Hai.....

607 Words
Agastya menarik nafas panjang, mencengkeram erat tali tas nya ketika Joey mematikan mesin mobilnya di halaman rumah Ken. Ditatapnya deretan kendaraan yang terparkir rapi, lega saat mengetahui mobil merah menyala kantor mereka sudah ada, berarti timnya sudah datang dan artinya pekerjaan bisa dimulai secepat mungkin. “ Ayo.” Joey membuka pintu, bahkan Agastya tidak menyadari kapan lelaki itu keluar dan berputar untuk membukakan pintu ,” Hadapi aja .... gadis kecil yang penakut.” Agastya Cuma memajukan bibir, terlalu tegang untuk membalas ledekan itu. Dihembuskannya nafas dan mencoba berjalan tenang disamping Joey. “ Hai, yuk masuk .... tim mu udah lengkap dari tadi. Mereka lagi makan.” Ken mencium pipi Agastya setelah memeluk Joey sejenak ,” Makan dulu yuk.” Dibimbingnya Agastya ke ruang makan yang terhubung Agastya meletakkan tas nya dan menjatuhkan diri ke sofa yang terlihat nyaman ,” Aku udah makan, boleh minta kopi gak ?” “ Dia barusan selesai meeting ama klien sejak sore tadi sambil makan.” Joey menggamit lengan Ken, meninggalkan Agastya “ Capek banget dia kayaknya.” Ken meminta kopi untuk Agastya. “ Gugup lebih tepat ... ada yang ingin dihindarinya disini.” Joey tersenyum simpul ketika Rajendra mendekat ,” Kopi Jen ?” Rajendra mengedarkan pandangan, menemukan sosok itu tengah tenggelam di sofa sambil memejamkan mata ,” Kopi siapa ?” Joey dan Ken menatap Agastya, tersenyum ketika Rajendra meraih dua cangkir dan membawanya. “ Hai, kopi ?” Agastya menyadari kehadiran lelaki itu bahkan sebelum mendengar suara dan membuka matanya ,” Hai, thanks.” Diterimanya cangkir, sedikit beringsut ketika Rajendra duduk disampingnya. Rajendra menatap gadis yang berkonsentrasi pada cangkir di tangannya ,” belum sempat ngirim foto ya ?” Agastya menatapnya sekilas ,” Sorry.” Ujarnya sambil tersenyum tipis dan kembali menekuri cangkirnya. ‘ Bukan pelanggaran kok.” Rajendra menyesap minumannya sedikit lalu meletakkan cangkir di meja ,” Kalau tahu kamu temennya Joey, pasti udah aku samperin dari kemaren kemaren deh.” Bahu Agastya tegang secara tak kentara ketika merasa lelaki itu menjulurkan lengannya disepanjang sandaran sofa. Aliran listrik itu membuat perutnya mulas, bahkan tanpa perlu menunggu lelaki itu menyentuhnya. “ Ternyata kita dalam lingkaran pertemanan yang sama ya .... “ Rajendra mengguman sambil menarik nafas, menikmati perasaan nyaman yang menyelimutinya. Agastya meletakkan cangkir dan membuka tas ,” Ada titipan dari Andra.” Rajendra menatap undangan yang diulurkan kepadanya ,” Kok kamu yang ngasih ?” diterimanya undangan bernuansa hijau lembut itu tanpa ada niatan membukanya. Tanggal dan tempatnya sudah tersebar di kalangan mereka. Andra mengundangnya setelah sekian lama hilang kontak saja sudah cukup mengherankan, tapi undangan itu disampaikan oleh Agastya ... itu lebih menarik keingintahuan yang lebih besar. “ Andra temenku, dan aku ama tim ku juga ngerjain proyek pernikahan mereka.” “ Temen kamu ?” Agastya menatap Rajendra sambil mengerutkan kening ,” Ada yang salah ?” Rajendra menggeleng sambil tersenyum ,” Berarti kamu juga pasti dateng kesana khan ?” “ Iyalaaaah .... “ Agastya tertawa geli ,” mulai besok juga aku udah nongkrong disana tiap hari.” “ Pas acara ini ?” digoyangkannya undangan ,” kamu standby sebagai panitia atau ....” Agastya menggeleng ,” untuk acara intinya aku selalu jadi bagian dari acara, bukan pelaksana. Ada mereka yang siap digetok kalau gak sesuai dengan konsep.” Ditunjuknya empat anggota tim yang baru kelar makan.” Diteguknya kopi sekali lagi sebelum beranjak ,” waktunya kerja.” Rajendra mengangkat alis, membiarkan gadis itu beranjak melintasi ruangan. Sengaja mengambil tempat yang tidak terlalu dekat, tapi sangat leluasa menatap Agastya yang sibuk mempersiapkan presentasinya didampingi empat anggota tim nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD