"Hmm. Iya, mengapa tidak? Itu lebih mudah untuk didengar dan dilakukan," jawab Ibrar.
"Ok Ibrar! Kamu memang benar. Aku bukan warga asli Sharjah. Aku juga bukan warga asli Uni Emirat Arab. Akan tetapi, untuk saat ini, Aku tinggal di Abu Dhabi," jawab Fikar.
"Wow. Abu Dhabi? Akan tetapi itu jauh sekali dari Sharjah," ucap Ibrar.
"Iya. Kamu benar," jawab Fikar.
"Iya. Jarak tempuh dari Sharjah ke Abu Dhabi lebih dari 160 kilometer. Paling tidak Kamu membutuhkan waktu dua atau tiga jam perjalanan untuk sampai ke Sharjah," ucap Ibrar.
"Iya, iya. Kamu benar sekali," jawab Fikar.
"Akan tetapi, Aku tahu," ucap Ibrar.
"Iya. Tahu apaan?" tanya Fikar.
"Dengan mobilmu, Kamu pasti bisa berkendara lebih cepat dari waktu yang seharusnya dibutuhkan. Aku benar kan?" tebak Ibrar.
"Hahaha. Iya, iya. Kamu benar sekali, Ibrar. Kamu tahu sendirilah. Mobil Kita sangat tenang untuk dipakai berkendara dalam situasi dan kondisi apapun," jawab Fikar.
"Iya. Tentu saja. Dan pastinya dipadukan dengan gaya berkendara para jiwa muda. Iya kan?" tebak Ibrar.
"Beshak! Seratus persen benar!" jawab Fikar.
"Oh. Tunggu, tunggu!" ucap Ibrar.
"Iya. Ada apa Ibrar?" tanya Fikar.
"Aku mendengar, Kamu baru saja mengatakan beshak. Bahasa Urdu? Apakah Kamu seorang warga negara Pakistan?" tanya Ibrar.
"Oh. Iya, iya. Bagaimana Kamu tahu tentang itu? Apakah Kamu juga seorang warga negara Pakistan?" tanya balik Fikar.
"Iya. Alhamdulillah. Aku adalah seorang warga negara Pakistan," jawab Ibrar.
"MashaAllah. Senang sekali bisa berjumpa dengan sesama warga negara Pakistan di Dubai," ucap Fikar.
"Iya. Alhamdulillah. Aku juga senang sekali. Rasanya seperti bertemu dengan saudara dekat di tempat perantauan. Iya kan?" ucap Ibrar.
"Hahaha. Iya, iya. Kamu benar sekali Ibrar," jawab Fikar.
"Akan tetapi. Ngomong-ngomong, di Kota mana tempat tinggalmu di Pakistan?" tanya Ibrar.
"Aku tinggal di Islamabad," jawab Fikar.
"MashaAllah. Menyenangkan sekali. Kamu beruntung sekali tinggal di Islamabad. Islamabad adalah Ibu Kota negara yang sangat indah," ucap Ibrar sambil membayangkan keindahan Kota Islamabad, diakhiri dengan senyumannya.
"Iya, Ibrar. Alhamdulillah. Dan Kamu memang benar. Islamabad memang Kota yang sangat indah dengan musim yang menyenangkan," sambung Fikar.
"Iya. Alhamdulillah," ucap Ibrar.
"Hmm. Iya. Bahkan keindahan Uni Emirat Arab terkadang tidak mampu mengobati rasa rinduku akan Islamabad," lanjut Fikar, diakhiri dengan tawa kecilnya. Ibrar pun tersenyum menanggapinya.
"Oh iya. Dan bagaimana dengan Kamu Ibrar? Di Kota mana Kamu tinggal di Pakistan?" tanya Fikar.
"Oh. Aku tinggal di Kashmir," jawab Ibrar.
"Wow! Itu sungguh kabar yang sangat bagus. Aku sangat menyukai Kashmir. Kashmir adalah salah satu tempat yang sangat indah di Pakistan," ucap Fikar.
"Iya, memang. Alhamdulillah," ucap Ibrar.
"Dan Ibrar. Ternyata Kamu lebih beruntung daripada Aku," ucap Fikar.
"Oh. Mengapa Kamu bilang begitu?" tanya Ibrar.
"Iya. Dengan mengetahui kabar bahwa ternyata Kamu tinggal di Kashmir," jawab Fikar.
"Oh. Hanya karena alasan itu?" tanya Ibrar.
"Iya," jawab Fikar.
"Hmmm. Oke," ucap Ibrar.
"Akan tetapi Fikar. Baik Kashmir ataupun Islamabad, keduanya sama-sama tempat yang indah. Keduanya mempunyai ciri khas masing-masing. Keduanya sama-sama mempunyai hal yang bisa diunggulkan. Bukankah Aku benar?" lanjut Ibrar, bertanya kepada Fikar.
"Iya, iya. Itu pasti!" jawab Fikar.
"Iya. Dan.., baik Aku ataupun Kamu sama-sama bisa saling mengunjungi tempat-tempat itu, setiap saat, setiap waktu. Bukankah Aku benar?" tanya Ibrar.
"Iya. Dan sekali lagi Kamu benar," jawab Fikar diakhiri dengan tawa kecilnya.
"Iya. Dan, baik Kashmir ataupun Islamabad, keduanya adalah sama-sama milik Kita. Karena keduanya sama-sama wilayah dari Pakistan. Dan Kita berdua adalah bagian dari Pakistan. Bukankah Aku benar?" tanya Ibrar lagi.
"Hahaha. Iya, iya. Dan Kamu seorang penganalisa kasus yang cermat," ucap Fikar.
"Hmm. Benarkah? Bagaimana bisa Kamu mempunyai kesimpulan seperti itu tentang diriku?" tanya Ibrar.
"Iya. Dari semua ucapanmu, semua kata-katamu," jawab Fikar.
"Hmm. Oke, oke. Baiklah. Ngomong-ngomong, terima kasih atas pujiannya," ucap Ibrar diakhiri dengan senyumannya.
"Sama-sama Ibrar," jawab Fikar.
"Hai, Fikar!" panggil Ibrar.
"Iya. Ada apa, Ibrar?" jawab Fikar.
"Ngomong-ngomong nih ya. Kamu kan tinggal di Abu Dhabi," ucap Ibrar.
"Iya, benar," jawab Fikar.
"Iya. Urusan apa yang membawamu sampai di Sharjah? Dan apakah Kamu menemui kendala dengan mobilmu di perjalanan? Sehingga Kamu berada di bengkel ini saat ini?" berondong Ibrar dengan banyak pertanyaan.
"Oh, itu..," jawab Fikar, tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Beep beep… beep beep… beep beep..," suara dering telepon seluler Ibrar.
"Oh. Tunggu! Maaf. Aku angkat telepon dulu ya!" ucap Ibrar.
"Oke. Baiklah," jawab Fikar.
Kemudian Ibrar pun mengambil ponselnya dan melihat caller id di layar ponselnya itu.
"Ayah," gumam Ibrar. Kemudian Ibrar pun segera menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum. Iya Ayah?" sapa Ibrar kepada Ayahnya di seberang telepon.
[Waalaikumsalam. Anak tampan,] sapa Tuan Tariq Kareem di seberang teleponnya.
"Iya Ayah. Ibrar disini," jawab Ibrar.
[Anak tampan. Acara pengenalan dirimu kepada semua pegawai dan staf ditunda,] ucap Tuan Tariq Kareem dari seberang teleponnya.
"Oh. Begitu ya Yah?" tanya Ibrar.
[Iya. Akan tetapi, hanya ditunda untuk beberapa waktu saja,] jawab Tuan Tariq Kareem.
"Baiklah Ayah. Terserah kepada Ayah saja. Akan tetapi, kira-kira kapan Yah?" tanya Ibrar.
[Tidak perlu menunggu lama, anak tampan. Nanti, setelah jam pulang kantor,] jawab Tuan Tariq Kareem.
"Oh. Baiklah Ayah. Akan tetapi, apa tidak kasihan kepada para pegawai Yah? Bukankah itu berarti Kita mengkorupsi waktu kerja Mereka?" tanya Ibrar.
[Oh. Tidak, tidak! Kamu jangan khawatir, anak tampan! Masing-masing dari Mereka akan mendapatkan gaji jam lembur atas kompensasi ini,] jawab Tuan Tariq Kareem.
"Oh. Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu, Ibrar setuju Yah," ucap Ibrar.
[Iya. Pasti! Kamu jangan khawatir! Ayah pasti berusaha menjadi pemimpin yang adil untuk semua pegawai,] ucap Tuan Tariq Kareem.
"Aamiin. InshaAllah. Iya Ayah. Ibrar percaya sepenuhnya kepada Ayah," ucap Ibrar.
[Bagus! Dan ada sesuatu yang juga perlu Kamu ketahui, anak tampan!] ucap Tuan Tariq Kareem.
"Iya Ayah. Apakah itu?" tanya Ibrar.
[Hari ini, setelah acara pengenalan dirimu kepada semua pegawai, Kita semua akan makan bersama,] jawab Tuan Tariq Kareem.
"MashaAllah. Sungguhkah itu Ayah? Maksud Ayah adalah bersama semua pegawai juga, begitu?" tanya Ibrar mendetail.
[Iya benar, anak tampan. Kita semua akan makan bersama. Untuk menyambut kedatanganmu di perusahaan Kita,] jawab Tuan Tariq Kareem.
"Wah. Bahagianya. Alhamdulillah. Terima kasih Ayah," ucap Ibrar.
[Sama-sama anak tampan!] jawab Tuan Tariq Kareem.
[Oh iya. Ngomong-ngomong, dimana Kamu sekarang?] lanjut Tuan Tariq Kareem bertanya kepada Ibrar.
"Oh. Ibrar sedang duduk-duduk di ruangan tunggu pelanggan Yah," jawab Ibrar.
[Oke. Bagus! Kalau begitu, Ayah tunggu di ruangan officer saat jam pulang kantor. Oke, anak tampan?] pesan Tuan Tariq Kareem.
"Baiklah Ayah. Sampai bertemu nanti!" jawab Ibrar.
[Baiklah. Allah Hafiz!] ucap Tuan Tariq Kareem mengakhiri perbincangan telepon Mereka.
"Allah Hafiz Ayah!" jawab Ibrar.
Setelah itu, terdengar suara sambungan telepon yang terputus. Ibrar pun meletakkan kembali ponselnya di saku celananya.
"Sudah selesai, Ibrar?" tanya Fikar.
"Iya. Oh. Maaf, menunggu lama," jawab Ibrar.
"Tidak apa-apa. Santai saja," ucap Fikar.
"Hmm. Ngomong-ngomong, Kamu tidak memberi nada dering untuk panggilan ponselmu?" tanya Fikar.
"Oh. Hahaha," jawab Ibrar dengan tawa kecilnya.
"Iya, iya. Aku tidak menyukai suara berisik. Untuk di dalam ruangan, Aku memang mengaturnya dengan suara beep saja. Akan tetapi, bila Aku diluar ruangan, aku mengaturnya dengan nada dering kok. Karena Aku tidak boleh melewatkan semua panggilan dan pesan yang masuk," jelas Ibrar.
"Hmm. Oke, oke. Baiklah," ucap Fikar.
"Oh iya. Sampai dimana tadi perbincangan Kita?" tanya Ibrar.
"Oh. Terakhir kali, Ibrar bertanya kepadaku. Tentang urusan apa yang membawaku sampai di Sharjah? Dan apakah Aku menemui kendala dengan mobilku di perjalanan sehingga Aku berada di bengkel ini saat ini?" jelas Fikar.
"Oh. Iya, iya. Benar! Aku ingat sekarang. Lalu? Jawablah!" pinta Ibrar diakhiri dengan senyumannya.
"Oke Ibrar!" jawab Fikar.
"Sebenarnya, meskipun Aku tinggal di Abu Dhabi, Aku kuliah di The University of Sharjah," lanjut Fikar.
"Oh. Benarkah?" tanya Ibrar.
"Iya. Di Sharjah, Aku tinggal di apartemen. Dan Aku pulang ke Abu Dhabi setiap pekan di saat perkuliahan libur dan tidak banyak tugas," jelas Fikar.
"Oh. Begitu rupanya. Baiklah. Kini Aku paham," ucap Ibrar.
"Lalu? Apakah mobilmu sedang dalam masalah saat ini?" lanjut Ibrar bertanya.
"Tidak, tidak, Ibrar! Aku kesini karena Aku tahu tentang kredibilitas perusahaan ini. Aku sudah berlangganan di bengkel ini sejak Aku tinggal di Sharjah. Ayahku merekomendasikan bengkel ini untuk perawatan, perbaikan, dan modifikasi pada mobilku," jelas Fikar.
"Oh. Menyenangkan sekali," ucap Ibrar.
"Lalu? Itu artinya mobilmu sekarang tidak dalam masalah. Iya kan?" lanjut Ibrar bertanya.
"Iya. Benar. Aku hanya sedang menginginkan sedikit modifikasi kepada mobilku," jawab Fikar.
"Wow! Menyenangkan sekali," ucap Ibrar.
"Hmm. Iya. Alhamdulillah," jawab Fikar.
"Oh iya, Fikar. Ngomong-ngomong, Kamu kan kuliah di The University of Sharjah. Iya kan?" tanya Ibrar memastikan.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Fikar.
"Kamu ambil kuliah jurusan apa? Dan sekarang Kamu tingkat berapa?" tanya Ibrar.
"Oh. Di The University of Sharjah, Aku mengambil jurusan automobile. Dan sekarang Aku berada di tingkat akhir. Aku sedang menyelesaikan skripsiku. InshaAllah tahun depan nanti Aku lulus," jawab Fikar.
"Wow! Keren sekali!" ucap Ibrar.
"Hmm. Iya. Alhamdulillah. InshaAllah," ucap Fikar.
"Kalau begitu, sebenarnya Kamu lebih tua dariku, Fikar. Apakah Aku harus memanggilmu dengan sebutan Kakak?" tanya Ibrar.
"Aku lebih tua darimu? Memangnya berapa umurmu, Ibrar?" tanya Fikar.
"Iya. Karena tahun ini Aku baru mau masuk Universitas," jawab Ibrar.
"Oh. Begitu rupanya," ucap Fikar.
"Iya. Begitulah," ucap Ibrar.
"Akan tetapi, tidak apa-apa. Aku sudah nyaman Kamu memanggilku hanya dengan namaku. Dan Aku memanggilmu hanya dengan nama saja," jawab Fikar.
"Oke. Baiklah kalau begitu," ucap Ibrar.
Dan Mereka pun tersenyum bersama.
"Oh iya. Dimana Kamu akan kuliah? Dan dimana Kamu tinggal?" tanya Fikar.
"InshaAllah, kalau tidak ada halangan, Aku akan kuliah di The University of Sharjah. Ayahku sedang mengurus pendaftaran untuk masuk kuliahku," jawab Ibrar.
"Oh. Wow! Itu kabar yang sangat bagus! Kita bisa berada dalam satu almamater. Dan akan lebih bagus lagi kalau Kita juga berada dalam kawasan kampus yang sama," ucap Fikar gembira.
"Iya. Tentu saja!" jawab Ibrar.
"Lalu. Ngomong-ngomong, jurusan apa yang akan Kamu ambil nanti?" tanya Fikar.
"Alhamdulillah. InshaAllah Aku akan mengambil jurusan yang sama denganmu. Automobile," jawab Ibrar.
"Oh ya? Benarkah?" tanya Fikar.
"Iya. Sungguh! Ayahku telah mengurus pendaftarannya," jawab Ibrar.
"Wow! Itu bagus sekali! Ternyata Kita punya banyak kesamaan dan minat yang sama pula," ucap Fikar gembira.
"Iya. Alhamdulillah. Nampaknya, Allah telah membuat rencana pertemuan Kita hari ini. Dan mungkin Allah telah merencanakan sesuatu untuk Kita di masa depan," jawab Ibrar.
"Iya. Iya. Tentu saja! Allah pasti punya rencana untuk setiap hal dan kejadian. Aku juga percaya itu," ucap Fikar.
"Iya. Aku berdoa dan yakin bahwa itu adalah sesuatu hal yang baik untuk Kita. InshaAllah," jawab Ibrar.
"Aamiin. InshaAllah," ucap Fikar.
Dan Mereka berdua pun tersenyum.
"Aku benar-benar tidak menyangka akan pertemuan Kita hari ini, Ibrar. Sungguh!" ucap Fikar.
"Iya Fikar. Aku juga sama," jawab Ibrar.
"Oh iya. Selama di Sharjah, dimana Kamu tinggal?" tanya Fikar.
"Aku tinggal di Al Mareija," jawab Ibrar.
"Oh. Al Mareija. Tempat yang sangat bagus, dengan pemandangan hamparan sungai," ucap Fikar.
"Iya, benar. Sangat indah," jawab Ibrar.
"Lalu. Bagaimana dengan Kamu? Dimana Kamu tinggal selama Kamu di Sharjah?" tanya Ibrar.