"Oh. Itu pelayanan yang terbaik," ucap lelaki berbaju hitam itu.
"Iya Pak. Menyenangkan bukan?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Iya, iya. Alhamdulillah. Tampaknya Saya beruntung hari ini," jawab lelaki berbaju hitam itu diakhiri dengan senyuman yang terulas di bibirnya.
"Aamiin. InshaAllah," ucap lelaki paruh baya itu, mendoakan lelaki yang berbaju hitam.
Senyuman itu pun menular kepada lelaki yang berbaju hitam. Sementara itu, Ibrar mendengar dengan jelas tentang semua yang Mereka perbincangkan. Senyuman pun terulas di bibirnya.
'Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Engkau sungguh maha baik. Di saat yang tepat, Engkau telah mengirimkan kedua lelaki itu. Dengan caranya, Mereka telah berhasil memberikan ketenangan dan keyakinan kepada lelaki yang lainnya akan kredibilitas dari perusahaan Kami,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
Selang beberapa menit, kemudian datanglah Ayah dari gadis kecil itu. Sesuai janjinya, Beliau membawa tiga botol minuman dingin. Akan tetapi, di tangan yang lainnya, Beliau juga membawa beberapa biji makanan kecil.
"Assalamualaikum," sapa Beliau saat memasuki ruangan tunggu pelanggan itu.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di ruangan itu. Beliau pun tersenyum.
"Nah. Ini dia, minuman untuk Kalian!" ucap Ayah dari gadis kecil itu sambil memberikan minuman dingin yang dibawanya kepada yang lainnya.
"Dan ini beberapa makanan ringan untuk Kita," lanjutnya, sambil memberikan makanan ringan itu kepada yang lainnya.
"Alhamdulillah. Jazakallah khair," ucap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah lelaki berbaju hitam.
"Iya. Terima kasih banyak Pak. Jazakallah khair," ucap lelaki berbaju hitam itu juga.
"Sama-sama. Wa anta fa jazakAllah khair," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"Oke, sekarang mari Kita nikmati makanan dan minuman ini!" ajak Beliau.
"Iya. Mari!" jawab yang lainnya.
Kemudian Mereka pun menikmati makanan dan minuman Mereka. Selang beberapa menit setelah Mereka menghabiskan makanan dan minuman itu, gadis kecil itu merajuk kepada Ibunya.
"Ada apa? Mengapa putri Ayah merajuk seperti ini, sayang?" tanya Ayah dari gadis kecil itu.
"Sejak Ayah keluar ruangan ini untuk mengambil minuman, coklat yang dimakannya telah habis. Dan Ia meminta coklat lagi. Aku bilang, Bunda tidak membawa coklat yang lainnya. Nanti kalau Kita pulang, Kita bisa membelinya di supermarket. Akan tetapi Ia tidak mau bersabar untuk menunggu. Jadilah Ia merajuk seperti ini," jelas perempuan yang ternyata memang Ibu dari gadis kecil itu.
"Oh. Begitu rupanya. Oke, putri cantik Ayah. Jangan khawatir! Tunggu sebentar! Oke?" ucap Ayah dari gadis kecil itu. Gadis kecil itu hanya terdiam sambil terisak, memandangi Ayahnya.
Kemudian Ayah dari gadis kecil itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Selang beberapa menit kemudian, Beliau kembali datang. Senyuman terukir di wajahnya. Beliau pun memandang wajah dari gadis kecilnya.
"Oh. Putri kecil Ayah. Ayo, jangan bersedih sayangku!" sapa lelaki itu.
"Emm..," jawab gadis kecil itu sambil menggelengkan kepalanya dan mengusap air mata di pipinya.
"Ayah, punya sesuatu untuk Kamu sayang," ucap lelaki itu.
"Hmm..," jawab gadis kecil itu masih enggan berbicara.
"Tara..!" ucap lelaki itu sambil menunjukkan sesuatu kepada putrinya.
"Wah.., coklat!" ucap gadis kecil itu penuh binar kebahagiaan. Senyuman pun mengembang di wajah mungilnya.
"Iya, sayang. Ini coklat untuk Kamu," jawab lelaki itu. Kemudian Beliau pun memberikan coklat itu untuk putrinya.
"Terima kasih Ayah!" ucap gadis kecil itu diakhiri dengan senyuman.
Gadis kecil itu kemudian memeluk Ayahnya dan mencium pipi Ayahnya.
"Sama-sama Sayangku. Alhamdulillah, sekarang putri Ayah bisa tersenyum kembali," jawab lelaki itu.
Gadis kecil itu tersenyum, menanggapi ucapan Ayahnya. Kemudian Ia berusaha untuk membuka pembungkus coklat itu. Ibrar yang sedari tadi memperhatikan Mereka, kini mengembangkan senyuman di wajahnya.
'MashaAllah. Sungguh manis sekali ikatan diantara Mereka. Aku jadi rindu akan masa kecilku. Masa dimana masih ada almarhum Ibu, Ayah, dan Aku saja,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
Rasa haru mulai muncul, dadanya mulai sesak, ingin rasanya Ia menangis. Akan tetapi air matanya telah mengering sejak belasan tahun yang lalu. Kini Ibrar menyadari bahwa ternyata hatinya masih saja rapuh, meski tempaan demi tempaan telah Ia lewati dalam hidupnya.
Selama ini Ia telah berusaha keras untuk berdiri tegak menghadapi hari-harinya. Berusaha untuk tidak cengeng dan mudah mengeluh akan segala situasi dan kondisi yang hadir di dalam hidupnya.
Ayahnya telah mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai untuk mempersiapkan jiwa kepemimpinan di dalam hidup Ibrar. Namun, tetap saja. Ibrar dan Ayahnya adalah pribadi yang berbeda.
Di mata dunia, Ayahnya telah berhasil menjadi seorang pengusaha yang sangat berkompeten dan terkenal akan kebijaksanaannya. Akan tetapi, tetap saja berbeda dengan Ibrar nantinya. Kita akan melihat, bagaimana nantinya Ibrar menjadi seorang pemimpin perusahaan dengan gaya kepemimpinannya sendiri.
'Ibu..! Ibrar sungguh sangat merindukanmu, Ibu! Ibrar harap Ibu baik-baik saja di sana. InshaAllah Ibrar tidak akan pernah lupa untuk selalu mengirimkan doa untuk Ibu," ucap Ibrar di dalam hatinya, berjanji kepada mendiang Ibunya.
'Lihatlah Ibrar Bu! Ibrar tidak cengeng. Ibrar bisa melalui hari-hari Ibrar dengan baik. InshaAllah Ibrar akan selalu berusaha untuk menjadi putra kebanggaan Ibu dan Ayah. Menjadi anak yang baik, berguna bagi orang lain, dan taat kepada Allah,' lanjut Ibrar, berjanji kepada mendiang Ibunya di dalam hatinya.
Kemudian Ibrar pun menundukkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya sambil menggumamkan sesuatu. Ibrar melafadzkan Surah Al Fatihah, Surah Al Falaq, Surah Al Ikhlas, dan Surah An Naas untuk mendiang Ibunya. Setelah itu, Ibrar kembali mengangkat wajahnya. Ia pun menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian Ia pun tersenyum.
Sementara Ibrar terhanyut dalam lamunannya, percakapan diantara orang-orang di ruangan itu pun terus berlanjut.
"Ayah!" panggil perempuan paruh baya yang ternyata adalah istri dari lelaki itu.
"Iya sayangku," jawab lelaki itu.
"Dari mana Ayah mendapatkan coklat itu? Dan hanya dalam waktu beberapa menit saja?" tanya istrinya.
"Apakah di sebelah bengkel ini ada sebuah toko serba ada? Tampaknya Aku tidak melihat ada toko di sekitar tempat ini, Ayah," lanjut perempuan itu bertanya.
"Iya, iya.., sayangku. Kamu memang benar. Di sekitar tempat ini memang tidak ada toko serba ada," jawab lelaki itu.
"Nah. Lalu? Dari mana Ayah mendapatkan coklat itu?" tanya istrinya lagi.
"Sayangku. Ayah tidak perlu toko untuk mendapatkan coklat ini. Cukup dari teller service counter bengkel ini," jawab lelaki itu.
"Bagaimana bisa? Memangnya Mereka juga menjual banyak variasi makanan ringan lainnya?" tanya perempuan itu lagi.
"Tidak sayang. Tadi, Ayah hanya bertanya di counter teller bengkel ini. Apakah Mereka punya coklat? Atau dimanakah Saya bisa menemukan coklat di sekitar tempat ini untuk putri Saya yang sedang menangis?" jelas lelaki itu.
"Oke. Lalu?" tanya istrinya.
"Iya. Alhamdulillah Mereka mempunyai coklat itu. Mereka mempunyai stok khusus yang tidak ditaruh bersama makanan dan minuman gratis lainnya. Maksud Ayah, makanan dan minuman gratis untuk pelanggan dari bengkel ini," jelas lelaki itu.
"Oh. Begitu rupanya. Beruntunglah Kita," ucap istrinya.
"Iya sayangku. Alhamdulillah. Dan Mereka juga memberikannya gratis," jawab lelaki itu.
"Oh, benarkah itu?" tanya istrinya tak percaya.
"Iya, sayangku," jawab lelaki itu meyakinkan istrinya.
"Wah. Aku sangat menyukai pelayanan dari perusahaan ini. Ngomong-ngomong, Kita memang tidak salah ya Ayah. Tidak salah untuk menjadikan bengkel ini sebagai bengkel langganan Kita sejak dulu," ucap perempuan itu.
"Iya, sayangku. Aku sangat setuju dengan pendapat Kamu," jawab lelaki itu.
"Dan Ayah juga sangat beruntung, karena Mereka telah memilih perusahaan cargo milik Kita sebagai rekanan bisnis dari perusahaan ini," lanjut lelaki itu.
"Iya Ayah. Alhamdulillah," ucap perempuan itu.
"Wah, ternyata perusahaan cargo milik Anda adalah rekanan bisnis dari perusahaan ini?" tanya si lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak. Maka dari itu, sebelumnya Saya telah bilang kepada Anda kalau Saya memahami tentang perusahaan ini," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"MashaAllah. Betapa beruntungnya Anda," ucap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah lelaki berbaju hitam.
"Iya Pak, Alhamdulillah," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"Ngomong-ngomong, selamat ya Pak," ucap lelaki berbaju hitam itu.
"Iya. Terima kasih," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"Selamat atas keberuntungan Anda, Pak!" ucap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah lelaki berbaju hitam.
"Iya. Terima kasih," jawab Ayah dari gadis kecil itu.
"Sama-sama," ucap lelaki paruh baya yang duduk di sebelah lelaki berbaju hitam itu.
Mendengar semua perbincangan dari para pelanggan bengkelnya, Ibrar merasa senang. Senyuman manis pun mengembang di wajah tampannya.
'Alhamdulillah. Tampaknya semua berjalan baik. Paling tidak, enam puluh persen kondisi aman, dan selebihnya adalah tugas kewaspadaanku untuk mengurus perusahaan ini kedepannya. Tampaknya harus ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan juga,' ucap Ibrar di dalam hatinya.
Ibrar berusaha menarik kesimpulan dari apa yang dilihatnya dan didengarnya selama beberapa jam terakhir di bengkel itu.
"Hai Kak!" sapa pemuda yang duduk di sebelah Ibrar kepada Ibrar. Pemuda itu memegang lengan Ibrar.
Ibrar merasa ada yang memanggilnya. Ibrar pun memastikan bahwa panggilan itu memang untuknya. Ia melihat lengannya yang disentuh oleh pemuda yang duduk di sebelahnya. Kemudian Ibrar pun memandang wajah pemuda itu.
"Iya. Apakah Kamu memanggilku?" sapa balik Ibrar kepada pemuda itu.
"Iya Kak," jawab pemuda itu.
"Oh. Oke. Ada sesuatu yang ingin Kamu tanyakan?" tanya Ibrar.
"Iya Kak. Aku rasa, Kita seumuran. Bukankah tampaknya seperti itu?" tanya pemuda itu.
"Hmm. Iya, iya. Kamu memang benar," jawab Ibrar sambil memandangi perawakan dari pemuda itu.
"Iya. Maka dari itulah," ucap pemuda itu.
"Apa? Apa yang Kamu maksudkan dengan perkataan maka dari itulah?" tanya Ibrar dengan memberikan penekanan ucapan dari kalimat maka dari itulah.
"Coba deh Kakak lihat!" jawab pemuda itu kepada Ibrar.
Pemuda itu memandang Ibrar, kemudian mengajak Ibrar untuk memalingkan wajah Mereka kepada ketiga orang lelaki yang sedari tadi asyik berbincang.
"Iya. Mereka? Ketiga Bapak-bapak itu?" ucap Ibrar bertanya karena masih belum memahami arah pembicaraan dari pemuda itu.
"Iya Kak," jawab pemuda itu.
"Oke. Memangnya ada apa dengan Mereka?" tanya Ibrar.
"Sedari tadi nih ya. Mereka asyik sekali mengisi waktu dengan berbincang. Aku benar kan?" tanya balik pemuda itu kepada Ibrar.
"Iya. Kamu memang benar. Sebuah perbincangan yang menarik untuk diikuti," jawab Ibrar.
"Iya, benar sekali Kak. Lalu, mengapa Kita hanya diam saja mendengarkan perbincangan Mereka?" tanya pemuda itu.
"Maaf? Maksud Kamu apa ya? Aku kurang mengerti arah dari pembicaraanmu," tanya balik Ibrar.
"Maksud Aku adalah. Sementara Mereka asyik berbincang dengan orang seusia Mereka, mengapa Kita juga tidak melakukan hal yang sama? Mengapa Kita hanya menyimak perbincangan Mereka saja?" jelas pemuda itu.
"Oh. Iya iya. Kini Aku paham sepenuhnya akan maksud dari pembicaraanmu," ucap Ibrar diakhiri senyumnya.
"Bagus," jawab pemuda itu.
"Akhirnya Kakak paham juga," lanjut pemuda itu.
"Iya, iya. Alhamdulillah," jawab Ibrar disertai dengan senyuman manisnya.
"Kalau begitu, mengapa Kita tidak memulai perbincangan Kita?" tanya pemuda itu.
"Iya. Baiklah. Kita bisa memulainya dengan berkenalan terlebih dahulu," jawab Ibrar.
"Iya, benar. Ide yang bagus. Oke. Perkenalkan, nama Aku Befikar! Kakak bisa memanggil Aku Fikar," ucap pemuda itu dengan memberikan nada penekanan pada kata Fikar.
"Oke. Hai Fikar!" sapa Ibrar.
"Hai juga Kakak!" jawab pemuda itu.
"Oke. Perkenalkan, nama Aku Ibrar!" ucap Ibrar.
"Wah, nama yang manis," ucap pemuda itu.
"Hahaha. Kamu bisa saja. Kamu terlihat seperti sedang menggombali seorang gadis," ucap Ibrar disertai tawa kecilnya.
"Enggak, Kak. Aku beneran ini. Maksudku, nama Kakak memang benar-benar bagus," kilah pemuda itu.
"Hmm. Oke, oke. Baiklah. Ngomong-ngomong, terima kasih atas pujiannya," ucap Ibrar.
"Sama-sama Kak," jawab Fikar.
"Dimana Kamu tinggal? Tampaknya Kamu bukan orang asli sini. Apakah Aku benar?" tanya Ibrar.
"Iya, Kak. Ups! Bagaimana kalau untuk selanjutnya, Kita saling panggil nama saja?" saran Fikar.