Bab 3 Pengkhianatan Masa Lalu

1141 Words
Dari pantulan cermin, Zefa bisa melihat besarnya kebencian yang terpancar dari mata Reinhart. Nampaknya pria ini belum puas meskipun sudah berhasil merusak masa depannya. Nyatanya ia masih ingin mengikatnya dalam pernikahan hanya dengan tujuan untuk menyengsarakan hidupnya. "Aku tidak akan pernah menikah denganmu," tegas Zefa dengan suara parau. "Sebenarnya aku juga tidak berminat menikahimu. Hanya saja aku melakukannya demi Moreno." Reinhart membalikkan tubuh Zefa sehingga mereka saling berhadapan. "Jika kami tidak menerima tawaranku ini, aku akan menemui nenekmu. Aku akan mengatakan kepadanya kalau cucu kesayangannya ini sudah menjual diri padaku. Aku yakin nenekmu akan terkejut setengah mati. Bahkan dia bisa jatuh sakit karena mendengar cucunya tidur bersama pria asing." Air mata Zefa semakin deras mengalir. Reinhart sudah mengetahui semua tentang keluarganya dan mengancam akan melukai Omanya. Haruskah dia menuruti keinginan Reinhart dengan menjadi istrinya? "Aku memberimu waktu satu jam untuk mandi dan berpikir. Ketika aku kembali, kamu harus sudah mengambil keputusan." Reinhart melepaskan Zefa lalu membanting pintu dengan keras. Sementara Zefa hanya bisa terduduk lemas di lantai sambil memegang kedua lututnya. "Kenapa harus seperti ini, Reno? Apa kamu tidak bisa memaafkan kesalahanku?" gumam Zefa seperti orang linglung. Ia teringat lagi kisah cinta pertamanya yang manis sekaligus pahit bersama Moreno. Tujuh tahun yang lalu.... Zefa memandang puas kado kecil yang dibungkusnya rapi. Di dalam kado itu ada sebuah jam tangan berwarna hitam yang telah lama diinginkan Reno. Hampir tiga bulan dia menabung demi bisa membelikan jam tangan dengan harga yang tidak murah ini. Namun akhirnya dia berhasil membelinya juga. "Semoga Reno suka," gumam Zefa menuju ke taksi. Zefa sengaja tidak memberitahu Reno akan kedatangannya. Ia ingin memberikan kejutan manis di hari ulang tahun pacarnya itu. Degup jantung Zefa bertambah kencang. Baru sekali ini dia menginjakkan kaki di rumah kontrakan Reno, meskipun sudah enam bulan mereka berpacaran. Reno adalah mahasiswa yang berasal dari Bandung, karena itu ia menyewa rumah untuk ditinggali bersama tiga orang mahasiswa lain selama mengenyam pendidikan di Jakarta. Sambil mengatasi rasa gugupnya, Zefa mengetuk pintu. "Ze, kenapa tiba-tiba datang?" tanya Billy membukakan pintu. Dia adalah salah satu teman kuliah Zefa yang berbagi tempat tinggal dengan Reno. Anehnya Billy tampak terkejut melihat Zefa, seakan baru saja melihat hantu. "Aku ingin bertemu, Reno. Apa dia ada?" "Eh,...Reno sedang pergi," jawab Billy terbata. "Tapi motornya ada di depan. Artinya dia ada disini." "Tunggu dulu, Ze," ucap Billy mencoba menghalangi Zefa. Namun Zefa tetap berjalan menuju ke pintu kamar Reno. "Reno ini aku. Tolong buka pintunya," kata Zefa mengetuk pintu. Dari balik pintu sayup-sayup terdengar suara seorang gadis yang membuat Zefa curiga. "Reno," ketuk Zefa berulang kali. Nihil, tidak ada jawaban. Pintu kamar itu juga terkunci rapat sehingga Zefa tidak dapat membukanya. "Tidak usah dipanggil, Ze. Lebih baik kamu pulang," ujar Billy mendekati Zefa. "Memangnya kenapa?" "Ini demi kebaikanmu karena..." Billy belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika pintu kamar Reno terbuka. Tapi bukan Reno yang membukanya melainkan seorang gadis muda berambut ikal. Gadis itu mengenakan tanktop dan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambutnya berantakan dan matanya terlihat masih mengantuk. Dari celah pintu yang terbuka, Zefa bisa melihat Reno yang tertidur pulas di atas kasurnya. Bibir Zefa memucat. Cairan bening memenuhi bola matanya. Orang bodoh pun tahu apa yang terjadi antara Reno dan gadis asing itu di dalam kamar. "Siapa kamu? Kenapa mengganggu kami di pagi hari?" tanya gadis itu ketus. Ekspresinya menyiratkan rasa tidak suka kepada Zefa. Dengan susah payah, Zefa memaksakan diri untuk bicara. "A...aku pacarnya Reno. Kamu siapa?" Gadis itu menyilangkan tangan di depan d**a. Ia menatap Zefa dari atas ke bawah dengan sorot mata meremehkan. "Yakin kamu pacarnya Reno? Pantas saja Reno meninggalkanmu, wajahmu terlalu polos. Aku yang lebih cocok dengan Reno. Lebih baik tinggalkan saja Reno sebelum kamu dicampakkan." Lutut Zefa mendadak goyah. Hampir saja tubuhnya limbung jika saja Billy tidak memegangi lengannya. Kado yang dibawa Zefa pun terpental jatuh ke atas lantai. Reno yang mendengar suara ribut-ribut pun terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata lalu perlahan turun dari tempat tidur. "Sabar, Ze. Sudah kukatakan padamu untuk pulang. Kamu akan sakit hati bila melihat semua ini," ucap Billy menenangkan Zefa yang terisak. Reno berjalan ke pintu sambil memegangi kepalanya yang berat. Bau alkohol masih tercium dari mulutnya. Ia terkejut saat menyadari Zefa berada di depan pintu kamarnya sambil menangis. "Ze, kenapa kamu kesini?" Zefa menghapus air matanya lalu memandang nanar kepada Reno. "Aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini padaku. Kamu telah berselingkuh dan meniduri gadis lain di belakangku. Apa kamu menganggapku hanya sebagai salah satu mainanmu?" tanya Zefa dengan berurai air mata. "Aku bisa menjelaskan semuanya, Ze. Aku sedang mabuk kemarin dan tidak sadar melakukannya. Tolong maafkan aku," kata Reno meraih tangan Zefa yang dingin seperti es. "Kamu bohong Reno. Aku tidak percaya lagi dengan kata-kata manismu. Mulai detik ini juga kita putus dan jangan ganggu aku lagi," ujar Zefa mengibaskan tangan Reno. "Tunggu, Ze. Dengarkan penjelasanku!" Zefa berlari keluar dari rumah kontrakan Reno. Ia tidak menghiraukan teriakan Reno yang memanggilnya untuk kembali. Zefa tidak menyangka kejutan indah yang disiapkannya di hari ulang tahun Reno justru berakhir dengan malapetaka yang menyakitkan. *** Hampir seminggu telah berlalu sejak peristiwa itu. Reno selalu menghubungi Zefa lewat telpon dan chat, tapi gadis itu tidak membalas. Reno juga menemui Zefa di kampus, namun Zefa selalu menghindar. Hatinya begitu tersakiti dengan perbuatan yang dilakukan Moreno. Tidak mungkin bagi Zefa untuk memaafkan lelaki itu dengan mudah. Tanpa diduga Zefa, Reno nekat menemuinya di rumah. Meskipun enggan, Zefa memilih untuk menghadapinya. Ia harus menuntaskan masalah yang terjadi antara dirinya dan Reno. "Apa maumu, Reno?" tanya Zefa dingin. "Aku cuma mau kita bersama lagi. Aku hanya mencintaimu, Ze. Kumohon berikan aku kesempatan kedua." Tatapan Reno tampak sayu, menandakan penyesalan yang dalam. "Saat itu aku mabuk karena dipaksa minum oleh teman-temanku untuk merayakan ulang tahun. Lalu mereka mengenalkanku pada Mitha. Ternyata Mitha itu gadis murahan. Dia menjebakku dan...." "Cukup, jangan diteruskan! Aku tidak mau mendengarnya. Kumohon Reno, kita tidak bisa seperti dulu." "Kenapa, Ze? Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" desak Reno. "Jangan tanyakan itu. Aku tidak bisa mempercayai pria yang telah mengkhianatiku," jawab Zefa dengan mata berkaca-kaca. Reno beranjak dari kursi. Tanpa malu, ia bersimpuh di depan kaki Zefa. "Jangan begini, Reno. Apa yang kamu lakukan?" "Aku tidak akan berdiri jika kamu tidak mau memaafkanku. Kalau perlu aku akan berlutut semalaman di teras rumahmu sampai kamu menerima cintaku lagi. Tolong maafkan aku, Ze. Aku berjanji tidak akan mengulanginya." "Kenapa kamu keras kepala sekali, Reno?" tanya Zefa bingung harus bersikap bagaimana. Ia baru mengetahui bahwa Reno adalah pemuda yang berani dan pantang menyerah. "Lihat, aku memakai jam tangan yang kamu hadiahkan untukku. Aku tidak pernah melepasnya. Aku selalu memandanginya saat aku merindukanmu." Mata Reno memerah dan berair saat mengatakan hal itu. Melihat ketulusan Reno yang menyesali kekhilafannya, hati Zefa tergerak. Dia memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua bagi Reno. Terlebih dia memang masih mencintai pemuda itu. "Baiklah, aku akan memaafkanmu kali ini. Kita mulai semuanya dari awal," kata Zefa lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD