Trying Harder

1387 Words
5 Juli “Lo udah hampir lima begini, Sky. Ayo temenin gue keluar,” bujuk Syifa kesekian kalinya. Sky bahkan tidak menanggapi ajakannya sejak dua jam pertama mereka memulai mengerjakan soal. “Sky, lo udah daritadi ngerjain soal,” keluh Syifa. Ia memasukkan alat tulis dan menutup bukunya. “Syif, kalo lo mau keluar ya keluar aja sendiri. Gue masih mau ngerjain paket terakhir,” jawabnya masih fokus pada soal-soal di depannya. Saat ini mereka sedang menghabiskan hampir seperempat harinya di sebuah kafe yang sering menjadi primadona anak SMA untuk ngambis atau sekadar nongkrong. Tidak hanya mereka yang sejak tadi sibuk mengerjakan soal, tetapi hanya mereka yang lima jam tanpa beristirahat. Rasanya Syifa ingin kabur dari tempat ini walau sebenarnya tempat ini tidak bersalah. Hanya saja ia lelah terus-menerus melihat soal tanpa henti. “Seriusan Sky, lo bener-bener butuh istirahat. Ngambis boleh, tapi ini kelewatan. Lo mesti jaga kesehatan juga,” ingat Syifa. Sky menggeleng. “Gue nggak akan tembus kalo nggak ngejar. Nggak akan keburu, Syif.” Syifa menghela napas. “Sky, lo mesti dengerin gue. Lo butuh istirahat supaya lo bisa maksimal belajarnya. Kalau lo kurang istirahat bakal banyak materi yang mis buat lo ngerti dan berujung kesusahan ngerjain ujiannya.” Biasanya perkataan Syifa selalu didengarkan meski kadang tidak sesuai dengan keinginannya. Namun, kali ini Sky benar-benar ingin memenangkan ambisinya. Sky meletakkan pulpennya ke atas meja, membuat perempuan di hadapannya membeku. “I won’t say it twice, Cip. Gue mau usaha sebisa gue, mau sampai gue sakit juga kalau gue masih sanggup bakal gue lakuin. Gue harus bisa buktiin ke bokap nyokap kalo gue bisa hidup sendiri setelah masuk kuliah nanti. And I won’t them to have a finger in the pie of my decisions.” Syifa mengetukkan jari ke atas meja. “Oke kalau gitu, tapi lo harus tetap istirahat. Lima belas menit aja deh, nggak perlu lama-lama,” ucapnya. “Well, itu masih bisa dipertimbangkan,” kekeh Sky. Ia pun meregangkan tubuh dan memijat pelan kelopak matanya. Keduanya asik dengan kegiatan masing-masing. Sky yang melakukan peregangan kecil pada tubuhnya dan Syifa yang bermain ponsel. “Lo tahu nggak sih tahun lalu banyak banget peserta UTBK yang curang?” tanya Syifa yang dibalas anggukan Sky. “Itu gila banget nggak, sih?” lanjutnya. “Kok bisa ya mereka berani? Apa meraka nggak takut kalau hasilnya dibatalin atau parahnya kena blacklist sama kampus?” “They just didn’t know the procesess. They had a dream and did anything to achieve, but they didn’t how precious moment in every step that we had. Iya nggak, sih? Mereka tuh kayak naik perosotan aja gitu.” Kedua alis Syifa mengernyit. “Mereka naik di tiap anak tangga untuk sampai puncak itu mimpi yang mereka bangun dan mereka inginkan dari kecil sampai di tingkat akhir SMA. Sayangnya, mereka nggak percaya diri sama kemampuan sendiri. Mereka nggak berani naik anak tangga yang lebih tinggi lagi untuk coba perosotan yang lebih menarik. Mereka stuck dan akhirnya mau nggak mau kayak pasrah dan itu yang bikin mereka jatuh.” Syifa menahan napas ketika tidak sengaja melihat sebuah postingan foto terbaru di i********:. Foto itu memperlihatkan Junio sedang berbaring di rerumputan. What a peace. “Kenapa lo?” tanya Sky dan Syifa hanya menggelengkan kepala. “Yakin? Muka lo kayak sedih gitu.” selidiknya. Sky menatap temannya penuh curiga. Ia pun membuka aplikasi i********: dan sepertinya ia menemukan jawaban dari pertanyaannya. “Apaan, sih. Enggak kok,” jawab Syifa yang langsung memasukkan ponsel ke dalam totebag. “Yakin bukan karena postingannya Junio?” bisiknya membuat Syifa memalingkan wajah meronanya. Sky memainkan kedua alisnya iseng. “Kok responsnya gitu, Cip? Jujur aja sama gue,” ledek Sky. “Apaan sih, lo!” elak Syifa yang pipinya masih jelas merona. Tidak sengaja ponselnya menyala menampilkan beranda i********:. Sontak Sky memekik ketika melihat layar ponsel itu. “Tuh kan!” “Ngaco banget sih lo, Sky!” Syifa memasukkan semua peralatan menulis dan buku-buku ke dalam tas. “Ngapain juga gue ngepoin Junio,” gumamnya. “Lo tuh jelas banget kalo lagi naksir orang, Syifa,” balas Sky terus terang. Ia turut membereskan semua peralatannya. Syifa keluar dari perpustakaan dengan tergesa-gesa. Sky mengikutinya terseok-seok. “Woy, Cip! Tungguin!” “Syifa, ih! Tungguin!” teriak Sky yang tidak diindahkan perempuan itu. Langkahnya cepat berjalan menuju halte yang ada di pinggir jalan depan perpustakaan. “Astaga, jalan lo cepet banget, Cip!” keluh Sky yang merasa kakinya loyo setelah menuruni tangga lima lantai karena mengejar Syifa. “Lho lo ngapain ngikutin gue? Katanya mau belajar sampai mampus?” sahut Syifa yang dibalas toyoran Sky. “Ya gue nggak tenang belajarnya kalo lo cabut duluan,” jawabnya. Mereka berdua menunggu kedatangan taksi online yang dipesan Syifa sesampainya di halte. “Lo seriusan baper sama Junio, Cip?” tanya Sky berbisik persis di telinga kiri Syifa. “Ih, Sky! Apaan, sih! Enggak! Gue nggak baper. Ngapain juga baper sama Junio,” sahutnya ketus. “Biasa aja dong, Sis. Nggak usah ngegas gitu juga kali,” balas Sky dengan ejekan. “Udahlah, jujur aja sama gue. Rahasia lo aman di gue pokoknya,” ucapnya meyakinkan. Tatapan mata perempuan di sebelahnya mengisyaratkan maksud seperti ‘Lo serius? Gue bisa pegang omongan lo nggak, nih?’ “Seriusan, Cip,” jawab Sky sambil mengangkat dua jari ‘peace’nya. Syifa masih memandangnya tidak percaya. “Nggak ah. Lo kadang bocor embernya!” seru Syifa yang menatap layar ponsel memperlihatkan berapa lama lagi taksi online pesanannya datang. “Tuh kan! Secara nggak langsung lo tuh ngasih tahu kalo lo beneran baper sama Junio!” pekiknya. Ia menyenggol lengan Syifa. Ekspresi temannya itu selalu membuatnya puas tertawa. “Enggak,” elaknya. “Mana ada?!” Sky merangkul perempuan di sebelahnya yang terlihat gugup. “Gue udah tahu dari nada bicara lo yang nggak biasa, Syifa.” Sudah lama Sky tidak mendengar cerita dari sahabatnya itu. Terakhir yang ia tahu dua tahun lalu Syifa putus dengan kekasihnya sejak SMP. Setelah itu, Syifa tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki. Itu yang ia tahu sejauh ini. Pernah suatu waktu ia memaksanya untuk menyukai orang secara random, tapi Syifa menolak keras. Katanya, “Buat apa gue suka sama orang random, cari penyakit aja.” Sejak saat itu ia tidak pernah lagi menyinggung dan membiarkan Syifa cerita dengan sendirinya. Meski keduanya sudah berteman cukup lama dengan Junio, bukan berarti tidak ada yang memendam perasaan, ‘kan? Sky sendiri tidak pernah ada rasa suka terhadap laki-laki paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Orang-orang mungkin akan berkata benci lama-lama jadi cinta. Sky tidak benci, ia menganggap Junio sebagai saudara, seperti Syifa. Tidak lebih. Sky bahkan lebih suka jika Junio dan Syifa yang berada dalam lingkaran itu. “Fokus dulu cari kuliah,” balasnya kehabisan jawaban. Kekehan Sky yang renyah membuatnya memutar kedua bola mata. Susah sekali menghindari pertanyaan Sky yang menyudutkannya. “Syif, dengar ya. Gue nggak akan maksa lo untuk cerita. It’s okey, ngga semua hal harus diceritain ‘kan?” ucapnya sambil memandang lurus ke depan. “Gue Cuma mau lo tahu kalau semua perasaan itu valid, entah tentang apa dan untuk siapa. Gue mau lo ingat untuk berhenti denial sama perasaan lo sendiri.” Sky menoleh. “Lo dengar gue ‘kan?” tanyanya sedikit ketus karena sikap Syifa yang terkesan tidak mendengarkannya. “I’m all ears!” serunya tanpa menatap balik Sky. “Lo bisa aja suka tapi belaga nggak suka. Kagum tapi belaga biasa aja. Lo boleh nunjukkin itu ke orang, tapi nggak dengan diri lo sendiri. Oke boleh lo mengagumi dia dari jauh or just had a crush with him, tapi jangan biarin itu batasan buat lo nggak dekat dan malah seolah menjauh dari dia.” Sky mengatakannya dengan hati-hati. Takut kalau-kalau Syifa tersinggung atau tidak terima dengan perkataan bijaknya barusan. Ia melirik sekilas ekspresi Syifa yang masih tidak berubah, hanya sedikit lebih lunak. “Gue belum pernah suka sama orang, tapi gaya banget nasihatin lo segala,” ungkapnya seraya tergelak. Perempuan di sebelahnya ikut terkekeh dan menggeleng. Ia pasti berpikir kalau Sky tidak berhenti berbicara ia akan mengalahkan motivator terkenal seantero raya. “Gue pikir bentar lagi lo jadi Merry Riana jilid 2,” ledeknya sambil terkekeh. Sky terperangah, celetukan Syifa terkadang juga membuatnya geleng-geleng kepala. “Oke, we good then?” “Yap,” jawab Syifa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD