Masih dalam keadaan tak sadarkan diri, Reinhart membopong tubuh Zefa ke dalam apartemen. Dengan dibantu petugas keamanan, ia berhasil membawa Zefa masuk ke unit apartemennya di lantai sepuluh.
Perlahan, Reinhart merebahkan Zefa di tempat tidur lalu menatap lamat wajahnya sekali lagi. Meskipun ia membenci Zefa, namun wanita ini pernah berjasa dalam membantu kesembuhannya. Namun bila ditimbang dengan neraca keadilan, kebaikan yang dilakukan Zefa tidak sebanding dengan kejahatan besar yang telah diperbuatnya.
Wanita ini dengan kejam telah mencampakkan saudara kembarnya. Membuatnya putus asa hingga kehilangan nyawa dalam sebuah kecelakaan. Sungguh dosa Zefa tidak akan pernah termaafkan.
Setiap kali mengingat tragedi itu, amarah Reinhart selalu memuncak. Tekadnya semakin kuat untuk membuang semua rasa ibanya kepada Zefa. Detik ini juga dia akan menjelma sebagai makhluk tak berperasaan untuk menjatuhkan hukuman kepada wanita kejam ini.
Dengan sorot mata yang menggelap, Reinhart mendekati Zefa. Ia mengangkat sedikit tubuh wanita itu untuk membuka ritsleting gaun yang dipakainya. Setelah berhasil, Reinhart segera meloloskan gaun berwarna putih gading dari tubuh Zefa. Terpampanglah setiap lekuk tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam minim. Zefa menggeliat pelan, tapi tidak membuka matanya. Pengaruh obat yang diberikan Reinhart memang tidak main-main, sehingga membuat wanita itu tidak berdaya.
Reinhart menelan salivanya sendiri, antara menahan kebencian dan dorongan nalurinya sebagai seorang lelaki.
"Apa tubuh indahmu ini yang kamu jadikan modal untuk menjerat para pria? Moreno telah menjadi salah satu korbanmu. Tapi mulai sekarang kamu tidak akan bisa melakukannya lagi. Aku akan mengikatmu dan menjadikanmu sebagai tawananku seumur hidup."
Reinhart mengetatkan rahangnya. Ia bergerak menjauh dari Zefa sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. Akal sehatnya sudah hilang karena dikuasai oleh api dendam.
Tidak butuh waktu lama, ia telah menanggalkan seluruh pakaiannya. Dengan tatapan membunuh, Reinhart naik ke atas tempat tidur dan melingkupi Zefa dengan tubuh kekarnya. Seringai meremehkan tercetak di sudut bibirnya.
"Selamat datang di kehidupan nerakamu."
Selesai menggumamkan kalimat pamungkasnya, Reinhart mulai melancarkan aksinya.
Antara sadar dan tidak, Zefa merasakan seorang pria sedang melakukan sesuatu pada tubuhnya. Gerakan pria ini sangat liar seolah ingin melahap habis semua yang ada pada dirinya. Zefa berusaha bangun agar bisa terlepas dari cengkeraman mematikan ini, tapi dia tidak sanggup. Kesadaran dan jiwanya seakan melayang jauh dari raganya sehingga ia tidak mampu mengendalikan diri.
Dalam keadaan yang seperti mimpi, Zefa tidak bisa berbuat banyak. Namun ia bisa merasakan sakit di bagian sensitif yang selama ini belum pernah terjamah. Rasanya ada sesuatu yang terkoyak di bawah sana. Secara alamiah, tubuh Zefa melenting ke atas dan bergetar hebat saat Reinhart merenggut paksa apa yang menjadi kebanggaannya.
Reinhart yang berhasil melakukan penyatuan, mengerutkan dahinya. Ia melihat noda merah yang tercetak di seprai. Noda yang menjadi tanda kesucian dari seorang gadis. Tapi apa mungkin wanita seperti Zefa masih menjaga kehormatannya? Bukankah mamanya mengatakan bahwa Zefa adalah wanita yang bersedia menggadaikan cinta demi uang? Lalu kenapa ini semua bisa terjadi? Mungkinkah dia kembali berhalusinasi karena tertekan dengan perbuatannya sendiri?
Entahlah, dia tidak ingin memikirkannya lebih lama. Yang diinginkan Reinhart hanyalah menikmati apa yang sedang dilakukannya terhadap Zefa. Ah, ini sungguh nikmat. Membuatnya lupa sejenak akan segala tekanan sehingga ia ingin terus merasakannya.
Melihat Zefa mulai menerima dirinya, Reinhart semakin gencar menyerang sampai ia berhasil mencapai pelepasan. Kemudian ia mengulanginya lagi dengan cara yang lebih lembut.
Setelah melepaskan benih cintanya, Reinhart luruh dan bergeser turun ke samping Zefa. Ia menatap wajah kelelahan wanita yang telah dinodainya itu.
"Aku senang bisa menjadi pria pertamamu, Ze. Ternyata kamu cukup lihai menjaga diri walaupun kamu suka mengambil keuntungan dari kaum pria," ucap Reinhart menyingkirkan helaian rambut Zefa.
Selesai dengan misinya, Reinhart memejamkan mata. Tenaganya lumayan terkuras akibat percintaan panjangnya malam ini. Besok saat Zefa terbangun, dia akan melihat bagaimana wanita ini akan terpuruk dan hancur berkeping-keping karena perbuatannya.
***
Cahaya fajar yang mengintip dari balik tirai membuat Zefa mengerjap. Kepalanya terasa berat seolah ada batu besar yang menekannya sepanjang malam. Zefa tidak bergerak selama beberapa saat untuk meresapi keadaannya. Sesudah kesadarannya terkumpul, ia merasakan seluruh tubuhnya remuk bagai dilindas truk. Dan yang paling mendominasi adalah rasa nyeri dan pedih di bagian bawah tubuhnya.
Sambil merintih, Zefa duduk bersandar di tempat tidur. Ia menyibakkan selimut dan melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Ditambah kulitnya yang penuh dengan bercak-bercak merah keunguan, sebagai pertanda bahwa ia telah dimiliki oleh seorang pria. Mungkinkah yang dirasakannya semalam adalah nyata? Jika itu benar, artinya dia sudah dilecehkan dan kehilangan mahkotanya sebagai seorang wanita.
Air mata Zefa mulai mengalir. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mengetahui dimana dia berada sekarang. Ruangan yang ditempatinya ini mirip sebuah kamar apartemen. Tapi milik siapa dan bagaimana bisa dia berada disini? Seingatnya semalam dia makan bersama Reinhart lalu kepalanya mendadak pusing. Setelah itu dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Bahu Zefa terguncang pelan. Ia menangis tanpa suara untuk meratapi dunianya yang runtuh dalam sekejap. Entah siapa yang telah memanfaatkan kondisinya untuk melakukan hal yang keji. Sanggupkah dia pulang ke rumah setelah mengalami tragedi menyakitkan ini?
Beribu pertanyaan memenuhi kepala Zefa. Tanpa mempedulikan rasa sakitnya, Zefa menyeret tubuhnya turun dari tempat tidur. Ia harus meninggalkan tempat terkutuk ini sekarang juga. Tempat yang menjadi saksi bisu dari kehancuran masa depannya.
Seraya membungkus tubuhnya dengan selimut, Zefa memungut bajunya yang berserakan di lantai. Ia bersiap mengenakan semua pakaian itu, namun pintu kamarnya mendadak terbuka. Zefa mendongak ke atas dan melihat seorang pria masuk ke dalam kamar. Wajah pria itu terlihat segar dengan rambut yang setengah basah. Nampaknya ia baru saja selesai mandi dan mengisi perutnya dengan sarapan pagi.
Melihat pria itu mendekat padanya, Zefa buru-buru menutupi lagi tubuh polosnya dengan selimut. Bibirnya memucat. Ia sangat mengenali siapa sosok pria di hadapannya ini.
"Tu...an Reinhart," tutur Zefa ketakutan. Ia seperti melihat Moreno yang hidup kembali dalam diri Reinhart.
"Ternyata kamu sudah bangun, Zefanya. Oh, aku lupa. Mulai sekarang aku akan memanggilmu, Ze."
Zefa berjalan mundur ke belakang untuk menghindari Reinhart. Sebagai terapis, ia bisa membaca ekspresi dan bahasa tubuh Reinhart yang seakan ingin menertawakan penderitaannya. Benarkah pria ini yang sudah tega melakukan pelecehan terhadapnya?
"Percuma saja kamu menutupi tubuhmu dariku. Karena semalam aku sudah menikmatinya sampai puas."
"Jadi kamu yang...."
Zefa tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena hatinya serasa dihantam palu gada. Seketika lututnya goyah, tidak mampu lagi menahan berat badannya. Agar tidak terjatuh ke lantai, Zefa berusaha berpegangan pada tepi nakas.
"Mau tahu kenapa aku melakukannya?" tanya Reinhart menaikkan dagu Zefa. Ia bisa merasakan kulit wanita ini yang sedingin salju.
"Karena melampiaskan depresi," jawab Zefa terbata-bata. Kedua pipinya sudah basah oleh air mata.
"Bukan! Aku sudah sembuh berkat usahamu. Tapi sayangnya kamu telah menyembuhkan orang yang salah."
Mendadak Reinhart merengkuh Zefa. Ia membalikkan tubuh Zefa dan memaksanya menghadap ke cermin.
"Lihat dirimu! Sekarang kecantikan dan kemolekan tubuhmu sudah tidak berguna. Aku sudah merusaknya. Setelah ini kamu akan menjadi wanita yang ternoda. Tidak akan ada pria yang sudi menikahimu."
Dari pantulan cermin, Zefa melihat betapa senangnya Reinhart bisa menghancurkan hidupnya.
"Berhenti menangis! Kamu membuatku muak. Yang aku lakukan ini belum seberapa dibandingkan dengan kekejamanmu pada Moreno."
"Kamu mengenal Reno?" tanya Zefa di tengah isak tangisnya.
"Tentu saja. Aku tidak hanya mengenalnya tapi memiliki hubungan darah yang sangat kental dengannya. Aku dan Moreno adalah saudara kembar identik," ungkap Reinhart menekankan suaranya.
Ucapan Reinhart ibarat guntur di pagi hari. Zefa tidak menyangka masa lalunya yang pahit kembali hadir ke dalam hidupnya. Mungkinkah ini yang disebut dengan karma? Haruskah dia membayar kesalahannya dengan cara seperti ini?
"Kamu membuang Moreno hingga dia memutuskan untuk bunuh diri. Tapi sudah tiba waktunya aku akan membalas kematiannya."
Tubuh Zefa semakin menggigil di dalam dekapan erat Reinhart.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Aku lebih suka membuatmu merasakan hidup tapi seperti mati di dalam neraka. Karena itu, hari ini juga aku akan menikahimu, Zefanya," bisik Reinhart dengan suara beratnya.