5. Sejenak Beradu Dekap

1838 Words
Rich tengah melangkah menuju main deck tempat dimana hiburan malam sedang dilangsungkan. Puluhan kru kapal pesiar dari entertainment departemen tampak bekerja dengan baik. Tak hanya menyajikan nyanyian dan juga tarian, mereka juga mengajak beberapa penumpang untuk berdansa bersama di akhir acara. "We're happy to see you, Captain," ucap seorang lelaki yang tengah membawa mic. Rich berjalan tegap menggunakan setelan seragam yang masih lengkap. Cukup satu kali Rich menganggukkan kepala untuk kemudian melebarkan senyuman. Walau berada di tengah keramaian, keberadaan Rich terbilang sangat menonjol. Selain karena tinggi badannya yang termasuk di atas rata-rata, lelaki itu juga memiliki pembawaan yang cukup menyita perhatian. Tak hanya wanita, para lelaki juga mengakui bahwa Rich memiliki wibawa dan nilai ketampanan yang berlebih. Apalagi dia adalah kapten kapal. Terlebih lagi, dia termasuk kategori old money. Ditambah lagi, dia keturunan keluarga Schneider. Oh God. Entah mengapa dia harus tercipta dengan sedemikian sempurna. Rich terus mengayunkan kaki sambil mengedarkan pandang ke hampir setiap pasang mata di hadapannya. Ada puluhan penumpang yang duduk di meja paling depan, dan Rich melihat tiga orang senior officer ikut membaur di sana. Tidak banyak memang. Di antara sekian banyak pekerja kapal, hanya ada segelintir officer yang diperbolehkan untuk naik ke main deck. Kru kapal lain umumnya tidak boleh menggunakan fasilitas yang sama dengan para penumpang. Bahkan untuk membaur pun tidak diperkenankan. Salah satu departemen yang juga bisa berdiri di atas sini adalah dokter. Saat Rich memindai ke sisi lain, Mike tengah berdiri di sudut kiri dan ... well, Feyra juga ada di sana. Kedua mata mereka sempat beradu. Bibir Feyra sengaja ditarik ke samping saat tak sengaja pandangan matanya bersiborok dengan milik Rich. Demi bisa memposisikan diri sebagai bawahan seorang kapten kapal, Feyra tersenyum sopan sambil sejenak menundukkan kepala. Lengkungan bibir itu sebenarnya tampak biasa saja. Sama dengan senyum orang lain yang juga tengah tertuju untuk Rich. Namun entah mengapa, di mata Rich senyum Feyra selalu memiliki arti yang berbeda. Senyum itu selalu manis, bahkan terlalu manis. Sayang jika harus diabaikan begitu saja, tetapi Rich tak kuasa melihatnya lebih lama lagi. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya, dan Rich tidak mungkin bisa menanggung itu semua jika kedua matanya terus menangkap wajah Feyra. Tanpa membalas dengan senyuman maupun anggukan kepala, Rich akhirnya lebih memilih untuk membuang wajahnya. Dia justru membalas senyum beberapa tamu kemudian bergabung di meja salah seorang dari mereka. "Selamat malam, Calon Mantu," sapa seorang wanita tua kepada Rich. "Selamat malam Mr. dan Mrs. Vincent," jawab Rich kepada Vincent dan sang istri yang bernama Nam. "Nam, kita 'kan nggak punya anak cewek. Jangan asal manggil dia calon mantu," kilah lelaki tua di sebelahnya. "Biarin. Abis ini aku mau adopsi anak cewek biar bisa aku nikahin sama Kapten Heinrich," jawab Nam. Rich sontak tertawa mendengar candaan wanita yang sejak awal mengenalnya memang selalu selucu itu. Walau humoris, Nam tetap anggun dan cantik. Kulitnya sudah mulai keriput, tapi wajah wanita berdarah Thailand ini masih tampak sangat terawat. Tak heran jika ia bersuamikan seorang mantan diplomat Prancis. "Emang Kapten Heinrich masih available? Belum sold out?" tanya Vincent. Rich lagi-lagi tertawa kecil. Dia lantas membenarkan pertanyaan Vincent dengan sebuah kiasan singkat, "Independence personified." "Emang belom ada calon? Belom ada yang diincer?" goda Nam seraya menaik turunkan kedua alisnya. Mendengar pertanyaan itu, entah mengapa kedua mata Rich reflek tertuju pada tempat di mana Feyra berdiri. Kepala Rich menggeleng dengan bibir yang mengeluarkan kata-kata bahwa belum wanita yang ia suka. Sayangnya, kedua mata Rich mengisyaratkan hal lain. Pandangannya masih saja terpatri pada senyum dan tawa yang tengah melebar dari kedua bibir Feyra. Satu detik aman. Dua detik masih aman. Dan tiga detik ... s**t! Feyra menoleh! Ah, sial. Feyra lagi-lagi melemparkan sebuah senyum manis saat menangkap basah Rich sedang melihat ke arahnya. Tidak ada kesan menggoda. Feyra bahkan bersikap biasa saja. Sayangnya, saat berhadapan dengan Feyra, Rich tak pernah merasa tidak tergoda. Tak mau memperpanjang perasaan tidak nyaman saat bersitatap dengan Feyra, Rich lantas kembali membangun percakapan dengan Vincent dan juga Nam. Saling bertukar informasi mulai dari hal klise tentang pergantian cuaca, hingga memberikan penjelasan tentang beberapa fasilitas kapal yang seharusnya sepasang suami istri itu coba. "Saya harap kalian bisa menikmati malam ini," ucap Rich kepada keduanya. "Sure," balas Nam. "Tapi liat suamiku, Kapten. Matanya nggak luput dari dancer wanita yang pakai baju merah muda." Nam selalu mengeluhkan hal yang sama. Sejak awal mengenal mereka berdua, wanita tua itu selalu memperlihatkan kecemburuannya saat Vincent memaku pandang kepada wanita muda. "Tapi kamu tetap yang paling cantik, Chérie," sambar Vincent. "Tapi kamu liatin dia seolah dia lebih menarik dari aku. Mata kamu sama sekali nggak kedip! Pengen dicolok pake ini?!" gerutu Nam seraya mengangkat sebuah garpu di tangan kiri. Vincent terus melakukan pembelaan bahwa dancer asal Indonesia itu memang lihai dalam hal menari. Selain itu, keberadaannya memang cukup menonjol dibandingkan beberapa dancer lain yang berkulit putih. Rich tersenyum tipis seraya membatin. Ternyata selera Vincent sama saja dengan selera kebanyakan kru kapal. Hampir semua kru kapal juga selalu berucap bahwa kru yang berasal dari Indonesia selalu terlihat lebih cantik, menarik, eksotis, dan ... sexy. Rich bahkan tak jarang mendapati bawahannya bergosip tentang seorang pastry chef atau beberapa room steward dan pelayan bar dari Indonesia yang diam-diam ingin mereka kencani. "Cara dia menari emang bagus. Aku liat gerakannya, bukan orangnya," kilah Vincent. "Tu 'kan, Kapten. Dia selalu pinter nyari alesan," adu Nam kepada Rich. Rich hanya bisa tertawa melihat sepasang kakek dan nenek ini saling bertengkar. Walaupun saling menggerutu, namun tetap terkesan mesra dan juga manis. "Tuan Vincent, dancer itu emang cantik, tapi di mata saya, wanita Thailand jauh lebih cantik," ucap Rich seraya mengerlingkan sebelah mataya ke arah Nam. Merasa istrinya sedang dirayu, Vincent lantas tertawa kencang. Sementara di hadapannya, Nam tengah tersipu seraya meraih lengan Rich untuk ia tepuk pelan. Oh God. Rich jadi merasa sedikit geli. Nam terlihat seperti remaja berusia belasan. Belum habis sampai di situ, drama kakek dan nenek itu masih berlanjut hingga saat Vincent mengajak si dancer baju merah muda untuk berdansa. Keberadaan mereka berdua tak ayal mengundang banyak perhatian. Sorak sorai mengudara bersamaan dengan suara tepuk tangan. Walau sudah tua, ternyata kemampuan dansa lelaki itu masih memukau. Semua orang tampak menikmati tiap gerakan yang diciptakan oleh Vincent dengan si dancer. Hanya Nam yang tampak memberengut dan menggerutu. Mungkin hanya pura-pura marah, karena dia juga ikut tertawa saat Vincent gagal memulai gerakan salsa. "Kapten Heinrich, mau turun ke lantai dansa?" tanya Nam meminta izin. Dia tampaknya tak mau kalah dengan suaminya. "Sure." Rich lantas berdiri dari kursi. Dia kemudian menundukkan badannya seraya mengulurkan sebelah tangan pertanda ia akan mengajak Nam untuk berdansa. Tanpa perlu banyak waktu, seluruh perhatian berpindah ke arah Rich dan juga Nam. Keduanya saling meraih pinggang dan menggerakkan kaki dengan tempo yang tetap dan tepat. Kali ini, suara sorak para tamu dan juga officer kapal terdengar lebih gaduh. Tak ada mata yang tidak memandang ke arah mereka berdua. Vincent bahkan sampai tertawa riang dan menghentikan aktivitas dansanya dengan si wanita berbaju merah muda. Dia ikut menikmati suguhan pertunjukan itu, namun selang tak lebih dari satu menit, dia kembali berulah. Awalnya Rich tidak terlalu memperhatikan apa yang tengah Vincent lakukan. Dia masih fokus menari bersama wanita yang lebih cocok ia panggil dengan sebutan nenek. Namun saat suara tepuk tangan kencang mengudara, Rich mau tak mau ikut menoleh ke arah Vincent. "Will you dance with me?" tanya Vincent seraya melemparkan sebuah senyuman. Vincent mengambil posisi setengah berlutut dengan sebelah kaki ia tekuk. Tangan kanannya terulur dengan wajah yang menghadap lurus ke arah wanita yang tengah ia ajak bicara. Lagi-lagi lelaki itu terpaut pada seorang kru kapal yang memiliki warna kulit yang mendekati warna tembaga. Lagi-lagi orang Indonesia. Rich tak ingin peduli sebenarnya, tetapi ia masih tak menyangka dengan sebuah kebetulan bahwa wanita yang menjadi partner dansa Vincent selanjutnya adalah... . Feyra. "My pleasure," jawab Feyra seraya menerima uluran tangan Vincent. Dua pasang sejoli itu lantas menjadi bintang di area dansa. Mereka saling memberikan gerakan terbaik, mulai dari ritme cepat hingga berujung dengan ritme lambat. Saat pada akhirnya lagu berhenti, Vincent dan Feyra lantas mendekat ke tempat di mana Nam dan Rich berdiri. Sesaat setelahnya, Vincent meraih tubuh istrinya untuk ia peluk. Di saat yang bersamaan, Vincent melepaskan tangan Feyra dan menyerahkannya kepada Rich. "Once again," ucap Vincent yang membuat alunan musik kembali mengalun. Tak bisa menolak, tak bisa mengelak. Vincent yang baru saja meminta Rich untuk berganti pasangan membuat Rich dan Feyra mau tak mau harus saling beradu. Sebelah tangan mereka saling menggenggam. Tangan kiri Feyra mendarat di atas dadaa Rich, sementara tangan kanan Rich mengalung canggung di pinggang Feyra. Mereka saling terdiam. Tidak berani menatap dan tak ada daya untuk sekedar tersenyum atau pun menyapa. Rich bergerak kaku dan Feyra mengimbangi langkah kaki Rich dengan tak kalah kaku. "Fey," bisik Rich pelan. "Iya?" Rich tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya bisa menelan saliva dan tetap tak bicara. Rich juga sebenernya tidak tahu harus berkata apa. "Rich," lirih Feyra kemudian. "Hmm." Masih tanpa saling memandang, keduanya kembali terdiam. Niat hati ingin memecah rasa rikuh dengan beberapa obrolan ringan, tapi yang terjadi justru muncul rasa semakin tidak nyaman. Sebelum semuanya terlihat aneh, sebelum kejanggalan di antara keduanya tampak oleh kasat mata orang-orang, Rich dan Feyra akhirnya sama-sama mengakhiri tarian dansa mereka. Feyra menundukkan kepala dan berterima kasih kepada Rich untuk sekedar alasan kesopanan. Sedetik kemudian, dia melangkah mundur dan beranjak menjauh dari area main deck. Sementara Rich, dia sempat terlebih dahulu menyapa beberapa orang di sekitarnya. Namun tak lama, dia memilih undur diri dari area itu. "Masih ada kelanjutan acara abis ini, Kapten. Akan menyenangkan kalo kita bisa minum bersama," ucap Vincent. Ah, tidak. Tidak bisa. Bukan tidak bisa beramah tamah dengan para tamu, tapi Rich memang tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi. "Maaf, saya harus kembali ke anjungan. Ada banyak kerjaan." Tepat saat Rich berjalan naik, langkahnya terhenti ketika kedua matanya menangkap sosok Feyra sedang berdiri bersandar di sebuah lorong dekat dengan tangga kecil. Sempat ada keraguan, namun pada akhirnya Rich memutuskan untuk berjalan mendekat. Feyra masih menunduk dengan kedua telapak tangan menutupi seluruh bagian wajah. Dia tampak tak menyadari bahwa Rich kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Tanpa mau berbasa-basi, Rich menarik cepat tubuh Feyra dan menenggelamkannya dalam sebuah dekapan kencang. Feyra sempat memberontak dan hampir berteriak. Namun setelah hidungnya mencium aroma tubuh yang ia hapal, setelah matanya menangkap seraut wajah yang ia kenal, tak ada hal lain yang bisa Feyra lakukan selain pasrah. Sebelah tangan Rich terus mengunci punggung Feyra agar wanita itu tidak terlepas dari pelukannya. Sementara satu tangannya yang lain sedikit bergerak mengusap ujung kepala Feyra. "Rich," lirih Feyra yang mulai berusaha melepaskan diri. Jujur saja rengkuhan tangan Rich memanglah nyaman, tetapi Feyra tetap merasa tidak tenang. Dia takut jika saja ada seseorang yang melihat. Namun alih-alih membiarkan Feyra melepaskan diri, Rich justru semakin mengeratkan lilitan tangannya. Kepala Rich kemudian menunduk dan mendarat tepat di pundak Feyra. Dengan gerakan yang teramat pelan, wajah Rich sedikit demi sedikit bergerak mendekat ke arah telinga. "Diem dulu. Biarin kayak gini. Sebentar aja, Fey."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD