Pandangan Pertama

1157 Words
Seminggu sudah Nadin putus hubungan dengan Putra. Hidupnya seolah tanpa beban, karena tidak harus memikirkan sedang apa kekasihnya, sudah makan atau belum, lembur apa tidak, dan masih banyak lainnya. Karena Nadin tipe wanita yang begitu perhatian pada kekasihnya. Namun, walaupun seperti itu Nadin selalu membentengi hati untuk tidak terlalu dalam mencintai. Karena bagi Nadin hatinya akan diberikan sepenuhnya pada sang suami kelak, bukan hanya pada seseorang yang baru berstatus pacar. Berjaga-jaga untuk tidak patah hati terlalu dalam saja, itu menurutnya. Ini adalah hari Senin, hari di mana sibuk-sibuknya pekerjaannya. Nadin sibuk mondar mandir mengecek setiap stok yang baru datang di tempatnya. Walaupun ada karyawan yang mengerjakannya, tetap Nadin akan turun tangan sendiri. Bukannya tidak percaya, hanya saja menurutnya kurang afdol jika tidak melihat secara langsung proses pengecekannya. "Ini datanya udah bener semua sama barang yang datang?" tanyanya pada Rima, bagian stok pencatatan barang. "Udah Mbak. Hari ini cuma datang 2 boks ya?" tanya Rima. "Iya," jawabnya dengan meneliti laporan dari pencatatan Rima. "Nanti kirim barang ke toko Mega Mulya ditambahin ya, kemaren orangnya telepon langsung sama aku, Sosis, cumi-cumi, sama fish roll." Rima mengangguk, setelah menyampaikan itu, Nadin kembali ke ruang kerjanya untuk memeriksa laporan semua barang yang keluar masuk. Nadin akan larut dalam pekerjaan jika sudah memulainya. Hingga tidak terasa jam sudah memasuki waktu makan siang. "Udah jam makan siang? Gak kerasa banget sih," tanyanya pada diri sendiri. Bergegas Nadin mengambil tas selempang nya dan pergi menuju kafe tempatnya bertemu dengan Mega sahabatnya. Gadis cantik pemilik toko Mega Mulya, salah satu toko yang mendapatkan suplai Frozen food dari CV Nadin. Walaupun Nadin pemiliknya, tetap Nadin mengikuti jam kerja yang telah ditetapkannya. Karyawannya masuk pukul delapan pagi, istirahat jam 12 siang dan pulang jam lima sore. Nadin melajukan mobil menuju tempat janji temunya. Mega tipe wanita yang selalu on time, sudah bisa dipastikan sahabatnya itu pasti akan mengoceh begitu Nadin datang. Karena sekarang pun handphonenya telah menerima beberapa pesan dari gadis cantik itu. Jarak antara kantornya menuju kafe membutuhkan waktu sekitar 15 menit, begitu sampai Nadin langsung masuk dan menuju tempat Mega berada. Sahabatnya itu sudah duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dan jangan lupakan tangan yang dilipat di bawah dadanya, juga bibir yang komat Kamit tidak jelas. "Bagus banget, jam segini baru dateng. Bisa-bisa pingsan di sini gue," sindirnya ketika Nadin datang dengan senyum tanpa dosanya. "Baru mau, 'kan? Belom pingsan beneran?" tanya Nadin yang mendapatkan toyoran di kepalanya oleh Mega. "Si Pea! tiga liter setengah ini," seru Nadin dengan merapikan rambutnya. "Cepetan pesen, laper gue!" perintah Mega pada Nadin. "Karena Lo telat, jadi Lo yang bayar." Mega mengultimatum pada Nadin. "Bangkrut gue temenan sama Lo yang on time," balas Nadin. "Mangkanya, jadi orang belajar disiplin, biar menghemat dalam segala hal. Apalagi masalah waktu, waktu tuh berharga banget di setiap detiknya. Mulai sekarang hargailah waktu yang anda punya walaupun hanya satu detik," tutur Mega pada Nadin. Kata-kata yang selalu di ucapkan dengan penuh drama, namun besar akan maknanya. "Njeh Ndoro." seperti biasa, Nadin akan menjawab seperti itu juga. Membuat Mega mendengus akan tingkah sahabat terkutuk nya itu. "Sore jadi gak?" tanya Mega. Karena Nadin mengajaknya untuk mengunjungi anak-anak jalanan untuk membagikan buku dan juga pakaian, serta uang jajan. Hal yang sudah mereka jalani dari zaman putih abu-abu. Mereka akan mengumpulkan buku bekas dan juga pakaian untuk di bagikan pada anak-anak jalanan. Jika mereka memiliki waktu yang cukup, maka mereka berdua akan mengajarkan anak-anak itu untuk belajar, entah itu menulis maupun berhitung. Impian mereka adalah membangun sekolah untuk anak-anak yang kurang beruntung tersebut. "Jadi dong, kemaren gue dapet tambahan buku sama baju," jawab Nadin semangat. "Oke, ntar gue jemput ke kantor lo. Bawa mobil gue aja lah," saran Mega yang disetujui oleh Nadin. Pesanan mereka datang, dan langsung makan dengan diiringi obrolan yang lebih mengarah ke rencana untuk mereka nanti. Berteman dari mulai seragam merah putih hingga lulus kuliah, mempunyai impian yang sama dengan karakter yang berbeda. Nadin yang penuh semangat, tekun ulet, dan kurang disiplin terhadap waktu. Berbeda dengan Mega yang gampang menyerah dan mengeluh, tetapi begitu disiplin masalah waktu. Nadin berasal dari keluarga cukup berada. Apalagi Mega yang memang anak salah satu konglomerat Indonesia. Mega memutuskan membuka toko dengan suplai barang dari Nadin atas desakan Nadin juga. Di awal Mega selalu ogah-ogahan dalam menjalankan tokonya, tetapi atas bantuan Nadin, tokonya pun menjadi ramai dan cukup lumayan besar. Toko yang di bangun tanpa sepengetahuan orang tuanya, yang menambah pundi-pundi isi ATM nya. Toko yang baru berjalan selama dua tahun itu mengalami kemajuan pesat. Mega merupakan orang paling perhitungan masalah uang, Mega akan sangat rinci dalam berhitung. Prinsip persahabatan mereka adalah. Teman ya teman, Bisnis ya bisnis. Lo susah gue bantuin, lo seneng gue porotin Slogan yang mereka gunakan untuk persahabatan mereka. Jangan mengira mereka tidak pernah ribut atau semacamnya. Mereka jika ribut bahaya, karena terkadang tidak segan memukul dan mengeluarkan bahasa-bahasa binatang, untuk menyadarkan salah satu dari mereka bila memang salah. Apalagi jika salah satu dari mereka salah dan ngeyel jika diberitahu, maka itu akan terjadi baku hantam yang berakhir menangis bersama. "Oke gue tunggu." Setelah itu mereka kembali melanjutkan makan dan pulang ke tempat kerja masing-masing. *** Sore harinya Nadin dan Mega merealisasikan ucapan mereka, dengan membawa Honda jazz berwarna merah menyala milik Mega, mobil penuh dengan satu kardus buku, satu kardus pakaian dan juga kotak makanan. Lokasi mereka saat ini berada di kolong jembatan di salah satu lampu merah yang ada di Jakarta. Jam pulang kantor membuat jalanan padat oleh kendaraan roda empat maupun roda dua. Pemandangan yang sudah biasa bagi penduduk ibukota. Matahari yang sudah condong ke arah barat membuat anak-anak jalanan berkumpul di bawah jembatan itu. Mereka bersorak ketika melihat Nadin dan Mega datang. "Halo anak-anak," sapa Mega dengan semangat, Nadin menunggu di mobil untuk mengeluarkan barang bawaan mereka. "Halo, Kak!" jawab mereka kompak. "Pitok, Ipong sama Mence, bantuin Kakak bawain barang-barang ke sini yuk," ajak Mega pada pada anak yang berusia 10 tahun. Dengan semangat mereka mengikuti Mega, untuk mengambil plastik berisi makanan dan juga kardus berisi buku-buku juga pakaian layak pakai. "Pitok bawa kardus yang itu, Ipong yang Itu, Mence bantu Kakak bawa plastik ini." Mega membagi barang bawaannya. Ada sekitar 10 anak di sana, dan terkadang ada yang datang lagi, maka dari itu mereka membawa 20 kotak nasi Padang, untuk di bagikan. Nadin dan Mega tersenyum lebar ketika melihat antusiasme anak-anak jalanan itu menerima barang bawaan mereka. Berkali-kali mengucapkan kata terima kasih, dan memuji. Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh semua orang jika mereka mau. Karena sebenarnya, manusia bukan tidak mampu untuk berbagi, hanya saja mereka terlalu pelit untuk mengeluarkan uang yang tersembunyi rapi di dalam kartu Atm-nya. Nadin dengan semangat dan ceria membagikan satu persatu kotak makanan yang dibawanya, waktu yang beranjak senja membuat sinar matahari menjadi berwarna jingga. Bias cahaya yang menerpa wajah Nadin membuat seseorang yang berada di dalam mobil begitu memperhatikannya. Senyum ceria Nadin entah mengapa bisa membuatnya juga tersenyum. Untuk pertama kalinya lelaki itu merasa begitu bersyukur atas kemacetan di tengah kota Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD