Di sebuah ballroom mewah, tampak Kaivan tengah berjalan masuk dengan gagah dan tampan, tuxedo yang melekat pada tubuh pria itu menambah aura dan wibawanya. Siapa yang melihat, pasti tidak akan mengira jika pria itu hanyalah seorang rakyat jelata yang tengah terjerat lilitan utang. Itulah yang jadi alasan kenapa Kaivan akhirnya menerima tawaran dari Zaina dan pernikahan pun terjadi satu minggu setelah pria itu datang ke apartemen Zaina untuk mengiyakan penawaran tersebut.
"Saya menerima tawaran Anda untuk menikahi putri anda, tapi saya mau setengah uang dibayar di muka, bagaimana?"
"Tidak masalah, asal kau berjanji tidak akan kabur dan benar-benar menikahi putriku," jawab Zaina dengan penuh penekanan.
"Nyonya tenang saja! Saya tidak akan kabur karena saya bukan orang yang suka mengingkari janji."
"Bagus kalau begitu. 500 juta di muka, minggu depan pernikahanmu dengan Kyra akan dilaksanakan. Kau tidak perlu pusing memikirkan persiapan pernikahan itu karena aku akan mengurus semuanya termasuk membayar orang untuk berpura-pura sebagai pihak keluargamu."
Kaivan pun mengangguk, dia menerima cek dari Zaina, lalu bergegas untuk pulang ke rumah.
Siang harinya, dia mencairkan cek itu menjadi uang tunai dan langsung membayarkan kepada rentenir, melunasi hutang-hutang almarhum ayahnya.
"Van, dapat uang dari mana kamu sampai bisa melunasi utang-utang itu dalam waktu singkat?" tanya Ardi – sahabat Kaivan.
"Aku menerima tawaran dari salah satu tamu di klub malam."
"Tawaran apa, menemaninya tidur sepanjang malam, kau menjajakan tubuhmu pada wanita kesepian?"
"Aku tidak serendah itu … entahlah, mungkin aku sama rendahnya dengan gigolo saat ini. Aku dibayar satu miliar untuk menikahi seorang gadis gila."
Ardi melebarkan bola matanya, tak percaya dengan ucapan Kaivan. Menurut Ardi apa yang dikatakan sahabatnya itu tak masuk akal dan seperti sebuah sinetron, bahkan para tetangga yang mengetahui Kaivan telah melunasi utangnya pun jadi bergosip yang tidak-tidak tentang itu. Ada yang mengatakan Kaivan jual diri, pesugihan, dan yang lebih buruk, ada juga yang mengatakan jika Kaivan sampai nekat merampok bank.
"Van, ayolah jujur jangan bercanda! Kamu nggak ngerampok bank seperti apa yang dikatakan para tetangga, kan?" tanya Ardi.
"Aku nggak peduli para tetangga bicara apa dan percaya atau tidak denganku, tapi kamu sahabatku, kenapa tidak percaya denganku?"
"Jadi, beneran kamu dibayar satu miliar untuk menikahi seorang gadis yang punya gangguan jiwa?" tanya Ardi benar-benar tak percaya.
Kaivan pun mengangguk, dia menceritakan segalanya pada Ardi. Satu-satunya sahabat yang bisa dia percaya hingga dia tidak pernah menutupi apa pun darinya. Saat Ardi melihat foto calon istri Kaivan, ia benar-benar dibuat terpesona, andai gadis itu tidak memiliki gangguan jiwa sudah pasti banyak yang menginginkannya, termasuk Ardi.
"Nanti setelah aku menikah, kamu jaga nenek di sini ya! Kalau bisa tiap malam nginep di sini karena aku akan tinggal di rumah istriku."
Ardi mengangguk, dia sudah menganggap Asnah seperti neneknya sendiri. Jadi, dia tidak merasa keberatan untuk menjaga wanita berusia senja tersebut.
Kini, di sinilah Kaivan dan Ardi berada, di sebuah pesta pernikahan dengan dekorasi mewah yang membuat Ardi ternganga. Dia yakin jika sahabatnya itu akan menjadi menantu orang kaya raya. Namun, ada kekhawatiran yang mengganggu pikirannya, yaitu soal kebahagiaan dari pernikahan yang belum tentu bisa dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Di, sebenarnya ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku," ucap Kaivan saat duduk di depan meja tempat akad nikah akan berlangsung beberapa saat lagi menunggu penghulu dan pengantin wanita datang.
"Apa itu?" tanya Ardi.
"Bukankah pernikahan tidak sah jika salah satu pengantin tidak waras?"
Ardi terdiam, dia mengingat pernah mengikuti kajian dengan salah satu ustad di kampungnya, lalu membahas tentang masalah pernikahan jika salah satu mempelainya menderita gangguan jiwa. Dia pun menatap Kaivan dengan ragu, tetapi menurutnya ini tetap harus disampaikan.
"Aku pernah dengar ustadz bilang dalam salah satu hadits menerangkan bahwa perbuatan bagi umat dengan gangguan mental akan dinilai tidak sah karena tidak cakap untuk melaksanakan perbuatan, baik secara hukum maupun ibadah. Ajaran Islam menyatakan bahwa orang yang mengidap gangguan mental tidak akan dinilai perbuatannya, termasuk menikah," ujar Ardi dengan berbisik agar tak didengar oleh orang lain.
Mendengar perkataan dari Ardi, Kaivan hanya bisa menghela nafas berat. "Lalu bagaimana dengan pernikahanku ini? Lagian juga aku sudah memakai sebagian uang dari pembayaran itu. Jadi, tidak mungkin jika aku sampai membatalkan pernikahan ini."
"Kau tidak mungkin bisa mengembalikan uang itu, Van. Jadi, sebaiknya lanjutkan saja pernikahan ini, jika memang tidak sah secara agama, perlakukanlah dia sebagai adikmu sendiri."
Kaivan mengangguk, tak lama kemudian penghulu datang dan duduk di depan Kaivan. Jantung Kaivan berdebar kencang karena tak lama lagi, dia akan melepas masa lajangnya. Namun, bukan dengan orang yang dicintainya, bahkan orang yang belum pernah dia temui sama sekali. Seluruh pasang mata dari para tamu memusatkan perhatian kepada seseorang yang tengah berjalan menuju Kaivan dan penghulu. Zaina dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya dan riasan wajah yang membuat dirinya nampak cantik, berjalan perlahan menggandeng seorang wanita muda. Mata Kaivan tak berkedip melihat wanita tersebut, wajahnya cantik dengan riasan make up, gaun pengantin berwarna putih menjuntai terseret mengikuti langkah kakinya.
"Cantik sekali calon istrimu, Van!" ucap Ardi.
Kaivan menelan salivanya ketika wanita berparas cantik itu tepat di hadapannya. Wanita itu duduk dan menunduk, tiba-tiba ia menatap Kaivan sekilas lalu menunduk lagi. Namun, tatapan itu terlihat penuh kebencian.
"Apa sudah bisa dimulai akadnya?" tanya penghulu.
"Sudah bisa, Pak penghulu. Silakan dimulai!" jawab Zaina yang memang sudah tidak sabar agar acara tersebut segera terlaksana.
Penghulu pun mulai membacakan doa sebelum akad nikah berlangsung, jantung Kaivan berdebar sangat kencang, dia hanya menunduk sambil sesekali melirik ke arah calon istri. Andai wanita itu tidak memiliki gangguan jiwa pasti Kaivan sangat bahagia bisa bersanding dengan wanita secantik dia. Namun, Kaivan berjanji dalam hatinya akan memperlakukan gadis itu seperti adiknya sendiri setelah pernikahan itu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Kaivan Malik bin Muhammad Malik, dengan Kyra Gandana binti almarhum Kalindra Gandana dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dibayar tunai," ucap seorang pria yang merupakan wali hakim.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Kyra Gandana binti almarhum Kalindra Gandana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Dengan penuh keyakinan, Kaivan menjawab dalam satu tarikan napas.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
Setelah proses ijab qobul selesai, Kaivan pun diminta untuk mencium kening sang istri oleh penghulu dan mempelai wanita diminta untuk mencium punggung tangan suaminya karena penghulu itu tidak mengetahui kondisi kejiwaan pengantin wanita. Itulah sebabnya, pernikahan itu bisa berlangsung.
Kaivan memberanikan diri untuk memegang dan mengangkat wajah sang istri, cantik sungguh luar biasa wanita itu di mata Kaivan. Pria berwajah Tampan itu pun mengecup kening sang istri, cukup lama ia tempelkan hingga sang istri mendorong d**a Kaivan. Kemudian Kaivan menjulurkan tangannya agar Kyra mau menciumnya. Kyra menyambut uluran tangan Kaivan membuat lelaki itu tersenyum, tetapi senyum itu sirna ketika Kyra menggigit punggung tangannya cukup kencang.
"Au, sakit." Kaivan refleks berteriak dan menarik tangannya.
"Ada apa?" tanya penghulu.
"Tidak apa-apa, Pak. Mereka memang seperti itu, sering bercanda," ucap Zaina coba menutupi apa yang tengah terjadi antara putrinya dan Kaivan.
Tentu saja Zaina sangat takut jika kondisi kejiwaan sang anak tiri sampai diketahui oleh penghulu. Dengan cepat, Zaina pun mempersilakan penghulu menikmati hidangan di pesta dan meminta kedua pengantin duduk di pelaminan. Namun, penghulu itu menolak karena sudah ada jadwal untuk menikahkan pengantin lainnya.
Setelah penghulu pergi, para tamu mulai terlihat memberikan selamat pada kedua pengantin. Namun, tiba-tiba Kyra membuat kekacauan, dia melemparkan bunga dan membuat dekorasi pelaminan berantakan.
"Para tamu, silakan dinikmati hidangannya. Jangan hiraukan anak saya, kami akan mengurusnya!" Zaina coba menenangkan para tamu undangan yang tampak kaget saat melihat tingkah dari mempelai wanita yang aneh. Tentu saja apa yang dilakukan Kyra menjadi pertanyaan dari semua yang melihatnya.
"Van, kamu sepertinya harus banyak bersabar menghadapi istrimu nanti!" Ardi yang melihat hal itu pun coba menasehati sahabatnya.
Setelah mengiyakan perkataan Ardi, Kaivan pun berusaha mendekati Kyra. Pria itu duduk di sampingnya. Namun, tiba-tiba tubuhnya langsung didorong oleh Kyra. "Hai, aku suamimu jangan takut padaku ya!" pinta Kaivan berkata dengan hati-hati dan tersenyum.
Kyra tak mengatakan apa pun, dia menatap Kaivan dengan tajam. Tak lama kemudian, Zaina datang dan menarik tangan Kyra dengan kasar. Hal itu membuat Kaivan terkejut, dia refleks melepaskan tangan Zaina yang menarik Kyra.
"Nyonya, jangan kasar seperti itu, Kyra juga manusia!" pinta Kaivan karena dia tidak ingin melihat Kyra disakiti Zaina.
"Manusia tak berguna, menyusahkan. Bawa dia ke samping, kalian harus berfoto! Minimal ada 1 foto yang bisa dipajang untuk bukti kalian sah sebagai suami istri."
Kaivan menghela nafas, menatap gadis yang kini berstatus istrinya dengan iba. Melihat cara Zaina tadi, Kaivan yakin jika selama ini Kyra selalu diperlakukan tidak baik oleh ibu tirinya itu.
"Kyra, kita ke sana ya! Kamu tidak perlu takut padaku, aku tidak akan menyakitimu."
Kyra tak menjawab, ia berjalan perlahan mengikuti Kaivan yang setia menggenggam tangannya. Kyra menatap Kaivan selama berjalan hingga sampai di taman samping. Di sana, fotografer tampak sudah bersiap dengan peralatannya, tetapi Kyra lagi-lagi membuat semua yang harusnya mudah menjadi sulit.
Berkali-kali Kaivan mendapat cakaran di tangannya saat proses foto pengantin. Namun, pria itu tetap sabar dan tak sekalipun membentak, apalagi berlaku kasar pada Kyra hingga akhirnya mereka berhasil mendapat 1 foto yang lumayan bagus dan pantas untuk menjadi penghias dinding sebagai formalitas dan identitas pernikahan tersebut.
"Kai, bawa Kyra masuk kamar! Biarkan pesta berjalan tanpa pengantin karena dia hanya akan membuat kacau semuanya." Zaina memberi perintah karena dia tidak mau Kyra mengacaukan rencananya.
Kaivan mengangguk, lalu membawa Kyra ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Kyra langsung menutup pintu dan menguncinya, dia menatap Kaivan dengan tatapan tajam, berjalan semakin dekat ke arah suaminya itu.
"Kyra, apa yang ingin kamu lakukan padaku?" tanya Kaivan mulai merasa takut.
Kyra tak menjawab, dia terus mendekatkan tubuhnya pada Kaivan, lalu melakukan sesuatu yang membuat pria itu sangat terkejut.