Mengurai Rasa yang Tak Kunjung Ada

1809 Words
“Gue males ngampus, Sky,” rengek Syifa yang selama seminggu ini mereka menghabiskan waktu di kampus. Syifa yang masih terkapar dengan Converse di kakinya menutupi wajah dengan bantal di dekatnya. Sky menarik kedua tangan sahabatnya itu hingga terduduk. “Ayo! Ini kita udah hampir telat.” “Skip sekali ini deh gue. Remuk banget.” Syifa kembali merebahkan tubuhnya dan langsung membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. “Gue nggak mau tahu ya kalau lo dicariin sama Mas Dimas,” ancamnya sambil berlalu dari kamar. Syifa tidak melakukan pergerakan apapun. Sepertinya ia benar-benar sedang tidak bersemangat. “Izinin gue, Sky!” teriaknya dari kamar membuat Sky mendengkus. Terpaksa hari ini ia harus naik busway sendirian. Sesampainya di halte, Sky langsung tap kartu dan secara otomatis saldonya berkurang Rp 3500. Menggunakan transportasi umum sangat menghemat pengeluarannya selama hampir satu tahun di ibukota. Dibanding menggunakan ojek online, busway lebih memberikan kenyamanan meski di jam-jam tertentu tetap harus berdesak-desakkan. Sky menaiki busway yang searah dengan kampusnya. Sepanjang jalan ia tidak mendapatkan tempat duduk. Sebenarnya ada satu bangku tersisa, tapi itu bangku prioritas. Sky juga masih punya kesadaran untuk tidak mendudukinya. Butuh kekuatan dan kesabaran ekstra untuk bertahan di ramainya penumpang busway yang aromanya bercampur aduk. Setelah hampir 30 menit perjalanan, akhirnya ia tiba di halte depan kampus. Betapa menguntungkannya meski harus berjalan menuju fakultas yang terlampau jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Sesaat ia turun dari busway dan mulai berjalan memasuki gerbang kampus, tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup ia kenal. Kepalanya menoleh otomatis ketika sebuah motor menyejajarkannya. “Sendiri lo, Sky?” tanya seorang laki-laki dari balik helm. Sky mengiyakan. “Syifa lagi nggak enak badan, Mas. Jadi, dia minta gue izinin ke lo.” Laki-laki yang kerap dipanggil Mas Dimas itu pun menawari Sky untuk nebeng sampai fakultas. “Wah, boleh nih? Nggak mungkin gue tolak, sih,” candanya sambil naik ke atas motor N-Max modifikasi itu. “Berarti Syifa sekarang di apart?” tanya Dimas sembari melajukan motor dengan kecepatan sedang. “Iya. Tiduran mulu dia,” adunya. “Sakit apaan emang?” Dimas membelokkan motornya ke parkiran fakultas. “Nggak tahu, tuh. Lo tanyain aja sendiri.” Sky turun dari motor. “Mas, gue duluan ya. Thankyou tebengannya,” ucapnya sambai melambaikan tangan. Sky berjalan cepat menuju auditorium fakultas. Meski Mas Dimas dan dirinya berada dalam event yang sama, tetapi sebagai divisi acara ia harus mempersiapkan banyak hal. Sky bertanggung jawab dalam melakukan briefing semua pengisi acara dan melakukan perhitungan akurat supaya jadwal tidak molor. “Nah, ini dia Sky udah datang!” “Ke mana aja sih lo? Dicariin dari tadi.” Sambutan yang ia terima memang cukup tidak mengenakan, tapi ya memang itu kesalahannya datang terlalu mepet hingga terlambat beberapa menit. “Sorry sorry.” Sky menaruh tas ke atas meja dengan sembarang dan langsung mengambil catatannya. Sebagai mahasiswa, Sky mendadak menjadi seorang FOMO. Fear Of Missing Out tiba-tiba menyerang dirinya ketika melihat banyak mahasiswa yang memulai kegiatan kepanitiaan dan lain-lain. Dirinya harus bisa mengimbangi yang lain atau dia akan tertinggal. Satu hal yang paling melekat dari seorang Askya Fredella Pratistya, tidak mau tertinggal. Ia membenci itu. “Lo udah pada minum belum?” tanya Raka si koordinator divisi acara yang super perhatian ke anak-anaknya. “Belum,” rengek anak acara bersamaan. Raka terkekeh. Ia menaruh dua kantung plastik besar ke lantai dan semua anggota divisi acara langsung duduk mengitarinya. “Asik Janji Jiwa!” pekik mereka. Mata Sky juga tidak kalah bersinar ketika tidak hanya minuman, tapi juga ada toastnya. “Gila lo baik banget, Rak!” puji Sky sambil membantu mengeluarkan minuman dan makanan itu. “Yoi dong. Kan lo semua udah kerja keras, jadi gue apresiasi lah ini,” jawab Raka sambil tersenyum. Semuanya mengangguk. “Lo emang koor ter-the best sih, Rak.” Pujian terus dilontarkan mereka kepada Raka yang sudah tak bisa lagi menahan senyum salah tingkahnya. “Habis ini kita gladi kotor ya. Semua udah clear ‘kan?” “Udah,” jawab yang lain serempak. “Rak, punya gue –.” Ucapan salah satu anggota terpotong balasan Raka. “Lo makan kunyah telan dulu baru ngomong.” “Gue masih ada yang mis nih. Pengisi acaranya ada yang nggak bisa dihubungin,” ucapnya setelah menuruti perkataan Raka sebelumnya. “Yang mana, tuh?” tanya Raka. Ia mengambil ponsel dan membuka drive divisi. Memang ada satu pengisi acara yang belum memberi konfirmasi pada panitia. “Oh. Ini nanti gue yang reach up ke manajernya lagi, deh.” “Oke. Thanks, Rak.” “Yang lain nggak ada masalah lagi kan? Kalau gitu kita langsung aja prepare buat gladinya.” Raka membereskan sisa-sisa bungkus makanan ke dalam plastik sampah. “Presenter sama moderator udah ready kan?” Pasangan presenter dan moderator memberikan ibu jari tanda mereka sudah siap. “Oke. Kalau gitu operator stand by ya.” Raka berbicara pada walkie talkie di genggamannya. “Siap!” Gladi kotor berjalan selama hampir satu jam. Setiap pergantian timeline selalu ada evaluasi, baik dari Raka maupun Dimas selaku ketua pelaksana. Sebagai anggota divisi acara, Sky hanya sesekali memberi masukan. Itupun ia tetap harus mendapatkan persetujuan Raka. Kerja sebagai tim memang harus pandai menekan ego. Tidak boleh ada yang merasa paling benar dan terbuka dengan berbagai macam pendapat. Persiapan mereka untuk acara seminar dua hari lagi telah selesai. Besok mereka akan kembali berkumpul dan melakukan gladi bersih dengan semua pengisi acara, kecuali narasumber. Mereka hanya akan diberi arahan atau briefing satu jam sebelum acara dimulai. Sky hendak kembali ke apartemen. Namun, perut laparnya tidak mau menunggu lagi. Ia pun berjalan sendiri ke kantin fakultas. Di sana hanya beberapa warung yang buka. Mau tidak mau Sky langsung memesan sepiring nasi beserta lauk pauk dan sayurnya. “Halo.” Sky mengangkat panggilan dari Syifa sambil membawa piring yang penuh dengan berbagai jenis lauk. Lo balik kapan? Laper gue. Terdengar keluhan dari seberang panggilan. Sky menghela napas. Ia menaruh piring dengan satu tangan dan kembali lagi untuk mengambil minum. “Gue masih di kantin. Lo pesen online aja,” sarannya. Trus ntar gue makan sendiri gitu? Nggak enak. “Heh, ini gue juga lagi makan sendiri. Lo bisa lah sendiri, di apart pula,” sahut Sky setelah menyeruput jus jambu kesukaannya. Nggak mau. Gue nggak akan makan sebelum lo pulang. Syifa mengancam di balik sambungan telepon membuat Sky untuk kesekian kalinya menghela napas. Entah kebetulan apa, Dimas tiba-tiba duduk di hadapan Sky. Secara otomatis, Sky mengulum senyum penuh arti. “Gue tahu gimana caranya biar lo makan,” ucap Sky menaik turunkan alisnya membuat laki-laki di depannya kebingungan. “Siapa?” tanya Dimas tanpa suara. Sky hanya tersenyum, kemudian menutup panggilan secara sepihak. “Syifa nggak mau makan kalo gue belum pulang, sedangkan gue masih mau makan ini ntar maag-nya kambuh,” jelas Sky panjang kali lebar. “Lo bisa kan, Mas? Gue udah kasih restu, nih.” Sky menyendok suapan pertamanya. “Ntar Syifanya risih, ogah gue,” tolak Dimas malu-malu tapi mau. “Enggak. Ntar gue yang bilang kalo lo suruhan gue,” candanya. “s****n lo.” Dimas berpikir sejenak. Ya dia memang suka dengan sahabat Sky itu. Mereka berkenalan saat awal masa orientasi. Saat itu Dimas menjadi kakak pembimbing kelompoknya Syifa. Secara otomatis dan tanpa sengaja mereka menjadi kian dekat. Syifa memiliki pesona yang mampu menarik perhatiannya. Mulai sejak itu, Dimas diam-diam menaruh hati dan mulai mencari cara agar mereka bisa semakin dekat. Namun, padatnya jadwal kuliah membuat mereka hampir tidak pernah bertemu. Itu cukup membuatnya kesal. Berulang kali ia ingin mengajak Syifa makan bersama. Sayangnya, setiap kali Dimas mengajaknya Syifa selalu sedang terburu-buru. “Ya udah. Boleh deh,” ucap Dimas pada akhirnya. “Lo beliin sop atau makanan berkuah aja deh. Itu anak kalau lagi sakit nggak doyan makan.” Sky melahap suapan demi suapan. “Oke. Gue cabut ya.” Dimas meninggalkan kantin dengan sedikit berlari. Sky hanya menggeleng sambil tersenyum. Sepertinya Dimas benar-benar kelewat senang. Sesampainya di apartemen, Sky disambut dengan celotehan panjang dari perempuan yang mengaku sakit tadi. “Lo bener-bener deh Sky. Lo nyuruh Mas Dimas ke sini?” Syifa bersedekap. “Wah! Nggak setia kawan emang lo.” Sky berdecih. “Heh, lo tuh harusnya bersyukur dapat makan gratisan.” Langkahnya menuju dapur untuk membuat smoothies. “Dikasih apa aja tadi lo sama Mas Dimas?” tanyanya seraya memotong buah naga. Syifa menunjuk sebungkus plastik berisi kuah sisa yang tadi ia makan. “Bawa sop iga, jus mangga, tuh di kulkas masih ada dumpling belum dimasak.” Sky menatap sahabatnya itu dengan pandangan prihatin. “Sebanyak itu dia kasih dan lo masih mau nyalahin gue?” “Kejam sekali,” cibirnya melanjutkan aksi memotong buah pisang yang sudah dibekukan. “Ya habis lo tadi tiba-tiba matiin telepon, nggak lama Mas Dimas datang. Ya salah lo nggak kasih penjelasan.” Syifa mendengkus. “Halah, tapi lo juga yang untung kan?” Tangan Sky cekatan memasukkan buah potong ke dalam blender. “Lagian lo kenapa nggak buka hati aja sih? Mas Dimas kurang apa coba?” Syifa melenggang menuju kulkas dan mengambil yogurt. “Gue nggak mau jawab.” “Serius lo masih kepikiran sama anak tengil itu?” Suara blender membuatnya bertanya sambil berteriak. “Junio udah bukan anak tengil,” belanya diikuti kekehan Sky yang mengejek. “Bela aja terus. Itu bocah tetep tengil di mata gue dan dia masih nggak peka setelah selama ini, lo berharap apa?” Pertanyaan itu menyadarkan Syifa yang kini hanya mengaduk malas isi yogurt di depannya. “Lo beneran masih nungguin Junio anak tengil nggak peka itu?” Sky benar-benar tidak habis pikir. Pasalnya, Junio kini sangat terkenal dengan hobi gonta-ganti pacar di kampus. Berkali-kali ia menemani Syifa menangisi laki-laki tidak tahu diuntung itu. Andai Sky bisa bertemu dengan Junio saat itu, ia bisa langsung menyerbunya dengan berbagai pukulan dan makian. “Apaan sih,” elak Syifa. “Udah deh ya jangan lagi buka pintu buat Mas Dimas, gue lama-lama nggak enak ngegantungin dia gitu.” Sky melepas colokan blender. “Justru itu lo harus tegas dong. Kalau lo emang nggak mau ya tolak aja dia biar nggak ngejar-ngejar lo lagi.” Jawaban itu tidak mendapat jawaban dari Syifa. Perempuan itu justru malah menyuap yogurtnya pelan-pelan. “Kalau lo suka yaudah lupain si anak tengil terus lo buka hati lo pelan-pelan,” ucap Sky sembari menuangkan smoothiesnya ke mangkuk. Syifa mendesah. Ini seperti ia dihadapkan pada dua pilihan yang cukup rumit. Pertama, ia tidak bisa melupakan dan merelakan Junio begitu saja. Butuh waktu yang lama dan alasan yang kuat untuk melakukannya. Sementara itu, ia sendiri masih yakin kalau Junio akan melihatnya sebagai seorang wanita. Kedua, kalau ia membuka hati untuk orang lain, ia juga tidak yakin perasaannya itu benar. Masih banyak keraguan bila ia nekat menerima orang baru, padahal hatinya masih belum pulih. “Tau ah, pusing.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD