Perfect Girl
Dentuman musik club terdengar memekakkan telinga. Gemerlapnya sorotan lampu berwarna-warni menandakan kalau tempat ini adalah sebuah club malam. Aroma alkohol tercium sangat menyengat saat pertama kali memasuki pintu. Dunia seakan larut dalam tarian dan dentuman musik yang membuat pikiran melayang.
Seorang pria berkemeja putih tengah bermesraan dengan wanita bergaun hitam menuju lift. Tangan nakalnya menarik pinggang wanita itu hingga semakin memangkas jarak diantara mereka. Si wanita pun tersenyum, seperti tidak terganggu dengan sikap pria itu.
Lift pun tertutup, dengan kurang ajarnya si pria menarik wajah gadis bergaun hitam dan menciumnya hingga mereka jatuh ke atas ranjang. Pria itu mencium leher wanita itu penuh nafsu. Saat si wanita terlena dengan cumbuannya, pria itu mengeluarkan pistol dari balik bantal.
Wanita itu melihatnya, matanya membola. Belum sempat si pria melakukan apapun, wanita itu lebih dulu menyerangnya.
Mereka bergulat dengan sengit. Si wanita berusaha menjatuhkan si pria dengan menarik rambut pria itu, tapi si pria menendang wajah wanita itu hingga sudut bibirnya berdarah. Tak kehabisan akal wanita bergaun hitam menendang salah satu kaki pria itu hingga ia jatuh tersungkur. Kemudian dengan cepat wanita itu menggulingkannya di atas ranjang. Mengunci pergerakan si pria dengan menindihnya dan mengambil alih pistol, lalu menekan pistol itu ke d**a pria berbaju putih yang terlentang di atas ranjang.
"Grace... dengarkan aku! Semuanya hanyalah permainan, jika aku tidak melakukannya, mereka akan membunuhku." pria itu berusaha menjelaskan.
"Dan bagaimana aku tahu, Dave, jika aku mengikuti permainan ini aku tidak akan mati?" Wanita itu semakin menekan pistolnya pada si pria. Pria itu semakin gemetar ketakutan.
"Aku memang sudah membohongimu tentang banyak hal, tapi satu hal yang tidak bisa ku bohongi. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Grace."
Si pria meyakinkan, meskipun ia menipunya dalam banyak hal, tapi cintanya pada Grace bukanlah tipuan. Pria itu benar-benar mencintai. Mendengar ketulusan dalam nada dan ekspresi kekasihnya, kemarahan Grace tampak sedikit memudar dan berubah menjadi kesedihan yang mendalam.
"Sejak aku dilahirkan, aku tidak pernah mempercayai jika cinta itu ada. Semua hanya memanfaatkan dengan harga yang harus dibayar. Sampai aku bertemu denganmu."
Air matanya menetes, tatapannya menunjukkan kesedihan mendalam.
"Kau mengubah keyakinanku dan mengajariku apa itu cinta." Tapi dengan cepat air mata kesedihan itu berubah menjadi amarah karena pengkhianatan.
"Dan hari ini kau membuatku menyadari kalau aku salah. Cinta itu tidak ada."
Air matanya semakin mengucur deras. Kesakitan itu begitu jelas terlihat di wajah wanita bernama Grace itu.
"Grace..."
"Semuanya egois. Mereka melakukannya hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."
" Grace..." mata pria itu berkaca-kaca.
"Mengkhianati, menipu, menusuk dari belakang.! Satu-satunya cinta di dunia ini hanyalah mencintai dirimu sendiri."
Wanita itu semakin terisak. Hatinya hancur karena pengkhianatan kekasih sendiri. Dia begitu mencintai kekasihnya tapi pengkhianatan yang dilakukan sang kekasih membutakan matanya.
"Dan inilah rasa terima kasihku atas pelajaran berharga yang kau ajarkan padaku." Grace menutup wajah Dave dengan bantal.
"Pergilah ke neraka!!!!!"
Dor...dor...dor...
Grace menembaknya berkali-kali. Nafasnya terengah, air matanya semakin membanjiri wajah cantiknya. Tapi sesaat kemudian wajahnya menjadi dingin.
Cut...
Suara tepuk tangan yang meriah memecah keheningan ruangan itu. Senyum sumringah para kru terlihat sangat puas dengan acting gadis ini.
"Kau benar-benar luar biasa Lisa."
