Arega Dewa Sarani (Rega)

1075 Words
Seperti biasanya, seorang Arega Dewa Sarani selalu disibukkan dengan tumpukan dokumen yang selalu saja memenuhi meja kerjanya. Ruangan yang didesain dengan cozy pun tidak bisa menghilangkan kepenatan yang ia rasakan. Apalagi jika memikirkan sore nanti ia akan bermacet-macetan di tengah jalan kota Jakarta. Terdengar suara pintu yang diketuk dari arah luar yang Rega yakini itu adalah Reno asistennya. "Masuk!" perintahnya dari dalam. "Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Reno dengan sopa. "Formal banget sih, lo?" tanyanya dengan nada tidak suka. "Ini masih di kantor, Bos!" Rega memutar bola matanya jengah. "Serah lo aja dah. Gimana buat peresmian gudang baru?" Reno berdehem sebelum menjawab pertanyaan bosnya. "Sejauh ini semuanya lancar. Tinggal nunggu finishing aja sih," jawabnya dengan santai. "Bagus kalau begitu, pantau terus perkembangannya jangan sampai ada yang terlewat." "Siap Bos, laksanakan." Setelah mendengar laporan dari Reno sahabat sekaligus asisten pribadinya, Rega berdiri dari kursi kebesarannya, melepaskan jas yang ia pakai, lalu berjalan menuju sebuah gantungan yang tersedia untuk menggantungkan jas tersebut di sana. Setelahnya Rega menghampiri Reno di sofa yang didudukinya. Duduk di sofa tunggal untuk mengobrol bersama Reno. Reno memiliki kesepakatan atau peraturan yang dibuatnya sendiri, jika Rega masih memakai jasnya berarti sikap Reno harus formal di manapun itu. "Besok liburan yuk," ajak Rega pada Reno yang sedang meminum segelas kopinya. "Ke mana?" tanyanya bingung, tumben sekali Rega mengajaknya traveling. "Ke Sawarna, sekalian mau cek rumah gue yang di sono." Rega sedang membangun sebuah rumah di deretan pantai, Rega sangat menyukai segala hal berbau pantai. Menurutnya pantai memberikan ketenangan. Wisata air asin tersebut selalu memanjakan mata dan juga pikirannya. Dan untuk daerah Kulon Indonesia tersebut menjadi salah satu tujuan kesukaan Rega. "Gasken lah, berdua aja apa ada tambahan personil nih?" "Se-Rt bila perlu lo bawa," dengus Rega menjawab pertanyaan Reno. "Gue pengen bawa cewek gue sih, kayaknya seru." Reno berandai jika dirinya membawa Viona, wanita yang minggu kemarin menemaninya di ranjang hotel. "Gue mau liburan ya, bukan maksiat!" Kelakuan buruk Reno yang tidak pernah lepas dari memainkan aset wanita, membuat Rega kadang kesal. Bukan sok suci, Rega pun mengakui jika dirinya bukan laki-laki yang baik. Namun, Rega tidak seperti Reno yang setiap pergi ke manapun harus selalu ada seorang wanita disampingnya. Apalagi terkadang Reno yang tidak bisa mengontrol nafsunya, sehingga harus menyewa gadis malam untuk bertarung di ranjang dengannya. Sedangkan Rega sendiri, selama hidupnya tidak pernah berhubungan intim dengan wanita bayaran apalagi sampai membobol gawang perawan. Selama ini paling jauh Rega hanya memainkan kedua bukit kembar wanita, itupun kepunyaan wanita yang memang dikenalnya, tanpa wanita itu tau siapa dirinya. Ya, memang seorang Arega Dewa Sarani tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Lebih tepatnya, belum ada seorangpun wanita yang mampu mendebarkan hatinya. Jomblo yang berkelas menurutnya. Karena sudah banyak wanita yang datang menggoda, tetapi tidak ada yang membuat hatinya jatuh pada pesona wanita-wanita tersebut. Di umurnya yang sudah 27 tahun lewat 20 hari tersebut belum pernah sekalipun Rega terlibat hubungan dengan seorang wanita. Terkadang hal itulah yang membuat Ibunya khawatir. Pasalnya, sang anak tidak pernah sekalipun meminta izin untuk berkencan dengan seorang wanita. Rega begitu menghormati dan menyayangi kedua orangtuanya, tidak heran, setiap apapun yang dilakukannya selalu meminta izin terlebih dahulu dari orang tuanya, terutama sang ibu. Padahal ibunya tidak tahu kelakuannya diluar sana, yang sering ke hotel hanya untuk sekedar make out tanpa making love. Itupun dengan penuh syarat dan peraturan darinya sebagai raja, untuk para wanita yang bukit kembarnya akan menjadi santapan baginya. Rega begitu tertarik pada kedua bukit kembar wanita, bagi Rega p******a wanita merupakan hal paling indah untuk dilihat, dengan tonjolan kecil yang terkadang berwarna hitam, coklat dan ada juga yang berwarna pink, itulah yang membuatnya selalu ingin berada di antara keduanya. Di umurnya yang sudah menginjak tahap dewasa sering kali Rega menanyakan pada Reno, apa rasanya berpacaran? Karena sampai saat ini, dirinya hanya akan berdua dengan wanita yang akan dimainkan bukit kembarnya di hotel, dengan mata si wanita yang tertutup, juga tangan yang terikat. Jika kalian tanya itu ulah siapa? Sudah pasti itu ulah Reno atas perintah Rega. Karena Rega tidak ingin diketahui bahwa dirinya yang melakukan hal tersebut. Reno seringkali menyebutnya tidak normal, kenapa tidak normal? Karena jika sudah berada berdua di dalam kamar, bersama wanita yang pasrah untuk disentuhnya, Rega hanya akan fokus pada kedua bukit kembarnya, tidak akan menyentuh kebagian manapun selain itu. Jika Reno bertanya apa alasannya? Jawabannya hanya karena itulah yang paling menakjubkan dan menggemaskan, dan takut dosanya semakin banyak. Sehingga bagian yang lainnya terasa tidak penting dan dia pun tidak berani, karena takut terjadi sesuatu di luar kendalinya. Terkadang sebagai rasa kemanusiaan Reno terhadap wanita yang telah diliputi gairah oleh Rega, maka Reno lah yang akan menyelesaikan semua hasrat sang wanita. Padahal itu hanya alasannya saja. "Aelah dikit doang, paling juga gue grepe-grepe dikit. Kaga pake tubles," balas Reno yang selalu menganggap pikiran Rega kolot. "Sama aja, Bangke! Kaga ada bawa-bawa cewek. Gue mau kita berdua aja," tegas Rega yang malah membuat Reno menaikkan sebelah alisnya. "Ngapa ekspresi muka lo begitu?" kesalnya yang melihat ekspresi wajah Reno yang seolah meledeknya. "Lo gak berubah haluan, 'kan? Lo masih normal, 'kan? Lo masih suka lawan jenis, 'kan? Jangan-jangan efek jomblo abadi mangkanya lo pindah haluan lagi jadi suka sama gue, mangkanya pengen berdua doang. Ngeri gue soalnya," rentetan pertanyaan Reno dengan meledek Rega, membuat Rega menjahilinya. Rega pindah duduk ke sebelah Reno dan memegang tangannya, membuat Reno mengibaskan tangannya. "Sebenernya aku udah lama suka sama kamu. Selama ini aku cuma mau kamu. Dan sekarang kamu udah sadar perasaan aku, aku seneng banget." Rega berbicara dengan suara dan gerak tubuh yang gemulai, membuat Reno bergidik ngeri. "Wah! s***p nih orang." Reno menyentuh kening Rega dengan punggung tangannya, setelahnya ia bawa punggung tangannya ke arah pantatnya, "Wah, pantesan. Panasan jidat lu daripada p****t gue," tukasnya dengan diiringi tawa. "Si Monyet!" Rega menoyor kening Reno, memang susah sekali untuk menjahili Reno. Rega tidak pernah berhasil akan hal itu. "Pergi lo sono, inget gak boleh bawa cewek. Kalo lo berani, liat aja apa yang bakalan gue lakuin," ancamnya pada Reno, yang membuat Reno mendengus kesal. "Kalo ngebunuh gak dosa, udah gue bunuh lo!" setelah itu Reno pergi dengan diiringi tawa kemenangan dari Rega. Seperti itulah persahabatan mereka berdua, yang selalu diiringi dengan keributan. Namun, baik Rega maupun Reno, merupakan sahabat sejati yang akan saling rangkul dan membantu disaat salah satu dari mereka dalam kesulitan. Mereka tidak segan saling melukai fisik jika sedang salah paham atau pun ketika saling menyadarkan. Kedua orang tuanya pun sudah hafal akan hal tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD