Bab 3. Kebohongan

1578 Words
"Kyra, apa yang kamu lakukan?!" Kaivan memekik saat Kyra menarik baju kemeja Kaivan hingga robek dan kancing-kancingnya terlepas. Kyra diam sejenak memandang tubuh pria yang kini menjadi suaminya, lalu ia membalik badan dan menarik hiasan di rambutnya. Kaivan yang melihat istrinya kesulitan membuka riasan kepala menghampiri dan hendak membantu, meski awalnya Kyra menolak dengan kasar. Namun, akhirnya mau di bantu oleh Kaivan. "Kamu tidak akan bisa melepasnya sendiri, Kyra. Biarkan aku membantu, aku tak akan menyakitimu," Kaivan mencoba membujuk. "Pergi ... Pergi ... Pergi ...." Kyra terus melempari Kaivan dengan apa saja yang bisa ia pegang di atas meja rias. Dengan sabar Kaivan memunguti barang-barang yang di buang oleh Kyra dan menyimpan kembali di atas meja rias, perlahan ia menggenggam tangan Kyra dan menatap wajah cantik wanita yang katanya tidak waras itu. "Jangan takut, aku hanya membantu," ucap Kaivan berkata dengan lembut. Kyra duduk di kursi kayu depan meja rias, ia menatap wajahnya di cermin. Cantik karena make up masih menempel, riasan kepala satu persatu di buka oleh Kaivan. Pemuda itu tersenyum memandang pantulan wajah sang istri di cermin. "Mulai hari ini aku akan selalu di dekatmu, aku tidak akan menyakitimu. Jika bisa aku ingin melindungi mu." Kyra membuang pandangannya kearah lain, entah mengapa ia merasa jantungnya berdebar kencang saat mendengar ucapan Kaivan. Lelaki tampan itu berhasil melepaskan semua riasan tanpa meninggalkan rasa sakit di kepala Kyra. "Huh ... Kau pikir dirimu siapa? Ingin melindungi ku katamu? Menikahiku saja karena uang, mana mungkin aku percaya lelaki sepertimu ingin melindungi ku?!" ujar Kyra dalam hati. Setelah riasan kepala itu terlepas semuanya, Kyra berdiri dan mencoba melepas gaunnya di depan Kaivan. Lelaki yang belum pernah melihat tubuh polos seorang wanita itu pun menghentikan Kyra. Meskipun dia istrinya, tapi Kaivan anggap pernikahan itu tidak sah karena Kyra tidak dalam keadaan sadar. Kaivan tak ingin menjadi lelaki b******k yang mengambil kesempatan pada wanita tak berdaya seperti Kyra. "Tunggu dulu, Kyra. Kalau kamu mau membuka baju lebih baik di kamar mandi, atau aku panggilkan orang yang bisa mengurus mu dulu." Kyra tersenyum tipis saat melihat Kaivan keluar kamar, tak lama kemudian Dewi asisten sekaligus perawat Kyra masuk ke dalam kamar. "Dimana pria itu?" tanya Kyra. "Dia sedang berbincang dengan Nyonya. Kau beruntung menikah dengan lelaki yang sangat tampan, Nona," jawab Dewi. "Beruntung bagaimana maksudmu, dia menikahi karena dibayar oleh Lampir itu. Dia memang tampan, tapi itu tidak penting bagiku." Dewi memberikan baju ganti kepada Nona yang selama ini menjadi majikannya, Kyra masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Selama ini Kyra memang pura-pura gila agar tidak ada yang mau menikahinya, semua sandiwaranya hanya diketahui oleh sepupu, Om, Tante, dan orang-orang kepercayaan Kyra termasuk Dewi yang merupakan asistennya. Setelah selesai berganti pakaian dia memberikan gaun itu kepada Dewi. "Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang pria itu?" "Sudah. Kaivan Malik seorang bartender juga pemilik toko kelontong, dia lulusan universitas negeri dengan nilai tertinggi, dia tinggal hanya dengan neneknya, ayahnya meninggal dan meninggalkan hutang yang banyak." Dewi membaca informasi yang dia dapat dan menjelaskan hal tersebut pada Kyra. "Jadi uang yang di berikan lampir itu di gunakan untuk membayar hutang?" "Iya, Nona." Dewi menjawab seraya menganggukan kepala. "Huh ... Apa bedanya dia dengan gigolo, menjual harga dirinya demi membayar hutang." "Dia hanya diberi waktu satu minggu untuk melunasi hutang itu, Nona. Jika tidak dapat melunasi maka toko kelontong dan rumah peninggalan kakeknya akan diambil oleh rentenir. Saya rasa dia terpaksa menerima penawaran ini karena tidak ingin neneknya bersedih." Dewi lagi-lagi menjelaskan sesuai informasi yang sudah dia dapat. Kyra yang sedang menyisir rambut menghentikan aktivitas tangannya, lalu menatap Dewi dengan tajam. Dia tidak suka mendengar asisten pribadinya itu membela lelaki yang baru saja sah menjadi suaminya. "Kau membelanya, Apa kau suka padanya?" tanya Kyra seraya menatap Dewi dengan tajam. "Tidak, mana mungkin saya berani menyukai suami Anda, Nona. Saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya saya tahu," jawab Dewi seraya menunduk karena takut dengan tatapan majikannya. Kyra mencebikkan bibirnya lalu melanjutkan menyisir rambut, sementara Dewi menepuk-nepuk pelan bibirnya karena terlalu banyak berbicara yang ternyata membuat Nona mudanya tidak suka. "Setelah ini, apalagi rencana lampir itu?" "Sepertinya dia akan segera menghubungi pengacara keluarga untuk segera mengesahkan warisan atas nama Anda, Nona." "Lalu, dia memaksaku memindahkan segala aset dan harta warisan ini menjadi atas namanya. Dia pikir akan semudah itu!" ucap Kyra dengan senyum licik di bibirnya. Saat mereka hendak melanjutkan pembicaraan, terdengar suara langkah kaki semakin mendekat ke kamar itu. Tak lama kemudian, ada yang membuka pintu kamar dan itu adalah Kaivan. Lelaki berwajah tampan itu masuk ke dalam kamar dan melihat Dewi sedang menyisir rambut istrinya. "Mbak, biasanya jam berapa dia makan? Dia biasa makan sendiri atau disuapin?" tanya Kaivan. Dewi melihat benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu memang sudah siang dan sebentar lagi jam makan siang Kyra. "Sebentar lagi, Tuan. Biasanya Nona makan sendiri, tapi jika tidak mau akan saya suapi." "Kalau begitu ambilkan makanannya, mulai hari ini saya yang akan menyuapi Kyra makan dan memastikan Kyra meminum obatnya." Kyra melebarkan bola matanya mendengar ucapan Kaivan, tapi dia segera menetralkan ekspresinya karena tidak ingin lelaki itu mengetahui apa yang sedang dia pikirkan. Kyra menunduk menyembunyikan wajahnya, sementara Dewi mengangguk lalu pergi ke luar kamar untuk mengambilkan makanan. "Kamu sudah ganti baju dan membersihkan wajah. Ternyata wajahmu lebih cantik tanpa make up," ucap Kaivan seraya membelai lembut pipi Kyra. Kyra bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela kamar. Gadis itu tak ingin Kaivan mengetahui wajahnya yang merona karena pujian dari lelaki tampan itu. "Apa-apaan sih, ini kenapa aku jadi deg-degan gini. Memang sudah lama tak ada yang memuji kecantikan ku semenjak aku berpura-pura gila," gumam Kyra dalam hati. Kyra meremas-remas ujung bajunya berharap Kaivan tak mendekat karena dia takut detak jantungnya semakin berdebar kencang, sementara Kaivan mengira jika Kyra masih takut dengan kehadiran orang asing jadi menjauh darinya. Tak lama kemudian, Dewi datang membawa baki berisi makanan dan sebotol obat juga air mineral. "Terima kasih, Mbak. Biar saya yang menyuapkan makan padanya." "Sama-sama, Tuan. Oh ya panggil saja saya Dewi seperti Nona Kyra memanggil saya," ucap Dewi seraya menganggukan kepala tanda menghormati suami dari majikannya itu. "Apa dia tidak mau di dekati orang baru, Lalu apa saja yang membuatnya takut, adakah benda-benda atau hal-hal yang memicu traumanya kembali? Jika ada saya akan menghindari hal-hal tersebut." Dewi tertegun mendengar pertanyaan Kaivan, dia menatap Nona mudanya seolah bertanya lewat tatapan tersebut. Karena nona mudanya itu tidak benar-benar memiliki gangguan jiwa. Kyra mengangkat sebelah alisnya lalu menatap bola lampu di kamar tersebut, seolah menjadi kode yang dapat di mengerti oleh Dewi. "Nona Kyra takut gelap, apapun keadaanya dia tak bisa gelap-gelapan. Bahkan tidur pun dia tidak mau mematikan lampunya," jawab Dewi ragu-ragu. "Itu saja?" tanya Kaivan sekilas menatap Kyra lalu beralih menatap Dewi kembali. "Oh ... Nona Kyra takut kecoa atau serangga sejenisnya." Kaivan menganggukan kepala, setelah mendengar penjelasan Dewi. Kyra memejamkan matanya berharap Dewi tak meninggalkan nya dengan Kaivan di kamar berdua saja. Namun, harapan Kyra tidak terkabul, Dewi keluar dan membiarkan Kyra berdua dengan Kaivan. "Kyra, sudah waktunya makan siang. Mau di suapi atau makan sendiri?" "Makan sendiri," jawab Kyra lalu berjalan cepat mengambil makanan yang di letakan di atas nakas oleh Dewi. Kyra mulai memakan, sementara Kaivan terus memandanginya. Hal itu membuat Kyra menjadi salah tingkah, gadis itu dengan sengaja menjatuhkan sendok lalu piring yang isinya sudah tinggal sedikit. Prank ... Suara pecahan piring membuat Kaivan mengerjapkan matanya, dia menatap lantai dengan sisa makanan dan beling berserakan. "Kyra, diam jangan bergerak. Aku akan membersihkan ini, kalau kamu bergerak bisa terkena beling dan terluka!" ucap Kaivan berharap Kyra tetap duduk di tempatnya. Kyra diam dan memperhatikan Kaivan dengan cekatan membersihkan kekacauan yang sengaja di ciptakan olehnya, setelah lantai bersih Kaivan keluar kamar membawa sisa-sisa kekacauan tersebut. "Baru hari pertama, lihat saja berapa lama kamu akan bersabar menghadapi Kyra yang gila," gumam Kyra seraya tersenyum tipis. Sore harinya, Kaivan pulang ke rumah dan berbicara dengan sang Nenek. Dia terpaksa berbohong dan menutupi pernikahannya karena dia tahu neneknya pasti tidak akan suka jika tahu Kaivan melakukan semua itu. "Nek, mulai hari ini aku tiap malam gak bisa pulang. Aku pulang kalau siang jaga toko aja," ucap Kaivan. Asnah sang nenek yang sedang duduk melipat pakaian pun menengok kearah Kaivan. "Memangnya kenapa?" "Aku sudah membayar semua utang ayah, dapat pinjaman uang dari bos. Syaratnya aku harus menjaga miliknya setiap malam," jawab Kaivan berbohong. "Beneran kamu sudah lunasi utang ayahmu?" "Iya, Nek. Rentenir itu tidak akan datang lagi mengganggu kita." "Kamu sudah bayar semua?" Asnah bertanya lagi karena merasa tidak yakin sebab utang milik sang anak cukup besar. "Iya, Nek. Bosku meminjamkan uang cukup banyak, dan aku juga akan merenovasi toko kelontong ini," jawab Kaivan seraya memperlihatkan senyumnya pada sang nenek. Asnah terdiam mendengar ucapan Kaivan, dia teringat awal mula anaknya terlilit utang rentenir. Awalnya Malik mendapat pinjaman kecil yang di berikan oleh temannya, tapi lama kelamaan semakin membesar. Ternyata di belakang Malik temannya dengan tega menggunakan identitas Malik untuk meminjam uang dengan jumlah besar, saat ada tagihan Malik yang di buat kebingungan. Temannya kabur dan Malik akhirnya yang di kejar-kejar oleh rentenir tersebut. "Van, kamu nggak pinjem ke rentenir kan?" "Enggak lah, Nek. Masa pinjem ke rentenir untuk membayar utang rentenir juga. Gali lobang tutup lobang dong! bukannya lunas yang ada malah semakin membengkak. Nenek tenang aja utang kita sudah lunas dan yang sekarang aku jalani adalah yang terbaik, Aku belajar dari kesalahan ayah dan tidak akan mengulangi." "Kamu gak bohong kan, Van. Memangnya bos kamu meminjamkan uang berapa sampai kamu bisa lunasi utang dan renovasi toko. Lalu apa jaminannya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD