Bab 6 Kutukan Karma

1637 Words
Zefa mengunci pintu kamarnya. Ia duduk bersimpuh di lantai tanpa alas kaki. Zefa sengaja melakukannya agar udara malam bersentuhan langsung dengan telapak kakinya. Ia ingin merasakan hawa dingin merayap naik ke seluruh pori-pori kulitnya. Bila perlu, ia berharap rasa dingin ini akan membekukan tubuhnya hingga mati rasa. Inilah hukuman yang setimpal untuknya karena telah tega melukai pria yang dicintainya semata-mata demi uang. Entah berapa lama Zefa bertahan dalam posisi seperti itu, hingga ponselnya bergetar-getar di atas meja. Hatinya mendadak terasa panas dan berdesir. Mungkinkah ini pertanda buruk akan adanya malapetaka yang menimpa Moreno? Ada rasa takut dalam dirinya untuk mengambil benda berwarna hitam itu. Namun pergerakan ponselnya yang terus menerus seakan memaksa Zefa untuk segera meraihnya. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Zefa mengangkat panggilan itu. "Ze, tolong cepat kesini! Reno kecelakaan." Terdengar suara panik seorang pria muda yang familiar di telinga Zefa. Suara itu tak lain adalah milik Billy, sahabat Moreno. "Reno...kecelakaan?" tanya Zefa mengulang ucapan Billy. "Dia sedang ada di IGD Rumah Sakit Husada, kondisinya kritis, Ze. Dia sempat memanggil namamu sebelum tidak sadarkan diri," jawab Billy. Napasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja berlari puluhan kilometer. Detak jantung Zefa seolah terhenti sesaat. Nyeri yang dahsyat menjalar di seluruh rongga dadanya. Bersamaan dengan itu, pita suaranya seolah tertelan di dalam tenggorokan. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang mengudara. "Ze, apa kamu mendengarku? Cepatlah datang! Reno membutuhkan dukunganmu supaya dia bisa bertahan." Tanpa menjawab permintaan Billy, Zefa mematikan panggilan itu. Seperti orang linglung, dia berjalan menuju lemari dan mengambil jaketnya. Setelah itu, Zefa keluar dari rumah dan mengendarai motornya. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan dari mamanya yang menanyakan kemana tujuan kepergiannya. Berusaha mengatasi ketakutannya yang kian membuncah, Zefa melajukan motornya. Menembus jalanan ibu kota yang penuh dengan kelap kelip lampu di malam hari. Hanya satu yang ada di pikiran Zefa, yaitu melihat kondisi Moreno. Bila sampai terjadi sesuatu pada kekasihnya itu, mungkin dia tidak akan sanggup melanjutkan kehidupannya. Dengan wajah pias, Zefa berlari menyusuri koridor rumah sakit. Napasnya memburu sementara jantungnya berdetak dengan irama tak beraturan. Bahkan ia hampir menabrak salah seorang perawat yang berjalan dari arah berlawanan. "Maaf," ucap Zefa lirih. Ia baru berhenti ketika tiba di depan pintu besar bertuliskan ruang IGD. Zefa melihat Billy yang tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Ia langsung mengakhiri percakapannya ketika menyadari kehadiran Zefa. "Mana Reno, Bil? Bagaimana kondisinya?" tanya Zefa memegang lengan lelaki muda itu. "Ada di dalam, masih ditangani dokter. Sementara kita tidak boleh masuk. Menurut dokter, seharusnya Reno segera dioperasi. Tapi karena tidak ada keluarganya yang bisa mengurus administrasi, operasinya tertunda. Barusan aku sudah menghubungi mamanya Reno. Dia bilang sekitar tiga jam lagi akan sampai di Jakarta," ucap Billy seraya menyugar rambutnya. "Apa kita tidak diizinkan mengurus administrasinya, Bil?" Billy menggeleng pelan. "Tidak bisa, harus keluarganya. Lagipula kita tidak punya uang untuk memberikan jaminan biaya operasi." Cairan bening mulai memenuhi sudut mata Zefa. "Bil, apa kamu tahu nomer ponsel papanya atau keluarganya yang lain? Aku yakin Reno punya saudara di Jakarta. Mamanya bilang papanya Reno adalah pimpinan perusahaan besar." "Aku tidak tahu nomer kontaknya. Reno tidak pernah cerita kepadaku mengenai papanya." Sorot mata Billy tiba-tiba berubah saat ia menatap Zefa. "Ze, kenapa kamu setega ini pada Reno? Dia mengalami kecelakaan karena patah hati. Sebelum pergi, Reno sempat mengatakan padaku kalau dia akan mati untuk membuktikan cintanya padamu. Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia bersikeras. Aku yakin Reno sengaja kebut-kebutan di jalan supaya mengalami kecelakaan." Mendengar penuturan Reno, hati Zefa serasa diremas dengan kuat. Seharusnya dia tidak boleh meremehkan perkataan Moreno. Pemuda itu tidak main-main dengan ucapannya. Ternyata dia rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya demi sebuah pembuktian cinta. Air mata Zefa tak terbendung lagi. Ia merasa sebagai pendosa paling jahat di muka bumi karena telah mengakibatkan Moreno bunuh diri. Rasanya lebih pantas bila dia yang berada di ruang IGD untuk menggantikan posisi Moreno. Billy dan Zefa saling berdiam diri selama menunggu di luar. Namun suasana hening itu berakhir ketika pintu ruang IGD terbuka. Dua orang perawat dan seorang dokter keluar dengan mendorong sebuah ranjang. Pasien yang terbaring di atasnya sudah ditutupi oleh sebuah kain panjang berwarna putih. Zefa membelalak tak percaya. Terlebih saat sang dokter berjalan menghampiri Billy. "Apakah Anda teman dari pasien atas nama Moreno?" tanya dokter itu. "Iya, Dok. Bagaimana dengan Reno, apa bisa dioperasi sekarang?" "Maafkan saya. Tuan Moreno telah tiada. Ia tidak bisa bertahan karena kehilangan banyak darah. Kami akan membawa pasien ke ruang jenazah," jelas dokter itu prihatin. Sontak, Zefa meluruh ke lantai. Selang beberapa detik, ia berjalan terseok mendekati ranjang pasien. Dengan sekali sentak, Zefa menyibak kain penutup itu sehingga terpampanglah wajah pria yang terbujur kaku di dalamnya. Kelopak mata Zefa membesar dengan bibir yang bergetar hebat. Langit serasa runtuh menimpa kepalanya. Ia tak percaya melihat Moreno, pria yang dicintainya itu sudah tergolek tak bernyawa. Seperti orang tidak waras, Zefa mengguncang tubuh Moreno yang sedingin es. "Bangun, Ren! Jangan pura-pura tidur seperti ini. Kumohon bangunlah!" seru Zefa. "Kalau kamu bangun, aku berjanji akan kembali padamu tidak peduli apapun yang terjadi. Aku sangat mencintaimu." Zefa terus berteriak histeris. Ia mendekap erat tubuh pria yang sudah kehilangan cahaya kehidupan itu. Para perawat berusaha menenangkannya tapi tidak berhasil. Akhirnya Billy pun maju untuk menyadarkan Zefa. Ia menarik gadis itu agar menjauh dari jasad Moreno. "Sadar, Ze. Moreno sudah pergi. Percuma saja kamu berbuat begini, dia tidak akan kembali." "Tidak! Aku mau Reno membuka matanya. Aku harus minta maaf. Aku sudah menyakiti hatinya padahal aku sangat mencintainya," teriak Zefa berusaha memberontak. "Dengar, Ze! Penyesalanmu sudah terlambat. Seharusnya kamu mengatakan ini saat Reno masih hidup. Sekarang ikhlaskan dia!" Sambil berlinang air mata, Zefa menggeleng-gelengkan kepala. Pukulan ini terasa sangat berat untuknya. Bahkan untuk berpijak lagi di atas bumi rasanya ia sudah tidak sanggup. Semakin lama, tenaga Zefa semakin melemah. Ia melihat ratusan kunang-kunang berputar mengelilinginya. Hingga pada akhirnya semua terasa gelap. Zefa pun tak sadarkan diri dalam pelukan Billy. *** Bola mata Zefa mulai bergerak lalu terbuka perlahan. Entah berapa lama ia pingsan. Namun ketika kesadarannya mulai terkumpul, hanya satu yang ada di ingatannya, yaitu Moreno. Ya, dia sudah kehilangan Moreno untuk selamanya dan itu murni karena kesalahannya. Dialah penyebab kematian sang kekasih. Dosanya tidak akan termaafkan dan ia akan menanggung penyesalan seumur hidup. Tanpa menghiraukan kondisinya yang lemah, Zefa mencabut selang infus di tangannya lalu turun dari tempat tidur. Ia menghambur keluar dari kamar hingga mengejutkan perawat yang berjaga. "Nona mau kemana?" cegah salah seorang perawat. "Saya ingin melihat pacar saya, Suster. Namanya Moreno yang baru saja meninggal karena kecelakaan," jawab Zefa. "Tapi Nona masih harus dirawat." "Saya tetap mau melihatnya," berontak Zefa. Dari arah depan, Billy datang dan segera berlari menghampiri Zefa. "Kamu sudah sadar?" tanyanya terkejut. "Dimana Reno sekarang, Bil? Antar aku ke tempat Reno," pinta Zefa dengan sorot memohon. "Dia ada di kamar jenazah. Mama dan papanya Moreno sudah ada disini untuk mengurus keperluan pemakamannya." "Kumohon, bawa aku kesana." "Jangan, Ze. Lebih baik kamu tidak usah muncul di hadapan mereka atau situasi akan semakin runyam," larang Billy dengan wajah kusut. "Tapi...." Belum selesai mereka bicara, terdengar derap heels yang beradu dengan lantai. Zefa dan Billy menengok bersamaan dan bertemu pandang dengan Rosana. Wanita angkuh itu menatap mereka tajam dengan sisa air mata yang tampak di wajahnya. "Disini rupanya kamu, gadis pembawa sial!" Dengan mata yang berkobar penuh dendam, Rosana menarik Zefa. Ia menjambak rambut gadis itu hingga wajahnya menengadah. Tangan kanannya terangkat ke atas, mendaratkan tamparan keras ke pipi Zefa. Meninggalkan jejak kemerahan yang sangat jelas di atas kulit putihnya. Billy yang melihat kejadian itu berusaha melerai. Tapi Rosana malah mengusirnya. "Zefa baru saja sadar dari pingsan, Tante. Kasihan dia." "Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan gadis tidak tahu diri ini!" bentak Rosana. Billy pun segera mundur ke belakang tanpa bisa berbuat apa-apa. "Maafkan saya, Tante," ucap Zefa di sela-sela tangisnya. "Maaf, katamu!!! Apa dengan minta maaf putraku bisa kembali, hah?! Aku tidak menyangka gara-gara gadis rendahan sepertimu, putraku sampai bunuh diri. Seharusnya aku tidak membayarmu tapi menghabisimu!" teriak Rosana dengan mata melotot. "Tapi Tante yang memaksa saya untuk meninggalkan Reno. Saya tidak pernah bermaksud melukai atau meninggalkannya. Saya sangat mencintainya." Mendengar ucapan Zefa, Billy tersentak. Entah kesepakatan apa yang terjadi antara Zefa dan Rosana hingga terjadi tragedi memilukan ini. "Omong kosong! Aku menyuruhmu untuk berpura-pura berpacaran dengan pria lain, bukan untuk membuat Reno bunuh diri." "Saya sangat menyesal, Tante. Saya mohon izinkan saya bersama Reno untuk terakhir kali," pinta Zefa. Mata Rosana menggelap. Seperti orang kesetanan, dia menekankan kedua tangannya ke leher Zefa. "Aku akan mengabulkan keinginanmu sekarang juga. Matilah dan temani putraku di alam baka!!!" Billy dan para perawat segera mencegah tindakan Rosana. Mereka berusaha keras memisahkan Rosana dari Zefa. "Lepaskan! Aku mau melenyapkan gadis itu!!!" teriak Rosana ingin melepaskan diri dari dua orang perawat yang menahannya. Sementara Billy menenangkan Zefa yang masih terbatuk-batuk akibat kesulitan bernapas. "Ze, kamu baik-baik saja? Ayo kita pergi dari sini," ajak Billy. "Aku harus menemani Reno sampai pemakamannya selesai. Aku tidak mau pulang," tolak Zefa. Mendengar itu, amarah Rosana kembali membuncah. "Tidak akan kubiarkan kamu mendekati jenazah Moreno, apalagi datang ke pemakamannya! Kalau kamu nekat melakukannya, aku akan membuatmu menyesal. Dan aku juga akan membuat ibumu yang penyakitan itu semakin menderita," ancam Rosana. "Jangan keras kepala, Ze. Ayo pulang," desak Billy. Karena takut keselamatan ibunya terancam, Zefa akhirnya menurut pada Billy. Namun sebelum mereka berlalu, Rosana kembali berteriak untuk merutuki Zefa. "Dengar, Zefa. Aku mengutukmu supaya hidup dalam penderitaan seumur hidup! Kamu akan dikejar rasa bersalah dan tidak akan pernah mendapatkan cinta dari siapapun. Dan ingatlah suatu hari akan ada pria yang datang untuk membalaskan dendam Moreno. Dia akan membuatmu membayar semua karma yang pantas kamu dapatkan!" Sumpah serapah dari mulut Rosana membuat tubuh Zefa menggigil. Derai air mata terus berjatuhan dari pelupuk matanya. Entah mengapa intuisinya mengatakan apa yang diucapkan Rosana akan menjadi sebuah kenyataan. Karma buruk. Ya, dia akan menerima karma atas dosanya yang telah menyebabkan Moreno kehilangan nyawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD