Universitas Garuda
Di Mobil Titah..
"Lik jo jalan, pulang." pinta Titah.
"Inggih cah ayu." kata Paijo patuh.
----
Di Rumah Pak Nano..
"Bagaimana sayang, sudah selesai berkeliling rumahnya ?"
"Iya dong mas, mas suara klakson mobil tuh, siapa ?"
"Anakku."
"Assalamu'alaikum." Titah memberikan salam pada pak Nano dan Natasha.
"Wa'alaikumussalam." pak Nano dan Natasha menjawab salam dari Titah.
"Romo.. Em siapa dia romo ?" tanya Titah memujuk ke arah Natasha.
"Dia adalah Natasha. Natasha adalah ibu baru kamu, sayang." jawab pak Nano menjelaskannya pada Titah melirik ke arah Natasha.
"Apa!! Romo kan tau Titah belum siap punya ibu baru. Ih romo jahat, sama kaya teman Titah.." rengek Titah saat mengetahui Natasha adalah ibu sambungnya.
"Titah.... Titah, tunggu sayang." kata pak Nano yang akan menjelaskannya pada Titah.
"Mas, sudah mas. Jangan dipaksa, mungkin Titah yang belum siap punya ibu baru, ya sudah kalau begitu aku masuk ke kamar ya mas mau istirahat." Natasha mencegah pak Nano untuk menjelaskannya pada Titah.
"Iya sayang." kata pak Nano yang mendengarkan perkataan istri barunya, Natasha.
Di Taman Depan Rumah Pak Nano..
"Ih kok bisa seperti ini ya, aneh juga ya sebelumnya kan gue gak pernah suka Titah dekat-dekat dengan gue. Tapi kok sekarang gue malah gak suka ya Titah dekat-dekat dengan Fandi. Ih kenapa sih perasaan apa sih ini ?" Afgan bertanya-tanya sendiri.
"Mungkin itu yang di sebut dengan fall in love den mas Afgan." jawab Paijo yang membuat Afgan kaget.
"Astaghfirullah mas Paijo." kata Afgan yang kaget mendengar jawaban dari Paijo.
"Hehe.. Coba cerita dong den mas Afgan, apa yang terjadi." pinta Paijo.
"Nggih mas Paijo." kata Afgan patuh.
"Aja mas Paijo dong, lik jo wae den mas Afgan."
"Emang pareng ?"
"Pareng dong, ya wis cepet."
"Apaan lik jo ?"
"Cerita, pakai ditanya lagi apaan, apaan, cepat."
"Hehe.. Oke jadi begini ceritanya lik jo." kata Afgan yang akan menceritakannya pada Paijo.
*Flashback On*
Di Taman Belakang Rumah Pak Nano..
"Hmm.. Jahat banget sih romo, hem em em.." kata Titah yang menangis.
"Untung gue sudah bilang sama Renaldi mau keliling taman belakang. Eh kok eh, ih kok gue merinding gini ya, ih.. Ya masa sih siang-siang gini ada kunti nya ya Allah merinding banget gue, Eh itu mah bukan kunti yang nangis Titah yang nangis. Em.... Kenapa ya kok Titah nangis ? Pasti karena Afgan nih, em dasar teman gue tidak bersyukur sudah dikasih perempuan yang tulus seperti Titah, malah dicuekin. Ya sudah samperin saja deh."
"Assalamu'alaikum tante kunti maaf-maaf nih ya saya Fandi, saya numpang lewat mau berkeliling taman belakang rumah pamannya teman saya."
"Wa'alaikumussalam ih Fandi. Enak saja saya kunti, Titah bukan kunti tau."
"Oh orang ta. Tak kira bukan, habisnya bikin merinding Fandi sih hehe."
"Ih, em.. Hiks.. Hiks.. Hikss...." Titah menangis semakin keras.
"Waduh, waduh, waduh gawat, kalau Renaldi tau Titah nangis apalagi gue disini pasti nanti dikiranya dia nangisnya sama gue." kata Fandi yang mulai panik, karena Titah menangis.
"Sini, sini dulu Titah butuh Fandi." kata Titah yang masih menangis di belakang halaman rumahnya.
"Tah, tah, tah, Titah, kalau Fandi disini, Afgan Syah Reza dimana ?" tanya Fandi yang berniat ingin menghibur Titah.
"Ih sini hem.. Em em.. Hikss...." jawab Titah yang menangis dan memeluk Fandi.
"Si Fandi kemana ya kok gak ada disini katanya tadi mau keliling taman belakang." kata Afgan yang mencari Fandi di taman belakang rumah pak Nano.
"Titah kenapa nangis sih, nanti takutnya salah paham, terutama Renaldi nanti dikiranya kamu nangis karena saya lagi ?"
