Terpesona

1063 Words
Ditengah kemacetan lalu lintas kota Jakarta seorang lelaki tampan dengan sejuta pesonanya, tengah memperhatikan seorang wanita cantik yang sedang membagikan makanan kepada anak-anak jalanan. Wajah cantiknya begitu bersinar diterpa cahaya matahari sore yang mulai meredup. Senyumnya yang indah mampu meluluhkan hatinya yang tidak pernah tersentuh oleh wanita. Entah mengapa, melihat senyumnya yang merekah membuat ia pun tersenyum dengan bodohnya. Seperti ada aliran listrik yang menghantarkan senyum itu juga pada bibirnya agar ikut tersenyum. "Cantik, baik, dengan senyum yang indah." Kata-kata yang terlontar dari mulutnya dengan mata yang terus memandang cerminan bidadari, yang berada beberapa meter di samping mobilnya. Mungkin ini kali pertama ia bersyukur pada kemacetan yang terjadi di ibukota Jakarta. Di jam pulang kerja seperti ini macet bukanlah hal yang aneh. Tetapi ia sangat amat bersyukur untuk kali ini. Karena macet, ia bisa memandang gadis itu berlama-lama. Sekitar 20 menit kemudian, ia pun harus rela meninggalkan pemandangan indah tersebut, karena mobil di depannya mulai berjalan. Begitu sampai dan memarkirkan mobil dengan sempurna, ia pun segera masuk dan langsung disambut dengan senyum hangat ibunya. "Assalamualaikum, Bu." Rega mengucapkan salam setelah sampai di hadapan sang ibu. "Waalaikumsalam, tumben pulang jam segini?" tanya Renata yang heran, karena biasanya anaknya akan pulang setelah waktu maghrib. "Mulai hari ini dan seterusnya, Ega bakal usahain pulang sore." "Janji ya!" "Ya gak janji juga, cuma di usahain!" Ia menegaskan kembali. "Ya udah, awas bohong!" ancam ibunya dengan tatapan tajam. "Serem Bu matanya biasa aja dong," jawabnya sambil merebahkan kepala di pangkuan ibunya, menyingkirkan majalah yang sedang dibaca oleh sang ibu. "Kamu ini udah tua juga masih kayak anak kecil, udah waktunya nikah kamu itu!" ucapan ibunya membuat nya hanya mengangguk-anggukkan kepala yang berada di pangkuan sang ibu. "Mandi dulu sana," perintah sang ibu dan langsung di iyakan oleh Rega. Rega beranjak menuju kamar setelah mencium singkat pipi ibunya. Rega merupakan anak tunggal dari pasangan Sudibyo Sarani dan Renata. Dari kecil sikapnya sangat manja pada kedua orangtuanya, karena Renata dan Sudibyo mencurahkan kasih sayang penuh pada Rega. Rega merupakan anak dan cucu kebanggaan dalam keluarga Sarani. Terkadang hal itulah yang menjadi cibiran para sepupunya yang iri terhadapnya. Walaupun hidup mewah bergelimang harta tidak membuatnya menjadi badboy, tidak membuatnya memandang rendah orang, begitu di hormati dan disegani, dan juga begitu manja pada orang tuanya. Rega tidak hanya dilimpahkan harta oleh orang tuanya, tetapi juga kasih sayang yang sempurna. Maka dari itu Rega selalu menomorsatukan kedua orang tuanya dalam hal apapun, dibandingkan dengan dirinya. Di dalam kamar Rega kembali teringat dengan perempuan cantik tadi, salahkan dia yang tidak mengambil gambarnya secara diam-diam untuk di kenangnya. Rega hanya berpikir jika jodoh pasti mereka bertemu. Lagi pula mengambil gambar orang lain secara diam-diam itu kegiatan melanggar hukum, itu yang Rega tau sekilas. Dengan posisi tidur terlentang dan kaki yang menyentuh lantai, Rega menyangga kepalanya dengan kedua tangannya, tersenyum kala mengingat senyum yang terukir begitu sempurna dari perempuan berwajah cantik tadi. "Siapa ya namanya?" tanyanya entah pada siapa, mungkin tembok atau langit-langit kamar. Rega merasa seperti orang yang kurang waras saat ini. Dia tersenyum dan sesekali menutup wajahnya. "Gue kayak abege labil amat ya?" Bangkit dan berjalan ke arah cermin untuk bertanya pada bayangannya sendiri. "Asli, baru kali ini gue ngerasain yang kayak gini? Apa gue jatuh cinta pada pandangan pertama ya?" Rega menyimpulkan kelakuannya sendiri yang tidak seperti biasnya. "Aelah, puitis banget kata-kata gue." Rega menggelengkan kepala dengan tangan memegang dadanya. Rega memutuskan untuk mandi, sebelum pikirannya benar-benar menjadi tidak waras karena bayangan senyum perempuan cantik tadi. Rega membutuhkan air hangat untuk merendam tubuhnya yang lelah. Pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya, juga kemacetan Jakarta yang selalu membuat tubuhnya ingin dimanjakan. Tetapi untuk hari ini, Rega begitu berterima kasih pada macetnya Jakarta. Karena macet ia bisa melihat senyum indah sang bidadari, yang entah turun dari langit ke berapa. Rega berjalan menuju kamar mandi, mengatur suhu air, memberi sabun dan juga meneteskan minyak aromaterapi. Rega seperti anak kecil yang sangat suka bermain busa yang memenuhi bathtub yang menutup seluruh tubuhnya. Baginya hal itu menyenangkan. Lembutnya busa dari sabun itu selalu menjadi bayangan lembutnya bukit kembar perempuan. Semesum itu memang pikiran seorang Arega Dewa Sarani. 25 menit dengan aktivitas mandinya, Rega keluar dengan handuk yang melilit tubuh seksinya, yang akan membuat lapar para perempuan jika melihatnya. Rega begitu menjaga bentuk tubuhnya, olahraga rajin selalu di terapkannya. Setelah memakai baju santai Rega berjalan menuju lemari, membuka laci yang ada di dalamnya, dan mengambil novel dewasa yang kemarin baru dibeli dan belum sempat dibacanya. Walaupun laki-laki Rega sangat menyukai novel dengan Genre romantis dewasa. Rega selalu tertantang untuk membacanya, apakah bisa menahan gairah dari bacaan 21+ yang di tulis dengan begitu erotisnya. Apakah ia mampu menenangkan adik kecilnya ketika sedang membaca adegan 21+ yang ditulis secara detail dan menyeluruh, dan berakhir di kamar mandi bersama sabun mandinya. Karena tidak bisa di pungkiri, setiap kata yang ditulis pada novel tersebut begitu mengundang hasrat dan membangkitkan adik kecilnya. Apalagi ketika menceritakan tentang bagaimana seorang laki-laki yang sedang menikmati bukit kembar sang wanita. Bagian itu yang terkadang membuat Rega tidak bisa menahannya, dibandingkan dengan bagian yang menceritakan adegan masuk memasukan batang ke lubang, genjot menggenjot tubuh, dan lainnya. Karena baginya, dua puncak kecil yang berada di atas bukit kembar perempuan adalah fantasi gairahnya yang paling tinggi. Jika kalian pikir Rega tidak pernah melihat perempuan secara naked? Jawabnya salah. Jangankan secara naked, Rega bahkan sering kali melihat live show adegan 21+ yang dimainkan oleh Reno sahabat laknatnya bersama wanita yang di sewanya. Reno yang bermain di bawah, dan Rega yang memainkan bukit kembar wanita tersebut, dengan tangan si wanita yang diikat dan juga mata yang di tutup oleh kain. Bagaimanapun Rega tidak ingin wanita-wanita bayaran itu mengetahui siapa dirinya. Hal yang selalu mendapatkan julukan tidak berprikemanusiaan oleh Reno. Reno yang selalu tidak tega melihat wanita yang sudah diliputi gairah karena dipermainkan puncak bukitnya. Rega hanya akan fokus pada dua benda kenyal tersebut. Mata, tangan dan mulutnya hanya akan fokus pada benda bulat dan empuk tersebut. Membuat para wanita frustasi dengan bagian bawahnya. Jangan tanyakan bagaimana kondisi adik kecil Rega, karena bagi Rega adik kecilnya bermain dengan bukit kembar wanita sampai mengeluarkan lahar panasnya, itu saja sudah cukup. Dan wanita itu akan diselesaikan dengan baik oleh Reno. Berhati mulia sekali seorang Reno Ragasa, dan kata-kata itulah yang selalu di ucapkan oleh Rega pada Reno, yang telah menyelamatkan wanita dari kobaran api gairah. Mereka memang sahabat yang luar biasa dalam membantu satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD