Rega dan Reno merealisasikan rencana mereka untuk traveling ke daerah pantai Sawarna bagian Kulon Indonesia. Membawa ransel kecil yang berisi pakaian dalam dan juga peralatan mandi. Untuk baju dan yang lainnya, mereka akan membelinya di sana. Kebiasaan mereka berdua jika traveling tidak pernah membawa baju ganti, karena lebih memilih membeli di tempat tujuan. Alasannya mereka tidak mau repot dengan tas yang berisi penuh.
Menempuh perjalanan sekitar empat jam dari Jakarta sampai ke Sawarna. Mereka tiba di rumah Rega yang tinggal proses finishing. Rumah yang berdiri di atas tanah seluas tiga hektar itu terlihat begitu mewah dan sangat sejuk. Rumah dua lantai yang di belakang rumahnya terdapat banyak pohon kelapa dan langsung terhubung menuju pantai.
"Gila! gak nyangka gue jadinya sebagus ini rumah Lo?" decak Reno yang kagum dengan rumah baru Rega.
"Gue lebih suka sama view nya sih, Adem banget." Rega menghirup udara pantai yang segar. Yang selalu mampu menenangkan pikirannya. "Nanti gue bakal ajak calon bini gue kesini. Liat sunset sambil duduk meluk dia." khayalan Rega terpecahkan oleh tawa dari Reno.
"Gak salah Lo?" tanya Reno setelah berhenti dari tawanya.
"Salah kenapa?" tanya Rega bingung.
"Emang Lo normal? Liat cewek telanjang bulat aja Lo gak h***y," jawab Reno geli.
"Si Anjing! Bukan gak h***y Pea, Gue cuma nahan aja. Gue gak mau sembarangan nanem bibit unggul gue di sawah mencong cewek. Gue pengen bibit unggul gue ditanem di ladang yang subur dan semestinya," jawab Rega bangga.
"Tinggal pake karet pengaman kalo Lo gak mau nanem di sawah mencong, kelar urusan. Bukan kayak gitu," balas Reno.
"Itu zinah, Pea! dilaknat nya sampe 40 tahun Lo, mending umur Lo nyampe segitu? Ingatlah wahai sahabatku, neraka menantimu."
Rega bukan menasehati, lebih tepatnya mengolok Reno, membuat Reno mendengus dengan semua ucapannya.
"Lo kira maenin bukit kembar cewek bukan zinah?" tanya Reno kesal.
"Zinah sih, tapi 'kan gak gede," bela Rega untuk dirinya sendiri.
"Yang namanya zinah tetep dosa, Pea. Mau gede mau kecil juga."
"Ya tetep aja gak Segede kalo bercocok tanam," kekeuh Rega. Reno hanya memutar matanya jengah, Urusan berdebat Rega tidak akan mau kalah.
"Serah Lo lah, selagi dosa itu gak berbentuk jendol kayak bisul di jidat, berarti masih aman buat gue."
Rega menggelengkan kepala mendengar jawaban sahabatnya yang terlampau gila. Bertanya pada diri sendiri tentang mimpi apa ia sehingga mempunyai teman seperti Reno.
"Semoga kau segera mendapatkan hidayah anak muda." Rega berlalu sambil menepuk-nepuk bahu Reno.
Reno mengikuti Rega masuk ke dalam rumah, mereka melakukan house tour. Reno begitu terpukau pada suasana yang dihadirkan dalam setiap sisi luar maupun dalam. Sebagian orang bilang bahwa ombak di pantai Sawarna adalah replika ombak di pantai Kuta Bali. Di mana ombaknya bergelung-gelung manja dan sangat cocok untuk dijadikan sebagai olahraga surfing.
Rega dan Reno berganti baju dengan pakaian pantai yang tadi di belinya di pedagang yang berbaris sepanjang jalan. Kemeja dengan bahan halus bermotif pantai, celana pendek yang lebih mirip kolor selutut dengan motif pohon kelapa.
Mereka berdua berjalan menuju belakang rumah, melewati rumput Jepang yang sengaja ditanam. Kanan dan kirinya terdapat pohon kelapa yang berbuah lebat. sekitar 200 meter barulah mereka Sampai di gerbang belakang dan menginjakkan kaki di atas pasir putih yang halus.
Rega berseru senang melihat panorama alam yang begitu memukau. Jam yang menunjukkan pukul 17.25 Wib, matahari yang sudah condong ke arah barat dan mulai membiasakan sinar jingganya, sebentar lagi sunset akan segera muncul.
Rega sudah tidak sabar menantikannya. Rega tipe laki-laki yang suka akan hal-hal romantis. Walaupun tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita secara terikat, tetapi Rega selalu berkhayal, jika suatu saat nanti ia bisa memeluk kekasihnya dari belakang untuk menyaksikan sunset bersama. Hal yang sangat mudah andai saja hatinya telah jatuh pada seorang wanita. Namun, sayang sampai saat ini belum ada satu wanita pun yang mampu menjatuhkan hatinya.
"Ngelamun mulu Lo?" Reno datang dengan membawa dua botol minuman bersoda.
"Lagi ngayal gue," jawabnya jujur.
"Ngayal Mulu hidup Lo, mangkanya buka hati sama mata. jangan buka celana mulu," ujar Reno asal.
"Mata gue udah kebuka ya, cuma kalo buat hati, sorry to say ya, gue gak mau sembarangan. Lagian sampe sekarang gue belum pernah ngerasain gitu tertarik liat cewek selain bukit kembarnya."
Rega memang hanya tertarik pada bukit kembar perempuan, bukan wajah apalagi bagian bawah yang disebut apem oleh Reno.
"yaelah! lurus amat hidup Lo, ketagihan Lo kalo udah ngerasain Apem cewek." Reno memang sangat giat jika berurusan dengan Perapeman wanita.
"Gak minat, takut jadi repot urusannya. Bisa-bisa digantung di pohon toge gue."
Rega yang tidak pernah berani melewati batas untuk menyentuh wanita. Rega yang selalu berpikir jika sekali tanam akan langsung jadi, hal itu yang membuat Reno berpikir bahwa Rega antara polos dan b**o itu memang beda sedikit. Reno sering berkata jika banyak cara agar benih dengan kualitas unggulnya tidak jadi, maka ia harus memakai pengaman ataupun di keluarkan di luar saja. Tetapi lagi dan lagi Rega berdalih jika tidak rela bibit unggul miliknya dikeluarkan dengan sia-sia, tanpa ada ladang yang pas untuk menampungnya.
"Emang ya, antara polos dan g****k itu bedanya tipis banget," ujar Reno kesal.
"Otak Lo kudu di ruqyah, biar isinya jangan apem cewek mulu."
"Ngomongin apem gue jadi pengen," perkataan Reno membuat Rega mendelik tajam.
"Berani maksiat di rumah gue, gue kebiri o***g Lo," ancam Rega. "Di selametin aja belom udah dipake maksiat, Sial tujuh turunan gue ntarnya." Sambung Rega
"Yaelah Kolot." Menurut Reno pikiran Rega itu terlalu kolot, dan tidak asik untuk diajak bersenang-senang.
"Menjaga lebih baik daripada mengobati," jawab Rega cuek.
"Ya udah serah Lo, gue mau nyamperin cewek yang di sana tuh, dari tadi liatin ke sini aja."
Dengan percaya diri Reno menghampiri kedua wanita yang melihat ke arah mereka berdua. Sedangkan Rega memilih masuk kedalam rumahnya, untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Walaupun kelakuannya tidak baik Rega masih tetap menjalankan kewajibannya yaitu Sholat, walaupun terkadang hanya maghrib dan subuh yang ia laksanakan. Rega tidak memperdulikan kelakuan Reno yang sedang mengeluarkan jurus gombal andalannya untuk merayu para gadis. Apalagi Rega melihat dari cara tatapan kedua wanita tadi, yang seperti sedang menggoda mereka berdua.
Reno akan dengan senang hati menggoda gadis-gadis seperti itu. Bagi Reno gadis seperti itu merupakan tangkapan mudah. Reno dengan ketampanan dan ketebalan dompetnya tidak akan mengecewakan mereka. Juga dengan kemampuannya di atas ranjang yang pasti akan membuat para wanita kewalahan mengimbangi nafsunya.
Rega juga akan dengan mudah mendapatkan jika ia mau. Namun, kembali lagi Rega hanya tertarik pada dua bukit kembar para wanita dengan puncak yang lucu dan menggemaskan, yang seperti minta disedot olehnya jika sudah terkena sentuhan tangannya.
Membayangkan itu membuat Rega bergidik ngeri. Tujuannya masuk ke dalam rumah untuk beribadah, bukan malah membayangkan hal-hal m***m seperti tadi.