Dan mata kuliah pun sudah selesai, itu artinya sudah keluar kampus. Aku dan teman-temanku langsung menuju kepangkalan geng motor Tiger. Di perjalan kami melihat seseorang di hadang oleh geng motor Mortal Enemy, ternyata dia seorang perempuan dan anak geng motor juga.
Kami pun akhirnya membantunya, lalu aku pun berkenalan dengannya dan namanya ada Citra. Dan keesokan harinya aku bertemu dengan Citra kembali ketika aku ingin berangkat ke kampus.
Ana yang cemburu melihat aku yang berboncengan dengan Citra, Ana berniat ingin mengerjai Citra, tapi yang terkena malah Ana sendiri.
Sementara itu di rumah sudah ada pamanku yang baru saja pulang bekerja diluar kota, mengurusi bisnisnya di Yogyakarta bersama dengan istri barunya. Pamanku pun memperkenalkannya padaku dan juga Titah.
Ternyata Titah tidak mau mempunyai ibu tiri, lalu kemudian Titah pergi ke taman depan rumah. Titah menangis disana dan mengeluh karena pamanku menikah lagi.
Aku sendiri tidak mengetahui kalau Fandi dan Afgan datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kuliah, yang aku sendiri saja masih kaget, kalau ternyata ibu tirinya Titah adalah mantan pacarku yang tega meninggalkanku demi laki-laki yang kaya raya. dia adalah Natasha.
.....
Keesokan Harinya..
"Bi berangkat ya." pamit Titah.
"Muhun neng." kata Cengek.
"Assalamu'alaikum." Titah memberikan salam pada Cengek.
"Wa'alaikumussalam." Cengek menjawab salam dari Titah.
Di Jalan Kencana..
"Itu kan cewek yang kemarin." kata Renaldi saat melihat Citra.
"Assalamu'alaikum." Renaldi memberikan salam pada Citra.
"Wa'alaikumussalam." Citra menjawab salam dari Renaldi.
"Elu lagi, eh elu tau gak gara-gara elu tolong gue kemarin anak geng motor Mortal Enemy nyerang gue dan sekarang motor gue lecet tau." keluh Citra saat melihat Renaldi dan juga menyapanya.
Di Mobil Titah..
"Lik.., lik jo. " panggil Titah.
"Inggih cah ayu, ngapa ?" tanya Paijo.
"Mandheg dhisik sedhela, kuwi sapa sing karo mas Renal ya lik ?" tanya Titah menunjuk ke arah Citra yang sedang bersama Renaldi di jalan kencana.
"Mboten mangertos cah ayu, bokmenawa pacar e den mas Renal atau anak montor uga kaya den mas Renal." jawab Paijo.
"Oh ngono ya, tunggu aku poto dhisik ya, wis dalan iseh ya marang kampus."
"Jagi cah ayu."
Di Jalan Kencana..
"Maaf, teman-teman saya dan saya hanya bermaksud untuk membantu anda, karena anda adalah orang yang hampir jatuh dari sepeda motor dan hampir dipukuli, benar, saya juga tidak mengerti jika hasilnya ternyata seperti ini. Sebagai permintaan maaf bagaimana saya bisa membantu anda dan membawa sepeda motor anda ke bengkel, saya juga yang akan menanggung biayanya, bagaimana setuju ?"
"Oke setuju, tapi benar anda semua yang bertanggung jawab. Apakah anda akan melarikan diri lagi ?" tanya Citra juga memastikan.
"Jika masalah itu anda tenang saja. Perkataan saya dapat anda pegang, atau anda dapat menemukan saya di kampus saya." jawab Renaldi meyakinkan Citra.
"Anda kuliah di universitas mana ?"
"Saya belajar di University Garuda."
"Itu kampus saya juga. Ya sudah, tapi cepat karena saya takut terlambat ke kampus dan hari ini mata kuliah manajemen jam tujuh pagi hari ini."
"Oke.."
Setengah Jam Kemudian..
Universitas Garuda
"Ternyata benar apa yang dibilang Titah, Renal boncengan dengan perempuan. Ih siapa sih perempuan itu. Hmm.." kata Ana yang cemburu saat melihat Renaldi membonceng Citra.
"Kamu kenapa sih An ?"
"Ih elu bagaimana sih Tah, kan tadi elu yang bilang ke gue, kalau elu lihat Renaldi berduaan dijalan sama cewek, sekarang elu tanya sama gue, Tit.. Tah.., loh kok elu sih Sin, Titah mana ?"
"Kamu kaya gak tau kebiasaan Titah saja, pastinya Afgan lah."
"Ya sudah yuk sekarang ke parkiran."
"Ngapain An ?"
"Ketemu sama Titah."
"Oh iya ya.."
"Hadeh perasaan gue yang lemot dan manja itu Titah deh, eh kenapa sekarang jadi elu yang lemot sih, cukup satu saja gitu loh yang lemot, pusing gue ngadepinnya, kalau dua-duanya lemot." keluh Ana.
"He'em dah yuk ke parkiran, kita cari Titah." keluh Sinta juga.
"Ya sudah yuk, yuk."
Di Kantin Kampus..
"Yayang Afgan."
"Eh oncom tuh dicari yayang Titah nya, hehe."
"Ih Fandi, namanya itu Afgan Syah Reza tau bukan oncom, yayang Afgan sudah sarapan belum, kalau belum yuk sarapan sama Titah."
"Cie, cie oncom, sudah ikuti saja permintaan Titah daripada elu dikeluarin dari geng Tiger nanti sama Renaldi."
"Ih di bilangin namanya itu bukan oncom, Fandi." keluh Titah.
"Oh iya, kalau begitu namanya siapa dong tah ?"
"My handsome Afgan."
Di Parkiran Motor Universitas Garuda..
"Mana Sin, Titah gak ada."
"Ya mana gue tau An, kan biasanya kalau pagi disini."
"Ya sudah kita ke kantin saja yuk."
"Oke..!!"
Di Kantin Kampus Lagi..
"Ci.. Ci.. Cie, ganti lagi nih ya panggilan sayang untuk si oncom. Haha.." kata Fandi yang senang karena meledek Afgan.
"Ih Fandi berisik kamu, hus.. Hus.. Hus.., jauh-jauh sana aku mau berduaan dengan my handsome Afgan tau. Hmm.." keluh Titah menyuruh Fandi pergi untuk meninggalkannya bersama dengan pujaan hatinya.
"Em iya deh.."
"Ya sudah sana, ih Fandi sana.."
"Iya, iya, dah oncom."
"Ih, my handsome Afgan tau, bukan oncom."
"Em disini rupanya, Titah."
"Ana kesini, alhamdulillah." kata Afgan di dalam hati saat melihat kedatangan Ana di kantin kampus.
"Tuh dipanggil Ana."
"Ih ngapain sih panggil Titah, ganggu sedang berduaan dengan my handsome Afgan saja, my handsome Afgan tunggu disini sebentar ya." keluh Titah.
"Em, he'e.."
"Titah, elu tuh ya gue cariin malah mojok."
"Kenapa sih Ana ?"
"Sekarang ikut gue, cepat."
"Iya, tapi tunggu dulu ya."
"Ya sudah buruan."
"My handsome Afgan, Titah pergi dulu ya, dadah.."
"Iya.."
----
"Titah benar apa kata elu kalau Renal itu boncengan dengan cewek. Sekarang gue mau ngerjain itu cewek, dan rencana gue sekarang, sini." kata Ana yang mempunyai sebuah rencana dan akan membisikan nya pada Titah.
Di Depan Kamar Mandi Kampus..
"Tah, kunci pintunya nomer dua ya. Awas jangan sampai salah."
"Iya, memangnya Ana sudah di kamar mandi Sinta ?"
"Iya, sudah."
"Oke..!!"
Di Kamar Mandi Kampus..
"Nomer dua ya, nomer dua dari kiri atau kanan ya, tunggu sebentar deh, sebelah kiri kosong semua, berarti yang sebelah kanan, sekarang tinggal w******p Ana deh, habis itu pulang deh."
[Si lemot : Ana beres ya, sekarang Titah pulang ya.]
[Ana : Oke..]
Di Depan Kamar Mandi Kampus Lagi..
"Beres ya Sin, sekarang Titah pamit pulang."
"Iya hati-hati ya tah."
"Iya."
Di Kamar Mandi Kampus Lagi..
"Sekarang saatnya kasih itu cewek pelajaran, loh, loh, loh, kok ke kunci sih, em Titah, salah kunci, ih.."
"Loh Ana."
"Sinta tolong bukain dong."
"Iya."
"Titah mana, masa gue yang dikunci di kamar mandi sih, Titah mana ?"
"Sudah mau pulang tuh diparkiran mobil An."
"Ya sudah kita ke sana yuk."
Di Parkiran Mobil..
"Yes akhirnya romo pulang." sorak Titah yang senang karena ayahnya pulang.
"Titah, tunggu, sini."
"Iya Ana, sukses ya ?"
"Sukses apanya sih, elu tau gak yang dikunci sama elu itu gue bukan si cewek itu tuh, elu tuh ya gak berguna banget sih, lemot, pantes bokap lu nikah lagi dan lama-lama juga elu dilupain, dibuang bokap lu, pastinya bokap lu akan punya anak dari istri barunya, heran gue yang ada di kepala elu itu isinya apa sih ? Itu Afgan Syah Reza ya, Afgan kok mau ya sama elu, gak mikir-mikir dulu apa ya. Haduh Afgan kok mau sama cewek lemot model gini sih lu.."
"Tunggu dulu sebentar deh, kok Ana bawa-bawa my handsome Afgan dan romo nya Titah sih. Kalau mau marah, marah sama Titah, jangan bawa-bawa my handsome Afgan dan romo nya Titah dong. Ana jahat, Titah gak mau ngomong sama Ana, oh ya satu lagi kan Sinta yang bilang kunci yang nomer dua, dari kiri atau kanannya Sinta gak bilang ke Titah. Hmm.."
"Benar itu Sinta ?"
"I.. i.. Iya Ana, hehe, maaf lupa kasih tau."
"Ih elu, Titah jadi ngambek deh, tah, tah, Titah, tunggu." kata Ana yang mengejar Titah.