Sovia membuka mata nya perlahan sambil mencerna apa yang terakhir kali terjadi padanya.saat mata &kesadarannya penuh, ia menyadari bahwa ia sudah berada di kamar nya sendiri.
Sovia ingin langsung bangun dari tidurnya. Karna hal terakhir yang dia ingat adalah dia melihat ayahnya yang di cambuk bertubi-tubi oleh seorang wanita tua yang menggunakan pakaian kerajaan.
Sovia tetap memaksa untuk bangun. Ibra&Talia yang menyadari Sovia siuman langsung membantunya duduk. Sovia bergumam. Talia mendekatkan telinga nya ke arah Sovia. "Air".Talia segera menyuruh salah satu santri yang ada disana. " Tariq, tolong ambilkan minum buat Sovia"kata Talia. "Ngeh, neng sekedap" (Iya, mbak sebentar). Jawab Tariq.
Beberapa saat kemudian Tariq kembali dengan segelas air putih dingin. Ibra mengambil alih air putih tersebut dari Tariq lalu memberikan nya pada Sovia. Setelah Sovia meminum habis air itu. Terjadilah perbincangan 3 bersaudara.
"Apa yang terjadi saat itu kak Ibra? "Sovia memulai perbincangan.
" Kamu pingsan"jawab Ibra
"Berapa lama? " Tanya Sovia lagi
"3hari" Jawab Talia
Sovia terbelalak "selama itukah? "
Ibra&Talia mengangguk bersamaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? "
"Jadi, sebenarnya, kami semua juga menyaksikan apa yang kamu saksikan"
"Lalu kenapa kalian menahan ku"
"Karna yang sebenarnya jadi incaran itu kamu, Zaidatus Sovia"
Sovia kaget untuk yang kedua kali nya.
"Gimana-gimana"
"Bener Sovia Talia ngak bohong"
Sovia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
"Maukah kalian menceritakan nya"
Talia menarik napas panjang, lalu bercerita
Flashback on
"Itu suara ayah" gumam Sovia , semua orang yang ada disana celingukan mencari sumber suara yang di dengar oleh Sovia. Namun, nihil. Mereka tidak menemukan apapun.
Sesaat kemudian, mereka baru menyadari bahwa Sovia tidak ada lagi di tempat nya. Saat itu juga mereka semua panik. tidak ingin hal buruk terjadi pada Sovia. Zafisa (ibu Sovia) menyuruh Ibra untuk memanggil sang kakek yang menunggu di mobil. Ibra segera berlari ke parkiran mobil.
Sementara itu Zafisa beserta yang lain berkeliling mencari Sovia. Talia yang peka terhadap suara langsung tau dimana Sovia berada. Talia menarik napas panjang kemudian ia berteriak sekuat tenaga. "SOVIA LARI KE ARAH LAUT" semua yang mendengar suara itu langsung berlari ke arah 'selatan'.
Pak Parno (ketua kepolisian) berhasil menangkap Sovia yang hampir berlari ke arah laut. dengan sigap semua orang yang ada disana langsung membantu Pak Parno untuk menahan Sovia lari lebih jauh sekaligus membantu nya kembali ke daratan.
Sovia meronta- ronta minta di lepaskan. orang-orang yang ada di sana terus berusaha untuk menenangkan Sovia &membawa nya kembali ke area yang aman.
Di tengah keributan itu datanglah Mahmud (kakek Sovia) bersama dengan Ibra. Mahmud datang dengan membawa secarik kain putih basah &Ibra membawa penutup telinga. Mahmud bersama Ibra mendekati Sovia. Mahmud menutup kedua mata Sovia menggunakan kain putih yang ia bawa&Ibra menutup kedua telinganya. mereka melakukan nya hampir bersamaan. tepat setelah nya Sovia tidak sadarkan diri.
Setelah Sovia pingsan, Mahmud beserta orang-orang yang ada disana mengikuti arah pandang Sovia tadi yaitu'selatan'. di tengah kegelapan malam itu,mereka semua melihat seorang wanita yang begitu cantik jelita menggunakan pakaian tradisional ala kerajaan berwarna hijau lengkap dengan mahkotanya. bersama dengan seorang lelaki yang berusaha merangkak menjauh dari nya dengan tubuh penuh lebam.
"Balekno putro ingsun"
(Kembali kan anak ku)
Suara Mahmud menggelegar di keheningan malam itu.
"Putro Siro bakal ingsun balekno, tapi ingsun duwe syarat"
(Anakmu akan ku kembalikan, tapi aku punya syarat)
Sang Ratu menjawab dengan tenang namun penuh penekanan.
"opo syarat e"
(apa syarat nya)
Mahmud bertanya.
"Cah wedok kuwi, kekno marang ingsun"
(Anak perempuan itu, berikan padaku)
Jawab Sang Ratu sambil menunjuk Sovia. Hening sejenak, sesaat kemudian
"Ra bakal tak kekno "
(Tidak akan ku berikan)
"Siro duweni kaleh pepilih,
setunggal, ganti cah wedok kuwi karo putro Siro.
kaleh, ngejarke cah wedok kuwi njupuk putro Siro saka aku ijen. "
(Kau punya dua pilihan,
Satu, menukar anak perempuan itu dengan anak mu.
Dua, membiarkan anak perempuan itu mengambil anakmu dariku sendirian.)
Setelah mengatakan hal itu kabut tebal muncul dan mereka berdua menghilang di iringi dengan tertawa melengking seorang perempuan.
Di perjalanan pulang, Zafisa bertanya kepada Mahmud. "dos pundi pak" (bagaimana ayah) "ben Sovia seng milih dalan urip e " (Biarkan Sovia memilih jalan hidup nya.
Flashback off
Sovia terdiam mendengar carita Talia. Kini Sovia berada dalam dilema. Apakah dia harus menukar hidupnya agar sang ayah kembali. Namun, bagaimana kondisi ayahnya saat kembali nanti. Apakah ayahnya kembali dalam keadaan sehat wal afiat, ataukah ayahnya dikembalikan hidup namun penuh luka, ataukah dikembalikan dengan tanpa nyawa. Tunggu sebentar, bukankah bangsa jin itu kerabat dari setan&iblis yang penuh tipu daya.
Benar iblis, setan&jin.mereka penuh tipu daya. Iblis pernah menggangu Nabi Idris saat sedang menjahit. Namun, beliau berhasil menancapkan jarum jahit yang beliau gunakan saat itu ke salah satu mata iblis.
Setan mengganggu Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, &Nabi Ismail saat mereka hendak melaksanakan perintah kurban.
Begitu pun saat Nabi Muhammad melaksanakan mi'raj. Beliau di hadang oleh Ifrit. Beliau berhasil membunuh nya dengan do'a yang diajarkan oleh malaikat Jibril.
Benar Sovia tidak boleh tertipu oleh tipu daya 'Ratu selatan'. dia punya pilihan ke dua yaitu melawan sang Ratu.jika para Nabi terdahulu bisa melakukan nya maka Sovia pu akan meneladani nya.mulai detik ini ia akan lebih mendekat kepada sang Maha Kuasa untuk merebut kembali ayahnya.
"Aku terima tantangan itu! Akan kuambil ayah dengan tangan mu sendiri" Ucap Sovia penuh keyakinan.