(Catatan : Hadza min fadli Robbi, dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai ini adalah pemberian dari Tuhanku, Allah).
"Oke. Teman-teman! Aku akan menyampaikan semua yang ada di benak dan pikiranku, tentang apa itu cinta!" ucap Usman.
"Iya, iya. Ayo ceritakanlah, Usman sahabatku!" pinta Ibrar.
"Akan tetapi. Sebentar, sebentar!" ucap Usman.
"Ada apa lagi, Usman? Aku sudah tidak sabar mendengar semua yang akan Kamu katakan tentang apa itu cinta!" jawab Shahzaib, balik bertanya kepada Usman.
"Nah. Itu dia! Pertama-tama, Aku ingin bertanya kepada Kamu, Shahzaib!" jawab Usman.
"Bertanya kepadaku?" tanya Shahzaib tidak mengerti.
"Iya," jawab Usman.
"Oh. Mengapa tiba-tiba Aku merasa seperti seorang tawanan begini?" ucap Shahzaib sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaha! Kamu lucu sekali kalau sedang begitu, Shahzaib," ucap Ibrar dengan tawanya.
"Hmm," jawab Shahzaib sambil memutar bola matanya.
"Shahzaib!" panggil Usman.
"Iya Usman," jawab Shahzaib.
"Saat Kamu menjalin hubungan dengan seorang gadis, apa yang Kamu rasakan?" tanya Usman.
"Aku merasa jatuh cinta. Dan Aku bahagia saat gadis yang Aku cintai juga merasakan hal yang sama denganku. Dan Aku akan bertambah bahagia ketika Kami sepakat untuk menjalani sebuah komitmen bersama," jelas Shahzaib.
"Hmm. Oke. Akan tetapi, komitmen yang seperti apa yang Kamu maksudkan disini? Apakah komitmen berpacaran atau komitmen janji pernikahan?" tanya Usman.
"Maksud Aku adalah komitmen berpacaran, Usman!" jawab Shahzaib.
"Hmm. Oke, oke," ucap Usman.
"Lalu. Sebenarnya atas dasar apa sih Kalian menjalin komitmen berpacaran ini?" tanya Usman.
"Iya, karena Kami saling mencintai, saling menyayangi, dan saling membutuhkan," jawab Shahzaib.
"Oke," ucap Usman.
"Sebenarnya Kalian tahu atau tidak sih dengan yang dimaksudkan oleh cinta itu sendiri?" lanjut Usman, bertanya kepada Mereka bertiga.
Mereka bertiga diam sejenak, kemudian Mereka bertiga menjawab dengan gelengan kepala.
"Hmm. Akan tetapi Usman. Baru saja Kamu bilang kalau Kamu dan pacarmu saling mencintai. Dan sekarang, Kamu sendiri bilang kalau Kamu tidak tahu apa itu sebenarnya cinta," ucap Usman, diakhiri dengan gelengan kepalanya. Shahzaib menanggapinya dengan senyuman.
"Oke. Bagiku. Cinta itu sebenarnya hal yang suci. Sakral. Akan tetapi, perilaku manusia yang membuatnya menjadi ternoda. Membuat sebagian orang yang tersakiti kemudian menghakimi bahwa cinta itu hanyalah fake; tidak nyata; kebohongan; penipuan; pengkhianatan; dan sejenisnya," ucap Usman.
"Kata-katamu sungguh dalam, Usman," ucap Iqbal. Usman menanggapinya dengan senyuman.
"Teman-teman," ucap Usman.
"Iya," jawab Ibrar, Iqbal, dan Shahzaib pada saat yang bersamaan.
"Asal Kalian tahu! Sebenarnya hubungan ataupun komitmen yang dijalin dalam pacaran itu bukanlah cinta yang sebenarnya," ucap Usman.
"Iya Usman," jawab Mereka bertiga pada saat yang bersamaan.
"Sebenarnya Mereka hanyalah memanfaatkan waktu luang dalam keseharian Mereka. Hanya saja Mereka mengatasnamakan semuanya dengan yang namanya cinta," ucap Usman. Usman menjeda kalimatnya.
"Dengan membuat komitmen berpacaran, sesungguhnya Mereka telah melanggar aturan agama. Aku pikir Kalian juga tahu tentang itu kan?" tanya Usman.
"Iya Usman," jawab Mereka bertiga.
"Dan, cinta yang terdapat didalamnya adalah hanya sebuah kebohongan, penipuan, kepalsuan," ucap Usman.
"Hmm," jawab Shahzaib.
"Iya. Karena yang namanya cinta sejati itu hanya ada satu. Yaitu cinta Tuhan kepada makhluknya," jelas Usman.
"Oh. Iya, iya. Benar juga Kamu, Usman!" ucap Iqbal.
"Iya. Karena cinta Tuhan kepada makhluknya itu benar-benar luar biasa. Tiada apapun yang bisa menyamainya. Kun faya Kun! Iya. Bila Allah berkehendak 'jadilah!', maka jadilah sesuatu itu," jelas Usman.
"Iya Usman. Kamu benar sekali!" ucap Ibrar.
"Iya. Itu tadi adalah versi cinta sejati yang benar-benar sejati," jawab Usman.
"Hmm. Yaa, yaa! Lalu?" tanya Shahzaib.
"Lalu, ada lagi versi cinta sejati dalam hubungan sesama makhluk Allah," jawab Usman.
"Oke," ucap Shahzaib.
"Iya. Karena makhluk Allah itu tidak hanya manusia, bukan?" tanya balik Usman.
"Iya. Seratus persen Kamu benar!" jawab Ibrar.
"Iya. Lihatlah hubungan diantara binatang! Kita bisa mencontoh perilaku Mereka!" ucap Usman.
"Manusia mengkonotasikan sifat dan perilaku binatang sebagai hal yang buruk dan tak manusiawi. Akan tetapi tidak semua binatang mempunyai perilaku yang buruk. Bahkan, itu semua wajar adanya, karena binatang diciptakan tidak dengan akal dan pikiran seperti manusia. Akan tetapi, justru manusia sendirilah yang sering berperilaku seperti binatang. Naudzubillahi min dzalik!" jelas Usman.
"Iya, iya, Usman. Kamu benar sekali!" ucap Iqbal.
"Iya. Terima kasih telah mengingatkan Kami tentang hakikat kehidupan," ucap Shahzaib.
"Iya. Sama-sama, teman-teman!" jawab Usman.
"Nah. Kemudian, versi cinta sejati yang selanjutnya adalah hubungan diantara sesama manusia!" lanjut Usman.
"Nah, ini dia bagian yang paling seru!" ucap Ibrar.
"Hahaha. Iya, iya," jawab Usman dengan tawa kecilnya.
"Sebagian kisah dan pandanganku tentang cinta diantara sesama manusia telah Aku jelaskan sebelumnya," ucap Usman.
"Iya, Usman," jawab Iqbal.
"Iya. Itu tadi semuanya tentang pacaran yang mengatasnamakan cinta. Tentang hubungan yang sebenarnya haram. Tentang alasan hanya untuk mengisi waktu luang. Tentang hanya berniat untuk main-main saja. Tentang pengkhianatan. Tentang kepalsuan, kebohongan, dan penipuan!" jelas Usman.
"Iya Usman. Aku mulai paham sekarang!" ucap Ibrar.
"Alhamdulillah. Baguslah kalau begitu," jawab Usman.
"Alhamdulillah," jawab Ibrar, Shahzaib, dan Iqbal kemudian, pada saat yang bersamaan.
"Oke. Kemudian, yang dinamakan dengan cinta sejati dalam hubungan diantara sesama manusia adalah sebagai berikut!" ucap Usman.
"Hmm. Ayo ceritakanlah! Aku sudah tidak sabar untuk menunggunya," pinta Ibrar.
"Oke. Pertama kali adalah cinta Ibu kepada anaknya," jawab Usman.
"Hmm," ucap Shahzaib.
"Kalian bisa lihat! Seorang Ibu, mengandung bayi selama sembilan bulan sepuluh hari di dalam perutnya. Dan asal Kalian tahu! Semakin bertambahnya usia kandungan, maka semakin berat pula beban sang Ibu," jelas Usman.
"Oh?" ucap Ibrar.
"Yup! Seratus persen Kamu benar, Usman!" ucap Iqbal.
"Iya. Dan, asal Kalian tahu juga tentang ini! Proses melahirkan bayi itu taruhannya nyawa. Benar-benar luar biasa. Sakitnya, tidak hanya dirasakan saat proses kelahiran itu saja. Akan tetapi, bisa saja dalam beberapa tahun setelahnya juga. Terlebih bagi para Ibu yang melahirkan dengan cara operasi," jelas Usman.
"Hik, hik, hik," suara isakan Ibrar tiba-tiba.
"Oh. Maaf! Maafkan Aku, Ibrar! Apakah Aku telah mengingatkan Kamu tentang almarhum Ibumu? Aku benar-benar tidak sengaja mengatakannya. Sekali lagi, maafkan Aku, Ibrar!" pinta Usman.
Ibrar masih dalam isakannya. Ia pun berusaha mengontrol emosinya. Setelah beberapa saat, kemudian Ia pun mengusap air matanya. Lalu Ia mendongakkan wajahnya memandang teman-temannya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sangat terharu. Ceritamu memang mengingatkan Aku kepada almarhum Ibuku. Akan tetapi, justru dengan mendengarkan ceritamu barusan, malah itu menambah rasa cintaku kepada Beliau. Iya. InshaAllah, mulai hari ini Aku akan lebih sering mengirimkan doa untuk Beliau," jelas Ibrar.
"Oh, Alhamdulillah. Kamu memang anak yang sangat baik, sahabatku!" jawab Usman.
Kemudian Usman pun memeluk Ibrar untuk memberi Ibrar kekuatan. Tanpa menunggu komando, kini Shahzaib dan Iqbal juga ikut memeluk Ibrar. Kemudian Mereka berempat pun tersenyum bersama dan melepaskan pelukan Mereka.
"Oke. Aku lanjutkan lagi cerita tentang cinta Ibu kepada anaknya!" ucap Usman.
"Oke, Usman!" jawab Ibrar.
"Iya. Kemudian, proses selanjutnya adalah merawat, menyusui, dan membesarkan bayi," ucap Usman.
"Iya, iya," jawab Shahzaib.
"Iya. Para Ibu biasanya menyusui bayi Mereka selama dua tahun lamanya. Dan asal kalian tahu juga! Dengan Mereka mengandung, melahirkan, dan menyusui bayi, maka postur tubuh Mereka pun berubah," ucap Usman.
"Oh?" ucap Ibrar.
Kemudian, Usman memandang Iqbal dan memberikan kedipan sebelah mata kepada Iqbal. Memahami apa maksud Usman, lalu Iqbal meneruskan cerita Usman.
"Iya. Yang dikatakan Usman barusan itu memang sangatlah benar. Seorang wanita dewasa, pada awalnya diciptakan dengan keindahan tubuhnya. Nah, dan inilah alasan dari para pria untuk mengagumi para wanita yang suka mengumbar aurat Mereka," ucap Iqbal.
"Hahaha. Iya, iya. Kamu benar sekali, Iqbal!" ucap Shahzaib.
"Hmm," jawab Iqbal.
"Oke. Kemudian, setelah Mereka menikah dan hamil, dimulailah sebuah metamorfosa dari bentuk badan mereka," ucap Iqbal.
"Hmm," jawab Shahzaib.
"Iya. Dengan hamil, perut Mereka semakin membesar. Dan, setelah melahirkan, bentuk perut ini tidak bisa serta merta kembali kepada bentuknya semula. Meskipun menipis, akan tetapi tetaplah lebih menggendut dari bentuk awalnya," jelas Iqbal.
"Hmm. Oke, oke," jawab Ibrar.
"Perubahan bentuk perut ini juga terjadi dengan bentuk p******a Mereka. Mereka menyusui bayinya selama dua tahun lamanya. Setelah proses menyusui selesai, bentuknya akan berubah. Menjadi kendur dan tidak kencang lagi," jelas Iqbal.
"Oho! Oke, oke!" ucap Shahzaib.
"Iya. Ini adalah bentuk cinta Ibu kepada anaknya. Perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Karena, diluar sana banyak suami yang selingkuh dan tidak mencintai istrinya lagi, setelah para istri Mereka berubah bentuk tubuhnya," ucap Usman.
"Iya. Itu memang benar. Dimana-mana terjadi hal yang seperti itu," jawab Shahzaib.
"Nah. Makanya dari itu pula, Allah mengajarkan sesuatu kepada Kita," ucap Usman.
"Apakah itu?" tanya Ibrar.
"Kita sebagai anak, harus berbakti kepada Ibu Kita. Diperintahkan dalam Al Qur'an, tiga kali berbakti kepada Ibu, baru ke empatnya kepada Ayah Kita," ucap Usman.
"Oh. Iya. Aku ingat pelajaran itu," jawab Ibrar.
"Akan tetapi, tahukah Kamu, mengapa Allah menyuruh sampai tiga kali berbakti kepada Ibu dulu?" tanya Usman.
"Tidak," jawab Ibrar.
"Jawabannya adalah. Alasan pertama untuk pengorbanan Ibu yang telah mengandung Kita selama sembilan bulan sepuluh hari dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. Alasan kedua adalah untuk perjuangan Ibu yang telah melahirkan Kita ke dunia. Kemudian, alasan yang ketiga adalah untuk pengorbanan Ibu yang telah merawat, menyusui, dan membesarkan Kita," jelas Usman.
"Wah. MashaAllah. Hatiku bergetar begitu hebat mendengarkan semua penjelasanmu, Usman," ucap Ibrar.
"Iya. Wajar saja, Ibrar. Karena ini adalah sebuah kisah yang luar biasa," jawab Usman.
"Benar-benar luar biasa!" ucap Shahzaib.
"Iya, benar!" jawab Iqbal.
"Oke. Kisah cinta sejati antara sesama manusia selanjutnya adalah hubungan diantara pria dan wanita," ucap Usman.
"Wah, wah. Sepertinya ini kisah yang sangat menarik untuk diikuti," ucap Shahzaib.
"Hahaha," jawab Iqbal dan Ibrar tertawa mendengar ucapan Shahzaib.
"Hmm," jawab Usman.
"Oke. Kita langsung ke inti cerita saja!" lanjut Usman.
"Oke!" jawab Shahzaib, Iqbal, dan Ibrar pada saat yang bersamaan
"Seperti yang telah Aku bilang sebelumnya. Mubaht ik doka hai or kuch nhi!" ucap Usman.
(Dalam bahasa Indonesia: cinta adalah penipuan, dan tidak lebih!).
"Iya Usman. Inilah penjelasan yang Aku tunggu-tunggu sejak tadi," jawab Ibrar.
"Hmm. Aku pun juga penasaran. Mengapa Usman bisa bilang seperti itu?" tanya Shahzaib.
"Iya. Mubaht ik doka hai or kuch nhi! Cinta itu adalah penipuan, dan tidak lebih!" jawab Usman.
Ia pun menjeda kalimatnya. Kemudian Ia mengambil nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Setelah beberapa saat.
"Aku bilang begitu bagi Mereka yang melakukan komitmen berpacaran," ucap Usman.
"Hmm. Oke," jawab Shahzaib.
"Iya. Karena hubungan pacaran itu dilarang dalam agama. Dan Mereka yang mengatasnamakan cinta dalam komitmen Mereka, tidak lebih hanya untuk alasan saja. Kebanyakan dari Mereka tidak serius dalam menjalin hubungan. Hanya ingin bermain-main, bersenang-senang, untuk mengisi waktu luang," ucap Usman.
"Hmm. Oke," jawab Shahzaib.
"Kasihan sekali bagi Mereka yang benar-benar tulus mencintai pasangannya, akan tetapi si pasangan ternyata tidak mempunyai niat yang baik," ucap Usman.
"Hmm. Iya. Tentu saja," jawab Iqbal.
"Iya. Bila yang Mereka sebut dengan cinta ini sudah berkuasa. Bila Mereka telah diperbudak oleh yang namanya cinta, maka Mereka akan menyerahkan segala yang mereka miliki demi kebahagiaan pasangan Mereka," ucap Usman.
"Hmm. Iya," jawab Ibrar.
"Iya. Mereka akan merasa bahwa pasangan Mereka adalah hidupnya. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa pasangan Mereka. Sehingga Mereka akan melakukan apa saja agar pasangan Mereka tidak meninggalkan Mereka. Bahkan Mereka akan menyerahkan segala yang Mereka miliki termasuk kesucian Mereka kepada pasangan Mereka. Naudzubillahi min dzalik!" jelas Usman.
"Astaghfirullah hal adzim! Naudzubillahi min dzalik!" ucap Ibrar.