Bab 04

1407 Words
Di Rumah Pak Nano Masih Di Kamar Renaldi.. "Tadi kan kata Cengek disuruh ke bawah mau dipanggil om Nano juga kan, ya sudah saya kesana saja deh." Di Depan Kamar Titah Dan Renaldi.. "Astaghfirullahalazim, Titah bikin kaget saja banting pintu lagi." Di Kamar Pak Nano dan Natasha.. "Suara apaan tuh kenceng banget suaranya kedengaran sampai sini, saya pakai baju yang rapih dan bagus, dandan juga. Tadi katanya si tua bangka itu saya mau dikenalkan sama keponakannya." Di Dapur.. "Haduh neng geulis kebiasaan kalau lagi ngambek pasti banting pintu." keluh Cengek yang mendengar suara pintu ditutup oleh Titah dengan keras. "Ya sudah sini den Afgan masuk, ngek.." kata Paijo. "Iya lik." sambung Afgan. "Muhun jo aya naon ? Eh aya den kasep Afgan." kata Cengek yang melihat Afgan berada di dapur bersama dengan Paijo. "Iya bi." "Kamu kenapa ngek, cah ayu kenapa lagi ? Tadi saya dengar kamu sedang membicarakan cah ayu di dapur, sendirian lagi ?" tanya Paijo. "Jadi seperti ini loh jo, neng geulis sepertinya sedang ngambek gitu deh karena pak Nano menikah lagi dan membawa ibu barunya ke rumah ini dan juga tadi Cengek lihat sendiri pak Nano memperkenalkan ibu barunya neng geulis kepada neng geulis." jawab Cengek. "Oh begitu, den mas Afgan, loh kemana orangnya perasaan tadi.. Oalah ini dia, kemana sih pindah ?" "Enggak lik jo, saya tidak pindah kok dari tadi saya di sini lik jo nya saja yang kelewatan jalannya." "Hehe.." Paijo hanya tertawa. "Nah ini adalah kesempatan untuk den mas Afgan." "Kok aku lik, maksudnya lik jo bagaimana ya ?" "Haduh.." keluh Paijo. "Kok malah haduh sih lik jo ?" "Gak nyampe den mas Afgan." "Ha.. Gak nyampe ?" tanya Afgan yang dibuat bingung oleh Paijo. "Duduk kenapa sih den." keluh Paijo yang membisikkan Afgan sesuatu. "Ngapain saya disuruh duduk lik ?" tanya Afgan lagi yang masih dibuat bingung oleh Paijo. "Saya mau bisik-bisik." jawab Paijo. "Bisik-bisik, kaya lagu saja jo." "Hehe.." Paijo tertawa lagi. "Sudah duduk dulu den mas Afgan." "Iya, iya, ah.." keluh Afgan. --- "Sekarang mandi dulu deh, habis itu dandan yang cantik dan ketemuan deh sama my handsome Afgan." Di Kamar Pak Nano dan Natasha.. "Aku harus terlihat cantik dan baik di depan mas Nano. Oh ya tadi kan kata mas Nano saya mau di kenalkan oleh keponakannya, keponakan mas Nano berarti keponakan saya juga dong. Saya juga harus pintar mengambil hati anaknya agar dia bisa menerima saya sebagai ibu barunya, sudah selesai." ---- "Oh jadi gitu, saya harus ambil hatinya Titah dengan cara deketin dia dan ini adalah waktu yang tepat karena Titah lagi ngambek ya lik ?" "Benar den mas, ya kan ngek ?" "Iya jo." "Bi Cengek.." "Muhun bu Natasha, aya naon ?" "Saya mau tanya minuman kesukaan Titah dan makanan kesukaannya juga ya ?" "Lik jo, siapa ?" "Gak tau baru lihat juga den mas Afgan." "Oh..!!" "Jo.." panggil Cengek. "Nggih ngek, ngapa ?" "Muhun jo, kunaon ?" "Sapa ?" "Aya wae, ajeng anjeun oge nyaho tina pak Nano." "Kok pertanyaan saya gak di jawab bi ?" "Pertanyaan yang mana ya bu ?" "Makanan kesukaannya Titah dan juga minuman kesukaannya Titah, apa ya bi ?" "Oh makanan jeung minuman kesukaannya neng geulis, hampura bu Natasha ieu hayang sarapan, tuang beurang, atau tuang wengi nya bu ?" "Semuanya bi." "Tengga sekedhap nggih ngek, sadurung panjenengan wangsul kula kersa ngomong riyen kaliyan den mas Afgan, menawi sampun mangke kula asih mangertos dhateng panjenengan nggih ngek." "Muhun jo." "Ha..!!" seru Afgan dengan bingung. "Kenapa den ?" tanya Paijo dan Cengek. "Kok bisa nyambung sih.." jawab Afgan kebingungan. "Tiasa atuh den, nya atos mangga jo." "Oke ngek..!!, sabar ya bu." "Iya, tapi cepat ya." "Oke..!! Den, den mas..!!" "Apa lik ?" "Duduk lagi." "Oh oke..!!" "Buruan..!!" "Iya sabar ya allah lik." "Buruan den mas.." "Sudah, buruan..!!" "Oke, sekarang ambil kertas atau buku dan bulpoint di tasnya den mas." pinta Paijo. "Oke..!! Sudah, terus sekarang apa lagi lik ?" "Tunggu sebentar." "Iya..!!" "Ngek, ngek, ngek, Cengek..!!" "Muhun jo, atos acan ?" "Sampun." "Oke..!!" "Bu.." panggil Cengek. "Ya bi, jadi makanan dan minuman kesukaannya Titah apa ?" "Di catat den." pinta Paijo lagi yang memberikan kode pada Afgan. "Oke..!!" kata Afgan yang mendapatkan kode dari Paijo. Afgan pun kemudian mencatat apa yang diberitahu pada Cengek begitu juga Natasha. Aku pun sudah menunggu di ruang tengah bersama ayahnya Titah, pamanku. Akhirnya pamanku memperkenalkan Natasha padaku sebagai tanteku. Aku kaget dan masih tak menyangka, ternyata duda kaya yang dimaksud oleh Natasha adalah pamanku sendiri. Begitu juga Natasha yang ternyata juga kaget dan juga tidak menyangka kalau keponakan dari ayahnya Titah adalah aku. Makan malam pun telah siap dihidangkan, pamanku menyuruh aku mengajak Fandi dan Afgan untuk makan siang bersama. Kecuali Titah yang masih marah pada ayahnya karena ayahnya diam-diam telah menikah lagi. Natasha meminta izin pada pamanku untuk mengantarkan makan siang untuk Titah ke kamarnya. Sesampainya di kamar Titah, Titah menolak makanan yang dibawakan Natasha untuknya. Lalu kemudian Paijo memberikan kode pada Afgan, agar Afgan meminta izin kepada ayahnya Titah dan mengantarkan makan siang untuk Titah. Ayahnya Titah mengizinkannya dengan satu syarat yaitu Afgan tidak boleh mengantarkan makan siang untuk Titah sendirian. Aku dan Fandi pun sepakat untuk menemani Afgan ke kamarnya Titah. Dan sampai habis Titah memakan makan siangnya di kamar. Barulah setelah itu aku meminta izin pada pamanku untuk main ke tempat biasanya aku kumpul bersama dengan teman-teman ku. Pamanku mengizinkannya, aku pergi berdua saja dengan Afgan, sementara Fandi menunggu Titah di depan gang komplek. Aku pun terkejut ketika Titah dan Fandi tiba di tempat biasa aku kumpul bersama dengan teman-teman ku. Aku melihat Afgan yang tiba-tiba saja terlihat aneh ketika melihat Titah dan Fandi jalan berdua. Aku berfikir sepertinya Afgan cemburu pada Fandi yang bisa jalan berdua dengan Titah. .... "Sarapan neng geulis itu jam enam dengan roti bakar, itu kalau tidak sedang buru-buru ke kampus, kalau sedang buru-buru ke kampus ya sampai di kampus sarapannya dengan bubur ayam pakai sate campur dan juga nasi uduk dan juga.." Cengek yang menjelaskannya pada Afgan dan Natasha, kemudian di potong perkataannya oleh Natasha yang bertanya pada Cengek. "Sate campur maksudnya itu apa ya bi ?" tanya Natasha yang memotong perkataan dari Cengek. "Sate campur itu usus ayam, telur puyuh, ati dan ampela yang di tusuk jadi satu bu." jawab Cengek yang menjelaskannya kembali pada Cengek dan juga Afgan. "Oh oke lanjut bi." pinta Afgan. "Dan juga jangan lupa pakai sambal, lalu makan siang untuk neng geulis itu kalau tidak di rumah ya di kampus ya bu, den." "Iya, apa saja itu bi ?" "Kalau di kampus itu neng geulis suka makan gado-gado, ketoprak, siomay, batagor, mie ayam, dan bakso, di hari yang berbeda, kalau di rumah itu neng geulis suka makan sayur sup, sayur bayam, sayur asem, pakai sambel, dan kerupuk, bu." "Oke kalau makan malamnya apa bi ?" "Biasanya sih kalau lagi pengen makan di luar ya neng geulis suka makan di pinggir jalan gitu seperti lesehan gitu bu, den kasep Afgan. oh ya satu lagi neng geulis itu paling suka makan nasi goreng yang di dekat tempat kumpulnya den mas Renaldi tuh, kalau tidak salah sih di warung nasi gorengnya." "Mang Daus..!!" kata Afgan dan Cengek dengan bersamaan "Nah iya itu benar den, mang Daus. Neng geulis suka makan nasi goreng ati di situ" "Oke, terus kalau di rumah kira-kira apa ya makan malamnya bi ?" "Nasi goreng juga, tapi bu dengan tambahan kencur dan juga pakai telur mata sapi setengah matang dan juga tambahan kerupuk." "Oh gitu..!!" seru Afgan dan Natasha bersamaan. "Iya bu, den." "Ngek sudah ya makan siangnya di meja makan, coba kamu cek lagi. Saya takut ada yang kurang." "Oke jo, haturnuhun nya." "Sami-sami ngek." "Sudah tau kan den mas Afgan, makanan dan minuman kesukaannya cah ayu itu apa ?" "Belum lik jo." "Loh kok belum sih, bukannya Cengek sudah kasih tau semuanya ya ?" "Belum Paijo." jawab Afgan dan Natasha bersamaan. "Yang mana ?" tanya Paijo lagi. "Minumannya Paijo..!!" jawab Afgan dan Natasha bersamaan lagi. "Oh Oke kalau minum itu cah ayu suka minum s**u untuk sarapan, air putih hangat atau es teh untuk makan siang, nah untuk makan malamnya cah ayu itu suka air putih hangat juga dan jus alpukat itu kalau di rumah, kalau di luar rumah es jeruk atau es teh manis juga, begitu sampai sini paham semua ?" tanya Paijo lagi. "Paham Paijo..!!" jawab Afgan dan Natasha bersamaan lagi. "Oke kalau begitu saya permisi ke depan dulu bu, den mau cuci mobil." "Oke..!!" seru Afgan dan Natasha bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD