Hujan Mengguyur Semesta yang Mengering

1426 Words
Kakinya melangkah lebar mengejar waktu yang sebentar lagi ia melewatkan kesempatan mengambil footer untuk bahan liputan. Sky agak menyesal menolak tawaran bantuan dari laki-laki tadi. Biru namanya? Ah, Sky lupa. Ya memang dia bisa sendiri, sih. Tapi kalau ada bantuan akan lebih baik. Masalahnya ia tidak mengenal laki-laki itu, meski sepertinya dia akrab dengan Mas Prima. Daripada alat-alatnya nanti bermasalah, lebih baik tidak sama sekali. “Aduh.” Ikat rambutnya terlepas, membuat helaian rambut menutupi wajahnya. Sementara kedua tangannya sedang membawa barang-barang penting. Ia hanya bisa menggerakkan kepala untuk menghalau rambut agar tidak menghalangi pandangannya. “Sky! Lo hampir aja telat.” Seruan itu menyambut Sky yang sekarang sedang meletakkan barang-barangnya di atas meja. “Iya gue tahu.” Risa, teman dan juga panitia divisi humas, yang menyambutnya itu membantu Sky merapikan dan menyiapkan alat perang untuk liputan. “Gue kesel banget. Masa Dewa lagi di Bogor, Ris,” keluhnya. “Pinjem ikat rambut, punya gue jatuh tadi.” “Serius lo? Ke Bogor?” Risa merespons sambil memberikan ikat rambut yang ada di tangannya. “Iya. Gue tadi telfonin, masalahnya gue nggak begitu ngerti cara pakai kamera. Gila itu orang gue rasa.” Sky makin bersungut-sungut mengingat percakapannya tadi dengan Dewa yang disaksikan … ya, si Biru. “Terus lo udah set kamera?” Sky mengangguk. “Udah, tadi ada cowok yang kenal sama Mas Prima bantuin gue nge-set.” “Siapa tuh?” Risa bertanya-tanya. Tangannya cekatan mengelap lensa dengan hati-hati, sedangkan Sky menyiapkan notes, alat tulis, serta ponsel untuk merekam kegiatan hari ini. “Lupa gue,” jawabnya sembari berpikir. “Biru kayaknya.” Sky mengendikkan bahu. Sementara itu, Risa sudah menaruh kembali kamera ke atas meja dengan wajah melongo. “Sky lo nggak tahu nama panjangnya? Biru siapa gitu?” tanya Risa mengorek lebih dalam yang sayangnya hanya disambut gelengan perempuan itu. “Masalahnya nih ya, adik dari pembicara kita nanti itu namanya juga ada Birunya.” Risa memberitahu. “Nama Biru di dunia ini juga nggak Cuma dia doang kan, Ris.” Sky mengalungkan kamera dan membawa alat tempur lainnya ke audit. “Udah ah, gue mau liputan. Bye.” Sepanjang seminar itu, Sky benar-benar fokus mencatat dan memotret. Dua hal ia lakukan sendirian. Oh, dia harus minta kompensasi dari Mas Prima setelah ini. Ya di sisi lain ia juga cukup senang bisa mendapat satu keahlian baru, walaupun tidak tahu bagaimana hasil jepretannya, tapi ya sudahlah namanya juga kerja sendiri. Sudah bagus bisa liputan hari ini. Seminar hari ini hanya sampai pukul 1 siang, tapi berhubung liputan harus segera langsung dipublikasi, Sky buru-buru kembali ke basecamp dan mengedit foto serta tulisan sebelum ia kirim ke kadiv. “Halo? Iya, ini lagi aku edit. Sepuluh menit lagi aku kirim ke drive. Oke.” Telepon dari Franda membuat jari-jarinya ngebut menyelesaikan sebongkah naskah itu. Tahu begini ia tadi mengiyakan saja tawaran laki-laki itu. Pekerjaannya baru benar-benar selesai jam tiga sore. Langit pun sepertinya sudah menyuruhnya segera pulang. Ketika ia keluar dari basecamp, langit sudah gelap. Pertanda hujan akan turun. Benar saja, baru sampai di gerbang kampus hujan sudah mengguyur lebih dulu. Tidak jauh dari gerbang kampus, ada halte bis yang mmeungkinkan Sky untuk berteduh. Sambil memesan taksi online, ia mengusap-usap lengannya yang hanya terbalut jaket tipis. Hampir setengah jam Sky berdiri. Hujan tidak kunjung mereda, malah justru bertambah deras. Mulai muncul genangan di sekitar halte tempat Sky berteduh. Sudah lima kali pula pesanan taksi onlinenya tidak mendapat driver. Sky mendesah entah untuk ke berapa kalinya. Saat ini ia hanya ingin memeluk kasur atau paling tidak berada di tempat hangat. Ia sudah mencoba beberapa kali menelepon Syifa, tapi tak kunjung ada jawaban. “Ini anak pasti tidur,” gumamnya pasrah. Berhubung hujan tidak kunjung reda dan sangat percuma jika ia menghabiskan waktu dengan berdiri di halte, Sky memutuskan untuk ke kafe seberang. “Hot chocolate satu.” Sky mengeluarkan ponselnya untuk memindai barcode yang ada di kasir untuk pembayaran. Namun, sepertinya hari ini Sky kelewat s**l. Pembayaran elektronik dalam bentuk apapun tidak bisa dilakukan karena ada pemadaman bergilir. Perempuan itu terdiam, memikirkan bagaimana caranya ia membayar minuman yang baru saja ia pesan mengingat ia tidak membawa cash sama sekali. “Sorry, Kak. Saya –” Ucapannya terpotong ketika laki-laki di belakangnya menyela. “Black coffenya satu.” “Lo hot chocolate kan?” Laki-laki itu mengajaknya bicara? Sky mendongak dan terkejut melihat siapa yang bicara. Namun, tak ayal ia juga mengangguk atas pertanyaan itu. “Oke, Mas. Totalnya 70 ribu.” Biru mengeluarkan selembar uang berwarna merah. Transaksi itu berjalan cepat hingga Sky tidak sadar Biru sudah melambaikan tangan di depan wajahnya. “E-eh?” “Udah gue pesenin. Lo duduk aja.” Setelah mengatakan itu, Biru kembali ke tempat duduknya. Sepertinya laki-laki itu bukan baru datang, tetapi memang sudah di sana sejak tadi. “Thanks.” Sky berjalan di belakangnya. “Mm, gue boleh minta nomor lo nggak?” “Gue mau ganti yang tadi,” ralatnya buru-buru takut laki-laki itu salah paham. Biru mengangguk lalu mengetikkan nomornya di ponsel Sky. “Oke, udah gue kirim.” Sky tersenyum lega. “Thankyou …?” “Sky,” sahutnya. Laki-laki itu tersenyum. “Thankyou Sky.” Beberapa detik Sky sempat terpana dengan senyum itu. Laki-laki itu cakep juga, tapi Sky sudah kelewat tidak punya muka di hadapannya. Sky mengedarkan pandangan mencari tempat yang sekiranya tidak bisa dijangkau oleh pandangan Biru. Sayang sekali, kafe ini tidak terlalu besar dan semua meja sudah ditempati. “Sini aja,” ucap Biru. “Penuh ‘kan?” Biru menarik kursi di sebelahnya untuk mempersilakan perempuan itu duduk. Perempuan yang ia sudah tahu namanya itu duduk dengan senyum canggung. Mereka tidak banyak berbicara. Sky lebih memilih bermain ponsel, sedangkan Biru sibuk dengan urusan pekerjaannya. Sky tiba-tiba teringat sesuatu. “Kalau boleh tahu lo ada hubungan apa sama Pak Rey?” Biru mengernyit. “Rey?” Perempuan itu mengangguk polos. “Narasumber yang di seminar tadi.” “Abang gue. Kenapa?” Jawaban Biru yang kelewat santai itu hampir membuat Sky melotot. Ia menggeleng. “Nanya aja.” Meski Biru juga penasaran mengapa tiba-tiba perempuan itu menanyainya, tapi ia urungkan niatnya supaya tidak menambah kecanggungan. “Berarti lo Obsidian juga?” Biru mendengkus. “Ya begitu.” Jawaban itu tidak membuat Sky puas. Meski banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tapi sepertinya laki-laki itu tidak tertarik membahas keluarganya. Yang jelas sekarang ia sudah punya jawaban atas pertanyaan Risa di audit tadi. Biru adalah adik dari CEO dari perusahaan ternama, artinya laki-laki itu juga menyandang nama Obsidian di belakangnya. Berarti, orang di depannya ini orang kaya?! Sky berdecak kagum. Tangannya menopang dagu melihat ke sisi luar kafe. Pesanannya sudah datang beberapa menit lalu. Sedikit demi sedikit Sky menyesap cokelat panasnya. Hujan di luar masih deras sekali. Perhatiannya sedikit teralih ketika laki-laki itu mendapat sebuah panggilan. Sky tidak berniat menguping! Serius, deh! Tapi laki-laki di sampingnya ini berbicara dengan terus terang sekali. “Memang kemarin Pak Rey bilang gitu? Di catatan saya beliau hanya menyuruh kita untuk ubah strategi, belum sampai ke arah sana.” Raut wajah laki-laki itu terlihat tidak suka. Padahal Sky tidak pernah membaca mimik wajah orang lain, tapi kali ini entah mengapa terasa menyenangkan. Laki-laki itu tertawa sumbang. “Saya tidak akan menandatangani dokumen itu jika tidak ada surat tembusan, Bu.” “Silakan saja. Sebelum semuanya jelas, maaf saya tidak akan setuju,” lanjutnya. Panggilannya berakhir. Laki-laki itu menaruh ponselnya dengan kasar. Sepertinya bukan akhir yang baik karena sekarang laki-laki berwajah masam itu merapikan barang-barangnya. Sky memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan laki-laki itu. Ia baru tersadar setelah Biru pamit dengannya. “Gue duluan ya. Nice to meet you.” Sky mengerjap. Ia tidak sempat membalas karena Biru langsung keluar begitu saja. Nice to meet you katanya? Kalau Sky sih tidak. Hari ini ia merasa worth a look dan itu mengurangi rasa percaya dirinya. Hujan baru berhenti ketika langit sudah mulai gelap. Sky segera memesan ojek online, ia sangat tidak sabar merebahkan diri di kasur. Tangannya cekatan menekan pin apartemen. Syifa yang sedang asik menonton televisi terkejut dengan kedatangan Sky. Wajahnya terlihat lelah. “Lah lo baru balik?” “Menurut lo gimana?” tanyanya ketus. Ia melepas sepatu dan menaruhnya di rak dekat pintu. “Lo gue telepon nggak diangkat mulu,” keluhnya. “Sorry, hape gue di-charge. Lagian gue juga nggak bisa jemput kalo hujan gini,” bela perempuan itu membuat Sky berdecak. Ia tidak mengatakan apapun lagi. Langkahnya gontai menuju kamar. Surga dunia! Tidak sampai lima menit, Sky sudah terlelap dalam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD