Menahan kesal yang sudah sampai di ubun-ubun itu rasanya seperti menahan kentut di depan klien, tidak dikeluarkan bahaya karena bisa menggangu kesehatan. karena bagaimanapun seharusnya kita bersyukur masih bisa kentut secara normal, karena banyak orang yang tidak bisa kentut dan dilarikan ke rumah sakit hanya untuk mengeluarkan gas yang memabukkan.
Namun, jika dikeluarkan juga akan membuat bahaya, karena takutnya si gas yang wanginya aduhai itu mengeluarkan bunyi yang membuat klien kabur. Itulah kira-kira yang saat ini Reno rasakan terhadap Rega, Bos terkutuknya itu sungguh sengaja sekali membuat Reno kesal sampai rasanya Reno mengeluarkan tanduk.
Untuk pertama kalinya Reno menyesali aturan yang dibuatnya sendiri. Maksud hati Reno membuat peraturan seperti itu adalah, agar dirinya tidak kebablasan dalam menggunakan bahasa jika di jam kerja, apalagi disaat meeting bersama klien, karena tahu sendiri mereka banyak menggunakan bahasa binatang jika sedang bersama. Namun saat ini Reno menyesali peraturan yang dibuatnya sendiri.
"Liatin aja ntar sore, gue seruduk tuh anak Jenglot." Reno masih menggerutu yang ditunjukkan pada Rega akibat rasa kesalnya. "Ayo Reno, mari kita bekerja. Ingatkan nanti malam kita akan mengeluarkan segala bentuk kekesalan kita saat ini. Semangat!"
Reno menyemangati dirinya sendiri, ia sudah mempunyai rencana akan kemana nanti malam, tentu saja untuk bersenang-senang selama dirinya di dunia.
***
Sedangkan Rega di ruangannya sedang memutar-mutar kursinya seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru, pertemuan sekaligus perkenalannya dengan Nadin sangat berpengaruh bagi hati dan pikirannya. Bayangan senyum Nadin yang begitu memabukkan baginya selalu terbayang, senyum itu seolah menari-nari di dalam pikirannya.
Perkenalan pertama membuat kesan tersendiri bagi Rega, jantungnya seperti berdisko ria disaat ia berdekatan dengan Nadin. Gadis yang mengajukan syarat untuk perkenalannya, disaat banyak gadis yang dengan sengaja menghampirinya untuk berkenalan. Namun berbeda dengan Nadin, Rega bahkan harus menggantikan ban mobilnya yang bocor terlebih dahulu sebagai syarat untuk berkenalan dengannya.
"Medina," gumamnya dengan terus tersenyum, menyebutkan nama Nadin dengan nama aslinya berulang kali. "Senyum yang indah, bibir yang merona, kulit yang mulus, perfecto. Mahkluk Tuhan yang sempurna,"
Pujinya terus menerus dengan bayangan yang menari-nari di kepalanya. Rega mengambil handphonenya dan mencari aplikasi pemutar musik. Mengklik di layar pencarian untuk mencari lagu dari Mulan Jameela yang berjudul Mahkluk Tuhan Paling Seksi. Lagu yang pas untuk dinyanyikan nya saat ini dengan membayangkan wajah Nadin.
Lagu itu seperti diciptakan untuk menggambarkan seorang Medina. Di mana semua yang ada dalam diri wanita yang ia kenal dengan nama Medina terlihat begitu seksi.
Rega mengikuti setiap bait lagu tersebut, lagu yang begitu menggambarkan seorang Medina yang terlihat begitu sempurna dan seksi di mata Rega.
"Tuhan, semoga dia belum mempunyai kekasih apalagi suami. Aku tidak sanggup patah hati sebelum berpacaran Tuhan." Doa Rega tulus untuk status hubungan Nadin.
Rega mematikan musik yang diputar dari handphonenya ketika mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar entah oleh siapa.
"Masuk," perintahnya, pintu terbuka dan menampilkan Reno yang diiringi oleh Putra dibelakangnya.
Putra merupakan sepupu Rega, Ananda Putra Amash. Anak dari adik perempuan Sudibyo Sarani. Putra tidak memakai nama Sarani karena berasal dari anak perempuan keluarga Sarani. Putra memakai nama Amash di belakangnya, yang merupakan marga dari ayahnya yang bernama Fajri Amash.
"Permisi, Pak. Pak Putra ingin bertemu dengan Anda." Tanpa di persilahkan Putra sudah mendudukkan dirinya di sofa.
"Heran gue sama peraturan lo, aneh!" cibir Putra pada peraturan yang dibuat Reno.
Rega, Reno dan Putra berteman dan bersepupu dengan baik, mereka dekat layaknya sahabat, tapi tidak sedekat antara Rega dan Reno yang seperti tidak terpisahkan.
"Ngapain lo?" tanya Rega sambil berjalan menuju sofa.
"Silahkan diminum, Pak."
Reno menyodorkan minum kaleng kesukaan mereka semua. Reno menganggap ini kesempatan baginya untuk menerkam Rega yang sebentar lagi akan membuka jasnya.
"Buka jas lo, geli kuping gue liat sikap dia kayak gitu," perintah Putra pada Rega sambil membuka jasnya.
"Gue lagi fokus jadi lagi gak mau buka jas, lagi gak mau diganggu!" balas Rega dengan melirik Reno.
"Lo berdua lagi musuhan ya?" tanya Putra curiga.
"Tidak, Pak. Saya permisi karena banyak pekerjaan." Reno pamit karena tidak mau bablas ingin menghajar Rega.
"Silahkan," jawab Rega tanpa melihat Reno.
Reno keluar dengan menghela napas kasar, menutup pintu dengan sedikit bantingan membuat Rega tertawa ngakak. Putra hanya menggelengkan pelan kepalanya, tidak habis pikir dengan kelakuan teman dan sepupunya.
"Mau ngapain lo?" tanya Rega setelah menghentikan tawanya.
"Gue mau ngajakin lo ke MC tar malem." Putra menyampaikan maksudnya.
"Itu doang?" Putra menganggukkan kepalanya. "Rajin banget hidup lo, kesini cuma buat ngajakin gue doang. Lu gak salah minum obat, 'kan?" tanya Rega curiga.
"Gue lagi gabut sebenernya, makanya gue ke sini."
Putra hanya seorang manager departemen produksi di kantor milik keluarga Sarani. Bukan pilih kasih, itu karena kinerja Putra yang jauh di bawah Rega, Putra pun tidak mempermasalahkannya. Karena sejujurnya ia tidak pernah mau mengambil tanggung jawab itu, jika bukan dari tekanan sang kakek yang begitu otoriter menurutnya.
"Anjir sekali, Anda. Gue pecat baru nyaho lo," tegur Rega yang membuat Putra sumringah
"Gue traktir lo liburan kalo sampe itu terjadi. Gue juga bakalan terima kasih banget sekali kalo lo berhasil."
Hal yang selalu di harapkan oleh Putra ya di pecat dari pekerjaannya, yang entah mengapa tidak pernah terjadi. Putra memang berkerja dengan baik, karena ia juga tidak mau membuat rugi perusahaan yang telah di bangun susah payah oleh kakeknya, hanya saja Putra bekerja semaunya, lebih banyak menghabiskan waktu di luar kantor karena rasa bosannya.
"Oh salah ya, kalo gitu gue turunin jabatan lo jadi bagian supervisor, kalo gak Quality Control." Putra mendelik tidak terima mendengar balasan Rega.
"Gak sekalian gue bagian produksi aja," sindirnya.
"Nah lebih bagus sih," balas Rega.
"Gue aduin Kakek sih, kalo lo semena-mena pada sodaranya," ancam Putra.
"Cemen lo maennya aduan," balas Rega.
"Mau pergi gak tar malem," tanya Putra memastikan ajakannya pergi ke MC, nama sebuah club malam singkatan dari Mike Club, yang pemiliknya adalah Mike temannya.
"Insyaallah," jawab Rega tidak mau berjanji.
"Mau maksiat aja pake insyaallah segala," gerutu Putra dengan ucapan Rega.
"Gue gak tau umur gue sampe kapan, Cong. Kalo gue janji terus tiba-tiba gue meninggal gimana? Sedangkan janji 'kan hutang, masa gue meninggal nyisain hutang yang gak bisa gue bayar. Gak keren dong gue sebagai orang tampan." Putra memutar bola matanya mendengar penuturan Rega.
"Bener kata Reno kalo kiamat itu semakin dekat. Salah satu tandanya ya dengan ucapan lo ini," balas Putra.
"Si Anjing!"
"Lagian siapa juga yang mau maksiat? Orang gue kalo ke sono juga cuma duduk diem, 'kan. Paling banter juga minum tiga sampe lima gelas Vodka," balas Rega pada tuduhan Putra.
"Tetep aja itu tempat maksiat," keukeuh Putra.
"Tergantung hati, Nyet! Gue 'kan hatinya malaikat, cuma kelakuan doang yang rada setan."
Rega tertawa sendiri mendengar perkataannya. Obrolan mereka memang tidak pernah waras. Apalagi jika ditambah Reno, sudah pasti mereka akan semakin gila dengan argumennya masing-masing
Begitulah mereka jika bertemu, baik Reno, Rega maupun Putra selalu menggunakan bahasa yang sebenarnya tidak layak digunakan, yang mereka sebut dengan bahasa gaul. Bahasa yang lebih banyak menggunakan kata-k********r penuh candaan.