"Boleh curhat kan Fandi ?"
"Iya, boleh."
"Jadi begini ceritanya."
.....
Lima Belas Menit Kemudian..
Masih di Taman Belakang Rumah Pak Nano..
"Oh jadi seperti itu ceritanya, tapi benar loh apa yang di bilang Ana, kamu kan lemot, kalau yang dipikirkan itu Afgan mulu."
"Ih.. Fandi.."
"Nah itu dia si Fandi, tapi kok sama Titah ya. Ih kenapa sih gue kesel banget lihat Fandi berduaan sama Titah seperti itu." kata Afgan yang mulai cemburu, karena melihat Titah berduaan dengan Fandi.
"Hehe bercanda tah, tah, tah, Titah." kata Fandi yang sedang menghibur Titah di halaman belakang rumahnya.
"Ih.. Gak lucu tau, hem em em." kata Titah yang masih menangis.
"Yah tah jangan nangis lagi dong, haduh."
"Bodo, pokoknya hari ini Titah mau nangis sepuasnya di pelukan Fandi. Hiks...." kata Titah lagi menangis di pelukan Fandi.
" Haduh bagaimana caranya ya biar Titah gak nangis lagi ? Aha.. Gue ada ide biar Titah gak nangis lagi. Afgan teman gue, gue minta maaf ya sudah korbanin elu. Hehe.." kata Fandi dalam hati.
"Ih kok Fandi malah diem dan senyum-senyum sendiri sih, kenapa obatnya habis ya ?"
"Haduh, gila dong tah, gue."
"Titah gak ngomong kalau Fandi gila, Fandi sendiri loh ya yang ngomong kalau Fandi gila. Hehe.." kata Titah yang mulai tertawa.
"Sembarangan, enak saja. Jadi gini tah, hari ini kan Renaldi mau nongkrong nih, nah Afgan juga ikut elu mau gak ikut nongkrong bareng juga ?"
"Mau, mau, mau banget. Oke kalau begitu Titah dandan yang cantik malam ini hanya untuk my handsome Afgan, terimakasih ya Fandi untuk infonya, kalau begitu Titah masuk dulu ya ke dalam, dadah."
"Sudah gitu saja bujuk Titah supaya gak nangis lagi dengar nama si oncom langsung berhenti nangisnya, wow!!" kata Fandi heran.
"Ih dibilang namanya Afgan Syah Reza bukan oncom." kata Titah yang pergi meninggalkan Fandi.
"Iya deh iya, namanya your handsome Afgan Syah Reza bukan si oncom." keluh Fandi.
"Nah itu baru benar, awas ya di ganti lagi jadi si oncom." kata Titah yang meninggalkan Fandi lagi.
*Flashback Off*
Beberapa Jam Kemudian..
Masih di Taman Depan Rumah Pak Nano..
"Jadi gitu lik jo ceritanya."
"Oh itu tandanya den mas Afgan jeales."
"Haaaa apaan tuh lik jo jeales ?"
"Bahasa Indonesianya cemburu, den mas Afgan masa gak tau sih katanya mahasiswa gimana sih.."
"Oh itu jealous lik jo, bukan jeales. Haduh.." keluh Afgan.
"Hehe.." Paijo hanya tertawa.
"Oh iya ngomong-ngomong den mas Afgan gak suka kalau cah ayu dekat-dekat dengan den mas Fandi, temannya ?"
"Inggih lik."
"Oh, kenapa tidak ditembak saja cah ayu nya, den ?"
"Jangan lik jangan."
"Loh kenapa ? Katanya suka dengan cah ayu, kenapa tidak ditembak saja ?"
"Jangan lik, kalau ditembak lalu Titah nya meninggal bagaimana ?"
"Lucu nih lucu, maksudnya lik jo nyatakan cinta begitu. Bukan tembak cah ayu dengan tembakan. Hadeuh.." keluh Paijo.
"Oh ngomong dong, saya kira tembak Titah dengan tembakan."
----
"Ngek, nanti jangan lupa ya kamu ke kamarnya Renal dan bilang kalau saya sudah pulang, bilang juga kalau saya ingin memperkenalkan tante barunya." pinta pak Nano.
"Muhun pak Nano, punten." kata Cengek patuh.
Di Kamar Renaldi..
"Punten, den.." panggil Cengek.
"Muhun bi cengek, aya naon ?" tanya Renaldi.
"Dipanggil pak Nano." jawab Cengek.
"Oh om Nano sudah pulang bi cengek ?"
"Iya sudah pulang den, oh iya den satu lagi pak Nano bilang katanya mau di kenalkan oleh ibu barunya neng geulis."
"Oh oke, saya ke sana."
"Muhun den, lamun kitu punten."
"Muhun."