"Hmm. Tidak jauh dari Al Mareija. Hanya sekitar lima belas menit dari Al Mareija. Aku tinggal di Al Nahda," jawab Fikar.
"Hmm. Baguslah! Kita bisa sesekali bertemu di saat waktu luang nantinya," ucap Ibrar.
"Iya. Tentu saja!" jawab Fikar.
"Oh iya. Apakah Kamu tinggal di apartemen sendirian? Atau bersama keluarga atau mungkin bersama kerabatmu?" tanya Fikar.
"Aku tinggal sendirian di apartemen. Aku tidak suka tempat yang berisik, dan Aku merasa nyaman dengan tinggal sendirian," jawab Ibrar.
"Oh. Oke," ucap Fikar.
"Lalu. Bagaimana dengan Kamu? Apakah Kamu punya kerabat di Sharjah?" tanya Ibrar.
"Tidak, tidak! Aku tidak punya kerabat lain di Dubai. Hanya Ayah, Ibu, dan Adikku saja. Dan Mereka semua tinggal di Abu Dhabi. Di Sharjah, Aku pun tinggal sendirian di apartemen," jelas Fikar.
"Oh, rupanya begitu," ucap Ibrar.
"Iya. Begitulah," jawab Fikar.
"Oh iya Fikar! Ngomong-ngomong nih ya. Maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaan atau mungkin tidak sopan!" ucap Ibrar.
"Oh. Memangnya apa yang ingin Kamu tanyakan Ibrar? Santai saja denganku! Tanyakan saja! Jangan memendam perasaan dan hanya berprasangka dengan pikiranmu sendiri! Itu tidak bagus untuk kesehatan!" nasehat Fikar.
"Hmm. Benar sekali nasehat Kamu, Fikar. Aku suka dengan gaya pemikiran dan sudut pandangmu," jawab Ibrar.
"Oh ya? Benarkah? Kalau begitu, baguslah! Tampaknya Kita memang saling cocok satu sama lain," ucap Fikar.
"Hmm. Iya, Alhamdulillah. Aku rasa juga begitu," jawab Ibrar diakhiri dengan senyumannya.
"Oke. Kalau begitu. Ayo katakan kepadaku! Apa yang ingin Kamu ketahui dariku?" perintah Fikar.
"Hmm. Oke. Aku hanya ingin tahu tentang. Bagaimana dengan prestasi Kamu di kampus? Apakah Kamu tipe pelajar yang bersungguh-sungguh dalam studimu, ataukah termasuk tipe pelajar yang asal mendapatkan gelar pendidikan?" tanya Ibrar.
"Oh. Tentang itu," jawab Fikar.
"Iya," ucap Ibrar.
"Asal Kamu tahu Ibrar! Masuk kuliah di jurusan automobile adalah pilihanku. Dan Alhamdulillah Ayahku mendukungku," jawab Fikar.
"Alhamdulillah," ucap Ibrar.
"Iya. Kebetulan pula, Kami sejak lama tinggal di Abu Dhabi. Dan Ayahku tahu bahwa The University of Sharjah mempunyai kredibilitas yang bagus untuk jurusan automobile," jelas Fikar.
"Iya. Alhamdulillah. Kamu beruntung sekali, Fikar," ucap Ibrar.
"Iya Ibrar. Aku memang sangat beruntung. Dan Alhamdulillah kini sampailah Aku di tingkat akhir kuliahku dengan prestasi akademik yang bisa dibilang istimewa. Alhamdulillah," jelas Fikar.
"Oh benarkah? Dengan prestasi istimewa? Wow! Kamu bisa menjadi panutan ku!" ucap Ibrar.
"Iya. Benar! InshaAllah, Ibrar. Kita bisa saling bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman nanti. Akan tetapi dengan satu syarat," jawab Fikar.
"Oh. Dengan satu syarat? Apakah itu?" tanya Ibrar.
"Iya. Syaratnya adalah asalkan Kamu juga mempunyai niat dan kesungguhan dalam pelajaranmu dan masa depanmu. Karena Aku tidak suka dengan anak-anak muda yang hanya kuliah dengan alasan gelar dan kehormatan keluarga," jelas Fikar.
"MashaAllah. Kamu benar-benar luar biasa, Fikar! Aku beruntung sekali, Allah telah mempertemukan Aku denganmu hari ini," ucap Ibrar.
"Oh ya? Alhamdulillah. Akan tetapi apa yang Kamu dapatkan dariku, sehingga Kamu merasa begitu beruntung telah bertemu denganku, Ibrar? Apakah Aku ini seorang yang istimewa?" tanya Fikar diakhiri dengan tawa konyolnya.
"Iya Fikar. Bagiku, Kamu istimewa. Sepanjang umurku, baru kali ini Aku bertemu dengan tipe orang seperti dirimu. Dan Aku menyukai caramu berpikir dan sudut pandangmu," jawab Ibrar.
"Hmm. Begitu rupanya. Oke, oke. Kini Aku mengerti. Dan semoga Allah merahmati pertemanan Kita. Apakah Kita berteman mulai hari ini?" tanya Fikar.
"Iya. Mengapa tidak? Berteman!" jawab Ibrar.
Kemudian, Ibrar mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Fikar. Fikar pun menyambut uluran tangan Ibrar. Kemudian Mereka saling berjabat tangan.
"Teman!" ucap mereka bersamaan, diakhiri dengan senyuman di kedua wajah Mereka.
"Tet tet.. tet tet.. tet tet.. tet tet..," suara alarm perusahaan tanda berakhirnya jam kerja pegawai.
"Oh. Jam tutup bengkel tiba!" ucap Fikar.
"Oh iya," jawab Ibrar sambil melirik jam tangannya.
"Ibrar! Apakah Kamu besok kesini lagi?" tanya Fikar.
"Iya. InshaAllah," jawab Ibrar.
"Kalau begitu, besok Kita sambung lagi obrolan Kita. Oke? Sekarang Aku mau mengecek kondisi mobilku, lalu Aku akan pulang," ucap Fikar.
"Oh. Iya. Tentu saja! Sampai bertemu besok! Allah Hafiz!" jawab Ibrar.
"Iya. Allah Hafiz, Ibrar!" ucap Fikar sambil berjalan dan melambaikan tangannya kepada Ibrar.
Ibrar pun tersenyum sambil memandangi punggung teman barunya itu menjauh. Sementara itu, semua orang yang ada di dalam ruangan tunggu bengkel itu pun juga tengah beranjak untuk meninggalkan bengkel.
"Ayo Pak! Saya temani Anda untuk mengecek kondisi mobil Anda," ajak lelaki paruh baya yang duduk di sebelah lelaki berbaju hitam kepada lelaki berbaju hitam.
"Oh. Iya. Terima kasih. Ayo!" jawab lelaki berbaju hitam.
Kemudian Mereka menuju ke tempat dimana mobil lelaki berbaju hitam itu diperbaiki. Setelah beberapa saat, kini sampailah Mereka di tempat itu.
"Permisi! Maaf Pak! Saya adalah pemilik dari mobil ini," sapa lelaki berbaju hitam itu.
"Oh iya Pak," jawab seorang mekanik yang menangani mobil lelaki berbaju hitam itu.
"Jadi bagaimana Pak? Apa kerusakan mobil Saya serius? Apakah perbaikannya belum selesai? Apakah Saya harus meninggalkannya di bengkel untuk malam ini?" berondong lelaki berbaju hitam itu dengan banyak pertanyaan.
Kekhawatiran pun masih tampak di wajahnya. Sedangkan mekanik itu menanggapinya dengan senyuman.
"Bapak kok hanya tersenyum saja? Apakah senyum itu termasuk kedalam pelayanan kepada pelanggan untuk menyenangkan hati Mereka? Apakah Bapak tidak memahami kekhawatiran Saya?" tanya lelaki berbaju hitam itu.
"Maaf Pak! Bapak tenang dulu! InshaAllah akan Saya jawab semua pertanyaan Bapak. Dan Saya juga akan jelaskan tentang apa yang terjadi dengan mobil Bapak," ucap Kepala mekanik yang tiba-tiba datang.
"Oh. Oke. Terima kasih," jawab lelaki berbaju hitam itu.
"Oke Pak! Sebelumnya Kami minta maaf atas perilaku pegawai Kami, bila mana yang Kami lakukan tidak berkenan di hati Bapak," ucap Kepala mekanik itu.
"Oh. Oke. Oke," jawab lelaki berbaju hitam itu.
"Begini Pak. Setelah Kami mengecek kondisi mobil Bapak, Kami menemukan beberapa masalah dalam analisa Kami," ucap Kepala mekanik itu.
"Iya. Oke," jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Memang benar mobil ini masih terlihat bagus. Akan tetapi, sebelumnya mobil ini tidak dirawat dengan baik," ucap Kepala mekanik itu.
"Hmm. Begitu ya? Oke," jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Setelah Kami mengeceknya, Alhamdulillah semua spare part masih dalam kondisi aman untuk dipakai. Sehingga tidak perlu ada penggantian spare part," jelas Kepala mekanik itu.
"Oh. Oke. Alhamdulillah," jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Kami hanya melakukan beberapa perbaikan dan memulai melakukan perawatan yang terbaik untuk mobil Bapak," ucap Kepala mekanik itu.
"Oh. Alhamdulillah. Itu kabar yang bagus," jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Alhamdulillah. Dan ada kabar gembira lainnya Pak!" ucap Kepala mekanik itu.
"Kabar gembira lainnya? Kabar gembira apa?" tanya lelaki berbaju hitam.
"Kabar gembiranya adalah. Selamat! Perbaikan mobil Bapak telah selesai, dan Bapak bisa membawanya pulang malam ini," jawab Kepala mekanik itu.
"Oh. Benarkah?" tanya lelaki berbaju hitam itu dengan riang.
"Iya Pak. Benar sekali!" jawab Kepala mekanik itu.
"Oh Alhamdulillah. Terima kasih, terima kasih!" ucap lelaki berbaju hitam itu gembira.
"Alhamdulillah. Selamat ya Pak! Saya ikut senang mendengarnya," ucap lelaki paruh baya yang menemani lelaki berbaju hitam itu.
"Iya. Terima kasih ya Pak!" jawab lelaki berbaju hitam.
"Oke Bapak! Untuk penyelesaian administrasinya, Bapak bisa menyelesaikannya di kasir bengkel. Maaf! Saya tinggal dulu untuk menemui pelanggan yang lainnya," pamit Kepala mekanik itu.
"Oh. Iya, iya. Terima kasih!" jawab lelaki berbaju hitam.
"Sama-sama Bapak. Terima kasih telah menggunakan layanan bengkel Kami. Dan Kami siap melayani kapanpun Bapak butuh bantuan Kami lagi," ucap Kepala mekanik itu.
"Oke, oke," jawab lelaki berbaju hitam.
Kemudian Kepala mekanik itu pun beranjak pergi dari tempat itu. Lalu, lelaki paruh baya yang menemani lelaki berbaju hitam itu pun bertanya kepada lelaki berbaju hitam.
"Tuh kan Pak? Bagaimana? Sekarang Anda puas kan dengan pelayanan bengkel ini? Percaya kepada Kami kan? Semua yang Kami ceritakan kepada Anda itu bukan hanya bualan semata. Dan Anda telah membuktikannya. Iya kan?" tanyanya.
"Iya. Iya. Kalian benar sekali. Terima kasih karena berbagi pengalaman dengan Saya hari ini," jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Dengan senang hati," ucap lelaki itu.
"Oh iya. Kalau begitu, silahkan kalau Anda mau menyelesaikan administrasinya. Saya akan mengecek kondisi mobil Saya," lanjut lelaki itu.
"Oh iya, iya. Silahkan! Sekali lagi terima kasih untuk hari ini!" jawab lelaki berbaju hitam.
"Iya. Sama-sama. Sampai jumpa! Allah Hafiz!" ucap lelaki itu.
"Allah Hafiz!" doa balik lelaki berbaju hitam.
Kemudian lelaki paruh baya itu pergi menjauh. Lalu, lelaki berbaju hitam itu pun beranjak menuju ke konter kasir bengkel. Dalam perjalanan Ia pun bertemu dengan Ayah gadis kecil yang sebelumnya telah berbagai pengalaman dengannya.
"Oh. Hai Pak! Bagaimana dengan kondisi mobil Anda? Tampaknya ada kabar baik. Saya melihat senyum di wajah Bapak," tanya lelaki itu.
"Hahaha. Iya, iya. Anda benar sekali Pak. Alhamdulillah perbaikan untuk mobil Saya telah selesai, sehingga Saya bisa membawanya pulang malam ini," jawab lelaki berbaju hitam itu gembira.
"Oh! Benarkah itu?" tanya lelaki itu.
"Iya Pak. Benar sekali! Saya juga tidak menyangkanya. Ini benar-benar kabar yang baik," jawab lelaki berbaju hitam.
"Oke, oke. Alhamdulillah kalau begitu," ucap lelaki itu.
"Oh iya Pak. Saya lupa memberitahu Anda tentang sesuatu," lanjut lelaki itu.
"Oh? Tentang apa? Anda bisa memberitahu Saya sekarang Pak. Kalau Bapak ada waktu," jawab lelaki berbaju hitam, balik bertanya kepada Ayah dari gadis kecil itu.
"Tentang ini. Besok-besok lagi, seandainya Anda membutuhkan pelayanan dari bengkel ini ya Pak. Anda, bisa membuat janji lewat pesan w******p ataupun lewat panggilan w******p. Jadi, waktu Anda tidak akan terbuang sia-sia hanya untuk menunggu proses perbaikan mobil Anda di bengkel," jelas Ayah dari gadis kecil itu.
"Oh. Oke. Baiklah! Terima kasih Anda telah memberitahu Saya tentang hal ini. Informasi ini sangat membantu Saya," ucap lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Sama-sama. Nanti, Anda kan mendapatkan nota dari kasir. Nah, di Nota itu tercantum beberapa nomor yang bisa Anda hubungi untuk mendapatkan informasi apapun mengenai perusahaan ini. Anda simpan saja nomor itu di ponsel Bapak. Sehingga Anda bisa menghubunginya sewaktu-waktu Anda membutuhkannya," pesan Ayah dari gadis kecil itu.
"Oh. Oke, oke Pak. Saya mengerti. Sekali lagi terima kasih atas semua informasi yang telah Bapak bagi untuk Saya hari ini. Saya merasa sangat terbantu sekali Pak. Semoga Allah memberkahinya. Barakallahu fiik," ucap lelaki berbaju hitam.
"Wa fiik barakallah," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"Baiklah! Tampaknya semua sudah beres. Saya juga harus segera pulang. Kasihan gadis kecil Saya sudah kelelahan," lanjut lelaki itu.
"Oh iya Pak. Silahkan! Sekali lagi terima kasih ya Pak!" ucap lelaki berbaju hitam.
"Oh. Iya. Sama-sama. Dengan senang hati," jawab lelaki itu.
"Oke. Sampai jumpa lagi! Allah Hafiz!" lanjut lelaki itu berpamitan.
"Iya. Sampai jumpa lagi! Allah Hafiz!" jawab lelaki berbaju hitam.
Kemudian Mereka pun berpisah untuk menyelesaikan urusannya masing-masing. Tanpa Mereka sadari, Ibrar sedari tadi memperhatikan kegiatan Mereka. Ibrar pun tersenyum, ikut senang dengan kebahagiaan Mereka.
'Hmm. Tampaknya para pegawai sedang sibuk-sibuknya melayani para pelanggan bengkel saat ini. Dan Mereka pun tengah bersiap untuk jam tutup bengkel,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
'Oh iya. Fikar dimana ya? Apakah Dia telah selesai dengan urusannya dan telah kembali pulang? Ataukah Dia masih disini ya?' tanya Ibrar di dalam hatinya.
'Oke. Baiklah! Aku akan mencarinya!' ucap Ibrar lagi, masih di dalam hatinya.