Tips Mengatasi Mantan

1151 Words
Setelah memberikan sedikit kebahagiaan pada para anak jalanan mereka kembali menuju kantor Nadin untuk mengambil mobilnya. "Gue mau mandi disini aja, lu mau sekalian gak?" tanya Nadin pada Mega. Kantornya memang sudah menjadi rumah kedua bagi Nadin. Di ruangannya sudah sangat lengkap seperti kamar pribadi, hal itu dikarenakan untuk kebutuhan pekerjaan. Tak jarang Nadin harus tidur di kantornya untuk menunggu barang yang akan datang. Barang yang datang dari pabrik terkadang tidak jelas jamnya, sedangkan Nadin tidak mau mengganggu waktu istirahat karyawannya. Nadin juga lebih suka menyendiri di ruangannya, apalagi ketika suasana hatinya sedang tidak baik. "Oke deh, badan gue juga gerah," jawab Mega sambil menyimpan tas kecilnya. Mereka sudah biasa memakai segalanya bersama. Dari mulai makeup, baju dan sepatu bahkan untuk pakaian dalam sekalipun. Memiliki ukuran tubuh yang sama membuat mereka selalu membeli barang satu ukuran. Tidak ada kata jijik ataupun risih untuk mereka berdua. Asal jangan sampai bertukar pasangan saja menurut mereka. "Jangan lama-lama lu mandinya." Peringatan Mega pada Nadin, karena Mega tahu bagaimana ritual mandi Nadin yang membutuhkan waktu tidak sedikit jika mandi. "Paling juga setengah jam," jawab Nadin dengan melangkah menuju kamar mandi. "Heran gue, emang lu kalo mandi ngapain aja sih? Perasaan ritualnya sama deh. Paling juga gosok gigi, cuci muka, sabunan sama shampoan. Sampe 30 menit bahkan bisa lebih, gue paling lama juga 15 menit," gerutu Mega yang membuat Nadin terkekeh di dalam kamar mandinya. Mega tidak tahu saja jika Nadin suka sekali berendam dengan bersosial media di atas bathtub, hal itu selalu Nadin lakukan setiap kali mandi. Karena hal itu pulalah yang membuat Nadin tidak mau bekerja di Perusahaan orang lain. Karena menurutnya, bekerja dengan orang lain itu memerlukan disiplin waktu yang matang, sedangkan Nadin sendiri tipe orang yang lebih suka mengatur waktu sesuka hatinya. Maka dari itu Nadin membangun usahanya sendiri, walaupun selama ini ia pun mengikuti peraturan yang dibuatnya sendiri. "Gak usah ngedumel bae Ibu Mega tanpa Wati," teriak Nadin dari dalam kamar mandinya. "Mandi-mandi aja, Kunti! Jan tereak-tereak kayak di hutan," balas Mega dengan berteriak juga. Nadin tidak membalas perkataan Mega, karena dirinya mulai menikmati air hangat yang menerpa kulit putihnya. Busa yang menutupi seluruh permukaan air seakan menghilangkan rasa lengket yang menerpa kulitnya. Tetesan minyak aromaterapi seakan melenyapkan rasa lelahnya. Membuat Nadin begitu betah berlama-lama, ingin rasanya Nadin memejamkan matanya untuk lebih menikmati sensasi menyegarkan itu. Namun, Nadin ingat jika ada Mega di luar sana, yang pasti manusia satu itu akan menggedor-gedor pintu kamar mandinya bila ia terlalu lama berendam. Sahabatnya itu memang tidak bisa melihat Nadin tenang walaupun sebentar saja. Sedangkan di luar kamar mandi Mega sudah mendengus dengan kesalnya, karena sudah menunggu selama 20 menit, tapi sahabat laknatnya itu belum juga ada tanda-tanda akan keluar. "Pasti tidur nih anak," gerutu Mega dengan kesal. "Medina Dwi Danendra!" teriak Mega dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Gue itung sampe sepuluh, kalo masih gak keluar juga gue acak-acak ruangan Lo!" ancam Mega yang belum sama sekali mendengar bunyi shower yang seharusnya membilas tubuh Nadin. Nadin yang mendengar ancaman Mega langsung keluar dari dalam bathtub dan berdiri di bawah shower. Membilas tubuhnya dengan cepat, karena Nadin tahu bagaimana seorang Mega dengan ancaman nya yang tidak pernah main-main. Temannya itu sedikit kurang waras karena ancaman nya selalu menjadi kenyataan, membuat Nadin harus segera melaksanakan titah darinya. "Bangke Lo, ganggu ketenangan hidup gue aja." Nadin mengomel dengan kesal pada Mega. "Suruh siapa Lo tidur di kamar mandi," jawab Mega cuek dan melangkah menuju kamar mandi. "Jangan lama-lama Lo, gue udah laper." Mega tidak menghiraukan peringatan Nadin, karena tidak perlu diingatkan, karena jam mandi Mega tidak selama Nadin. "Berisik Lo," bentak Mega dengan membanting pintu kamar mandi Nadin. "Pintu gue rusak Gila!" seru Nadin yang sayang dengan pintu kamar mandinya. "Punya temen satu kaga waras," gerutunya sambil memakai baju. Handphonenya berdering tanda adanya panggilan masuk, tertera nama Nidji di sana, yang artinya sang mantan alias Putra. "Mau apa lagi sih nih Sang Mantan?" tanya Nadin pada benda pipih yang masih berbunyi dengan nyaring. Nadin tidak mengangkatnya, karena Nadin berpikir untuk apa dan sepertinya tidak ada hal penting yang harus mereka berdua bicarakan. Nidji: Angkat dong, Yang. Plis! kasih aku kesempatan, aku gak pernah selingkuh dari kamu. Kita cuma salah paham. Putra mengirimkan pesan setelah teleponnya tidak di angkat, ingin rasanya Nadin memuntahkan isi dalam perutnya ketika membaca isi pesan dari putra. Panggilan Yang membuatnya geli sendiri membayangkannya. Itu hanya pesan yang di bacanya, apalagi mendengar secara langsung Putra memanggilnya dengan sebutan Yang, mungkin kulit Nadin akan bentol-bentol jadinya, saking ia merasa jijiknya. Nidji: Please, aku mau ngomong. Sebentar aja. Putra mengirimkan pesan lagi, kali ini dengan emoticon mata berkaca-kaca dan juga kedua tangan yang di satukan sebagai tanda permohonan. Dan lagi, Nadin mengabaikan hal tersebut. Mega keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Putra yang kembali menelponnya. "Angkat, Nyet! Si Nidji itu," ledek Mega yang membuat Nadin mencebikkan bibirnya. "Lu aja." Nadin memberikan handphonenya pada Mega, Dengan semangat Mega menerimanya. Berurusan dengan mantan merupakan hal mudah bagi seorang Mega. Sindir menyindir mantan yang tidak tahu diri merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Mega. "Halo, selamat malam dengan saya Mega Aulia Putri Hardadi, ada yang bisa saya bantu?" Mega menirukan percakapan ala customer servis sebuah perusahaan. "Nadin mana?" tanya Putra tanpa basa-basi. "Maaf dengan Bapak siapa? Dan ada keperluan apa dengan Ibu Nadin?" Dengan masih menggunakan bahasa yang sama, Mega berhasil membuat Putra kesal diawal telponnya. "Gue perlu bicara sama Nadin, jadi tolong kasih ke dia." Putra yang tidak ingin menanggapi kekonyolan sahabat mantan kekasihnya. "Maaf Bapak, jika anda tidak bisa menyebutkan identitas diri beserta keperluannya apa, saya tidak bisa menghubungkan anda dengan Ibu Nadin. Karena itu merupakan pesan dari ibu Nadin sendiri." Hal yang paling menyenangkan bagi seorang Mega adalah ketika ia mempermainkan emosi seorang mantan yang gagal move on seperti Putra. "Banyak bacot Lo," bentak Putra yang sudah sangat kesal. "Baik, saya rasa Bapak tidak memiliki kepentingan dengan ibu Nadin, maka dari itu saya akan mengakhiri percakapan kita. Terima kasih telah menghubungi saya, selamat malam dan selamat beristirahat." Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Mega langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Nadin langsung tertawa ketika sambungan telepon terputus. Mega selalu bisa di andalkan dalam hal seperti ini, Nadin yang terlalu malas menanggapi mantan selalu terbantu dengan ulah konyol Mega. "Kenapa Lo gak ngelamar jadi customer servis aja sih?" tanya Nadin setelah menghentikan tawanya. "Emang ada perusahaan yang berani gaji gue," jawab Mega santai. "Gue laper, makan yu," ajak Mega setelah rapi dengan makeup nya. "Makan apa kita?" tanya Nadin sambil memakai jam tangan mungilnya. Tidak menghiraukan ucapan sombong sahabat terkutuk nya itu. Karena yang dikatakan Mega memang benar, siapa yang akan berani menggaji dirinya yang merupakan anak konglomerat Indonesia, dan juga otaknya sedikit geser.Perusahaan akan rugi jika sampai menerima Mega bekerja. "Gue pengen nasi bakar," jawab Mega yang memang dari siang tadi membayangkan nasi bakar isi teri. "Kuy kita berangkat." Nadin melangkah mengikuti Mega yang sudah lebih dulu keluar, setelah mengunci pintu rukonya, mereka memasuki mobil Mega untuk mencari penjual nasi bakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD