Agastya POV
Agastya bersiap mengabadikan barisan peserta upacara yang hendak melintas di hadapannya, mengguman tak jelas ketika seseorang di belakangnya meminta maaf telah menyentuh kepalanya. Sudahlah, pasti dia juga hendak mengambil gambar. Dan sudah resiko tubuh kecilnya mengalami hal seperti ini .... tapi keuntungannya posisi terdepan seringkali ia dapatkan hehehehe
Warna warni buah dan bunga yang diusung tersaji indah, sebagai simbol persembahan terbaik bagi yang maha memiliki ... kendati seringkali banyak yang memaknai sebagai suatu kebiasaan dan adat yang ‘menjual’, karena sesungguhhnya kembali bergantung pada hati dan persembahan itu benar benar merupakan hal yang amat sangat pribadi. Entahlah ... barangkali dengan simbol tersebut, para sesepuh memberikan gambaran bahwa yang terbaik adalah milik dan untuk pencipta semesta.
Rajendra POV
Rajendra merekam barisan itu dari balik lensa kameranya. Sederet barisan panjang yang melintas dengan pembagian yang jelas dan teratur. Ada rangkaian sesaji yang mendahului, disusul tetua agama dan adat, dan pengikut yang mungkin merupakan warga sekitar. Semua ada di kelompoknya, diantara deretan ‘pengawal’ yang mengapit di sisi kiri dan kanan barisan, seolah menjaga agar semua tetap ada dalam jalurnya.
Andai saja keteraturan itu juga terbawa pada kehidupan di luar barisan ini .... lelaki ini tersenyum mengingat belum sampai dua jam yang lalu serombongan peserta upacara yang terlihat tertib dan santun itu dengan arogannya melanggar aturan lalu lintas, menerobos antrian seolah mereka berhak melakukannya dengan senjata ‘seragam’. Ah sudahlaaaaah ..... bagaimanapun bias warna dan susunan rombongan ini tampak indah dibalik lensa kameranya, apalagi posisinya bisa dibilang cukup strategis kendati menahan pegal karena harus mengangkat lengan cukup lama, diatas kepala seseorang yang berdiri satu anak tangga dibawahnya.