Puji sang aktor yang masih berbaring di atas ranjang putih. Gadis yang dipanggil Lisa itu turun dari ranjang sambil merapikan penampilan.
"Aku merasakan emosimu, jadi aku bisa melakukan karena kau. Kau juga sangat keren, Ken." balas Lisa membalas pujian Kenly.
"Apa kau bebas? Bagaimana kalau..."
"Cek clipnya." teriaknya Lisa.
Belum sempat Kenly menyelesaikan ucapannya Lisa melenggang pergi keruang dimana sutradara berada.
"Kerja bagus Lis..."
"Kau keren sekali kak Lisa."
Puji para staf menghujaninya sepanjang ruangan. Lisa hanya tersenyum menanggapi pujian mereka. Beberapa saat kemudian ia duduk di samping sutradara dalam film ini.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Thalisa.
"Kau luar biasa, Lis." jawab Lucas sang sutradara sekaligus sahabat karibnya.
"Ayolah, Luc. Jangan memujiku hanya karena kita bersahabat. Jika tidak bagus katakan saja!" sahut Lisa sambil mengambil tissue untuk membersihkan darah palsu di sudut bibirnya.
"Aku serius. Kalau tidak percaya, coba lihatlah..!!!"
Lucas menunjukkan layar monitor pada Lisa. Memutar kembali adegan tadi dan memperlihatkan Lisa yang benar-benar keren dalam mengekspresikan berbagai macam perasaan.
"Lihatlah! Sesaat kau merasa marah, sedih, terkhianati, dan patah hati. Lalu berubah menjadi dingin lagi. Kau benar-benar keren. Bukankan ini film pertamamu? Bagaimana kau melakukannya?"
Thalisa hanya cuek, seolah tak peduli. Ia malah sibuk memperhatikan kukunya yang patah akibat adegan tadi.
"Aku hanya berpikir, karakternya mirip sepertiku. Makanya mudah untuk dimainkan. " jawabnya santai.
"Baiklah jika tidak ada masalah, aku akan ganti baju, ada acara yang harus ku hadiri..." Lisa pun melenggang pergi.
Baru beberapa langkah ia berjalan. Tapi sesuatu terjadi.
"Pak..."
Terdengar suara staff yang memanggil Lucas melalui HT monitor.
"Ada apa?"
"Ada masalah pak. Kita harus mengulang seluruh adegan."
"APA??? Apa kau bercanda?" Lucas terlihat kaget mendengar apa kata staf.
"Lihat kembali adegannya, ada seseorang terlihat di pantulan cermin. Dia tidak tahu jika disini ada syuting."
Lisa yang mendengar percakapan itu terlihat kaget. Lucas memutar kembali seluruh adegan.
"Apa-apaan ini, adegan pertama terdengar suara ponsel seseorang. Dan sekarang ada pantulan seorang wanita di cermin. Kenapa begitu kebetulan." Lucas semakin frustasi.
Lisa pun juga tampak kebingungan. Kenapa ada kendala dalam satu waktu. Ia berbalik dan melihat seorang wanita diluar pintu tersenyum sinis sambil menatap Lisa, Ia terlihat puas dengan kekacauan yang terjadi saat ini. Lisa pun langsung mengetahui siapa di balik kekacauan di lokasi syuting. Lisa mengambil ponselnya yang tergeletak diatas rak sepatu.
"Halo, Timmy...ada masalah di lokasi syuting, mungkin aku akan datang sedikit terlambat."
"Apa? Ada apa Lis, apa semuanya baik-baik saja?"
"Tidak apa, Tim. Aku bisa mengatasi ini, dan sepertinya aku tahu siapa dalangnya."
Lisa tersenyum sinis, matanya menyorot tajam, pikirannya memikirkan seseorang yang harus ia beri perhitungan. Lisa menutup ponselnya lalu melenggang pergi.
***
Dua orang staff terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing di ruang ganti. Mereka berdua diam tanpa saling bicara. Pria berbadan gemuk yang sepertinya seorang waria sibuk menyiapkan kostum dan seorang wanita berambut sebahu sedang sibuk menyetrika. Kepulan asap dari setrika terlihat jelas keluar dari lubang-lubang setrika.
"Bella..."
"Hmm..."
"Berhenti menyetrika gaun itu!" salah satu seorang staff waria menyuruh rekannya untuk menghentikan aktifitasnya.
Gadis yang di panggil Bella mengerutkan dahinya kebingungan.
"Ada apa?"
Staff waria menoleh dengan gaya khasnya.
"Pergi siapkan baju untuk Nona Super idol. Jika dia sudah selesai dan kau belum siap, dia pasti akan membenturkan kepalamu ke dinding."
"Ow my God...aku takut sekali!" Dengan ekspresi yang dibuat-buat. Lalu mereka berdua tertawa.
"Hei, apa kau tahu, dalam hal menggoda para pria 'dia' itu sangat ahli." tambah si pria waria.
"Iya benar. Dia baru masuk ke industri hiburan, tapi sudah banyak sekali para aktor yang ia kencani. Menjijikkan," sahut gadis berambut sebahu itu dengan ekspresi wajah yang begitu menyebalkan.
"Dasar murahan."
Tak lama kemudian Thalisa masuk ke ruang ganti. Mereka tidak menyadari jika orang yang mereka gosipkan berada di ruangan itu.
"Seseorang pernah berkata padaku, dia seperti itu bahkan sebelum dia masuk ke dunia perfilman."
"Haa??? Benarkah?" tanya si pria waria.
"Aku serius. Dari gosip yang ku dengar, saat berada di luar negeri dia sering tidur dengan lebih dari satu pria."
Si waria semakin iri dan benci pada Lisa. Tangan Lisa terkepal kuat menahan amarahnya, mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut kedua staff itu.
"Apa kau lihat sutradara kita? Dia sangat terobsesi padanya. Sutradara bahwa memberikan semua yang dia inginkan. Benar-benar wanita jalang." kata si pria waria penuh iri dengki.
Lisa sudah tidak tahan lagi, ia berjalan mendekati tapi mereka berdua masih belum menyadarinya.
"Apa kau masih penasaran, siapa saja pria yang sudah tidur dengannya? Tenang saja. Aku akan mencari tahu untukmu." tambah Bella lalu bersorak gembira diikuti si pria waria.
"Tidak perlu."
Lisa berjalan mendekati mereka. Kedua staff itu berjingkit kaget dan diam seketika. Tidak ada yang berani menatap Lisa.
"Tanyakan saja! Bukankah kalian ingin tahu, berapa banyak para aktor yang sudah tidur denganku dan betapa busuknya aku saat aku tinggal di luarnya negeri?"
Mereka berdua menunduk. Lisa tersenyum sinis. "Aw, kenapa diam? Bukanlah kalian ingin tahu?" teriak Lisa di depan wajah Bella.
Lisa menyudutkan Bella dan rekannya di dinding.
"Siapapun aktor yang berkencan denganku dan berapa banyak pria yang berhubungan seks denganku, itu bukan urusanmu. Apa kau mengerti!"
Lisa mendorong tubuh Bella hingga dia terbentur ke dinding.
"Lis, ada apa?"
Tiba-tiba Lucas datang sambil memegang sebotol jus. Mereka menatap Lucas yang menghampiri Lisa dan menyerahkan jus itu padanya. Kasak kusuk pun terdengar lagi.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin mengambil sesuatu."
Lisa meninggalkan kedua staff dan mengambil apa yang ia butuhkan.
"Kita bisa lanjutkan syuting." tambah Lisa yang masih kesal.
"Tidak perlu Lis, kau bisa pergi lebih awal hari ini. Timmy menelpon ada acara yang harus kau hadiri. Kita akhiri syutingnya."
Lisa terlihat sedikit bingung, terlebih kedua staff itu. Mulut mereka ternganga.
"Syuting selesai." Tegas Lucas pada kedua staff yang masih terpaku di tempatnya sedari tadi. Lalu Lucas pergi dari ruangan itu.
"Baik." jawab mereka kompak.
"Binggo!!!"
Teriak kedua staff penggosip itu, Lisa berbalik dan menatap mereka dengan tajam. Lisa paham betul apa maksud kata binggo itu. Sikap Lucas yang istimewa pada Lisa membuat semua orang meragukan pertemanan mereka.
Dan hal ini semakin menambah kebencian dan keirian semua orang terhadap Lisa. Seorang aktris baru yang diperlakukan berbeda dari aktris-aktris lainnya. Padahal apa yang dilakukan Lucas tidak lebih dari seorang sutradara yang profesional terhadap aktrisnya.