Feyra buru-buru menyeka derai air mata. Sambil mendongakkan kepala, dia menahan genangan di pelupuk agar tidak lagi keluar. Sudah terlalu sering Feyra menangis di hadapan Rich. "Rich," lirih Feyra. Sebisa mungkin, Feyra menarik kedua bibirnya. Dia berusaha membentuk sebuah senyuman walau tampak terpaksa. Feyra sudah mencoba bersikap santai. Namun, gerak-geriknya tetap saja tampak kaku. Persis seperti seseorang yang ketahuan melakukan sebuah kesalahan. "Kamu udah bangun?" ucap Feyra basa-basi. Rich tidak menggubris dan memilih untuk tetap diam di tempat. Matanya awas mengamati wajah Feyra. Bahkan mungkin Rich bisa menghitung berapa kali kedipan matanya, juga berapa kali Feyra membenarkan letak helai rambut yang sebenarnya sudah benar. Sudah gugup, kini Feyra menjadi semakin gugup. Rich

