"Bukannya nenek tidak percaya padamu, Van. Nenek takut kamu kembali terlilit hutang seperti ayahmu," ucap Asnah dengan tatapan sendu pada sang cucu.
"Nenek tenang aja ya, pokoknya utang lunas dan rentenir itu tidak akan menggangu lagi. Setelah toko direnovasi semoga penghasilan kita bertambah."
"Aamiin."
Malam ini Kaivan masih bekerja, meskipun sudah mengundurkan diri. Namun, bosnya meminta Kaivan bekerja satu minggu lagi karena dia harus mencari orang untuk menggantikannya menjadi bartender di sana. Seperti biasa, lelaki tampan itu sudah berada di tempat kerja.
Sementara di sisi lain, Kyra meminta Dewi untuk memantau apa yang sedang di lakukan ibu tirinya malam ini. Setelah di rasa aman Gadis itu meminta Dewi menuruti keinginannya.
"Saya rasa ini terlalu beresiko, Nona. Jika mau saya bisa menyuruh orang untuk mengirimkan foto atau vidio Tuan Kaivan di sana." Dewi memberikan saran dan berusaha menolak keinginan Kyra.
"Tidak mau. Aku ingin melihat sendiri bagaimana cara suamiku bekerja!" ucap Kyra tak mau mendengar saran yang di berikan asistennya.
"Tapi bagaimana jika penyamaran Nona ketahuan oleh Tuan Kaivan karena hal ini?" tanya Dewi yang merasa khawatir.
"Ya jangan sampai ketahuan dong!" ucap Kyra masih keras kepala.
Dewi hanya mampu mengangguk dan menghela nafas panjang, wanita itu terpaksa harus berpikir bagaimana caranya agar penyamaran majikannya tidak terbongkar oleh suaminya. Beberapa jam kemudian Kyra sudah tampil berbeda, dengan wig di kepala, pakaian seksi, dan riasan wajah yang dibuat seperti orang lain oleh make up artis.
"Nona, di sana jangan lama-lama ya! Nanti kalau Nyonya Zaina pulang saya akan beri kabar kepada Nona Kyra."
"Lampir itu tidak akan pulang, percayalah jika dia sudah di apartemen kekasihnya dia akan gila dan lupa pulang."
"Iya tetap saja, Nona. Jangan terlalu lama di sana."
"Kau cerewet sekali, lama-lama kau jadi seperti kembaran lampir itu!"
Kyra berjalan menuju walkin closet, lalu membuka pintu rahasia di sana. Pintu itu terhubung kepada sebuah tangga yang menuju ke gerbang belakang rumah. Satu orang pengawal menunggu Kyra di dalam mobil Lamborghini berwarna merah menyala, setelah memastikan Kyra duduk dengan aman dan tak ada yang melihat pergerakan mereka, mobil itu pun keluar rumah.
Kyra tersenyum manis menatap kilauan lampu jalan. Hal yang jarang sekali ia lihat seumur hidupnya, gadis cantik yang tak terlalu suka dengan keramaian, ketika bersandiwara dan memainkan peran pura-pura gila dia begitu menikmati kehidupannya di dalam rumah. Meski begitu dia tetap bisa bekerja melalui om dan tantenya, Kyra sesekali datang ke perusahaan dengan penampilan berbeda yang tak di kenali oleh satupun staf perusahaan selain om dan tantenya.
Hidupnya sudah di atur dengan sedemikan rupa, dari mulai MUA, supir, pengawal, dan perawat khusus yang mengetahui identitas asli Kyra. Mereka telah di sumpah untuk menjaga rahasia Kyra jika melanggar sumpah maka konsekuensi besar akan di terima.
"Kita sudah sampai, Nona." Supir sekaligus bodyguard wanita membukakan pintu mobil untuk Kyra.
Kyra memakai kaca mata hitam lalu berjalan masuk ke dalam club' malam tersebut. Suara dentuman musik yang memekik telinga, hingar-bingar dan kelap kelip lampu yang menyilaukan menjadi hal yang membuat Kyra sedikit menggelengkan kepala karena belum terbiasa.
"Saya sudah booking room VIP, Nona." Bodyguard Kyra menunjukkan jalan, Kyra mengekori. Sesampainya di room VIP mereka meminta di layani oleh Kaivan.
"Aku ingin tahu bagaimana cara dia bekerja di sini," gumam Kyra.
Tak lama kemudian Kaivan datang membawakan baki bersama minuman ke dalam ruangan VIP tersebut, penampilan nya sungguh tampan, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Kaivan dengan sopan meletakan baki berisi minuman itu di atas meja.
"Silakan, Nona. Saya permisi." Kaivan menganggukan kepala dan hendak pergi dari ruangan itu.
"Tuangkan ke gelas!" perintah Kyra.
Tanpa mengucapkan apapun dan tanpa membantah Kaivan menuangkan wine ke dalam gelas, lalu di sodorkan kepada Kyra.
"Berapa tarif mu semalam?"
"Maaf saya tidak melakukan pelayanan plus-plus, Nona. Saya hanya pelayan dan bartender di sini."
"Jangan bohong, meskipun memasang harga mahal aku bisa membayar," ucap Kyra tak percaya dengan jawaban lelaki tampan di hadapannya.
"Saya tidak berbohong, Saya memang tidak melakukan pelayanan plus-plus seperti itu, Nona. Karena saya sudah menikah."
"Berarti sebelum menikah kamu melakukan pelayanan seperti itu?"
"Tidak juga, Saya bekerja di sini murni sebagai pelayan dan Bartender."
Kaivan berani berkata jujur karena merasa sebentar lagi dia akan keluar dari pekerjaan itu, sehingga tidak perlu berpura-pura seperti biasanya lagi. Lelaki berwajah tampan itu tak sadar menatap wanita di hadapannya, karena merasa familiar dengan suara wanita tersebut.
"Hei, beraninya kau menatapku seperti itu!"
"Maaf saya tidak sengaja, Nona. Saya merasa suara anda mirip dengan suara istri saya, tapi tidak mungkin anda istri saya karena ...."
"Karena apa?"
Gadis cantik itu menunggu jawaban suaminya, penasaran apa kata-kata yang keluar dari mulut lelaki tampan tersebut. Apakah dia akan menghina istrinya di belakang, seperti para teman-temannya dulu yang menghina Kyra pada saat awal dia pura-pura tidak waras.
"Karena istri saya adalah wanita yang baik, tidak mungkin melangkahkan kaki ke tempat seperti ini."
Kyra tertegun mendengar jawaban lelaki yang berstatus suaminya tersebut. Dia menatap lekat lelaki tampan yang kini hendak berjalan keluar ruangan.
"Istrimu pasti tidak cantik, tidak menarik, dan tidak gaul. Makanya tidak pernah datang ke tempat seperti ini, iya kan!"
Kaivan membalikan badan dan tersenyum lalu membalas ucapan Kyra. "Anda salah, Nona. Istri saya sangat cantik dan menarik, tak akan saya izinkan lelaki lain atau sembarang orang memandang dan menikmati kecantikannya. Dia seperti permata yang sangat berharga tetap di dalam kotak kaca yang tak bisa tersentuh oleh siapapun selain pemiliknya."
Lagi-lagi Kyra tertegun mendengar ucapan Kaivan, hingga tak sadar lelaki itu telah keluar dari room VIP yang di tempati Kyra. Bodyguard Kyra pun sampai mengagumi cara Kaivan mendeskripsikan Nona mudanya. Setelah lelaki tampan itu keluar dan dipastikan jauh dari room, bodyguard tersebut tak mampu menahan untuk mengungkapkan kekagumannya.
"Dia lelaki yang sangat luar biasa, Nona. Padahal yang dia tahu dia menikah dengan wanita tidak waras, tapi dia tak menyinggung hal itu sedikitpun. Justru malah mendeskripsikan Nona dengan kata-kata yang indah sehingga orang-orang akan berpikir bahwa istrinya benar-benar sangat sempurna," ucap Bodyguard yang sering di panggil j2.
"Huh ... Apa yang aku dapat di sini, sepertinya dia pandai bersandiwara. Kau dan Dewi sama saja, malah memuji dan mengaguminya. Padahal dia sama saja seperti gigolo menjual diri demi sejumlah uang."
"Aku rasa beda Nona, kalau gigolo menjual diri dan melayani hasrat para wanita karena malas mencari pekerjaan yang halal, mereka juga menikmati melakukan itu dengan orang yang berbeda. Akan tetapi, Tuan Kaivan, hanya menerima uang untuk menikahi Nona, dan dia menerima tawaran itu karena terpaksa untuk membayar hutang besar yang sudah jatuh tempo."
"Terserah apa katamu, aku mau pulang sekarang!" ucap Kyra seraya berdiri dari duduknya.
"Baik, Nona. Maafkan saya jika ucapan saya membuat Nona kesal," ucap J2 karena merasa bersalah atas ucapannya.
"Kamu sama saja dengan Dewi, menyebalkan!" ucap Kyra lalu berjalan keluar ruangan.
J2 mengikutinya, hingga mereka melewati Kaivan yang sedang berdiri di depan meja bar. Lelaki tampan itu tengah menuangkan minuman ke dalam gelas pelanggan yang duduk di depan meja bar tersebut. Kyra menatap tajam ke arah Kaivan di saat yang sama tak sengaja Kaivan menengok ke arahnya dan membalas tatapan tajam Kyra dengan senyuman yang sangat manis. Kyra kesal dengan Kaivan yang tersenyum seperti itu, dia bergegas pergi meninggalkan club' malam itu.
"Kau lihat tadi j2. Pasti dia seperti itu setiap malam, mengumbar senyum kepada semua orang yang datang ke tempat itu. Senyum palsu, apakah menurutmu itu yang hal yang baik?"
"Entahlah, Nona. Jika saya mengatakan itu adalah hal yang baik karena dia hanya berusaha profesional dalam bekerja, pasti perkataan saya akan membuat Nona marah."
"Dan kau sudah mengatakan yang barusan!" ucap Kyra dengan bibir yang di memanyunkan.
"Maafkan saya, Nona. Karena mulut ini sudah terbiasa berbicara hal yang jujur."
"Terserah apa katamu, Aku tidak mau berbicara denganmu dan Dewi lagi jika masalah lelaki itu, kalian menyebalkan!"
J2 tidak berbicara lagi, dia melajukan mobil hingga kini sudah sampai di gerbang belakang rumah Kyra. Dengan kesal Kyra masuk ke dalam kamarnya, dia tak mendapat informasi yang buruk tentang lelaki yang baru saja menjadi suaminya di tempat lelaki itu bekerja. Setelah berada di dalam kamar fia langsung membersihkan wajahnya dari make up, dan mengganti pakaiannya dengan piyama, lalu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menutup sebagian besar tubuhnya dengan selimut.
"Anda sudah pulang, Nona. Syukurlah hanya sebentar anda di sana," ucap Dewi.
"Jangan banyak bicara, Jangan ganggu aku. Aku ingin tidur!"
"Baik, Nona. Selamat tidur."
Dewi keluar kamar dan mencari keberadaan J2 di ruang rahasia, setelah menemui teman kerjanya itu dia pun menanyakan apa saja yang sudah mereka lihat di club' tempat Kaivan bekerja. J2 menceritakan semuanya kepada Dewi dan hal itu membuat Dewi tersenyum tipis.
"Apakah mungkin jika Nona cemburu saat kita memuji suaminya?"
"Aku tidak tahu itu. Sepertinya terlalu cepat jika dibilang Nona sudah jatuh cinta pada suaminya karena pernikahannya saja baru tadi pagi, tapi bisa saja itu keajaiban Tuhan kan!"
"Aku berharap Tuan Kaivan adalah pangeran yang di kirim Tuhan untuk Nona Kyra. Semoga dia bisa membantu Nona Kyra melawan ibu tirinya."
"Aku juga berharap seperti itu."
Setelah selesai berbicara dengan J2, Dewi pun berjalan kembali menuju ke kamarnya. Dia istirahat dan tidur karena sudah merasa lelah juga ngantuk. Menjelang pagi dia merasa haus dan ingin mengambil air minum, saat keluar kamar fia melihat Kaivan baru saja pulang dan hendak masuk ke kamar Kyra. Kamar Dewi memang sengaja diletakkan di sebelah kamar Kyra, karena hanya Dewi yang selama ini mengurus keperluannya Kyra.
"Dewi, kamu belum tidur?" tanya Kaivan.
"Sudah tidur, Tuan. Tapi saya terbangun karena merasa haus."
"Oh gitu, Ya sudah silakan ambil minum."
Dewi mengangguk dan berjalan meninggalkan Kaivan, setelah selesai minum dia pun kembali berjalan menuju kamarnya. Namun, ternyata Kaivan masih ada di depan pintu kamar tersebut.
"Dewi, bisa bicara sebentar?" tanya Kaivan seraya menatap Dewi.