Bab 5 Pembuktian Cinta

1307 Words
Keesokan harinya, Zefa berangkat lebih pagi ke kampus untuk menghindari Moreno. Ia bahkan sengaja mematikan ponsel agar Moreno tidak bisa menghubunginya. Yang ada di pikiran Zefa hanya satu, yaitu mencari pria yang bisa disewanya untuk menjadi kekasih bayaran. "Ze, kamu melamunkan apa?" tanya Airin, sahabat Zefa di kampus. Zefa menarik tangan temannya itu dan membawanya ke sudut ruangan perpustakaan. "Rin, bisa bantu aku? Tolong carikan cowok yang bersedia menjadi pacar pura-puraku selama dua minggu ke depan." Airin membuka kelopak matanya lebar-lebar. "Hah, kamu serius??? Untuk apa mencari pacar pura-pura? Kamu sudah punya Reno." Zefa menempelkan jarinya sambil melihat ke sekeliling. "Pelankan suaramu, Rin. Justru aku membutuhkan pacar pura-pura supaya Reno menjauhiku," kata Zefa dengan suara tertahan. Lagi-lagi Airin dibuat terkejut dengan pernyataan Zefa. "Kamu ingin putus dari Reno? Apa dia menyakitimu atau berselingkuh?" "Bukan. Nanti akan kuceritakan detailnya. Aku mohon tolonglah aku. Waktuku sangat sedikit." Airin memutar bola matanya ke atas, pertanda bahwa dia sedang mencarikan jalan keluar untuk Zefa. "Aku tahu siapa cowok yang tepat untuk peran itu. Dia adalah sepupuku, Martin. Aku akan minta tolong padanya tapi kamu harus menceritakan dengan jujur apa alasanmu melakukan ini," ujar Airin memberikan persyaratan. "Iya, aku janji. Thanks, Rin." Setelah meminjam buku yang dicarinya, Zefa buru-buru keluar dari perpustakaan. Namun ketika hendak berjalan ke tempat parkir, lengannya ditahan oleh seseorang. "Ze, kamu kemana saja? Aku menjemputmu di rumah, tapi mamamu mengatakan kamu sudah berangkat." "Iya, mulai sekarang jangan mengantar atau menjemputku lagi," balas Zefa dingin. "Kenapa, Ze? Ada apa denganmu?" Zefa naik ke atas motornya sambil memegangi helm. "Aku sedang ingin berkonsentrasi penuh pada ujian mid semester. Tolong jangan ganggu aku, Ren. Aku ingin sendiri." "Biasanya kamu tidak pernah bersikap seperti ini padaku meskipun kita sedang ujian. Kita bisa membagi waktu antara belajar dan jalan berdua." Tanpa mempedulikan ucapan Reno, Zefa memakai helm lalu melesatkan motornya. Meninggalkan Moreno yang berdiri terpaku dengan seribu tanda tanya di kepalanya. *** Zefa menaiki motor besar milik Martin. Dengan telapak tangan yang dingin, ia memegang pinggang pemuda yang baru dikenalnya satu hari yang lalu. "Sudah siap, Ze? Kita akan ke kampus sekarang," tanya Martin menengok ke arah Zefa. Tadi ia sempat melihat wajah pucat Zefa dari balik kaca spion. "Aku siap. Kita lakukan sesuai kesepakatan kita," jawab Zefa memantapkan hatinya. "Pegangan yang kuat. Aku akan ngebut supaya kita tidak terlambat sampai ke kampus." Zefa pun menuruti perintah Martin. Ia tidak melepaskan tangannya sampai mereka tiba di kampus. Setelah turun dari motor, Zefa langsung menggandeng Martin sambil berjalan menuju kantin. Ia sengaja memilih hari dan waktu ini karena bertepatan dengan jam kuliah Moreno. "Ze, tunggu!" seru Moreno dari arah belakang. Zefa dan Martin menoleh bersamaan. Zefa berhenti dan menunggu Reno datang menghampirinya. "Siapa dia, Ze? Kenapa kamu menggandeng tangannya?" tanya Moreno dengan nafas terengah-engah. Dia berusaha mengatur pernafasan sehabis berlari mengejar Zefa dari tempat parkir. Paras Zefa berubah datar. Martin yang mengetahui hal itu segera merangkul pinggang Zefa untuk membuat Moreno semakin cemburu. Mereka harus berakting sealami mungkin sebagai pasangan kekasih untuk membuat Reno percaya. "Perkenalkan aku, Martin, cowoknya Zefa," ujar Martin mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Sontak, rahang Reno mengeras. Dengan tatapan nanar, ia memandang Zefa dan Martin. "Apa-apaan ini, Ze? Kenapa orang ini mengaku-aku sebagai pacarmu?" "Martin memang pacarku. Kami baru jadian tiga hari yang lalu. Dan mengenai hubungan kita, aku menganggapnya sudah berakhir. Kita putus." Paras tampan Reno mengetat. Kalimat yang dilontarkan Zefa serasa menusuk pusat jantungnya hingga membuat luka menganga yang tak berdarah. "Kenapa kamu melakukan ini padaku, Ze? Apa kamu ingin balas dendam karena aku pernah selingkuh? Bukankah sudah kujelaskan bahwa saat itu aku mabuk dan dijebak?" tanya Reno mencengkeram lengan Zefa. "Lepaskan tanganmu! Zefa bukan pacarmu lagi," tandas Martin berusaha menghempaskan tangan Moreno. Tindakan Martin membuat Moreno meradang. Ia mengacungkan jarinya di depan wajah pemuda itu. "Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan Zefa. Kalau kamu terus mengganggu, aku tidak akan segan untuk menghajarmu! Paham!!!" teriak Moreno. Para mahasiswa yang lewat sampai kaget mendengar suaranya. "Reno, pelankan suaramu! Jangan membuat kita semua malu," tegur Zefa. "Aku tidak peduli, kamu harus menjelaskan ini padaku." Zefa memandang Martin dan berbicara dengan lembut. "Sayang, aku harus bicara sebentar dengan Reno untuk membuatnya mengerti." Martin mengangguk lalu pergi agak menjauh dari Zefa. "Sekarang aku akan menjelaskan padamu, Reno. Sebenarnya sejak kamu mengkhianati aku, perasaanku sudah mati untukmu. Aku pura-pura memaafkanmu sambil menunggu waktu yang tepat untuk membalas perbuatanmu. Dan sekarang saatnya sudah tiba. Aku bertemu Martin dan jatuh cinta padanya. Martin itu sangat baik dan mencintai aku. Beda jauh denganmu yang tukang selingkuh," tegas Zefa membuat suaranya terdengar setenang mungkin. Moreno memegang kedua bahu Zefa, berharap bisa menyadarkan gadis yang dicintainya ini. "Bohong! Aku masih melihat cinta di matamu untukku. Aku yakin kamu tidak akan semudah itu berpindah hati. " "Siapa bilang? Kamu terlalu percaya diri. Aku membencimu, sangat membencimu. Mulai sekarang jangan coba-coba mendekatiku lagi," tegas Zefa. Dengan sorot mata sendu, Reno menatap Zefa. Sedangkan Zefa langsung menunduk, berusaha menghindari tatapan Reno yang membuat hatinya serasa ditusuk ribuan jarum. "Sebenci itu kamu padaku, Ze? Tidakkah kamu lihat dan rasakan kalau perasaanku tulus untukmu. Aku sangat mencintaimu." "Kata-katamu itu tidak berpengaruh untukku, Ren. Aku sudah muak dengan rayuanmu. Kamu tidak perlu mengharapkan aku lagi karena aku sudah memilih Martin. Di luar sana masih banyak gadis yang bisa kamu rayu dengan mudah. Selamat tinggal, Reno," tukas Zefa dingin. "Tapi aku tidak mau gadis lain. Yang aku mau hanya kamu, Ze!!!" seru Reno dengan putus asa. Sambil menahan diri agar tidak menangis, Zefa berlari ke arah Martin. "Kamu tidak apa-apa, Ze?" tanya Martin ikut prihatin. "Martin, tolong antarkan aku pergi dari kampus sebentar. Aku butuh udara segar. Aku merasa sangat keterlaluan pada Reno," ucap Zefa dengan mata berkaca-kaca. "Tabahkan hatimu, Ze. Aku rasa keputusanmu sudah tepat. Ayo kita keluar dari sini." Martin merangkul bahu Zefa dan mengajaknya keluar dari kampus. Di belakang mereka, Moreno masih berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rasanya dia ingin sekali memukul tembok sampai roboh atau menghajar Martin hingga babak belur. Tetapi bila dia nekat melakukannya maka Zefa akan semakin membencinya. "Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali, Ze. Jika aku gagal, aku lebih memilih mati daripada hidup dalam penderitaan," gumam Reno dengan tatapan hampa. *** Hari berikutnya, Zefa memblokir nomer ponsel Moreno sehingga pemuda itu tidak bisa menghubunginya. Dan setiap kali pergi ke kampus ia selalu mengajak Martin. Zefa sama sekali tidak memberikan kesempatan kepada Moreno untuk mendekatinya barang sejengkal pun. Namun bukan Moreno namanya bila menyerah begitu saja. Ia mendatangi rumah Zefa dan terus menunggu di depan teras. "Ze, temuilah Reno sebentar saja. Kasihan dia," ujar Dinda menasehati putrinya. Sambil berdesah panjang, Zefa keluar dari kamarnya. Lagi-lagi dia harus membuat hatinya setegar batu karang. "Kenapa kamu belum jera juga, Ren?" tanya Zefa sinis. "Aku tidak akan jera sebelum mendapatkanmu lagi. Aku sangat mencintaimu," balas Reno memegang tangan Zefa. "Itu bukan cinta tapi obsesi. Apa kamu baru merasa puas jika berhasil mempermainkan gadis miskin seperti aku?" Moreno mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu, aku tidak mengerti." "Tidak ada yang perlu kamu mengerti. Aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan pernah kembali padamu. Kalau kamu masih punya harga diri, pergilah dari sini dan berhenti mengejar aku." Zefa hendak menutup pintu, tapi Reno menahannya dengan segera. "Yang aku rasakan padamu adalah cinta, bukan obsesi. Kalau kamu tidak percaya, aku bersedia mati untuk membuktikannya." Ucapan Reno membuat Zefa terhenyak. Mungkinkah lelaki ini mau mempertaruhkan nyawa hanya demi dirinya? Rasanya mustahil, pasti Reno sekedar menggertak saja. "Lakukan apa saja yang kamu inginkan. Itu bukan urusanku," jawab Zefa bersikukuh. "Baiklah, Ze. Kamu akan melihatku tiada malam ini juga. Semoga setelah kematianku, kamu akan percaya kalau aku sangat mencintaimu. Selamat tinggal," kata Moreno melangkah pergi. Zefa menutup pintu kemudian menangis tersedu-sedu. Kalimat yang diucapkan Moreno bagaikan pesan terakhir dan terngiang-ngiang di telinganya seperti mantra sihir. "Maafkan aku, Ren. Aku terpaksa berbuat sekejam ini demi kebaikan kita semua. Jangan sampai kamu bertindak bodoh hanya karena aku," gumam Zefa pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD