahzaib. Dan Aku telah menarik kesimpulan dari kisah yang telah dialami oleh Shahzaib. Aku juga telah memberikan pesan dan saran kepada Kalian atas kisah yang dialami Shahzaib. Apa Kalian masih ingat?" jawab Usman, balik bertanya kepada Mereka bertiga. "Iya Usman!" jawab Mereka bertiga pada saat yang bersamaan. "Oke. Sekarang Aku bertanya kepada Kalian!" ucap Usman. "Iya. Oke. Bertanyalah!" jawab Shahzaib. "Oke. Kalian telah lama mengenal diriku, bukan?" tanya Usman. "Iya. Tentu saja!" jawab Mereka bertiga pada saat yang bersamaan. "Nah. Selama ini, apakah Kalian pernah tahu apakah Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis ataukah tidak?" tanya Usman. Kini Mereka bertiga diam dan sedang mengingat-ingat tentang hal yang ditanyakan oleh Usman. Setelah beberapa saat. "Emm. Seingatku sih, Usman tidak pernah berpacaran!" jawab Iqbal. "Iya benar sekali!" ucap Shahzaib. "Iya. Kalian benar sekali!" jawab Usman. "Aku tahu Usman. Itu pasti karena Kamu berasal dari keluarga muslim yang taat. Aku benar kan?" tanya Ibrar. "Iya Ibrar. Seratus persen Kamu benar!" jawab Usman. "Iya. Meskipun Aku pribadi belum pernah berpacaran dan berasal dari keluarga muslim yang taat, akan tetapi Aku telah banyak mendengar tentang kisah cinta dan buasnya dunia," ucap Ibrar. "Wow! Sang filsuf Kita mulai beraksi!" ucap Shahzaib. "Hahaha. Ada-ada saja!" jawab Usman diakhiri dengan gelengan kepalanya dan senyumannya. "Iya. Pengalaman telah mengajarkan segalanya. Aku punya prinsip dan sudut pandang tentang apa itu cinta," ucap Usman. "Itu bagus, Usman!" ucap Iqbal. "Iya, benar. Dan memang seperti inilah Usman sahabatku yang Aku kenal. Seorang yang berpembawaan tenang, penuh pengertian, tegas, mempunyai prinsip yang kuat dan berkarakter. Aku suka itu!" ucap Ibrar. "Iya. Dan itu adalah ciri-ciri dari pemimpin yang baik. Aku benar kan Tuan Muda?" tanya Shahzaib. "Iya. Seratus persen Kamu benar, Shahzaib!" jawab Ibrar diakhiri dengan kedipan sebelah matanya. "Hmm. Terima kasih, terima kasih atas sanjungan Kalian. Hadza min fadli Robbi," jawab Usman, berterima kasih kepada teman-temannya dan bersyukur kepada Tuhannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD