bc

Wow! Ternyata Kita Dijodohkan

book_age16+
1.4K
FOLLOW
11.1K
READ
mate
goodgirl
brave
boss
sweet
humorous
lighthearted
city
office/work place
coming of age
like
intro-logo
Blurb

Bagaimana rasanya dijodohkan ketika sedang dimabuk asmara bersama kekasih hati?

Kesal pasti, marah juga iya.

"Tampang playboy aja kamu banggain, mendingan sama Rega pilihan Ayah, sudah jelas segalanya." Danur ayah dari Nadin

"Si Medina manja begitu aja kamu sukain, matre pasti itu. Mendingan sama Nadin anaknya temen Ayah. Jelas segalanya." Sudibyo ayah dari Rega.

Tanpa mereka ketahui orang yang mereka bicarakan adalah orang yang sama.

Medina=Nadin

Dewa= Rega

Bagaimana kisah rumit mereka?

Cover by : @WongCaem

chap-preview
Free preview
Medina Dwi Danendra (Nadin)
Alunan musik bergenre pop memenuhi kamar gadis cantik yang selalu menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Lagu Luka disini dari grup band Ungu menemani hari liburnya kali ini. Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan nada sedih itu, berubah menjadi bernada bahagia jika dinyanyikan olehnya. Hatinya sedang terluka, ketika mendapati kenyataan kekasihnya yang telah menjalin hubungan selama tujuh bulan dengannya ternyata berselingkuh. Medina Dwi Danendra atau yang biasa di panggil Nadin. Gadis cantik penuh pesona dan juga periang. Hidupnya selalu dipenuhi rasa syukur dalam hal apapun. Seperti saat ini, mendapati kekasihnya selingkuh membuat hatinya terluka. Namun, di atas kesedihannya ia bersyukur karena Tuhan menunjukkan sifat b******k laki-laki itu. Nadin bersyukur hanya tujuh bulan ia tertipu oleh rayuan manis buaya darat tersebut. Sehingga ia tidak begitu terluka, karena tidak terlalu banyak kenangan manis bersamanya. Karena selama tujuh bulan menjalin hubungan, ia hanya bertemu seminggu dua kali karena kesibukan masing-masing. Nadin yang benar sibuk, tapi entah dengan buaya darat tersebut. Entah sibuk sesungguhnya, atau sibuk dengan selingkuhannya. Nadin tidak begitu memperdulikannya. Hari ini Nadin tidak memiliki rencana apapun dan ke manapun. Nadin hanya akan bersantai di dalam kamarnya, dengan ditemani oleh lagu-lagu pop dari berbagai grup band Indonesia maupun barat. Gadis cantik dan ceria itu selalu ditemani oleh musik bergenre pop, grup band Ungu salah satunya. Lagu Luka Disini menurutnya sangat pas dengan isi hatinya. Kekasihnya yang bernama Putra, ralat mantan kekasihnya berselingkuh dengan teman kuliahnya dulu yang bernama Putri. Apakah Nadin marah kepada mereka berdua? Menangis? Memaki? Jawabannya tentu tidak. Nadin justru memberikan selamat pada keduanya. Nadin memergoki mereka Ketika ia tidak sengaja melihat mereka berdua, di sebuah taman sedang duduk dengan saling merangkul. Sesekali Putra mengecup puncak kepala Putri. Nadin hanya melihatnya dengan senyuman yang miring. Sekitar 15 menit memperhatikan kedekatan mereka berdua, barulah Nadin menghampiri mereka dari arah belakang, karena Nadin berniat untuk mengagetkan mereka berdua. Sesampainya di belakang bangku yang mereka duduki, Nadin mencondongkan kepalanya tepat di sebelah telinga Putra dan berkata. "Cie… yang lagi mesra-mesraan." Sepasang manusia itu kaget bukan main dan langsung memisahkan diri mereka berdua. "Tadi katanya lagi banyak kerjaan di kantor. Kok sekarang malah lagi peluk-pelukan sambil cium-cium kepala sih? Aku 'kan jadi pengen!" lanjutnya meneruskan kalimat sindiran. Sepasang manusia yang baru saja seperti mendapatkan shock therapist itu hanya diam, dengan wajah si wanita yang terlihat pucat, sedangkan wajah si pria yang semula tegang berusaha kembali menjadi normal. "Kok pucet sih Put mukanya? Padahal mah santai aja kali. Gue gak marah kok, gue cuma heran aja, serius! Kenapa lo gak bilang kalo suka sama cowok gue, eh mantan deh, karna mulai sekarang kita putus!" ucapnya dengan menatap mereka berdua secara bergantian. Membuat si pria langsung protes. "Aku ga ada hubungan apa-apa sama dia, Yang. Sumpah! Aku gak mau kita putus!" Putra menyangkal kedekatannya dengan Putri. Nadin mengangguk-angguk kepalanya dengan pipi yang digelembungkan, membuat mimik wajahnya terlihat imut. "Aku ga bilang kamu punya hubungan sama dia, aku cuma bilang kamu sama dia lagi mesra-mesraan!" "Gue tadi cuma lagi cerita sama Putra kok, Karna sedih mangkanya Gue peluk dia!" Nadin tersenyum miring dengan penyangkalan kedua sejoli dihadapannya. "Ya udah, gue gak mau memperpanjang masalah. Intinya gue mau kita putus! Mau lo berdua punya hubungan apa engga gue gak perduli. Yang pasti gak ada curhat antara pacar sama temen gue yang peluk-pelukan sambil cium-cium kepala dengan mesra!" tanpa menunggu protes dari keduanya, setelah mengatakan itu Nadin bergegas pergi meninggalkan kedua sejoli tersebut. Entah mengapa Nadin tidak merasakan sedih sama sekali. Gadis itu hanya sedikit kecewa, ya hanya sedikit. Mengingat kejadian kemarin membuatnya tersenyum lucu ketika membayangkan wajah shock keduanya. "Nadin! Kamu ga mau turun? Gak mau sarapan? Mamah bikin nasi goreng telor ceplok!" ibunya berseru sambil menggedor pintu kamarnya membuat Nadin bergegas dengan semangat, membuka pintu dan langsung melesat menuju meja makan. Nasi goreng telor ceplok adalah sarapan favoritnya. Menu sederhana yang selalu terasa spesial walaupun ia memakannya setiap hari. Karena hanya itulah menu yang sering ia santap di tengah kesibukannya bekerja. Nadin merupakan seorang distributor jenis makanan Frozen food terbesar di Jakarta. Sehingga tak jarang ia lebih sering menghabiskan waktunya di tempat kerja di banding rumahnya sendiri. Berawal dari menjadi reseller kecil semasa remajanya. Dengan modal disiplin, ulet dan tekun, sehingga mampu menjadi seorang distributor terbesar di ibukota. Nadin memang pekerja keras dari ia kecil. Nadin kecil selalu di larang kedua orang tuanya untuk berjualan. Danur merasa mampu memenuhi semua kebutuhan anak dan istrinya dalam segala hal. Tetapi Nadin gadis yang selalu ingin mendapatkan semuanya dari hasil usahanya sendiri. Ingatan dahulu ketika Nadin duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Ketika itu Nadin ingin membeli sepatu roda dengan harga 250 ribu rupiah. Nadin tak pernah menyampaikan keinginannya pada orangtuanya. Pun ketika Danur berkata akan membelikan sepatu roda untuknya, Nadin langsung menolak, dengan alasan tidak suka. Karena Nadin ingin membelinya dengan uangnya sendiri. "Ayah! dih, jangan di abisin dong nasi gorengnya!" Nadin berseru sambil berlari menuruni tangga. Danur yang melihat kelakuan anaknya menghentikan kunyahan nya. "Hati-hati Nadin, kamu itu udah besar tapi kelakuan masih kaya anak kecil aja!" "Kalo gak lari nantinya nasi goreng aku diabisin sama Ayah!" jawabnya dengan tangan yang sedang menyendok nasi ke piringnya. Danur mendengus mendengar pembelaan anaknya. "Emang kamu kira perut Ayah karung apa? Nasi goreng segini banyaknya sampe abis!" Nadin nyengir kuda mendengar ucapan ayahnya. "Alhamdulillah kalo begitu. Ya udah, selamat makan, Yah." ujarnya dengan wajah yang dibuat seimut mungkin, membuat Danur menggelengkan kepalanya heran. Setelah menyelesaikan sarapannya Nadin kembali ke kamar untuk melanjutkan aktivitasnya, mendengarkan musik sambil bernyanyi. Baru saja ia akan membuka aplikasi pemutar musik, sebuah panggilan masuk ke handphone-nya. Nadin tersenyum miring membaca nama si penelpon. "Halo, Sayang. Aku minta maaf soal kemarin. Tapi serius aku sama Putri gak ada hubungan apa-apa. Kamu harus percaya sama aku, Please!" "Gue udah bilang, mau lo ada hubungan apa enggak sama si Putri, itu bukan urusan gue. Lo bebas mau mesra-mesraan sama siapapun. Karna mulai dari kemarin lo buka lagi cowok gue. Tapi tenang aja, gue gak marah apalagi benci sama lo berdua. Kalo lo mau temenan juga gue welcome kok. Tapi inget cuma temen!" "Tapi aku ga mau putus sama kamu, Yang. Aku sayang banget sama kamu. Please jangan putusin aku. Aku ga mau jadi temen kamu. Aku maunya jadi suami kamu." "Maaf, gue tipe orang yang selektif buat nyari calon imam. Lagian gue juga gak ada niatan buat jadiin lo calon suami gue. Karna jujur dari awal hubungan gue ngerasa hambar banget sama perasaan gue ke lo. Ngeliat kelakuan sibuk lo sama kerjaan. Apa sama selingkuhan yang gue gak pernah tau. Hidup lo cuma milik lo doang, lo ga pernah anggap gue ada. Jadi sekali lagi maaf. Kita masih bisa temenan. Gue rasa itu lebih baik. Gue mau bantuin nyokap, kalo gak ada hal penting lainnya gue matiin sekarang. Bye." Setelah mematikan sambungan teleponnya, Nadin menggelengkan kepala sambil menatap handphonenya. Ia tersenyum kala mengingat bagaimana hubungannya dengan Putra yang memang benar-benar terasa hambar. Putra yang selalu beralasan sibuk jika ia sedang membutuhkannya. Tidak jarang Nadin di ledek oleh teman-temannya dengan sebutan punya pacar kok kayak jomblo. Sekarang tanpa perlu mencari tahu kebenaran akan alasan Putra. Nadin sudah tahu jawabannya. Ya, Putra selingkuh darinya. Nadin mengambil pigura kecil yang terletak di nakas kecilnya, itu adalah fotonya bersama putra ketika mereka piknik di sebuah taman bunga bersama teman-temannya yang lain. "Dasar buaya darat, tukang selingkuh, untung gue gak cinta-cinta amat sama lo!" ujarnya dengan menunjuk-nunjuk wajah Putra di fotonya. Sekali lagi, Nadin merasa beruntung karena memang dia tidak mencintai Putra dengan sepenuh hatinya, sekarang pun hatinya seolah biasa saja, Nadin tidak terlihat seperti orang yang sedang patah hati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook