Bab 05

1203 Words
"Assalamu'alaikum om Nano." Renaldi memberikan salam pada pak Nano dan Natasha. "Wa'alaikumussalam." pak Nano dan Natasha menjawab salam dari Renaldi. "Duduk di.." pinta pak Nano. "Iya om." kata Renaldi patuh. "Mas Nano.." panggil Natasha. "Kok sepertinya saya kenal dengan suaranya, seperti suara Natasha." kata Renaldi di dalam hati yang mengtingat-ingat sesuatu. *Flashback On* Jakarta Di Rumah Renaldi "Renaldi sayang.." panggil Natasha. "Iya sayang, kamu bawa apa ini, wah makanan kesukaan aku ya ?" tanya Renaldi. "Iya, nih, oh ya aku suapin ya sayang." jawab Natasha. "A.. A.. A.." kata Renaldi yang sedang disuapi makanan kesukaannya. "Am.. Yeah..!!" seru Natasha yang sedang menyuapi Renaldi makanan kesukaannya. *Flashback Off* Bandung Di Rumah Pak Nano "Sini sayang, ada yang ingin mas perkenalkan kepadamu selain anak mas, yaitu adalah Renal. Nal, nal, nal.." kata pak Nano yang akan memperkenalkan Renaldi kepada Natasha. "Iya om..!!" seru Renaldi. "Ini loh om ingin mengenalkan tante baru padamu." kata pak Nano yang akan memperkenalkan Natasha kepada Renaldi. "Oh iya om, assalamu'alaikum tante." kata Renaldi yang belum melihat Natasha. "Iya, wa'alaikumussalam." kata Natasha yang belum melihat Renaldi. "Renal kenalkan ini tante baru kamu, dan sayang kenalkan ini keponakan kamu." kata pak Nano memperkenalkan Natasha pada Renaldi, dan pak Nano juga memperkenalkan Renaldi pada Natasha. "Iya om." kata Renaldi yang baru saja di perkenalkan oleh pak Nano. "Iya mas." kata Natasha yang baru saja di perkenalkan oleh Renaldi. "Loh..!!" keduanya terkejut saat keduanya saling bertatapan. "Kenapa nal, kamu kenal ?" tanya pak Nano. "Enggak om." jawab Renaldi yang pura-pura tidak mengenali Natasha. "Kamu kenal sayang dengan keponakan saya ?" tanya pak Nano lagi. "Enggak mas Nano." jawab Natasha yang pura-pura tidak mengenal Renaldi. "Oh..!!" "Punten pak Nano, bu Natasha dan den mas Renal." "Inggih ngek, enten menapa ?" "Hampura sebelumnya sadanya, abdi hayang memberitahu lamun tuang beurang na atos siap." "Oh muhun bi ajeng nya seep ieu." "Oke den mas..!!" "Ya bi." "Punten sadaya." "Iya, nal, kamu ajak teman-teman kamu untuk makan siang bersama ya." pinta pak Nano. "Iya om, tante, permisi." "Iya..!!" kata pak Nano dan Natasha bersamaan. ---- "Mangga pak, bu, makan siangnya." "Iya, loh ngek, Titah mana ?" "Masih di kamar pak Nano." "Ya sudah kamu panggil gih, bilang di tunggu makan siang bersama gitu ya." "Muhun, punten pak." "Ya, oh ya sayang duduk dulu sambil nunggu yang lain untuk makan siang bersama." "Iya mas." Di Depan Kamar Titah.. "Assalamu'alaikum." Cengek memberikan salam pada Titah. Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu kamar di ketika oleh Cengek. Di Kamar Titah.. "Wa'alaikumussalam bi." Titah menjawab salam dari Cengek. "Masuk bi." pinta Titah yang mempersilahkan Cengek untuk masuk ke dalam kamarnya. Di Depan Kamar Titah Lagi.. "Muhun neng geulis." kata Cengek menuruti perintah dari Titah untuk masuk ke dalam kamarnya. Di Kamar Titah Lagi.. "Punten neng geulis." "Aya naon bi Cengek ?" "Di panggil romo, neng geulis, di tunggu kanggo tuang beurang bersama oge." "Oh, aya saha wae bi ?" "Aya den mas kasep Renaldi, teman-temannya den mas kasep Renaldi, romo, jeung ibu na neng geulis." "Ha.., ibu abdi, ibu na abdi teh aya di luar negeri bi Cengek." keluh Titah. "Maksudnya ibu barunya neng geulis." "Bi dangu nya, ibu abdi wungkul hiji wae nya eta ibu Rusmini Puji Astuti sanes nu sejena, naham ?" "Naham neng geulis." "Bi nyarios ke romo lamun abdi teu hayang tuang di meja makan bersama sareng anjeunna, abdi hayang tuang beurang di kamar wae." pinta Titah. "Muhun neng geulis, bibi sampaikan ayeuna ke romo, bibi punten nya neng geulis, assalamu'alaikum." kata Cengek menuruti perintah dari Titah. "Muhun bi, wa'alaikumussalam." ---- "Punten pak Nano." "Ya ngek, loh Titah nya mana ?" "Neng geulis teu hayang tuang beurang bersama jeung bu Nano, kitu." "Titah nyarios kitu dina anjeun ngek ?" "Muhun pak Nano." "Kenapa mas ?" "Titah gak mau makan siang disini bersama dengan kamu. Dia mau makan di kamar saja, maaf ya dia belum bisa menerimamu sebagai ibunya." " Sudah ku duga pasti anaknya, sabar, sabar, Nat.. Ingat kamu punya tujuan disini yaitu mengambil hati anaknya sepenuhnya dan agar kamu bisa menguasai harta si tua bangka ini. " kata Natasha di dalam hati. "Iya mas gak apa-apa kok, bagaimana kalau saya saja yang antar makan siang ini ke kamarnya Titah ya mas, boleh kan ?" "Oh ya tentu saja boleh dong sayang. Ngek antar ibu ke kamar Titah ya." pinta pak Nano. "Siap, laksanakan pak Nano." kata Cengek patuh. " Sok-sokan Natasha antar makan siang ke kamar Titah belum ada satu jam paling di usir dari kamarnya palingan juga cuma buat caper dong di depan om Nano, lihat saja nanti. " kata Renaldi di dalam hati. ---- "Ih siapa lagi sih, ganggu saja lagi dandan juga, hem.." keluh Titah. "Apa..!!, kenapa..?" tanya Titah. "Sayang ini.." jawab Natasha yang di potong oleh Titah. "Oh kamu. Ngapain sih, kamu harus tau ya yang boleh ke kamar saya itu romo, teman-temanku, Renaldi, pacarku, bi Cengek dan lik Paijo. Bukan kamu ngerti ?bi.." kata Titah yang memotong jawaban dari Natasha. "Muhun neng geulis." "Mau ngapain sih dia ke kamar saya ?" "Bi biar saya saja ya." "Muhun bu. Mangga, neng geulis biar di jawab oleh bu Natasha ya." "Ya sudah buruan." kata Titah yang jutek oleh Natasha. "Jadi seperti ini loh Titah. Ibu mau antar makan siang untuk kamu, ini makan siangnya." kata Natasha mengantarkan makan siang untuk Titah. "Bi kan sudah saya bilang ambilin makan siang untuk aku kok malah dia sih, ini bibi ambil saja. Titah gak mau makan bilang ke romo, Titah marah dan jangan di ganggu sekarang kalian pergi dari sini. Hmm...." kata Titah yang membanting pintu kamarnya di depan Cengek dan Natasha. "Astaghfirullahalazim bu Natasha yang sabar ya, neng geulis sebenarnya baik kok orangnya, neng geulis mungkin belum bisa terima ibu sementara waktu ini." "Astaghfirullahalazim iya bi gak apa-apa kok. Oh ya satu lagi jangan bilang-bilang ke bapak ya soal ini." kata Natasha yang memohon pada Cengek, agar Cengek tidak memberitahukannya pada ayah Titah, pak Nano. "Oke bu..!!" "Ya sudah yuk kembali ke dapur saja ini untuk bibi saja makan siangnya Titah kalau sudah dingin." "Muhun bu." ---- "Loh sayang kenapa kok cemberut gitu ?" "Aku gagal mas bujuk Titah untuk makan siang bersama dan makan siangnya gak mau dia makan." " Tuh benar kan apa yang gue bilang. " kata Renaldi di dalam hati. "Kalau seperti ini saya harus kode den mas Afgan ini, saya w******p saja deh." kata Paijo di dalam hati yang mendengar jawaban dari Natasha. ** [Lik Paijo : Assalamu'alaikum, den mas ini waktu yang tepat untuk den mas Afgan.] Paijo memberikan kode pada Afgan. [Den mas Afgan : Wa'alaikumussalam, oke lik jo.] Afgan yang mendapatkan kode dari Paijo. [Lik Paijo : Saatnya den mas.] Paijo yang memberikan kode pada Afgan. [Den mas Afgan : Saatnya apa lik ?] [Lik Paijo : Saatnya den mas Afgan beraksi] [Den mas Afgan : Oh oke..] ** "Om maaf, boleh tidak kalau misalkan saya antar makan siang untuk Titah ke kamarnya ?" "Kamu mau antar makan siang untuk Titah gan ?" "Hehe iya di." "Tumben." kata Fandi yang terkejut saat mendengar Afgan mau mengantarkan makan siang untuk Titah ke Kamarnya. "Sssttt bisa diam tidak ini bocah ya." keluh Afgan dan juga menginjak kaki Fandi. "Aw.." Fandi menjerit kesakitan saat diinjak kakinya oleh Afgan. "Rasain emangnya enak wleeek.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD