13 Juni
Seorang laki-laki keluar dari mobil dengan mengenakan topi di kepalanya. Wajahnya masam memasuki area luar stadion dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Pagi-pagi buta Kai menelepon untuk menemuinya di stadion yang jaraknya jauh dari Jakarta. Lebih tepatnya berada di luar Jakarta.
Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 pagi. Biru mendengkus, matanya menatap sekeliling. Stadion memang sudah ramai, seperti perutnya yang sudah berontak minta diisi. Ia mencoba menghubungi Kai, laki-laki itu memintanya untuk menunggu di dekat pintu masuk stadion.
“Lo di mana? Gue udah di depan.” Biru mengomel karena Kai tidak kunjung tampak.
“Bentar bentar gue lagi futsalan. Lo masuk aja dulu.”
“Nggak. Gue sarapan aja,” sahut Biru memutuskan panggilan sepihak. Pandangannya mengitar ke segala arah mencari kedai atau restoran terdekat yang sudah buka. Matanya tdak sengaja menangkap seseorang yang sedang gusar di atas motor.
Biru kembali masuk ke dalam mobilnya, tapi tidak kunjung meninggalkan tempat itu. Ia memutuskan untuk browsing tempat makan yang ada di sekitar stadion itu. Matanya lagi-lagi tak sengaja menangkap seorang perempuan sedang beradu debat dengan seorang laki-laki, yang mungkin merupakan kekasihnya.
Ponselnya berdering, terlihat nama si pemanggil dari layar. “Halo.”
“Good morning, Bi!”
“Pagi juga.”
“Lo di rumah nggak?”
“Enggak. Gue lagi di luar kota.”
“Loh, kapan? Lo kok nggak kabarin?”
Biru menghela napas mendengar nada sahabatnya itu mulai meninggi. “Sorry. Semalam Kai minta gue datang mendadak.”
Terdengar embusan napas dari seberang. “Ya udah deh, lo hati-hati.”
Suaranya terdengar muram dam tidak bersemangat. Biru tahu itu. “Iya.”
“Berarti hari ini lo nggak bisa temenin aku ke partynya Sheyla dong?”
Pertanyaan itu seketika membuat Biru membeku. Pasalnya ia sudah berjanji untuk menemani Stephani. “Iya, nggak bisa. Kalau lo mau marah, marah aja ke Kai. Dia yang minta gue ke sini.”
“Awas aja gue minta perhitungan ke Kai.”
“Iya terserah lo, Tep. Lagian lo kan bisa bareng sama yang lain.”
Biru kembali melakukan pencarian pada Google. Ternyata ada outlet McDonals yang letaknya tidak jauh dari stadion.
“Ya udah iya, iya.”
“Oke, gue tutup.” Biru mematikan sambungan dan menyalakan mobilnya setelah membaca map menuju outlet McDonals. Ia melaju dengan kecepatan sedang sambil melihat ke sekeliling jalanan. Biru menyalakan sen kanan dan langsung membelokkan mobilnya ke arah parkiran.
Belum sampai keluar dari mobil, ponselnya Kembali berdering. Kini nama Kai yang muncul pada layar. Biru mendengkus Lelah. Perutnya sudah lama memberontak minta diisi, tapi lagi-lagi digagalkan.
“Halo,” jawabnya dengan nada yang agak ketus.
“Weits, santai bos. Belom-belom udah ngegas aja.”
Biru berdecak dan jelas terdengar oleh Kai. “Sabar bos. Lo di mana? Gue udah selesai, nih.”
“McD, gue tunggu nggak pakai lama,” ancamnya, kemudian memutuskan sambungan secara sepihak untuk ke dua kalinya.
Biru pun masuk dan mulai memesan sepaket sarapan yang ada di menu. Sembari menunggu menu yang dipesannya siap sekaligus menunggu Kai yang tidak kunjung datang, Biru duduk tak jauh dari pintu masuk.
Setelah lima belas menit menunggu, Biru mengambil pesanannya yang sengaja ia pesan dine in. Bukannya apa, tapi perutnya sudah tidak bisa lagi menunggu. Dengan segera, ia melahap satu per satu makanannya. Ia sudah tidak peduli kapan Kai sampai. Biru benar-benar bertekad akan meninggalkannya jika sepuluh menit setelah ia selesai makan Kai tidak datang.
Bukan hal yang buruk sebenarnya, ia hanya merasa telah membuang waktunya untuk menjemput sahabat karibnya itu. Namun, ia tidak akan marah. Kai pasti juga punya alasan memintanya datang.
Suasana di restoran tidak begitu ramai di dalam, tapi sekilas ia lihat antrean drive thru cukup panjang. Biru hampir menyelesaikan sarapannya sesaat sebelum ada yang menepuk pundaknya dengan wajah jenakanya. Laki-laki itu langsung mendudukkan diri di depan Biru.
Biru mendesis kesal ke arah laki-laki itu. “Lain kali kalo lo minta jemput itu ada pemberitahuan minimal dua hari sebelumnya.”
“Sorry dadakan, tapi gue minta lo datang ke sini juga ada bagusnya kan?” Kai mengangkat alisnya. “Lo nggak perlu nemenin Steph ke party. Di sana kan ada Dira.”
Biru menegak habis minumannya dengan kasar. Ia sudah lama tidak mendengar nama itu. Nama yang tidak ingin didengarnya satu bulan terakhir ini. Ia melirik Kai tajam.
“Udah sebulan lewat, mending lo move on aja. Tuh cewek banyak depan lo.”
Biru yang sudah berulang kali mendengarkan ocehan itu memutuskan untuk mengabaikannya. Andai move on semudah membalikkan telapak tangan, sudah pasti Biru lakukan sejak awal. Mereka keluar dari restoran itu dengan Kai yang masih sibuk bermonolog.
“Lo kan tahu mantan lo itu udah sibuk sama pacar barunya itu, lo juga harusnya sibuk cari cewek baru, Bro. Gue jamin dia bakal kepanasan.”
Celotehan Kai yang makin lama makin membuat Biru pusing membuat suasana hatinya memburuk. Biru menyalakan pemantik dan mulai menghirup tembakau elektrik yang sempat ia beli beberapa minggu lalu.
Mobil melaju meninggalkan area parkiran restoran itu. Laki-laki di sebelahnya itu sedang merasa kesal karena obrolannya sejak tadi tidak ditanggapi oleh Biru. “Anjir, mantan lo jadi begini,” ujar Kai kaget setengah berteriak setelah lima menit yang lalu memutuskan untuk bermain i********:.
Biru melirik kesal tanpa mengatakan apapun. “Gue kirim DM lo, ya.” Ucapan Kai benar-benar membuatnya speechless. Bisa-bisanya dirinya yang sedang ingin move on seolah digagalkan begitu saja oleh sahabatnya.
“Lo nyuruh gue move on, tapi ngirim gituan ke gue. Gimana gue move on?” tanya Biru.
“Move on mah tinggal cari cewek baru. Gitu aja dibikin ribet, nggak akan ngaruh gue ngirim ginian ke lo.”
“Anjir lo,” umpat Biru mendengar balasan asal dari sahabatnya itu.
Kai hanya terkekeh dan melanjutkan scroll-scroll i********: Explorenya. Hampir selama satu jam perjalanan mereka saling sibuk masing-masing. Biru yang fokus menyetir dan Kai yang sibuk dengan social medianya.
Ketika mereka sampai di jalan tol, Kai mengeluh agar Biru segera memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Biru awalnya tidak menanggapi itu dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan 70km/jam. Namun, Kai semakin merajuk dan memintanya berhenti.
“Kenapa sih lo?” Biru akhirnya menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Kai langsung melepas seatbeltnya dan turun dari mobil. Biru secara tidak langsung melihat wajah Kai yang sedikit pucat. Ia menghela napas. Sudah jelas kalau laki-laki itu mabuk darat.
Ia juga sudah cukup mengantuk setelah hampir tidak tidur seharian kemarin. Lima menit berlalu Kai masih sibuk dengan kepalanya yang berputar. “Makanya kalo di jalan nggak usah main i********:. Mabuk kan lo.”
Kai mendesis. “Bacot lo, ambilin gue minum.”
Mau tidak mau ia pun memberikan botol minum kepada Kai. Biru menunggu laki-laki itu benar-benar beres membersihkan bekas sisa-sisa yang ia keluarkan di mulutnya.
“Udah?” tanya Biru yang sudah siap Kembali melajukan mobilnya. Kai hanya mengangguk sembari memasang seatbeltnya.
Biru pun menginjak pedal gas. Mereka melanjutkan perjalanan selama hampir tiga jam. Selama itu pula Biru berusaha menahan kantuknya. Melihat Biru yang berulang kali menampar pipinya agar terus terjaga membuat Kai inisiatif untuk mengambil alih kemudi.
“Minggirin mobilnya buruan,” ucap Kai ketika mereka hampir keluar dari tol.
Awalnya Biru menolak. Ia malah mengernyitkan keningnya. Namun, ia tetap mengikuti arahan Kai. Ia bertukar tempat dan belum lima menit, Biru langsung tertidur lelap sepanjang perjalanan hingga apartemen Kai.
Crazy Vanity
“Bangun, anjir. Kebo banget lo.”
Mereka sampai di apartemen Kai yang notabene berjarak hampir 20 km dari kediaman Biru. Kai memarkirkan mobil dengan rapi di basemen apartemennya sejak lima menit lalu dan laki-laki di sebelahnya tidak kunjung bangun.
Seketika Kai ingat masih menyimpan botol dengan air yang tersisa sedikit. Iseng, Kai menyiram wajah Biru dengan air tersebut sambil berteriak, “Kebakaran! Kebakaran!”
Sontak Biru langsung menegakkan badan sambil melotot. Tidak butuh waktu lama untuk Biru sadar bahwa itu kerjaan iseng orang di sebelahnya. “s****n lo, anjir!”
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Ia sadar kalau ini bukan di area rumahnya. “Lo nggak bawa gue balik?” Kai berdecak, tapi tidak mengatakan sepatah kata pun. “Turun lo,” suruh Biru.
“Bener-bener nggak ada terima kasihnya,” balas Kai sambil membuka pintu. Tanpa turun, Biru menggeser duduknya ke kursi kemudi. Ia menutup pintu, kemudian menurunkan kaca jendelanya. “Udah gue bela-belain dateng nggak cukup?” cibir Biru.
Kai hendak menyela, tetapi dering ponsel Biru menginterupsinya. “Halo, Ma.”
“Iya.”
“Apart Kai.”
“Ya.”
Biru kembali menaruh ponsel pada kolom dekat setir. “Gue cabut dulu kalo gitu,” ucapnya menutup jendela tanpa memberikan kesempatan Kai berbicara. “Anjir tu orang,” gumam Kai. Mobil meninggalkan area parkiran dan memasuki padatnya jalanan. Biru menyalakan radio dengan volume kecil.
Padatnya jalanan Jakarta di sore hari memang tidak ada yang bisa menandingi, terlebih di hari Minggu. Biru menghela napas. Mama memintanya untuk segera pulang karena akan ada pertemuan dengan kolega perusahaan keluarganya.
Biru berdecak kesekian kali karena hampir setengah jam mobilnya tidak bergerak hanya beberapa meter dari apartemen. Klakson sudah bersahutan sejak tadi. Tidak ada polisi berjaga yang mengatur kemacetan, padahal tidak jauh dari persimpangan itu terdapat pos polisi. Kenapa tidak ada satu pun polisi yang mengatur lalu lintas?
Biru sampai setelah beberapa jam kemudian, yang sudah pasti ia telat datang. Namun, sepertinya bukan masalah besar karena saat ini para kolega papanya itu sedang berenang santai di halaman belakang, begitu kata mamanya setelah ia datang tadi. Diambilnya segelas jus jeruk dari kulkas dan mendudukkan diri di sebelah mamanya yang sedang menonton televisi. Tidak tahu apa yang menarik dari gosip dan rumor di channel itu, Biru lebih tertarik membuka Twitter.
“Abang ikut ke belakang sana.” Mamanya mulai pembicaraan yang sudah jelas ditolak Biru.
“Nggak,” jawabnya sambil masih scroll Twitter.
“Sana Bang, nggak Cuma bapak-bapak kok,” bujuk mamanya lagi.
“Nggak, Ma.” Biru masih menolak.
“Lihatin apa sih sampai nggak mau gabung ke sana? Itu ada Bang Wira di belakang juga, temenin sana.” Mamanya terus memaksanya untuk bergabung bersama bapak-bapak dan obrolannya. Walaupun Wira bukan bapak-bapak, tetapi jokes bapak-bapak sudah melekat di dirinya.
“Yaudah iya,” jawab Biru pasrah. Sambil masih menggenggam gelas ia beranjak ke halaman belakang.
Kedatangannya disambut meriah oleh semua yang ada di halaman belakang. Mereka menyoraki Biru yang langsung mendudukkan diri di sebelah Bang Wira. Ia hanya tersenyum sebagai sapaan untuk semua orang di sana. Hanya berselang beberapa detik raut wajahnya kembali ditekuk.
“Muka lo ditekuk mulu.” Bang Wira membuka obrolan setelah Biru menaruh gelas di atas meja. “Gimana? Lo udah move on belum? Mau gue kenalin ke temen-temen gue?” tawar Wira berbaik hati.
Biru berdecak. Hampir semua orang tahu akhir hubungan Biru dengan Dira, mantan pacarnya. Semua turut berempati padanya. Mereka mengatakan mantan pacarnya itu sangatlah tidak beruntung karena telah menyia-nyiakan seseorang seperti Biru. Sudah kaya, ketampanan di atas rata-rata, sayang keluarga, pekerja keras, kurang apa lagi?
“Udahlah Bang, gue lagi nggak mikir ke sana. Hidup gue masih banyak yang harus dibenerin. Mikir cewek belakangan.” Biru menyahut dengan senyum kecil yang terbit di wajahnya.
“Jangan langsung nutup hati gitu dong, siapa tahu bentar lagi lo nemu gantinya,” ucap Wira. Usia Wira yang sama dengan usia Greyson membuat Biru tidak sungkan bercerita. Wira merupakan sepupu mereka, anak dari adik Obsidian. Walaupun bisa dibilang Biru tidak begitu dekat dengan kakak kandungnya, percakapan dengan Wira membuat insight-nya sedikit terbuka lebih luas.